Sore hari di dalam keluarga yang sederhana, terdengar suara tawa ceria khas balita dari bibir Akbar. Kali ini, ia tengah bermain dengan Amar dan juga Aisyah di depan televisi. Ketiganya duduk di sebuah karpet berwarna merah dan Akbar sedang merangkak sangat lincah. Terkadang, ia berhenti sejenak dan duduk, untuk bertepuk tangan karena mendengar suara lagu anak-anak yang ia suka. Akbar tumbuh sebagai anak yang ceria dan sehat. Badannya yang gempal dengan kulit putih, selalu menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi ia sudah mulai pandai menirukan ekspresi wajah orang-orang yang berada di sekelilingnya. Sedang asik menonton dan bergurau, tiba-tiba listrik padam. Saat itu, suasana menjadi senyap. Tapi terdengar sesuatu yang membuat rumah bernuansa putih ini kembali ramai. "Bi." Akbar tengkur

