Pernikahan adalah sebuah ikatan atas kesepakatan antara dua insan untuk menjalani kehidupan bersama. Keduanya berkomitmen untuk saling bahu membahu mewujudkan tujuan hidup, memenuhi kebutuhan asasi manusia, serta menyempurnakan kebahagiaan hidup dalam bingkai rumah tangga.
Walaupun pada kenyataannya, banyak hubungan pernikahan atas dasar keterpaksaan, tapi percayalah! kalau jodoh, tak akan kemana.
Pada hakikatnya, kehidupan rumah tangga adalah sebuah kerajaan iman. Dalam arti bahwa suami sebagai rajanya, istri adalah ratunya, dan anak-anak adalah rakyatnya. Islam sendiri memandang pernikahan sebagai salah satu jalan untuk beribadah kepada Allah, bahkan dikatakan sebagai penyempurna separuh agama seseorang.
Setiap manusia pasti mendambakan memiliki rumah tangga yang bahagia, sebuah rumah tangga yang dipenuhi dengan keberkahan dan kebahagiaan lahir batin dalam bingkai keimanan. Untuk mewujudkannya, tentu perlu adanya pola interaksi yang positif, harmonis, dan saling melengkapi antara suami dan istri.
Maka penting baik bagi suami maupun istri untuk memahami peran masing-masing dan mengedepankan sikap saling pengertian. Sehingga tujuan mulia dari sebuah pernikahan bisa diwujudkan bersama.
Setelah kejadian magrib itu, tubuh Maya tiba-tiba panas tinggi. Sambil berbaring di atas tempat tidur, Azam menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan semua ini sehingga Maya begitu tertekan.
Walaupun Maya sama sekali tidak menceritakan semua yang dialami dan ketakutannya, tapi nampaknya Azam dapat memahami situasinya. Di dalam hati Azam berkata, aku memiliki istri yang hebat dan mampu merahasiakan rasa sakit dan ketakutannya.
Maya sama sekali tidak ingin Azam khawatir, makanya ia bungkam dan menahan rasa sakitnya seorang diri. Sementara Azam terus merahasiakan identitas keluarganya demi menjaga kenyamanan dan ketenangan Maya. Mereka benar-benar saling menjaga hati dari pasangannya masing-masing agar tidak gusar.
Saat Azam yakin bahwa Maya sudah terlelap, Azam keluar dari kamar dan melakukan sesuatu. Azam menelpon seseorang untuk membuktikan firasatnya.
"Halo, Ma. Bisa Azam bicara dengan Papa?"
"Baiklah ... sebentar ya, Nak."
"Halo, Azam. Ada apa?"
"Pa, ada sesuatu yang ingin Azam tanyakan."
"Apa?" jawab Papa singkat karena memang selama ini sulit sekali antara Azam dan Papa untuk mengobrol.
"Apa Papa yakin kalau makhluk itu sedang tenang dan tidak mengganggu?"
"Sebentar," sahut Papa lalu beliau berjalan ke arah kamar khusus dengan pintu bercorak batik bernuansa hijau terang dan kuning keemasan. "Dia aman," ucap Papa singkat sambil memandangi makhluk yang ia segel di dalam kotak kaca segi empat.
"Sebenarnya, sudah beberapa hari ini Maya sepertinya diusik, Pa. Makanya Azam bertanya untuk memastikannya."
"Kalau kamu kurang percaya, datang kemari besok! Papa akan membuktikannya."
"Papa yakin?"
"Iya. Kamu berhak tahu atas segalanya karena kamu pantas untuk tahu Azam. Lagipula sudha waktunya."
"Baik jika Papa sudah mulai percaya pada Azam. Besok, Azam akan mengantar Maya ke panti agar dia tidak sendiri. Setelah itu, Azam akan ke rumah Papa."
"Iya." Azam dan Papa mengakhiri perbincangan singkat diantara mereka.
Setelah Azam menutup teleponnya, papa terus memandangi boneka mistik yang menyeramkan tersebut tanpa henti. Papa sangat yakin bahwa makhluk itu benar-benar dalam keadaan beku, tidak bergerak sedikit pun.
Tanpa berlama-lama di dalam ruangan hitam tersebut, papa langsung keluar dan saat itu mama menanyakan kepada papa tentang apa yang sebenarnya terjadi. Papa tidak mampu menjawab kali ini karena Papa juga tidak tau.
*****
Keesokan harinya, Azam menyentuh Maya dengan lembut tepat di dahinya. Azam berharap bahwa Maya tidak sakit dalam waktu yang lama. "Gimana pagi ini, Sayang?" tanya Azam sambil mengelus pipi kanan Maya dengan jari telunjuk yang ia tekuk.
"Lebih baik. Kamu ngak ke kampus?"
"Tidak. Hari ini aku ada urusan lain. Sayang, kalau sudah enakan, aku akan mengantar kamu ke panti."
"Kenapa?" tanya Maya dengan mata yang berkaca-kaca. "Apa aku melakukan kesalahan yang besar, Azam? Jika iya, tolong maafkan aku," ucap Maya sambil meneteskan air mata.
"Eeehhh ... jangan menangis! Tidak, tidak ada kesalahn sekecil apapun yang kamu buat, Maya. Jika pun ada, maka aku dengan ikhlas akan memaafkannya. Kecuali jika kamu menduakan aku karena jika itu terjadi, walaupun langit runtuh, aku tidak akan pernah memaafkanmu."
"Tapi, aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu Azam karena aku sangat mencintai kamu dan aku sudah berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku akan mengabdi padamu seumur hidupku."
"MasyaAllah Maya, kamu adalah bidadari yang memang sudah ditetapkan Allah untukku," ujar Azam sambil memeluk erat tubuh Maya. " Hari ini aku ada urusan dengan papa dan mama. Jadi agar perasaanku lebih tenang meninggalkan kamu, makanya aku menitipkanmu di Panti Asuhan. Percayalah ini demi kebaikan kita semua."
"Baiklah ... aku percaya padamu, Azam."
Setelah bersih-bersih dan sarapan, Azam langsung mengantar Maya ke panti asuhan yang jaraknya sekitar 25 menit dari rumah. Azam berharap masalah ini tidak berlarut-larut dan dia segera mendapatkan jalan keluar demi keamanan dan kenyamanan Maya.
Setelah mengantar Maya, Azam bergegas ke rumah megahnya dan menemui papa serta mama di sana. Papa dan mama nampaknya juga sudah menunggu Azam dan saat mereka saling bertatapan, Papa seolah tau bahwa anaknya sedang dalam rasa kekhawatiran yang tinggi.
Tak ingin basa basi, papa langsung membawa Azam ke ruangan mistik di lantai dua paling sudut di rumahnya. Saat Papa menunjukkan rupa makhluk tersebut, Azam merasa sangat tidak nyaman dan memilih hanya menatapnya sesaat.
"Jika dia beranjak dari tempat ini tanpa sepengetahuan Papa, pastinya rantai itu sudah terlepas dan kotak kaca ini sudah hancur," jelas Papa kepada Azam.
"Bagaimana mungkin keluarga kita memiliki peliharaan seperti itu, Pa? Allah akan murka," ucap Azam seakan pikirannya teralihkan karena melihat sosok tersebut.
"Papa tidak ingin menjelaskannya berulang-ulang, Azam. Kamu pikir, Papa juga suka seperti ini? Papa juga korban, sama seperti dirimu."
"Kita harus memusnahkan dia, Pa!" ucap Azam dengan suara yang tinggi penuh bentak seraya menunjuk makhluk tersebut dengan tangan kiri nya.
Tiba-tiba dari arah langit-langit kamar ritual tersebut, terdengar suara gaduh seperti kuda yang tengah berlari dengan sangat kuat dan cepat. "Bawa anakmu pergi dari sini, Laras! jika harus mati, maka akulah orangnya." Papa berkata sambil menatap mama dan saat itu, mama terlihat sangat ketakutan serta khawatir.
"Baik, Mas. Hati-hati," ucap Mama dengan matanya yang sudah basah dan bibir yang bergetar.
"Kenapa kita harus keluar, Ma?"
"Cukup, Azam. Kamu sudah menyusahkan papamu. Kasian dia, dari dulu sudah sangat tertekan dan menderita. Kamu tidak akan pernah mengerti tentang semua itu karena kamu terlalu egois, Azam." Azam terdiam sesaat setelah mendengar ucapan mama karena baru kali ini, mama tampak sangat marah dan membentak Azam.
"Ingat! Jika terjadi sesuatu kepada papamu, maka Mama tidak akan pernah memaafkan kamu, Azam."
"Tapi, Ma. Apa yang Azam katakan itu adalah benar. Allah akan murka kepada kita."
Pack
Tamparan sangat kuat mendarat di pipi kanan Azam. Mama yang melakukannya pun langsung gemetaran seluruh tubuhnya. Azam terdiam saat melihat wajah mama yang merah padam.
"Maaf, Ma," kata Azam, namun ia terlambat. Apa yang ia katakan, sudah terlanjur memancing amarah makhluk tersebut.
"Dengar! Kali ini kamu masih selamat karena ada papa yang menjadi perisai untukmu.
Bersambung.