Rasuk

1594 Kata
Sekitar pukul 22.30 WIB ketika papa Wibowo Sudah ditindak dan mendapatkan perawatan di rumah sakit, terjadi sesuatu kepada Maya di rumah mewah tersebut. Flasback. "Maya, saya akan pulang terlambat malam ini. Jika kamu takut tidur sendirian, panggil saja bibi untuk menemani!" pinta Azam sambil mengirimkan pesan singkat kepada istrinya. "Baiklah, Sayang," sahut Maya yang tidak ingin menambah beban pikiran Azam. 'Tak lama, Maya menelpon salah satu asisten rumah tangga yang cukup dekat dengannya dan meminta untuk menemani tidur malam ini. Setelah bibi tiba di dalam kamar, Maya dan Bibi berbaring di satu tempat tidur. Awalnya, bibi menolak dan ingin tidur di sofa saja. Tapi Maya tidak tega dan memohon kepada asisten rumah tangga tersebut untuk bersamanya. Back. Semakin malam, suasana semakin mencekam. Tiba-tiba saja bulu-bulu halus di kuduk dan tangan Maya berdiri tanpa sebab. Padahal, cuaca normal dan tidak terlalu dingin. Maya memaksakan diri untuk bangun dan berniat segera berwudhu, demi mendapatkan penjagaan sempurna dari Allah. Namun, baru saja ujung jari kaki Maya menyentuh lantai, dalam posisi duduk. tiba-tiba saja sesuatu menghampiri dirinya dan seketika pandangan Maya menjadi gelap. Saat itu, wajah Maya yang selama ini tampak putih, bersih dan berseri, menjadi begitu pucat dengan pandangan mata hanya lurus ke depan (kosong). Tubuh Maya kaku seperti tidak bernapas. Ia hanya terduduk dan kakinya tidak menyentuh lantai (menggantung). Kamar yang dilengkapi dengan AC ini, tiba-tiba terasa hampa. Bibi pun akhirnya terbangun akibat merasakan atmosfer kamar yang berubah drastis. Bibi mengangkat tubuhnya dan membersihkan pandangan mata yang memang sudah tidak lagi jelas. "Nyonya, kenapa belum tidur?" tanya bibi semakin menegakkan tubuhnya. Namun ia belum melihat wajah Maya. "Ambil jiwo!" bisik Maya dan suaranya mampu membuat bibi merinding tanpa sebab. "Apa, Nyonya? Bibi ra mudeng." "Jupuk nyawa ing cangkang (Ambil jiwo dari cangkangnya)," kata Maya sekali lagi dengan suara yang pelan, lembut, namun terdengar tajam dan menyayat. "Ya ampun, Nyonya. Ada apa e? Nyawa siapa?" tanya bibi semakin penasaran di dalam ketakutan. Bibi mulai memajukan tubuhnya dan memperhatikan wajah Maya dengan gerakan lamban dari belakang. Saat itu, menurut bibi, wajah Maya sangat mengerikan. Kulit wajahnya tiba-tiba menjadi tipis dan urat-urat di wajahnya tampak jelas. Sementara matanya terlihat jahat dan terasa sekali aura mistis jika berada di sisinya. Maya mulai menyanyikan tembang khas Jawa dengan kaki yang tergantung dan berayun-ayun. Ia tampak begitu menikmati setiap bait dari lagu tersebut. Namun, itu bukanlah tembang biasa. Melainkan mantra sesembahan yang biasa bibi dengarkan ketika mengintip tuan Wibowo sedang melakukan ritualnya di dalam kamar terlarang. "Ya Allah gusti ... ." teriak bibi sambil berdiri dan berlari tunggang langgang. "Tolong! Tolong ... ." Mendengar suara teriakan yang tidak biasa, asisten rumah tangga yang lain berkumpul. Para satpam pun demikian. "Ada apa?" "Nyonya, Nyonya muda." Bibi gemetar hebat dan ia tidak mampu menjelaskan apa pun. Ia hanya mengatakan nyonya muda sambil menunjuk ke arah kamar. "Ada apa lagi ini?" tanya satpam senior sambil menatap ke arah kamar Azam dan Maya. "Ayo kita periksa!" Kedua satpam berbadan kekar bergerak cepat ke arah kamar. Tapi, mereka tidak menemukan apa pun saat berada di dalam kamar tersebut. "Ndak apa apa-apa. Di mana Nyonya?" tanyanya sambil memperhatikan setiap lekuk kamar mewah tersebut. "Mungkin di kamar mandi? Jangan-jangan pingsan, Kang? Ayo lihat!" kata satpam muda dan mereka langsung memeriksa kamar mandi. "Ndak ada juga, di mana ya?" Namun pada saat yang bersamaan, mereka melihat sosok Maya yang berbeda, tengah berada di pintu balkon dengan gaya yang tidak biasa. Bersama perut besarnya yang tampak sangat jelas, Maya membuka kedua kakinya lebar-lebar di kedua sisi pintu. Bahkan sangking tingginya, kepala Maya menyentuh kayu atas pintu tersebut. "Ndak mungkin," jawab para satpam yang terkejut karena Maya tidak mungkin melakukannya. Dengan posisi yang tidak biasa tersebut, Maya menatap kedua satpam yang sudah terlihat ketakutan. Bibir Maya tersenyum, tapi ia sama sekali tidak terlihat cantik ataupun manis seperti biasanya. Karena matanya menyorot tajam dan raut wajahnya mencekam. "Eling, Nyonya! Eling!" pinta satpam senior dengan suara yang bergetar. "Jupuk nyawa ing cangkang!" ucap Maya jelas sambil memiringkan wajahnya. "Ya Allah gusti, mampus. Habis kita, Kang." Satpam muda tersebut tampak sangat ketakutan. Kepala Maya menoleh pada pisau yang berada di pinggang satpam senior. Sepertinya ia ingin melakukan sesuatu di luar kendalinya. Semuanya terjadi begitu cepat, hingga tiba-tiba saja, Maya turun dan berlari ke arah para satpam dengan agresif. "Astagfirullah hal azim ... ." Azam dan Amari tiba di muka pintu dan saat itu Amar memberi batasan kepada para satpam. "Pergi dari sini!" pinta Azam kepada dua orang satpam tersebut. "Iya, Tuan." "Egr ... ." Maya tampak marah karena Azam dan Ammar merusak rencana serta kesenangannya. Amar dan Azam maju beberapa langkah. "Kamu tidak berhak mengambil apa pun," ucap Amar yang sama sekali tidak terlihat gentar. "Kami hanya milik Allah. Mengabdi atau binasa?" tanya Amar tampak marah. "Ha ha ha ha ha." Maya hanya tertawa dan itu bukanlah gaya Maya. "Jupuk nyawa ing cangkang." "Bismillahirrahmanirrahiim, allaa ta'luu 'alayya wa'tuunii muslimiin (Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu berlaku sombong kepadaku, dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. (QS An-Naml: 30-31)" Amar mulai membacakan doa penunduk. "Pergi kamu! Jangan ikut campur!" "Tidak akan!" bentak Amar. Kemudian ia melanjutkan perangnya dengan membacakan doa khusus rukiyah kepada Maya. Amar mengarahkan tangan kanannya tepat di wajah Maya dan saat itu seperti ada dinding pelapis diantara keduanya. Sehingga Maya tidak mampu menyentuh Amar. Maya berteriak sangat kuat dan terdengar sangat kesakitan. Saat itu, Azam meneteskan air mata sembari memohon kepada Allah untuk selamatan istri dan anaknya. Ketika merasa Azam melemah, mata Maya melirik ke arah suaminya dan hendak menjatuhkan Amar melalui Azam. Amar yang memahami hal tersebut langsung menghentakkan kaki kirinya ke lantai dan suara itu menyadarkan Azam untuk tidak larut di dalam air matanya. Azam yang kembali tersadarkan langsung membalas tatapan Amar. Ia pun tahu apa yang harus dilakukan demi menyelamatkan Maya. Sebelumnya, mungkin Azam lupa bahwa yang berteriak kesakitan dan tampak menderita di hadapannya saat ini, bukanlah Maya. Melainkan iblis yang sudah merasuki raga istrinya. "Allahu Akbar." Azam mulai menguatkan hatinya. "Allahu Akbar," ucapnya dengan bibir yang bergetar. "Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim)." Azam memasrahkan semuanya kepada Allah. Setelah hampir 25 menit setelah Amar dan Azam membacakan ayat-ayat rukiyah, tubuh Maya lunglai. "Masya Allah, Allahu Akbar." Azam menangkap Maya dan Amar berlari ke arah balkon untuk mengejar aura berwarna hitam kebiruan yang terbang cepat meninggalkan kamar Azam, sayang Amar gagal kali ini. "Biii!" teriak Azam. "Tolong air putih, Bi!" "Iya, Aden," jawab bibi yang sudah biasa memanggil Azam dengan sebutan tersebut. "Cepat, Bi!" "Ini, Den." "Kok bisa begini? Padahal tadi Maya baik-baik saja waktu saya tinggalin." Bibi menceritakan semua yang ia ketahui dan Azam terdiam. Ia bingung dan berharap Maya dalam keadaan baik-baik saja. "Amar, apa kita ke rumah sakit saja?" "Tidak perlu! Istrimu tidak sakit, Azam. Tapi karena hamil tua, ia menjadi lemah. Ini sangat wajar. Tolong rapikan rambutnya!" Ucap Amar yang tidak ingin memegang bukan muhrimnya. "Astagfirullah hal azim, Maya?" gumam Amar yang sudah belasan tahun tidak bertemu dengan Maya. Namun bekas luka di ujung dahi Maya adalah tanda yang tidak mungkin Amar lupakan. Karena menyelamatkan Amar dari bully, Maya dipukuli oleh anak-anak nakal yang tinggal di sekitar panti. Puncaknya, kepala Maya di hentak dengan kayu rambutan yang tajam hingga Maya terluka. "Kamu kenal Maya, Amar?" Amar tampak sedih melihat kondisi Maya. "Kenapa kamu jadi seperti ini?" "Amar? Kamu kenal Maya?" tanya Azam sekali lagi karena belum mendapat jawaban dari Amar. Amar mengangguk, "Dia sudah seperti saudara bagi saya. Tasbih ini adalah pemberian dari Maya sebelum kami berpisah. Saya berasal dari panti yang sama. Masya Allah, Maya." Mata Amar berkaca-kaca. "Siapa yang hendak mencelakai kamu?" "Amar." "Ayo bantu angkat Maya ke atas tempat tidur!" pinta Amar kepada para satpam. "Pelan-pelan! Jangan sampai ia kesakitan lagi. Tadi itu, sudah sangat menyiksa." "Iya," sahut yang lainnya. "Bisa tinggalkan kami?" pinta Azam pada yang lainnya. "Iya, Den." Setelah tinggal bertiga di dalam kamar, "Azam, ada sesuatu yang sangat hitam membayangi Maya. Kamu harus menjaganya dengan baik! Dan saya, saya akan membantu." Amar menggenggam kedua tangannya sangat erat. "Dulu, dia sudah melindungi dan menyelamatkan saya hingga bekas luka ini masih tampak jelas." "Alhamdulillah. Terima kasih, Amar." "Tadi, sepertinya makhluk itu sedang lemah. Tapi, dalam kondisi tidak berdaya saja, dia bisa menghabisi nyawa manusia. Dia itu pasti sudah biasa melakukannya." "Apa yang harus kita lakukan sekarang dan kenapa dia ingin menyakiti Maya?" "Bukan hanya Maya, tapi juga anak yang berada di dalam kandungannya." Amar terdiam sambil berpikir. "Kalau dilihat-lihat, sebentar lagi, Maya akan melahirkan. Azam, kita harus berjaga-jaga hingga anakmu berusia 40 hari." "Apa yang kamu lihat?" "Banyak cahaya gelap menginginkan anak kalian dalam waktu dekat ini. Begini saja. Besok, saya akan membawa anak pondok untuk membacakan doa demi memagar gaib rumah ini." "Subhanallah ... terima kasih banyak, Amar." Amar memegang pundak Azam. "Saya sudah berjanji untuk membantu kamu menjaga Maya. Bersama-sama, kita pasti bisa. Sebab, Allah selalu bersama orang-orang yang benar. Ingat itu, Azam!" "Iya, Amar. Terima kasih." "Berikan airnya!" Amar membacakan doa khusus. "Uras wajahnya!" "Baik, Amar." 'Tak lama, Maya sadarkan diri dan ia langsung menangis di pelukan Azam. Azam pun terus mengosok-gosok punggung Maya dengan lembut. "Maaf saya terlambat, Maya." Azam membisikkan permintaan maafnya yang dalam. Sementara Amar, ia hanya terdiam dan memberikan waktu untuk Maya agar tenang. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN