Satu bulan setelah papa mengancam iblis yang telah menghancurkan hidupnya, beliau meminta kepada Azam untuk menginap beberapa hari di kediaman megahnya.
Tidak ingin membuat masalah dan menimbulkan rasa kecewa, Azam pun bertanya kepada Maya dan ia juga tidak merasa keberatan.
Entah berapa lama waktu yang akan mereka habiskan, yang jelas Azam akan terus memperhatikan perkembangan dan kondisi Maya selama berada di rumah bak istana tersebut.
"Maya, Azam! Ayo turun! Mama buat kudapan lezat ini," panggil mama Laras sekitar pukul 16.00 WIB.
"Iya, Ma. Papa belum pulang?" tanya Azam sambil menggandeng tangan Maya.
"Paling sebentar lagi. Semenjak kalian di sini, papa selalu pulang lebih awal. Mungkin hari ini beliau ada rapat penting."
"Iya, Ma."
"Hmmmh," keluh mama Laras.
"Kenapa, Ma?"
"Papa kamu itu terlalu lelah. Sejak dulu selalu bekerja keras."
"Maaf, Ma. Seharusnya Azam membantu papa."
"Tapi, papa ingin kamu kuliah dulu. Katanya, biar fokus."
Azam tersenyum, "Iya, Ma."
"Ayo dinikmati, Azam! Maya!"
"Iya, Ma."
Selama lebih dari tujuh malam Maya dan Azam menginap di rumah ini, sama sekali tidak pernah terjadi sesuatu yang aneh menurut sepasang suami istri ini. Bahkan mereka sangat nyaman.
Azam pun merasa bahagia karena Maya tidak lagi terlihat ketakutan dan mengeluarkan keringat dingin secara tiba-tiba. Apalagi, mama Laras selalu siaga dan begitu pandai dalam menjaga Maya.
Selain itu, sikap papa tidak lagi terasa kaku. Beliau sangat bahagia ketika tahu bahwa dirinya akan menjadi seorang eyang.
'Tak lama, ketika Azam sedang menonton acara televisi dan mama Laras berada di dapur. Terdengar suara ketukan pintu dan Maya langsung membukanya.
"Selamat sore," sapa seseorang itu dengan suara yang lembut dan tenang. "Saya Pakde nya Azam."
Laki-laki berbadan gempal tersebut memperkenalkan diri. Ia adalah orang yang memberikan Azam kalung untuk Maya.
"Oh ya ampun. Maaf, Pakde. Maya tidak tahu, silakan masuk!"
"Iya, terima kasih."
"Siapa, Sayang?" tanya Azam yang hanya menoleh ke arah ruang tamu dan pintu utama.
"Pakde," jawab Maya sambil melangkah ke dalam.
"Oh iya. Silakan masuk, De!"
"Iya, matursuwun."
"Kok nggak bilang-bilang mau datang, De?" sambut Azam. "Kan bisa jemput."
"Ya elah, Zam. Ndak usah repot! De nggak mau kalau ngerepotin," sahutnya yang seperti biasa dan datang seorang diri.
Maya berjalan ke arah dapur, "Mama, ada Pakde."
"Iya, sebentar!" Mama Laras berjalan cepat. "Mas, ayo masuk! 'Tak antar ke kamar ya?"
"Nanti saja! Masih mau ngobrol. Lagipula, ndak terlalu capek kok."
"Ya sudah, kalau gitu Azam angkat tasnya aja ke kamar."
"Monggo!"
Sesaat setelah Azam ke kamar dan mama Laras membuatkan kopi pahit, "Sehat banget ya kandungannya. Kelihatannya, kakung itu," ucap Pakde sambil menatap ke arah perut Maya.
"Amin, Pakde," sahut Maya sambil memegang perutnya.
Ia sama sekali tidak menaruh pikiran buruk kepada siapa pun di keluarga ini, jadi hanya berusaha untuk bersikap seperti seorang anak.
"Gimana rasanya?"
"Masih mual muntah kalau pagi, Pakde." Maya menjawab apa adanya.
Padahal bukan itu maksud dan tujuan dari pertanyaan tersebut. Sebab pakde ingin tahu reaksi tubuh Maya terhadap rumah ini.
"Mas, ayo diminum kopinya!"
"Iya, masih panas kok yo."
"Biasanya juga diseruput pas panas-panas gitu kok."
"Ha ha ha ha ha. Iya-iya." Pakde melakukan apa yang mama Laras katakan. Beliau mengangkat gelas dan mulai menyeruput kopi pahit kegemarannya.
"Pakde ini anak tertua. Beliau yang masih tersisa, selain papa dari tujuh bersaudara," jelas mama Laras kepada Maya.
"Ohh, begitu ya Ma?" sahut Maya sambil tersenyum dan ia mulai merasa dianggap ada.
Sedang asik mengobrol, papa pulang dan langsung menyapa saudaranya tersebut. Kemudian beliau menyapa Maya.
"Maya, bisa makan enak hari ini atau masih muntah terus?"
"Sudah lumayan kok, Pa."
"Ini Papa ada multivitamin. Tadi, pas beli buah, ketemu teman lama seorang dokter ahli kandungan. Papa cerita mengenai kondisi Maya dan beliau menyarankan untuk mengkonsumsi obat dan s**u ini."
Papa menyerahkan s**u dan obatnya kepada Maya. Serta buahnya kepada mama. "Dicoba ya, Maya!? Biar kamu enak makan. Jadi cucu Papa tidak kekurangan vitamin dan yang lainnya, untuk tumbuh."
"Iya, Pa. Nggak mungkin kalau Maya lupa meminumnya."
"Kamu kapan tiba, Mas?"
"Barusan aja."
"Pake apa?"
"Mobil to. Nek zaman dulu iyo, jalan kaki."
"Maksudnya, kenapa nggak minta jemput? Mbakyu dan anak-anak juga nggak diajak."
"Sibuk semua e."
"Ya sudah. Tak ke kamar sebentar ya?"
"Iya."
Malam harinya, setelah makan malam bersama dan terkesan hangat menurut Maya. Azam mengajaknya untuk beristirahat.
Seperti biasa, lampu kamar dipadamkan dan hanya tinggal cahaya kecil dari lampu tidur yang berada di atas meja kecil tepat di samping tempat tidur.
Sekitar pukul 01.00 WIB, Maya merasa haus dan ia lupa menyiapkan air mineral di dalam kamarnya.
Tanpa ingin mengganggu tidurnya Azam, Maya memutuskan untuk ke dapur sendirian. Maya duduk di kursi meja makan dan meneguk air mineralnya perlahan.
Pada saat yang bersamaan, dari sudut mata, Maya seperti melihat sesuatu yang berhasil menegakkan bulu-bulu halus di tubuhnya.
Sambil terus memegang gelas yang sebenarnya sudah kosong, Maya terus melirik dan melihat sosok itu bergerak meninggalkan dirinya.
Penasaran, Maya langsung membalik arah. Maya berdiri di pintu dapur sambil menyembunyikan tubuhnya.
Lalu ia melihat seseorang menuju ke kamar ritual dengan pakaian serba hitam dan sebagian wajahnya ditutupi dengan topi menyerupai ponco.
Siapa itu? Tanya Maya tanpa suara. Siapa malam-malam seperti ini yang masih bangun dan berdandan seperti itu? Maya menaruh rasa penasaran dan curiga pada waktu yang bersamaan.
Setelah merasa aman, Maya bergerak lamban untuk mengetahui sesuatu yang terasa janggal baginya.
Maya berdiri di depan kamar ritual, tiba-tiba saja terlihat sosok Azam berjalan cepat ke arah kamar belakang, menuju ke dapur.
Merasa aneh dengan gerakan Azam yang tiba-tiba dan kaku, Maya mengikuti Azam dan melupakan kamar ritual tersebut. Tetapi setibanya di dalam dapur, Maya tidak menemukan Azam.
Kemana Azam? Rasanya, mata ini tidak mungkin salah. Maya kembali bertanya pada dirinya sendiri sembari memeriksa ruang dapur.
Saat itu, suasana pun menjadi sangat dingin. Maya bahkan merasa mulai tidak nyaman dan memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya.
Baru berputar tubuh, Maya merasa ada seseorang berdiri di depan kran, tempat cuci piring. Padahal sebelumnya, tidak ada siapa pun di ruangan ini.
Maya menelan liurnya berat, tapi ia juga sangat penasaran. Dengan dua rasa hati yang berbeda, ia kembali menoleh ke belakang dan Azam lah yang berada di sana.
"Azam?" sapa Maya, namun tiba-tiba lampu berkedut seperti listrik padam, lalu kembali menyala dengan cepat. "Azam?" panggil Maya kembali karena Azam sudah tidak berada di hadapannya.
Maya bingung sendiri. Kalaupun Azam sudah kembali ke dalam kamar, kenapa tidak mengajak dirinya? Selain itu, Maya tidak merasa ada seseorang yang melewati tubuhnya karena ia berada di tengah-tengah pintu dapur.
Merasa benar-benar tidak nyaman, Maya memutuskan untuk balik ke dalam kamarnya dan ia kembali terkejut karena melihat suaminya sedang terlelap di atas tempat tidur.
"A-Azam?" tanya Maya ragu dan takut. Tapi, hati membimbingnya untuk kembali ke sisi Azam. Maya pun berbaring sambil terus menatap suami yang baru saja ia temui di dapur.
Ada apa? Sebelumnya, tidak pernah seperti ini? Tanya Maya sambil mengernyitkan dahinya. Ia benar-benar bingung dan berusaha untuk memahami situasinya.
Terakhir kali ia mendapatkan gangguan semacam ini adalah satu bulan yang lalu. Setelah itu, hidupnya begitu aman, tenang, dan damai.
Sambil berusaha menenangkan diri, Maya mencoba untuk terlelap. Antara sadar dan tidak, ia melihat sesuatu seperti mimpi. Bayangan tentang bayi kembar dan yang satunya telah tiada, lalu dikubur.
Disambung dengan pertengkaran sepasang suami istri dan berakhir dengan lumuran darah. Maya tertekan, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Bahkan ia mengeluarkan suara-suara aneh yang berhasil membangunkan Azam. Sadar ada yang tidak beres dengan istrinya, Azam langsung membangunkan Maya dan memeluknya.
"Sayang! Istighfar, Maya!" pinta Azam sambil menggoyang-goyangkan tubuh Maya agar terbangun. Sayang, Maya masih terhanyut di dalam mimpi buruknya.
"Astagfirullah hal azim, Maya. Ikuti saya! Astagfirullah hal azim. Ya Allah, hamba memohon penjagaan atas istri hamba, ya Allah." Azam hampir menangis.
“Allaahumma innii a’uudzubika min ‘amalisy syaithaani wa sayyiaatil ahlami. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari perbuatan setan dan dari mimpi-mimpi yang buruk." Azam membisikkan doa tersebut dikedua telinga Maya sambil memeluknya.
“Allaahumma innii a’uudzubika min ‘amalisy syaithaani wa sayyiaatil ahlami." Maya terdengar menyalin ucapan Azam setelah beberapa kali Azam bisikkan doa itu di telinganya.
Azam terus menuntun istrinya tersebut hingga Maya benar-benar terbangun dengan keadaan yang lebih tenang.
"Astagfirullah hal azim," ucap Azam.
"Astagfirullah hal azim," sambut Maya.
"Shalat tahajud mau, Sayang?" tanya Azam sembari merapikan rambut Maya yang basah. Namun Maya belum menjawab. "Astagfirullah hal azim ... ."
Lalu Azam melanjutkannya dengan dzikir. Maya pun mulai mengikuti ucapan Azam sambil menetes air mata.
"Tahajud yuk! InsyaAllah menjadi tenang." Maya mengangguk lemas dan Azam membantunya untuk berdiri.
Tidak ada tempat untuk memohon perlindungan, kecuali kepada Sang Pencipta.
Bersambung.
Hai... selamat datang di novel horor aku. Karena belum direvisi, kalau mau lanjut ya silahkan. Tapi sebelumnya, mohon maaf untuk typo dan kekurangan lainnya. Akan segera direvisi. Makasih.