Pertarungan

1624 Kata
Pagi harinya, Maya bangun dengan wajah yang pucat. Ia tetap membantu mama Laras untuk menyiapkan sarapan. "Maya, cukup!" Mama Laras mendorong perlahan pundak Maya. "Sekarang, kamu duduk dan biar Mama yang membuat s**u hangat khusus buat kamu." Maya tersenyum, "Makasih banyak ya, Ma." Maya menunduk penuh rasa haru. "Kamu kenapa?" tanya mama Laras sambil berjalan dan mengaduk s**u rasa coklat. "Apa ada yang salah? Atau Mama mengatakan sesuatu yang buruk?" Maya mengangkat kepala, lalu menggeleng. "Selama ini, Maya selalu berpikir dan bertanya di dalam hati. Bagaimana rasanya mempunyai ibu? Dan ternyata ... bahagia sekali." Mama Laras tersenyum, "Ayo diminum! Mumpung masih hangat. Mama juga begitu, dulu sempat berpikir, bagaimana ya rasanya kalau mempunyai anak perempuan? Pasti seru karena bisa diajak ke arisan, nemani ngobrol sambil masak, dan lain sebagainya." "Mama ini ... ." "Maaf ya karena di awal perjumpaan, Mama dan papa sudah bersikap misterius kepadamu. Mama harap, kamu tidak memasukkannya ke dalam hati, Maya!" "Sebenarnya Maya memang takut, Ma. Tapi sekarang nggak lagi kok. Maya malah merasa bahagia dan hidup ini terasa sempurna sekali. Makasih ya, Ma." "Jangan sungkan ya, Maya! Mulai sekarang, Mama akan menjaga kamu dengan baik. Semoga Mama bisa mendampingi kalian berdua hingga kamu dan Azam punya anak yang banyak." "Ha ha ha ha ha, Mama ini. Maya kan jadi malu." "Wah, ada apa ini? Seru sekali." Papa menyapa sebelum berangkat ke kantor. "Ma, buat sarapan apa?" "Bubur, Pa." "Bubur lagi? Papa merasa semakin tua." "Ha ha ha ha ha, Papa ini. Memang Papa sudah tua. Sebentar lagi kan punya cucu." "Ha ha ha ha ha, iya." Suara tawa mulai memenuhi keluarga yang selama ini terkesan angkuh, pendiam, dan juga misterius. Kehadiran cabang bayi di dalam rahim Maya, bak pelita di dalam gulita. Azam yang berdiri di luar dapur pun merasakan hal yang sama. Ini adalah momen langka, di mana papa dan mamanya tertawa lepas, lebih dari terbahak-bahak. "Azam mana ya? Apa nggak sarapan bareng?" Mama mulai menanyakan putra kesayangannya. "Padahal katanya ingin ke kampus mengurus izin Maya, Ma. Mungkin sebentar lagi akan turun." "Oh iya. Tunggu aja! Paling sebentar lagi. Toh Pakde juga belum keluar kamar." "Pa, Ma, Mayang," sapa Azam setelah beberapa menit menyembunyikan diri di balik dinding. "Pakde nggak sarapan bareng?" "Biar aja," sahut papa. "Mungkin sedang teleponan. Mbok, antar saja sarapan Pakde ke kamarnya!?" "Baik, Ndoro." Setelah sarapan yang seru dan menyenangkan, papa dan Azam pergi untuk mengerjakan urusannya masing-masing. Sementara Maya dan mama Laras, pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Maya. Hasilnya, semua dalam keadaan baik-baik saja. Di perjalanan pulang ke rumah, "Maya!" "Iya, Ma?" "Tolong jaga baik-baik keturunan Mama ya?! Jangan terlalu banyak melakukan aktivitas yang tidak penting! Lagipula, di rumah itu kan ada asisten rumah tangga. Jadi, kamu hanya perlu memintanya saja." "Maya mengerti, Ma." "Satu lagi. Kamu boleh kemanapun yang kamu mau selama di rumah itu. Kecuali, kamar pribadi papa yang bergambar wayang dengan motif kejawen kuno." "Eeemh ... ." Maya tampak ingin bertanya lebih banyak lagi, tapi mama Laras memotongnya dengan baik. "Di sana banyak sekali dokumen penting. Mulai dari akta kepemilikan rumah, perusahaan, pabrik, dan juga data simpanan harta papa di bank. Mama saja, tidak berani mengganggunya," beber mama Laras dalam kebohongan. Semua itu beliau lakukan demi menjauhkan Maya dari masalah. Mama Laras menyadari sesuatu, Maya bukanlah tipe perempuan haus harta dan ia akan selalu menjaga tata krama. "Maya mengerti, Ma. InsyaAllah tidak akan melakukan kesalahan." "Bagus. Soalnya kamar itu memang tidak di kunci dengan gembok khusus. Semua itu karena papa percaya kepada semua orang yang berada di sekelilingnya." "Baik, Ma. Maya paham sekali." Malam harinya, setelah makan malam. Azam dan Maya masuk ke kamar lebih dulu. Mereka melakukan rutinitas pasangan suami istri yang indah dan diselimuti dengan romantika. Setelah pukul 23.00 WIB, Maya menyadari sesuatu. Ia lupa meminum s**u yang sudah dibuatkan oleh mama Laras. Seharusnya, Maya tidak meninggalkan gelas itu di meja dapur. Tidak ingin menyinggung perasaan mama yang sudah membuatkan s**u untuknya, Maya pun bergegas turun dan berniat untuk menikmati s**u dingin tersebut. Baru setengah gelas, Maya kembali merasa ada seseorang berdiri di belakangnya. Ia pun langsung menoleh dengan cepat dan sekali lagi, Maya melihat seseorang yang tampak misterius ke arah kamar ritual tersebut. Maya hanya berdiri sambil mengintip. Ia sudah diperingati oleh mama Laras dan tidak ingin coba-coba untuk mencari tahu tentang semua hal yang berhubungan dengan kamar terlarang tersebut. 'Tak lama, Maya mendengar suara keran air dan ia langsung menatap ke arah tempat cucian piring. "Mbak, bikin kaget saja," ucap Maya ketika melihat seseorang yang begitu mirip dengan salah seorang asisten rumah tangga termuda di rumah tersebut (Siti). Tanpa menjawab, Siti tampaknya masih asik memperhatikan air kran mengucur deras. Maya heran dan memutuskan untuk mendekatinya. "Mbak!" sapa maya sekali lagi sambil menyentuh lengan kiri asisten rumah tangga tersebut. 'Tak lama, Siti menoleh kan wajahnya dengan sangat cepat dan tiba-tiba saja bola mata wanita tersebut terlepas dari cangkangnya begitu saja. Maya menjadi takut serta jijik hingga ia memuntahkan s**u yang baru saja diminum. Saat Maya mundur dengan cepat, Siti sama sekali tidak bergerak ataupun berniat untuk mengejar. Ia hanya diam di tempat sambil tersenyum. "Astagfirullah hal azim ... astagfirullah hal azim ... astagfirullah hal azim ... ." Maya terus istighfar sambil mundur dengan kedua kaki yang terasa lemah. Kemudian dari arah kamar rahasia, ia melihat bayangan asing yang besar dan tinggi. Maya semakin bergetar, hingga seseorang memegang kedua lengannya dari samping sambil menyapa. "Ada apa?" tanya papa dengan tatapan khawatir. "Astagfirullah hal azim ... astagfirullah hal azim ... astagfirullah hal azim ... ." "Ini Papa, Maya. Ada apa?" Maya terus saja menatap ke arah kamar karena ia masih melihat gambaran seperti ekor yang berukuran besar. "Maya!" Papa memegang kedua pipi Maya, kemudian membacakan mantra penenang. "Maya!" "Papa?" "Iya, ini Papa." Papa memegang tangan Maya seperti seorang ayah terhadap putrinya. "Kenapa kamu?" "A-a, Ma-Maya," ucap Maya terbata-bata, namun ia tidak menangis. "Ada yang mengganggu?" Maya menganggukkan kepalanya sambil terus melirik ke arah kamar ritual. Saat itu, papa hanya berpikir bahwa makhluk yang ia kurung, mulai melakukan kejahatan demi mengusik Maya. "Tenanglah! Ada Papa di sini. Papa akan menjaga kalian semuanya dengan baik. Mari Papa antar ke dalam kamar!" ajaknya sambil menggiring Maya ke arah kamar nya. Maya menoleh lagi ke dalam dapur, untuk memastikan penglihatannya. "Maya butuh apa? Air minum?" Maya menggeleng sangat cepat. Waktu itu, pakaian maya tumpak akibat air s**u yang keluar sesaat setelah melihat pemandangan menjijikkan tersebut. "Ayo, Maya! Kamu harus istirahat agar kesehatanmu, tidak terganggu." Maya mengangguk dan mengikuti keinginan mertuanya. Ini adalah kali pertama, sang papa mengajak maya berbicara dalam durasi yang cukup lama. Setibanya di depan pintu kamar, "Kunci pintunya, ganti pakaianmu, dan tidurlah! Papa akan menjaga kalian semua, janji." Maya mengangguk, "Terima kasih, Pa." "Sama-sama. Rehat ya!" Maya masuk ke dalam kamar, tapi papa masih berdiri di muka pintu sambil menundukkan kepalanya. Beliau berpikir keras dan ingin melakukan sesuatu yang berguna bagi keluarganya. Setelah lebih dari 30 menit berdiam diri di depan pintu kamar Azam dan Maya, papa bergegas turun dan menuju ke kamar ritualnya untuk melakukan sesuatu. "Apa yang kamu lakukan? Saya sudah mengatakan nya, bukan? Jangan ganggu dia dan keturunan saya!" bentak papa sambil memukul meja. Beliau tampak marah kali ini, lalu tanpa perduli dengan dirinya sendiri, papa mengambil kain hitam panjang dan menutupi kotak kaca berisikan boneka mistis tersebut. Satu-satunya yang ada di dalam pikiran papa adalah menghancurkan atau membuang makhluk yang sudah menyiksa hidupnya selama puluhan tahun, apa pun resikonya. Sayangnya, papa melupakan sesuatu. Yaitu, hati dan pikirannya terhubung pada makhluk gaib tersebut dan ia tidak Terima dengan niat sang pemilik. Saat ini, tidak ada satu pun orang yang mengetahui bahwa papa berniat untuk meninggalkan rumah dan membuang jauh-jauh makhluk keji itu ke lautan. Perjalanan malam dimulai, papa menyadari ini bukanlah hal yang mudah. Tapi beliau harus mencobanya, sekali lagi. Tujuannya hanya satu yaitu membuang makhluk tersebut ke lautan atau melawannya hingga makhluk itu mengganti posisi Azam dengan papanya. Dengan begitu, meskipun makhluk itu terluka, maka papa lah yang akan menanggung nya, bukan Azam. Sekitar pukul 03.45 WIB. Kotak kaca mulai bergerak sendiri ketika sudah hampir tiba di pelabuhan (bibir lautan). Tuan Wibowo menambahkan jumlah mantra dan juga kalung kain pemberian sang ayah kepada dirinya untuk menundukkan boneka mistis tersebut. Ini tidak dapat bertahan lama, hanya 60 menit saja. Kemudian hanya ada dua kemungkinan. Yaitu sebuah pertarungan dengan kemenangan, namun cacat. Atau kekalahan yang berujung kematian. Jika mati, tentunya papa tidak ingin menjadi sia-sia. Beliau sudah menyiapkan kejutan terakhir untuk makhluk yang sudah menyiksa hidupnya tersebut. Pukul 04.30 WIB. Suara erangan yang menggema terdengar di dalam mobil. Jantung tuan Wibowo berdegup kencang. Ini adalah waktunya, tapi lautan masih cukup jauh. Setelah 45 menit dan hampir tiba, pergerakan makhluk itu tidak dapat diprediksi, ternyata ia begitu marah setelah menyadari bahwa dirinya akan dibinasakan dan dibuang. Secara gaib, ekornya mengikat leher tuan Wibowo. Semua terjadi begitu cepat dan tidak terduga. "Aaak!!" teriaknya karena mobil yang ia bawa menabrak pohon besar di kiri jalan. Darah segar mengalir cepat dari dahinya. Namun ia tidak bersedia menyerah. Di dalam kondisi yang sangat tertekan dan sulit untuk menggerakkan tubuh, tuan Wibowo berkonsentrasi untuk melepaskan sukmanya. Kemudian ia menggigit ujung ekor makhluk tersebut, sebelum ia menggila dan benar-benar lepas kendali. "Aaaggg," erang boneka iblis yang hanya mampu didengarkan oleh orang-orang tertentu saja. Pertarungan gaib terjadi. Tuan Wibowo menghadapi raksasa keji seorang diri demi putra dan keturunannya. Semua mantra dan ilmu yang ia pelajari selama puluhan tahun, mampu menyakiti makhluk tersebut. Namun, tuan Wibowo juga hampir berakhir. Semua itu karena ia hanya orang biasa yang dipaksa kuat oleh keadaan. "Kembali kamu ke lautan!" pekiknya sambil memerintah dan mengeluarkan mantra api yang terakhir. Lalu sukmo tua itu lunglai dan tergeletak di tanah. Ayah ataupun ibu, sejatinya mereka (orang tua), akan selalu melindungi putra putri mereka. Meskipun harus bertukar keadaan dan nyawa. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN