Sekitar pukul 05.15 WIB, udara di rumah megah itu terasa sangat dingin. Sepertinya bongkahan es dalam jumlah besar, mendarat di tengah-tengah kediaman Wibowo tersebut.
'Tak lama, terdengar suara kaki cepat menuju ke arah kamar Azam dan Maya. Saat pintu terbuka, mama Laras melihat anak-anaknya tengah mengangkat kedua tangan untuk berdoa bersama.
Untuk sesaat, demi menghormati anak-anaknya, mama Laras menghentikan langkah dan menutup mulut dengan tangan kanannya. Beliau berusaha menahan diri, meskipun tengah berada di dalam kekalutan.
"Ada apa, Ma?" Azam menoleh ke belakang saat menyadari kehadiran mamanya di sisi pintu kamar.
"Kamu lihat papa, Azam?"
Azam berdiri bersama Maya, "Tidak, Ma. Kami belum keluar dari kamar sejak tadi." Azam melipat sajadah dan mendekati mamanya. "Mama yang tenang ya! Azam cari dulu."
"Bagaimana bisa tenang? Papa kamu tidak pernah seperti ini. Mama sudah mencari ke seluruh ruangan, tapi papa kamu tidak ada."
"Mama yakin?"
"Hanya ... ." Mama Laras belum ke kamar ritual dan saat ingin mengatakannya kepada Azam, Azam menghentikan ucapan mama agar Maya tidak curiga.
"Kalau begitu, Azam akan memeriksa bagasi untuk mengecek mobil papa. Oh iya, Pakde?"
"Sepertinya masih di kamar, wong dikunci dari dalam."
"Oke, Mama sama Maya aja ya dan tunggu Azam di sini!"
"Iya, Nak." Mama Laras menjaga Maya karena firasatnya semakin memburuk subuh ini.
Sementara Azam terus bergerak cepat ke arah kamar ritual yang selama ini selalu ia hindari. Azam sudah selesai memeriksa ruangan tersebut, namun papanya tidak juga ditemukan.
Saat itu, ia berniat untuk mencari di garasi samping rumah. Tapi, pikirannya tersentil pada sesuatu yang tidak lagi berada pada tempatnya.
Azam membalik tubuh dan ia berjalan kembali ke arah kotak kaca yang biasanya diletakkan di dalam lemari kaca berlapis emas.
"Di mana dia?" tanya Azam sambil menekuk dahi. "Jangan-jangan ... ."
Pikirannya menjadi tidak enak, Azam langsung berlari ke arah garasi untuk memastikan kebenaran dugaannya.
Ternyata Azam benar, papanya pergi bersama kotak kaca berisikan boneka misterius yang sangat menyeramkan itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Azam sambil memegang meja ukuran sedang di ruangan tersebut. "Kemarin malam, Maya ketakutan hingga bermimpi buruk. Sekarang, papa dan boneka itu menghilang."
'Tak lama, terdengar suara telepon dan asisten rumah tangga lah yang mengangkatnya. Azam pun langsung berlari ke arah depan dan menanyakan kepada bibi, tentang telepon dari siapa.
"Aden, Tuan Di rumah sakit. Beliau kecelakaan. Ini dari polisi," bisik bibi agar mama Laras tidak tahu.
"Sini, Bi!" Azam melanjutkan pembicaraan dan ia langsung mengetahui tentang di mana keberadaan papanya.
Papa jauh sekali sampai keluar kota. Kata Azam di dalam hati, sambil meletakkan teleponnya.
"Azam, papa kenapa? Mama dengar tadi kalian memanggil papa?"
"Mama yang tenang ya! Kita akan menemui papa sekarang."
"Iya, tapi... papa kamu kenapa?"
"Azam, apa saya boleh ikut?"
"Maya, apa kamu kuat? Ini jauh."
"Sebenarnya ada apa, Azam?" Mama Laras terus bertanya tanpa henti.
"Ma, nanti Azam jelaskan di perjalanan. Dan kamu Maya, sebaiknya tetap di rumah! Ada pakde dan bibi juga, kan?"
"Ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya!?"
"Iya, May." Azam mencium dahi Maya. "Ayo, Ma!" Lalu memegang tangan mama Laras.
Sesampainya di dalam mobil, Azam mengatakan apa yang ia ketahui tentang papanya. Mama Laras terdiam di dalam ketakutan. Beliau dapat membayangkan tentang apa yang terjadi saat ini kepada suaminya.
"Jujur, Azam! Apa papamu baik-baik saja?"
"Iya, Ma. Polisi bilang, beliau selamat. Tapi lebih baik kita bertemu langsung."
"Iya." Mama Laras menganggukkan kepalanya.
Perjalanan ke luar kota dimulai. Azam terus menyusuri jalanan yang sebenarnya asing dan jarang dilalui oleh keluarga mereka.
Namun ketika air laut tampak dari pinggir jalan, Mama Laras langsung memahami situasi yang diinginkan oleh suaminya.
"Azam, ini adalah arah ke pelabuhan dagang utama bukan?" tanya mama Laras sambil terus memperhatikan sisi kiri jalan.
"Benar, Ma. Apa Mama mengetahui sesuatu?"
"Untuk memastikannya, kita harus bertanya langsung kepada papa. Tapi, jika dilihat dari situasi dan kondisinya, sepertinya ini adalah rencana papamu untuk mengembalikan jenglot itu ke lautan," beber mama Laras, namun beliau tampak begitu yakin.
"Kalau itu prediksi Mama, berarti sesuai dengan apa yang Azam lihat di kamar ritual tadi. Sebab, boneka itu tidak lagi berada di sana. Bahkan, kotak kaca yang selalu papa jaga di dalam lemari emas pun, menghilang."
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu begitu gegabah dan pergi tanpa mempersiapkan apa pun, Mas?"
Mama Laras tampak menyesal. Sepertinya beliau cukup memahami apa yang harus papa lakukan sebelum membuang iblis terkutuk tersebut.
"Soal itu, Azam tidak tahu."
"Semoga saja ini menjadi akhir yang baik buat keluarga kita."
"Amin, Ma."
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama tujuh jam, Azam dan mama Laras tiba di salah satu rumah sakit Kabupaten yang tidak jauh dari pelabuhan.
Di sana, mobil tuan Pujo Wibowo ditemukan oleh polisi, bersama dirinya yang sudah tidak sadarkan diri.
Mama dan Azam langsung menuju ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IDG), setelah menemui dokter yang memberi tindakan kepada tuan Wibowo.
Saat itu, dari dokter, mama Laras dan Azam mengetahui tentang kondisi sang papa yang tidak lagi sempurna seperti sebelumnya.
Dengan berat hati, mama Laras mengiklaskan semua yang sudah terjadi kepada suaminya. Beliau sadar, sebenarnya luka akibat kecelakaan tersebut tampak biasa saja. Hanya perlu jahitan di bagian dahi tuan Wibowo saja.
Tetapi pada kenyataannya, sekujur tubuh laki-laki paruh baya tersebut tidak lagi memiliki rasa dan tidak dapat untuk digerakkan seperti biasanya.
Hanya air mata yang mengalir pelan dari kedua sisi mata sang papa, seolah mengisyaratkan bahwa semua sudah berakhir dan saya dalam keadaan baik-baik saja. Saya ikhlas menerima segalanya demi keluarga.
Setelah mampu menenangkan diri, mama Laras mendekat dan mencium seluruh bagian wajah papa tanpa mengatakan apa pun.
Sebab, mama sangat tahu mengenai keputusan sang suami, serta jalan yang ia pilih. Di sisi lain, Azan pun mengucapkan rasa terima kasih kepada papanya.
Menurut Azam, papa pantas mendapatkannya karena memang beliau sudah berusaha keras untuk menyingkirkan makhluk mistis yang menyeramkan tersebut.
"Setelah ini, suami Anda akan sulit untuk diajak berkomunikasi karena stroke yang menyerangnya sangat berat. Bahkan bagian bibirnya pun tidak dapat digerakkan untuk sekedar berbicara."
"Tapi, Anda tidak perlu khawatir Nyonya! Apalagi di kota, peralatan kesehatannya sangat menunjang sehingga jika terus melakukan terapi, kemungkinan besar pasien akan memiliki kesempatan untuk sehat kembali. Setidaknya, pasien bisa mengucapkan beberapa kata untuk menghibur keluarga."
"Saya mengerti, Dokter. Apakah saya boleh membawa suami saya ke kota untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik?"
"Tentu saja. Saran saya, sepertinya Anda harus mencari seorang perawat untuk mengurus pasien karena ini tidak akan mudah."
"Tidak, Dokter. Saya sendiri lah yang akan merawat suami saya," ucap mama Laras sambil tersenyum dengan mata yang basah.
"Baiklah," sahut dokter tersebut sambil tersenyum.
"Mas, ini adalah bentuk pengabdian saya terhadap laki-laki yang sudah melindungi diri saya sejak dulu, hingga calon cucu saya saat ini," bisik mama Laras dengan bibir yang bergetar. Lalu ia mencium pipi papa yang membiru.
Saat itu, tuan Wibowo tampak bahagia. Beliau tampak ingin menggerakkan mulutnya seakan ingin mengatakan sesuatu kepada mama Laras.
"Saya tahu apa maksud kamu, Mas. Tenanglah! Semua akan baik-baik saja. Saya sama sekali tidak keberatan untuk merawat kamu, meskipun seperti seorang bayi kembali."
Azam menangis dalam diam. Ia tidak tahu harus mengatakan apalagi, selain kata syukur karena kesempatan yang diberikan oleh Allah kepada keluarganya untuk terlepas dari makhluk yang sudah menyesatkan kedua orang tuanya sejak lama.
"Azam dan Maya juga tidak akan meninggalkan papa dalam kondisi apa pun. Bersama-sama kita akan menjalani hari dan Azam harap, papa bisa menjadi pribadi yang lebih baik untuk menjadi contoh bagi cucu papa nanti."
Ambulan sudah disiapkan dan tubuh laki-laki yang tampak lemah tersebut diangkat menggunakan kasur khusus. Rencananya, papa akan langsung di rawat di rumah sakit terbaik di kota.
"Azam, Mama barengan sama Papa saja ya? Kamu sendiri enggak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa kok, Ma. Mobil Papa, biar polisi saja yang mengurusnya nanti."
"Ya sudah kalau begitu. Mama duluan ya?"
"Iya, Ma."
Sekitar pukul 16.00 WIB, Azam tiba di rumah. Saat itu, ia berniat untuk mengajak Maya beserta pakde menjenguk papa di rumah sakit.
Pakde tampak terkejut dengan ucapan Azam yang mengatakan bahwa papanya mengalami kecelakaan dan terserang stroke.
Bagaimana bisa? Sepengetahuan saya, kecelakaan jenis apa pun akan sulit menghampiri sang pemilik boneka mistis yang tangguh seperti milik Wibowo. Dia rajanya demit e. Kata pakde tanya suara.
Tapi, pakde tidak mengatakan hal itu di depan Azam dan juga Maya. Namun kecurigaannya semakin kuat, ketika memutuskan untuk melihat ke dalam ruang ritual dan ternyata jenglot tersebut sudah tidak berada di sana.
"Azam, setelah menjenguk papamu, pakde langsung permisi untuk pulang ya?" ucap pakde dengan ekspresi wajah yang tidak biasa.
Tampaknya beliau sedang tidak bahagia saat ini. Menurut Azam wajar saja, saudaranya tengah tertimpa musibah.
"Kenapa buru-buru sekali, Pakde? Apa nggak ingin bermalam dulu di rumah sakit untuk menemani papa? Beliau pasti sangat membutuhkan perhatian dan dukungan dari Pakde, sebagai saudara satu-satunya yang beliau miliki."
"Bukan begitu, Azam," sahut pakde sambil memegang pundak keponakannya tersebut. "Pakde ingin bertanya kepada sesepuh di kampung, mengenai apa obat yang bagus untuk orang yang terkena penyakit seperti papamu itu," sambungnya yang berusaha untuk menghilangkan prasangka di dalam hati Azam.
"Ya sudah kalau begitu, Pakde. Azam menurut saja. Apa pun yang terbaik, akan Azam ikuti saat ini."
"Yo wes, kalau begitu ayo kita ke rumah sakit sekarang!"
Bersambung.