Bibir tersenyum mata menari kecil dengan binaran yang mampu menerangi kotak hati nan kelam. Maya tampaknya sudah lupa akan pertanyaan dan kebingungan hatinya sejak kemarin. Yang ada saat ini hanyalah senyum dan rasa bersyukur atas kepercayaan Allah terhadap dirinya dan Azam.
Setibanya di ruang perawatan, Azam langsung duduk di atas tempat tidur yang sama dengan Maya. Lalu ia mengusap keringat Maya yang timbul di dahi.
Kasih sayang Azam makin kian tampak dan terasa. Maya pun merasa bersyukur mendapatkan suami seperti Azam. Ia berharap, Allah akan memberikan keselamatan dan perlindungan kepada buah cinta mereka hingga lahir ke dunia ini dan besar di dalam pelukan mereka.
"Azam, apakah kita berdosa ketika melakukan sesuatu yang salah. Namun, kita tidak mengetahuinya?"
"Maksudnya tidak sengaja?" tanya Azam sambil menatap mata Maya dan mengelus kepala istrinya tersebut
Maya mengangguk dengan tatapan iba tapi azan tidak mampu membaca arti dari ekspresi wajah Maya. "Ya pokoknya kesalahan, tapi kita tidak tahu atau tidak sengaja."
"Sesuatu ketidaksengajaan tidaklah dikenakan dosa sebagaimana disebutkan dalam ayat (QS. Al-Baqarah: 286). Artinya, ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tidak sengaja Dalam hadits disebutkan bahwa Allah telah memenuhi hal tersebut," jelas Azam dengan tatapan yakin.
"Benarkah?" tanya Maya kembali demi meyakinkan hatinya.
"Iya. Lalu, disambung lagi dengan ini. Sesungguhnya Allah memaafkan umatku ketika ia tidak sengaja, lupa atau dipaksa (HR. Ibnu Majah, no. 2043. 'Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih karena memiliki penguat dari jalur lainnya),' beber Azam dan ini mampu menenangkan hati Maya.
Azzam terus memberikan penjelasan kepada Maya agar hati istrinya tersebut tenang. Meskipun Azam sama sekali tidak mengetahui rahasia Maya. Mrnurut Azam, jika sudah waktunya, maka Maya akan menceritakan segalanya kepada Azam untuk itu ia tidak perlu memaksa."
"Dengar Maya! Mulai sekarang, janganlah memikirkan hal yang berat dan sulit! Kamu harus fokus menjaga kandunganmu dan saya akan segera mengabari ibu Asih agar beliau merasa bahagia seperti saya saat ini."
"Bagaimana dengan mama dan papa?" tanya Maya yang sebenarnya sangat penasaran akan sikap kedua orangtua Azam yang tampaknya mulai menjaga jarak terhadap dirinya sejak mereka pindah ke rumah sendiri.
Memang sejak Maya menikah, papa memang tidak pernah menjenguk Maya dan Azam secara bersama-sama. Hal itu juga menjadi buah pikiran Maya.
"Tenanglah! Saya sudah mengatakan kepada mama bahwa kita berada di rumah sakit saat ini. Tapi saya lupa mengatakan kepada beliau bahwa kamu sedang mengandung cucu mereka, bukan karena terluka ataupun menderita penyakit yang berbahaya.
"Ya ampun, Azam. Kkasihan mama kalau sampai cemas dengan kondisi saya."
"Baiklah, saya akan menghubungi mama kembali. Sebentar ya, Sayang atau kamu ingin sesuatu biar saya belikan?"
Maya menggeleng karena memang tidak ingin sesuatu apapun. Rasanya, selera makan Maya menurun drastis bukan karena hamil, melainkan tragedi yang menimpa Joya.
"Tidak, Azam. Saya hanya ingin kamu di sisi saya!" pinta Maya manja sambil menggenggam tangan Azam.
Bersambung.
Mohon maaf para pembaca semuanya. Saya sedang panas tinggi dan pusing. Nggak sanggup ngetik. Hanya mampu sebatas ini.
Makasih banyak yang sudah ngikutin novel horor yang satu ini ya. Semoga kalian sehat dan selalu dalam lindungan Allah, amin.