Kejutan

1409 Kata
Setibanya di dalam rumah sederhana mereka. Maya duduk di meja makan dengan wajah yang pucat. Pikirannya benar-benar terganggu kali ini dan Azam dapat mencerna ekspresi wajah Maya dengan baik. "Masih pusing?" tanya Azam yang sama sekali tidak pernah melihat gaya malas Maya seperti ini. "Masih dan rasanya ingin muntah. Seperti ada sesuatu yang bersarang di tenggorokan saya," sahut Maya datar dengan nada suara yang dingin. "Azam yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi kepada istrinya tersebut, langsung ke dapur untuk membuatkan teh hangat agar Maya bisa kembali nyaman." "Coba minum teh hangatnya, Sayang! Mungkin ini bisa membantu," kata Azam yang tidak memikirkan apapun. Karena ia sama sekali tidak tahu-menahu tentang urusan antara Maya dan Joya. "Terima kasih, Azam," sahut Maya tanpa menatap mata Azam. Gaya Maya ini, tidak seperti biasanya. "Pelan-pelan saja dan jangan lupa untuk mengucapkan bismillah!" saran Azam sambil memegang rambut Maya dan ia memutuskan untuk ke kamar untuk meletakkan jaket kulit berwarna coklat miliknya. Maya mengangkat gelas porselen dengan tangkai yang cukup besar. Lalu ia mengikuti saran dari Azam. "Bismillahirrahmanirrahim," ucap Maya dengan suara yang samar-samar terdengar. Tapi saat itu, hatinya juga ikut mengucapkan kalimat yang sama. Lalu ia langsung meneguk air teh yang memang tidak terlalu panas. Semakin banyak air tersebut masuk ke dalam mulut Maya, semakin melayang rasa tubuh Maya. Bukan hanya itu saja, bahkan kepalanya semakin pusing dan pikirannya tidak terkendali. Maya berpikir, mungkin ia harus segera membersihkan diri karena bisa saja pertemuannya dengan Joya menyisakan sesuatu yang mistik dan 'tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Namun ketika Maya hendak berdiri, ia merasa bumi ini berputar-putar dan Maya kehilangan kendali atas tubuhnya. Azam terkejut ketika mendengar suara yang cukup keras dari ruang makan. Dengan cepat ia berlari ke arah tersebut karena mengetahui Maya berada disana. Saat itu, mata Azam terbelalak ketika melihat Maya sudah terjatuh dengan pecahan gelas tidak jauh dari tangannya. Untung saja pecahan tersebut tidak melukai tangan Maya yang sudah tidak sadarkan diri. "Sayang! Maya, kamu kenapa?" tanya Azam sambil mengangkat kepala hingga punggung Maya. Azam memeluk Maya bersama ketakutan yang besar. Sementara tangan kanannya merogoh kantung celana untuk mengambil ponsel. Lalu, Azam menelepon ambulan dan memutuskan untuk membawa Maya ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa. Tidak ada apapun di dalam pikiran Azam saat itu, kecuali ingin mengetahui tentang kesehatan Maya yang sebenarnya. Apalagi Azam tahu beberapa waktu ini Maya selalu terganggu dengan aktivitas gaib yang berada di sekelilingnya. Bersama ketakutan, Azam terus berdo'a kepada Allah untuk keselamatan Maya. Setelah tiba di rumah sakit, dengan langkah cepat, Azzam mengikuti roda-roda kecil yang membawa tubuh Maya ke ruang instalasi gawat darurat (IGD). Saat itu, Azam langsung menelpon mamanya untuk memberikan kabar tentang kondisi Maya dan di mana ia berada saat ini. Setelah menunggu sekitar 45 menit di luar, Azam dipanggil masuk oleh perawat dan ia langsung menemui dokter jaga. Sang dokter pun mulai menjelaskan tentang kondisi Maya yang sebenarnya. "Anda suami pasien?" "Iya, Dok. Apa yang terjadi pada istri saya?" tanya Azam dengan wajah yang sangat cemas. "Selamat ya, Anda akan segera menjadi seorang ayah," sahut dokter perempuan berhijab dengan t**i lalat di ujung hidungnya. "Apa, Dokter? Anda serius?" tanya Azam dengan wajah ceria seolah kecemasannya berlalu begitu saja. "Iya, tentu saja. Tapi, kondisi janinnya cukup rentan karena sepertinya akan ada 2 calon bayi di dalam rahim istri Anda." "Maksud Anda kembar, Dokter?" tanya Azam yang semakin ingin mengetahui kebenaran pikirannya. "Iya, benar sekali. Dan saat ini, usia kehamilan istri Anda, baru memasuki minggu kedelapan. Kemungkinan besar, istri anda akan sering mengalami penurunan kualitas kesehatan. Untuk itu, kami akan menyuntikkan penguat rahim dan sebaiknya pasien dibiarkan untuk beristirahat selama beberapa hari di rumah sakit ini!" pinta dokter tersebut sambil memberikan saran kepada Azam. "Tolong berikan yang terbaik, Dokter!" sahut Azam dengan ekspresi wajah yang tampak bingung. "Baiklah. Ada yang ingin Anda tanyakan?" tanya dokter tersebut karena melihat wajah Azam yang sepertinya tengah memikirkan sesuatu yang berat. "Saya sedikit bingung, Dok. Soalnya, setahu saya, Maya selalu datang bulan dari tiga bulan yang lalu. Walaupun dia sering mengeluh sakit perut yang hebat." "Kemudian, waktu datang bulannya itu hanya beberapa hari saja tidak seperti ketika ia masih gadis dulu. Itulah yang sering Maya katakan kepada saya. Kemudian, sekarang Maya hamil. Jadi saya bingung, apakah mungkin perempuan yang sedang hamil bisa datang bulan?" tanya Azam karena Ia memang bingung dan sama sekali tidak mengerti tentang proses pembuahan. "Jika dilihat dari hasil USG yang baru kami lakukan barusan, pasien memang positif hamil dan itu sudah memasuki akhir bulan kedua. Tapi pikiran anda juga tidak salah karena sejatinya perempuan yang hamil tidak akan bisa datang bulan. Namun, ada satu kasus yang harus diperhitungkan." "Maksud, Dokter?" "Sekitar 2 dari 10 wanita dilaporkan pernah mengeluarkan darah dari k*********a saat sedang hamil. Biasanya hal ini terjadi saat trimester pertama masa kehamilan. Perdarahan selama kehamilan ini dapat disebabkan oleh banyak faktor. Misalnya bisa terjadi karena sesuatu yang serius, namun bisa juga merupakan suatu hal yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan." "Salah satunya begini, seseorang yang mengira bahwa dirinya sedang haid, tapi hamil bisa jadi disebabkan oleh perdarahan implantasi. Hal ini biasanya terjadi sekitar 10-14 hari setelah terjadinya pembuahan. Umumnya, keadaan ini tidak perlu dikhawatirkan dan akan berhenti dengan sendirinya," jelas sang dokter "Kemudian. Pada kehamilan trimester pertama, kemaluan yang mengeluarkan darah bisa disebabkan oleh keguguran atau hilangnya janin secara spontan sebelum usia lima bulan. Kemungkinan penyebab lainnya adalah adanya masalah pada leher rahim ibu hamil, seperti infeksi atau peradangan." "Penyebab haid tapi hamil pada trimester pertama lainnya adalah adanya kehamilan ektopik alias kehamilan di luar rahim. Selain itu, ada juga dugaan akibat hamil anggur, yaitu adanya massa abnormal yang bukan janin, namun tumbuh di dalam rahim setelah adanya pembuahan." "Makanya tadi saya katakan, bahwa pasien perlu melakukan perawatan disini untuk beberapa hari kedepan, demi mengetahui kondisinya." "Baik, Dokter. Saya mengerti. Tolong berikan yang terbaik pada istri dan juga calon anak saya. Berapa pun itu akan saya bayar, asalkan mereka dalam kondisi yang baik." "Saya mengerti dan setelah ini kita akan membawa pasien ke ruang perawatan." "Apa Maya sudah sadar, Dok?" "Sudah dan Anda boleh melihat pasien saat ini. Jangan lupa untuk mengatakan tentang kehamilannya, agar pasien bahagia dan lebih termotivasi untuk selalu sehat," saran dokter tersebut. "Iya, Dokter. Baiklah. Sekali lagi, Terima kasih banyak." "Sama-sama, silahkan!" Azam yang begitu bahagia langsung menemui Maya dan memberikan kecupan hangat di dahi istrinya tersebut. Maya yang belum mengetahui kondisi rahimnya, tampak bingung ketika melihat reaksi Azam terhadap dirinya. "Saya baik-baik saja kok, Azam. Kamu jangan terlalu khawatir! Mungkin saya hanya kelelahan saja." "Dengar, Maya! Mulai sekarang, kamu tidak boleh lagi melakukan pekerjaan rumah yang berat. Jika perlu, kamu stop untuk kuliah!" titah Azam dengan mata memohon. "Kenapa seperti itu, Azam? Bukankah kamu sudah berjanji bahwa saya boleh melanjutkan kuliah, walaupun sudah menjadi istrimu? Bagaimana mungkin kamu lupa?" tanya Maya tampak kecewa dengan keputusan Azam. "Karena sekarang kamu sedang hamil, Sayang." "Apa?" "Tapi ... ." "Kondisi kamu sangat lemah dan itulah yang menyebabkan kamu selalu tampak seperti datang bulan padahal sedang hamil. Sebaiknya kamu ikuti saran dokter untuk banyak beristirahat dan hanya melakukan aktivitas yang ringan saja! Untuk beberapa hari ke depan, kamu juga akan dirawat di sini. Dokter juga akan memberikan obat untuk penguat kandungan." Mata Maya berkaca-kaca, ia tidak pernah menyangka bahwa benih itu sudah tumbuh di dalam rahimnya. Maya pun merasa semakin sempurna sebagai seorang wanita dan ia berjanji akan mengikuti prosedur kesehatan demi menjaga buah hati dan cinta mereka. "Kita akan ke ruang perawatan sebentar lagi, Maya. Makasih untuk semuanya," kata Azam sambil mencium tangan Maya yang terasa lemah dan dingin. "Kamu harus kuat, Maya. Demi anak-anak Kita!" "Anak-anak? Itu terdengar banyak Azam?" "Saya tidak berbohong, Maya. Karena memang di dalam rahimmu, terdapat dua benih. Dokter bilang, kita akan memiliki bayi kembar." "Ini adalah kejutan terbaik Azam dan saya tidak menyangka bahwa hal ini bisa terjadi." "Itu makanya, Maya. Kamu tidak boleh bandel!" pinta Azam sambil mencolek ujung hidung Maya dengan ujung jari telunjuknya. Senyum cerah dari wajah yang cemerlang berhasil menutupi ketakutan Maya sejak tadi. Ia berharap, bisa menjadi seorang ibu yang baik bagi putra-putrinya nanti. Maya pun tidak akan tinggal diam jika ada sesuatu yang buruk dan akan menghancurkan buah cintanya itu. Untuk beberapa waktu, Maya seakan melupakan tentang Melisa, Andini, dan juga Joya yang sudah tiada. Sepertinya, saat ini hanya ada dirinya, Azam, dan juga calon anak mereka. Ini seperti dirinya memiliki dunianya sendiri yang terlindungi dari masalah luar dan mengancam kebahagiaan pribadinya. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN