Ancaman dan Pertemuan

1401 Kata
Setibanya di rumah sakit, setelah mama Laras dan Azam membicarakan hal pribadi kepada papa, saat ini giliran pakde yang berbicara empat mata dengan tuan Wibowo. Pakde berdiri sambil melipat tangannya ke belakang. Papa pun melirik untuk memastikan pandangannya. "Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya pakde dengan suara yang dingin. Saat itu, papa hanya bisa memberikan alasan melalui tatapan matanya. "Tidak semua orang memiliki makhluk kuat seperti Legi. Tapi kamu malah menyia-nyiakannya. Saya saja sangat ingin dari dulu, tapi ndak iso," ucapnya sambil menggelengkan kepala. "Padahal, saya pun sudah mengalah. Seharusnya, kalau kamu ndak mau lagi memelihara Legi, kamu berikan saja kepada saya!" "Setelah ini, semua musuh-musuhmu akan menyerang dan kamu akan semakin menderita, Jo." "Bukan cuma kamu saja, tapi juga anak cucumu. Usahamu akan runtuh dan kamu akan hancur (sakit menahun). Kamu akan sengsara seperti sesepuh kita dulu," omelnya tanpa henti dan papa hanya tampak menelan liurnya berat. "Pujo-Pujo. Saya sangat kecewa sama kamu. Padahal saya begitu ingin memilikinya, tapi malah kamu buang," ulangnya sekali lagi. Lalu pakde mengunci mulutnya rapat-rapat. Beliau tampak sangat kesal. Sebenarnya, pakde tahu persis keadaannya. Boneka mistis itu tidak bisa dipindahkan kepada orang lain, selain keturunan lurus dari tuan Pujo Wibowo. Bahkan sejak awal, papa juga sudah menolak untuk ditumpangi. Sayang, beliau tidak diberikan kesempatan untuk menolak ataupun mengelak. Setelah 60 menit, "Saya tak pamit dulu." Tanpa sentuhan dan doa untuk papa, pakde keluar dari ruangan dan meminta izin untuk pulang ke kampung kepada yang lainnya. "Paling lambat, besok pagi saya akan pulang. Kalau boleh, saya mau istirahat saja dulu di rumah malam ini." "Iya, Pakde," sahut Azam dan mama. Pakde pulang ke rumah megah tersebut dan ia merencanakan sesuatu untuk kembali memanggil makhluk mistis itu. Kali ini, ialah yang ingin memiliki nya. Ndak ada cara lain, saya harus mencobanya. Lagipula, Legi ndak mungkin mati semudah ini. Pakde berkata tanpa suara. Pujo harus tetap dijaga! Sambungnya pada diri sendiri. ***** Malam harinya, Pakde yang hanya tinggal bersama beberapa orang asisten rumah tangga yang memang memiliki peraturan untuk tidak keluar kamar, di atas pukul 23.00 WIB, mulai melakukan sesuatu untuk memanggil kembali Legi (Boneka mistis). Ia membakar kemenyan yang biasa digunakan oleh papanya Azam untuk memanggil makhluk tersebut (madat), jika sedang ingin memberikan sesuatu. Pakde berharap, semuanya belum terlambat. Sore tadi, sebelum semua acara ritual, pakde sudah menyiapkan kotak kaca yang sama. Ia juga mempersiapkan semuanya seorang diri, termasuk darah ayam cemani (ayam hitam) dan jajan pasar serta syarat lainnya. Di dalam kamar ritual, pakde memulai aktivitasnya. Saat itu, koneksi antara dirinya dan Legi sangat buruk. Ia pun memikirkan dua kemungkinan. Yaitu, harus menggunakan tumbal atau melakukan perjanjian gaib yang baru. Setelah pukul 01.30 WIB, aura makhluk jahat tersebut mulai terasa. Pakde pun langsung tersenyum puas. "Saya akan memberikan apa yang kamu mau, asalkan kamu kembali ke dalam keluarga kami," pinta pakde dalam keadaan semedi. "Wibowo sudah menyakitimu, ikut saja dengan saya? Atau kamu punya keinginan lain?" Pilihan kedua adalah permintaan yang berat. Tapi demi mendapatkan makhluk impiannya, pakde menyetujuinya syarat tersebut. "Baik, saya setuju," kata pakde sambil tersenyum. "Sudah waktunya, kini giliran saya." Legi kembali ke dalam kotak kaca dan hadir dalam keadaan boneka yang terluka. Saat itu, pakde langsung menelepon putranya agar menjemput. Pagi-pagi sekali, pakde ingin langsung pulang bersama Legi dan semua kebahagiaan serta kemenangannya. Kali ini, pakde merasa menang. Padahal, dia hanyalah alat yang digunakan iblis tersebut (Legi) untuk mencapai tujuannya. ***** Enam bulan kemudian, di kediaman mewah itu sudah tidak ada lagi gangguan apa pun. Bahkan penampakan aneh yang menyeramkan sudah tidak lagi Maya lihat. Kedamaian terasa nyata dan mama Laras mulai menegakkan shalatnya. Dibimbing oleh Azam dan dibantu Maya, kedua orang tuan Azam tersebut menjalani hari-hari mereka dengan amalan sholehah. Saat ini, papa sudah mulai dapat berbicara. Meskipun tidak jelas dan masih sesekali. Salah satu hal yang membuat beliau semakin kuat adalah Maya. Selama 5 bulan terakhir, Maya membantu mama Laras untuk mengurus papa dengan sepenuh hatinya. Meskipun sangat merepotkan, tapi Maya sama sekali tidak mengeluh dan ia merasa bahagia karena Allah sudah memberikan kesempatan untuk merasakan bagaimana menjadi seorang anak yang mengurus orang tua. Maya juga sering menggerakkan tangan Ayah mertuanya untuk disentuhkan pada perutnya yang sudah tampak besar dengan harapan, suatu saat nanti, papa Puja Wibowo dapat menggendong anaknya. Saat malam tiba, Bapak Wibowo sering sekali memanjatkan doa dan memohon pengampunan dari Allah lebih dari istrinya meminta. Beliau juga berdoa agar keluarganya diberikan yang terbaik dan perlindungan. Papa sangat bahagia meskipun dirinya tidak lagi leluasa dan sehat sempurna seperti dulu. Namun saat ini ia lebih bahagia karena bisa merasakan pelukan Azam dan juga sentuhan lembut Maya tanpa takut terjadi sesuatu yang buruk kepada mereka. Baginya, ini adalah harga yang pantas dan papa ikhlas menerima semua ganjaran ataupun penyakit yang ia derita. Sementara, Azam lah yang mengurus semua pekerjaan perusahaan dibantu oleh orang-orang kepercayaan papanya yang sudah lama bekerja sama. Meskipun lelah, Azam tidak mengeluh. Maya yang paham akan kondisi suaminya selalu membantu dengan memberikan semangat dan perhatian lebih. "Sayang, kamu sudah cek up lagi?" tanya Azam sambil meletakkan kepala pada kedua paha Maya di atas tempat tidur. "Sudah." Maya tersenyum sambil mengelus dahi Azam. "Bagaimana hasilnya dan apa kata dokter?" "Tinggal menunggu hari saja, Azam. Makanya, saya lebih banyak bergerak akhir-akhir ini." "Tapi tetap hati-hati ya!?" "Iya." "Heeemh. Kira-kira, anaknya mirip siapa ya?" "Biasanya kalau perempuan, mirip papanya atau keluarga dari papanya. Kalau laki-laki, mirip ibu atau keluarga ibunya." Maya tersenyum sambil menerka-nerka hadiah terbaik dari Allah tersebut. Bukan tanpa sebab, Azam dan Maya, sama sekali tidak mencari tahu apa jenis kelamin calon anak mereka. Meskipun sering memeriksakan kandungan ke dokter menggunakan alat tiga dimensi (3D). Bagi keluarga ini, apa pun yang Allah berikan sangat berharga. Tapi, berbeda dengan papa. Beliau mengharapkan, cucu perempuan lah yang hadir demi benar-benar memutus ikatan bersama Legi. Malam harinya di tempat yang berbeda. Ternyata pakde melakukan ritual untuk menyembuhkan Legi agar sempurna. Selama beberapa bulan terakhir ini Pakde sama sekali tidak pernah menjenguk saudaranya. Ia seperti hilang ditelan bumi. Padahal papa sangat membutuhkan dukungan dari saudaranya itu dan Azzam sering mempertanyakan kenapa beliau kenapa tidak pernah datang. Seribu alasan pun disampaikan oleh Pakde. Saat itu, Azam yang tidak berpikir buruk sedikitpun terhadap keluarga satu-satunya dari papa, hanya mendoakan agar kegiatan Pakde lancar dan bisa berkumpul kembali bersama papanya. Pakde pasti akan datang tapi setelah semua urusan selesai. Itulah ucap Pakde ketika terakhir kali Azam menelepon. Malam ini, tidak seperti biasanya. Hawa tubuh papa Puja Wibowo terasa berbeda. Bahkan beliau sempat mengalami kejang dan hampir kehilangan kesadaran. Semua orang tampak panik dan berusaha untuk membantu. Baik dengan cara medis maupun doa. Sekitar pukul 21.25 WIB, papa Pujo mulai tenang. Azam yang sempat panik, memutuskan untuk mengambil udara segar di luar ruangan. "Ma, Azam ke luar dulu ya?" "Iya, Azam," ucap mama sambil menghapus air matanya. "Sabar ya, Ma!" "Iya." Setibanya di luar, Azam menabrak seseorang yang tidak asing baginya. "Astagfirullah hal azim, maaf." "Nggak apa-apa. Saya juga salah," sahut Azam sambil menatap lurus. "Amar!" kata Azam sambil melipat dahi. "Azam?" timpal laki-laki yang memiliki senyum menawan. "Subhanallah ... kita berjumpa lagi." Amar memeluk Azam dan mereka tampak dekat. "Apa kabar kamu? Kapan pulang dari Mesir?" "Baru beberapa hari saja." "Siapa yang sakit, Amar?" "Kiai Azhar. Maklum saja, usianya sudah tinggi." "Iya, benar." "Azam, kamu sudah menikah?" "Sudah. Tahu dari mana?" tanya Azam yang bingung karena pernikahan itu, tanpa diketahui Amar. Apalagi, Amar berada di luar negeri saat itu dan baru pulang beberapa hari saja. "Astagfirullah hal azim ... astagfirullah hal azim ... astagfirullah hal azim ... ." Amar menatap mata Azam dalam-dalam. "Ada apa?" tanya Azam khawatir. Sebab, Azam tahu kelebihan Amar yang diberikan oleh Allah. Azam pun terus menatap Amar yang tampak berkonsentrasi ketika menatap Azam. "Azam, sebaiknya kamu pulang sekarang juga! Istrimu sangat membutuhkan kamu, anak yang berada di rahimnya dalam bahaya." "Apa?" "Saya akan ikut dan membantu." Amar memegang pundak Azam dengan wajah yang serius. "Baik. Mari!" Dengan langkah cepat, keduanya bergerak pulang ke kediaman megah milik keluarga Wibowo. Saat ini, pikiran Azam sangat kacau. Bahkan Azam tidak dapat berkonsentrasi saat menyetir mobilnya. "Tenang Azam! Saya akan membantu menjaga dari jauh. Ingat! Kita harus tiba dengan cepat dalam keadaan selamat!" Amar memperingati Azam karena sahabatnya tersebut tampak sangat panik. Amar benar, saya harus tenang dan tiba dengan cepat dalam keadaan selamat. Jika tidak, saya akan kehilangan banyak. Kata Azam tanpa suara. "Ya Allah, sebenarnya apa yang terjadi?" Azam hampir menangis. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN