Azam tersenyum dan merasa bahagia dengan ucapan terakhir dari bibir Maya. "Baiklah, saya akan menelpon mama di sini saja," kata Azam dan ia melakukannya di depan Maya.
Belum sempat Azam menelepon dan menanyakan di mana Mama, beliau sudah berada di depan pintu ruang VIP. Azam cukup terkejut karena melihat mama dengan wajah yang pucat terlihat bergerak gesit menuju ke arah mereka.
"Azam-Azam, apa yang terjadi pada menantu Mama?" tanya mama sambil berjalan cepat ke arah Azam dan Maya.
"Mama? Dari mana dari Mama tahu Azam disini?"
"Tidak sulit untuk mama mencari kalian. Kalian kan anak-anak Mama," sahut mama dan Azam tersenyum tanpa beban. "Kamu tuh ya masih sempat-sempatnya senyum, sementara Mama sudah hampir kehilangan jantung sejak dari rumah tadi, ketika mendengar Maya masuk rumah sakit. Coba lihat istrimu itu pucat sekali!" kata Mama sedikit emosional dengan kelakuan Azam yang malah tampak berbahagia disaat Maya tengah kesakitan dan menderita.
"Ya ampun, Ma. Sabar dan duduk dulu!" pinta Azam sambil menarik tangan mama.
"Kamu itu yang buat Mama jadi nggak sabar. Beda banget sama papa kamu yang begitu perhatian dan peduli pada istrinya. Jangankan masuk rumah sakit dan diinfus seperti ini, ketika Mama tertusuk jarum benang jahit pun, papamu bisa menangis." Mama terus menggerutu dan merasa kesal karena melihat Azam yang tampaknya tidak merasakan sakit yang sama dengan Maya.
"Ma, Mama, gimana Azam nggak bahagia ya? Maya hamil Ma dan Mama tahu ada dua calon bayi di dalam rahim Maya." Azam mulai menjelaskan dan hal itu membuat Mama terdiam serta mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Benarkah? Ya ampun," sahut mama tampak begitu bahagia. Bahkan beliau tampak hampir meneteskan air mata karena tidak mampu lagi menahan rasa senang di hatinya. "Mama bakalan jadi Eyang uti dong?"
Azam mengangguk. "Tentu saja Ma dan Mama harus bersiap-siap untuk repot karena akan membantu Maya ngurusin anak-anak Azam."
"Soal itu, tenang saja," jawab Mama tegas sambil memegang pundak Azam. Mama benar-benar bahagia sekali, Azam. Ternyata seperti ini rasanya ketika kita mendengar bahwa akan ada tamu baru di dalam keluarga."
"Syukurlah jika Mama bahagia," jawab Azam dan Maya hanya tersenyum dengan mata yang berbinar-binar. Ia sangat merasa bahagia ketika melihat ekspresi mama yang begitu ceria, tidak seperti hari-hari biasanya.
"Maya, terima kasih ya kamu sudah memberikan Mama cucu. Mama senang sekali. Nanti, Mama akan mengatakan kepada teman-teman sosialita Mama, bahwa Mama akan menjadi eyang."
"Mama ini, jangan pamer Ma. Lagi pula kandungan Maya ini masih sangat kecil dan rentan. Makanya Maya tidak boleh terlalu lelah dan banyak pikiran. Dokter bilang, kondisi Maya tidak terlalu bagus dan ia harus lebih banyak beristirahat," jelas Azam.
"Serahkan saja kepada Mama Azam! Mama akan mencarikan asisten rumah tangga. Lalu, bagaimana dengan kuliah Maya?"
"Maya setuju untuk rehat, Ma. Nanti, setelah kondisinya memungkinkan, Maya akan kembali ke bangku kuliah dan mengambil gelarnya."
"Pemikiran yang bagus. Gini ya, Mama mau pulang dulu sebentar. Mama mau buatkan bubur untuk makan malam Maya dan mengambil beberapa setel pakaian untuk menginap di sini. Jadi, disaat kamu sibuk dengan aktifitas lain, Mama lah yang akan menjaga Maya."
"Makasih ya, Ma."
"Pamit dulu ya, sekalian nanti mau beli buah. Kamu harus makan makanan yang sehat dan bergizi Maya. Mulai sekarang, Mama adalah dokter ahli gizi khusus untuk kamu."
"Terima kasih, Ma," sahut Maya sambil tersenyum dan sama sekali tidak tampak tertekan.
Dengan langkah cepat, Mama Laras masuk ke rumah mewah miliknya. Saat itu, ternyata sang suami sudah berada di dalam rumah dan sudah menunggu mama yang tidak ada kabar.
"Dari mana saja, Ma? Nggak biasanya pergi diam-diam seperti itu."
"Dari rumah sakit, Pa. Tadi, Azam menelpon dan bilang kalau Maya pingsan. Sekarang, mereka berada di rumah sakit." Mama bergerak ke arah tangga.
"Ya ampun, kenapa lagi? Jangan-jangan Azam kembali akan menyalakan Papa untuk hal yang tidak Papa lakukan," ucap papa dan hal itu menghentikan langkah cepat mama yang baru saja meniti pertengahan anak tangga.
Dengan langkah lambat, mama kembali menuruni anak tangga dan mendekati suaminya sambil memberikan tatapan hangat.
"Maafkan putramu kalau sering menyudutkan dan juga menuduhmu, Mas! Dia tidak sengaja melakukannya."
"Saya sudah berusaha, Laras. Saya sudah berusaha," ucapnya dengan suara bergetar dan dari dalam bola mata papa serta mama, tampak kolam kecil yang sepertinya akan segera tumpah dan mengalir.
"Maya baik-baik saja, Mas." Mama memegang tangan kanan papa. "Tapi memang kondisinya sangat lemah karena saat ini tengah mengandung anak Azam. Dan itu tidak hanya satu melainkan dua," jelas mama dan hal itu membuat mata suaminya terbelalak dan air mata yang tadinya tertahan lemah, menjadi tumpah dan mengalir bebas hingga membasahi lantai putih bersih pada rumah mewah tersebut.
"Azam?Anak? Kembar?" tanya papa dengan suara yang tipis dengan bibir yang semakin bergetar. Wajah beliau bahkan memerah karena menahan perasaan yang begitu dalam.
Mama mengangguk dan matanya tampak berkaca-kaca. "Iya, Papa. Anak Azam kembar danitu cucu kita."
"Terima kasih, Tuhan," ucap papa sambil memeluk mama.
Ini adalah kali pertama papa benar-benar berasa bersyukur dengan Sang Pencipta sehingga batinnya pun menyerukan nama penguasa langit dan bumi dengan segala kerendahan hati.
"Selamat ya, Mas. Kamu akan segera menjadi Eyang kakung. Saya yakin sekali, kamu akan menjadi kakek yang hebat." Mama mengambil tangan papa dan menciumi ujung-ujung jari suaminya.
Papa mengangguk, "Iya Laras, saya akan menjadi kakek yang hebat. Saya akan melindungi cucu-cucu saya dengan apapun termasuk nyawa saya sendiri. Kamu bisa pegang omongan saya Laras dan ini adalah janji saya sebagai seorang ayah, sekaligus seorang suami, dan juga kakek."
"Saya percaya padamu, Mas. Sebaiknya, kamu ikut ke rumah sakit supaya Maya dan Azam tidak berpikir macam-macam dan merasa tidak disayang. Saat ini, perhatian dan motivasi sekecil apapun, sangat dibutuhkan oleh Maya."
"Papa mengerti, Ma. Mari kita berangkat sekarang!?"
"Ya tunggu dulu to, Pa. Mama mau buat bubur dulu untuk makan malam Maya dan menyiapkan beberapa setel pakaian untuk menginap di sana. Papa nggak masalah kan tinggal di rumah tanpa Mama?"
"Iya nggak apa-apa, Papa mengerti. Ya sudah kalau begitu, papa mandi dulu. Lalu bersiap-siap untuk ke rumah sakit."
"Rencana yang bagus," puji mama sambil terus tersenyum.
Mama dan papa pergi ke dalam kamar mereka sambil bergandengan tangan untuk membersihkan diri dan siap-siap. Setelah itu mama membuat bubur khusus untuk Maya yang dicampur dengan kaldu ayam kampung asli. Sementara Papa yang sedang melihat Mama sibuk kamu lebih memilih untuk ke kamar ritual dan melakukan sesuatu.
Pintu bermotif khusus itu didorong dengan tenaga yang banyak. Atmosfer pun, terasa berubah. Rasanya, di dalam kamar ini udaranya begitu lembab. Padahal, tidak menggunakan AC dan lokasinya sangat tertutup. Papa mendekati etalase kaca mini. Beliau menatap tanpa henti ke arah makhluk mengerikan yang terkurung di dalamnya.
"Kamu pasti sudah tahu tentang kabar berita yang Laras bawa kerumah ini. Dengar! Sejak awal, saya tidak pernah menginginkan kamu di dalam hidup saya. Namun, saya tidak bisa berbuat apa-apa dan ternyata, bukan kamu yang menjadi bonekanya, melainkan saya."
"Tapi, jangan macam-macam dengan saya kali ini! Karena jika kamu berani sedikit saja mendekati cucu-cucu saya, maka saya tidak akan segan-segan membakar diri saya sendiri sambil membawamu!" ancam Papa tampak sungguh-sungguh sambil menatap boneka mistis yang memiliki taring panjang dengan tubuh bagian atas seperti manusia berambut panjang dan sebagian bawah tubuhnya berbentuk ular yang melingkar.
Setelah mengancam iblis tersebut, papa membalik tubuh dan berniat untuk meninggalkan kamar tersebut. Namun pada saat yang bersamaan, boneka tersebut melirik jahat ke arah Papa sambil menyeringai.
Bersambung