Usaha Iblis

1668 Kata
Setelah lebih kurang 30 menit, atmosfer di kamar Maya dan Azam berangsur-angsur normal. Rasa dingin yang menusuk bahkan hampir membeku, sudah bertukar dengan angin sejuk yang nyaman. Maya pun mulai sadarkan diri dan ketika ia menatap Azam, Maya langsung menangis sambil memeluk suaminya dalam posisi tubuh yang masih terbaring. Azam pun langsung memeluk sebagian tubuh Maya sambil mengucapkan kata maaf berkali-kali karena ia tahu penyebab dari ketidak nyamanan dan unsur mistik yang baru saja menguasai diri istrinya tersebut. Setelah puas saling berpelukan, Azam melepaskan Maya dan melapisi rambut istrinya tersebut dengan kain seadanya. "Putri kepang," ucap Amar yang berada tidak jauh dari Maya. Saat mendengarkan julukan tersebut, mata Maya terbelalak dan bulir-bulir air bening di dalamnya mengalir deras. Sepertinya ia tidak menyangka bahwa julukan itu terdengar kembali di telinganya. Apalagi semua sudah menghilang belasan tahun yang lalu. Maya duduk sambil merapikan selendang seadanya, lalu ia melihat ke arah kiri, di mana Amar duduk dan menjaga jarak. Maya menatap Amar dalam-dalam begitu juga sebaliknya. Saat itu tampak sekali kerinduan yang besar pada keduanya. Namun mereka tidak bisa seperti dulu yang bebas saling menyentuh ataupun menggendong satu sama lainnya. Sebab keduanya harus menjaga perasaan Azam dan juga memperhitungkan sentuhan halal di antara keduanya. Dulu mereka masih anak kecil yang masih suci dan bebas Sementara sekarang, mereka adalah dua orang manusia yang sudah mengetahui mana yang halal dan mana yang haram. "Amar," ucap Maya jelas dan saat itu Azam menyadari bahwa sahabat dan istrinya memang memiliki hubungan batin yang kuat. "Iya, saya Amar. Saudara yang sering menyusahkan kamu dulu, Maya." Maya menangis sepuasnya karena ia selalu teringat dan merindukan sosok Amar yang sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Dulu, Amar dan Maya selalu berbagi cerita dan mimpi-mimpi. Namun sayangnya, Amar jauh lebih beruntung karena diadopsi oleh seorang Kyai dan diajarkan ilmu agama yang tinggi di kota lain "Sayang, Amar baru pulang dan kami bertemu di rumah sakit," jelas Azam sambil memegang tangan Maya. "Amar adalah orang yang penting bagi saya, Azam. Dia sudah seperti saudara yang hilang. Sejak dulu, saya selalu berdo'a kepada Allah agar dapat dipertemukan dengan orang yang sering membuat saya tersenyum meskipun dalam keadaan menangis," jelas Maya sambil menatap Azam. "Tidak perlu kamu jelaskan, Maya! Saya dapat melihat semua itu dari mata kamu saat ini." "Jangan marah Azam!" pinta Maya yang khawatir jika Azam cemburu. "Tidak akan. Sebab, cara kamu menatap Amar, berbeda dengan cara kamu menatap saya." Azam tersenyum sambil melihat Maya. "Alhamdulillah kalau kamu menyadari hal itu, Azam," ucap Amar sambil menatap Azam dengan pandangan mata yang jernih dan teduh. "Sebab jika tidak, sulit untuk saya membantu Maya. Bisa saja iblis itu akan merasuki jiwa kamu dan membuat api cemburu menyala sehingga membentengi antara saya dan juga Maya." "Kamu benar, Amar," Ucap Azam, sambil memegang pundak Amar. "InsyaAllah saya percaya." "Alhamdulillah, saya juga sudah menikah dua tahun yang lalu. Tapi hingga detik ini, Allah belum memberikan kami rezeki berupa keturunan." "Benarkah?" tanya Azam yang tidak mengetahui tentang kabar itu. "Iya, dengan anak Kyai Ali. Kami menikah di Mekah. Alhamdulillah, keluarga yang mengadopsi saya ya adalah orang-orang yang patuh dan paham akan ilmu agama." "Iya, Amar. Alhamdulillah," sambung Azam. "Dan membantu kamu kali ini adalah PR terbesar bagi saya. Azam, meskipun tanpa kamu minta, saya akan tetap membantu atas izin Allah." "Amar, kamu adalah saudara baginya. Jadi, kamu punya kewajiban untuk menjaga Maya." "Alhamdulillahirobbilalamin. Setelah ini, saya akan memperkenalkan kalian kepada istri saya. Semoga setelah ini hubungan kita semakin erat dan tidak bisa diganggu oleh iblis dengan hasutan seperti apa pun. Amin." "Amin." "Besok malam, saya akan membawa beberapa orang anak pondok yang sudah lihai untuk membaca doa, di rumah ini. Tapi di pondok nanti tetap akan dibantu oleh teman-teman yang lainnya." "Iya, Amar." "Kalau begitu, saya pamit dulu." "Iya." "Assalamu'alaikum," ucap Amar sambil tersenyum dan meninggalkan Maya bersama Azam. "Waalaikum salam." ***** Satu malam setelah kejadian yang menimpa Maya, Azam memohon izin kepada kedua orangtuanya untuk mengadakan pengajian demi memagari rumah tersebut. Ini adalah pengajian kali pertama yang diselenggarakan di rumah megah itu dan Azam juga turut mengundang orang-orang di sekeliling rumah dengan alasan untuk mendoakan keselamatan calon buah hati dan juga istri tercinta. "Azam, Maya, kemarilah!" pinta Amar setelah selesai dengan acara pagar rumah dan berdoa bersama demi keselamatan semuanya. "Iya." "Azam, kamu adalah kepala keluarganya. Saran saya, sebaiknya kamu menceritakan semua kebenaran agar Maya juga bisa menjaga diri begitu juga terhadap putranya nanti!" "Ada apa ini?" tanya Maya yang benar-benar tidak mengetahui rahasia besar di dalam keluarga Azam. "Dan kamu Maya, sejak kamu menjadi istri dari Azam, maka kamu wajib mengikuti dan mengiklaskan semua jalur hidup yang sudah ditentukan Allah melalui jodoh dan takdir ini!" "Allah adalah Dzat yang maha mengetahui segala isi langit beserta bumi. Mungkin saat kamu mendengarkan Azam bercerita nanti, kamu akan merasa sedih dan sakit. Tapi Maya, yakinlah! Allah punya rencana yang luar biasa hebat untuk dunia ini melalui perjodohan antara dirimu dan juga Azam." "Saya tidak mengerti," kata Maya sambil memandang Azam dengan tatapan bingung. "Untuk urusan rahasia di dalam keluarga ini, biarlah Azam saja yang akan menceritakannya kepadamu. Saya sama sekali tidak memiliki hak dan kewajiban untuk menjelaskannya." "Tapi, sebagai makhluk Allah, saya berhak menasehati kamu untuk tetap menjadi istri yang sholehah dan patuh terhadap suami." Amar tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Ada gambaran besar yang saya lihat ke depan. Atas izin Allah, saya memiliki bayangan itu lebih cepat daripada saat ini." "Saya semakin tidak mengerti, Amar," sambung Maya yang lebih banyak bertanya daripada Azam karena Azam sudah mengetahui kelebihan Amar yang dititipkan oleh Allah. "Dia, akan tumbuh menjadi laki-laki yang mampu membantu orang lain dengan kelebihannya dan dia akan menjadi orang yang besar." "Dia?" tanya Maya kembali. "Ketika saya memejamkan mata ini, saya bisa mendengar orang-orang memanggilnya dengan nama yang pantas." Amar memejamkan kedua matanya. "Akbar!" teriak Amar dengan penuh semangat. Lalu ia membuka kedua matanya kembali dan di sana tampak kolom kecil yang tertahan. Amar seperti memendam rahasianya sendiri karena tidak dapat diutarakan kepada Azam dan juga Maya. Rahasia dari Allah untuk keluarga kecil mereka. Melihat kedua mata Amar yang berkaca-kaca, Azam pun memiliki pemikiran yang beragam. Tapi dari itu semua, Azam seolah mendapat gambaran bahwa putranya akan menjadi sosok ataupun panutan di dalam kehidupan. "Amar, jika saya sebagai seorang ayah tidak mampu mendidik putra putri saya dengan baik. Maka saya akan meminta kepadamu." "Apa, Azam?" "Didik dan ajarkan dia seperti anak kandungmu sendiri! Marah dan pukul lah dia jika memang salah! Peluk dan kasihanilah dia saat lemah!" "Insyaallah Azam, saya akan bertindak seperti apa yang kamu inginkan," ucap Amar dan akhirnya kolam kecil itu mengalir seperti tetesan air hujan pada dinding putih yang bersih. "Terima kasih, Amar." "Maya, kamu harus menghafalkan sebuah doa untuk menjaga dirimu dan putramu!" "Baiklah saya mengerti, asalkan itu demi kebaikan dan berada di jalur Allah. Maka saya akan mengikutinya, tanpa perlu diperintah lebih." "Baik. Sebelum pulang, saya akan memberikan sesuatu untukmu. Di sana juga ada doa saya untuk melindungi putra dan juga dirimu Maya." "Saya siap, Amar," ucap Maya yang duduk tanpa fokus. Dia sama sekali tidak berniat untuk mengambil buku ataupun pulpen untuk menulis. Agaknya, Maya yakin bahwa dia mampu menghafalkan doa tertentu dalam waktu cepat. "Allaahumma innaa nastahfidhuka wa nastaudi'uka diinanii wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai'in a'thaitanaa. Allahummaaj 'alnaa fii kanfika wa amaanika wa jiwaarika wa 'iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin 'aniid wa dzi 'ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzi syarrin innaka 'alaa kulli syai'in qadiir." Amar mengajarkan Maya dengan sungguh-sungguh. "Artinya?" tanya Maya yang melihat kesungguhan hati Amar. "Ya Allah, kami memohon penjagaan kepada-Mu dan kami menitipkan kepada-Mu agama kami, diri kami, keluarga kami, anak-anak kami, harta kami, dan segala sesuatu yang Engkau berikan kepada kami. Ya Allah, jadikan lah kami dalam penjagaan-Mu, tanggungan-Mu, kedekatan-Mu, dan perlindungan-Mu dari gangguan setan yang menggoda, dari orang yang kejam, dari mata orang yang berniat jahat, dari orang yang bermaksud zalim, dan dari keburukan apa pun yang membawa keburukan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu." Mata Amar kembali basah. Entah apa yang ia rahasiakan dan simpan seorang diri saat ini. Maya curiga, namun tidak berani untuk bertanya. "Ayo, Maya, Azam! Hafalkan!" Maya dan Azam pun menyalin doa tersebut di dalam hati dan pikiran mereka. Saat itu, Amar terus membimbing hingga keduanya benar-benar hafal. Awalnya, semua berjalan dengan lancar. Azam dan Maya pun semakin tenang dan mulai terlihat tanpa beban. Rencananya, malam ini Azam akan jujur mengenai keluarganya kepada Maya. Ia berharap, Maya ikhlas dan kuat hidup bersamanya. "Saya pamit ya, sudah malam." Azam berdiri dan ia kembali melihat bayangan putih berlumuran darah, ketika berada di depan pintu raksasa milik keluarga Wibowo. Astagfirullah hal azim, ucap Amar di dalam hatinya. Ada apa ini? Tanyanya karena hanya mampu melihat sesuatu tanpa wujud yang nyata. Yang tampak, hanyalah kain putih tergeletak dan berlumuran darah. "Assalamu'alaikum... ." Terdengar suara dari banyak orang yang memohon izin untuk pulang. "Waalaikum salam," sahut Maya dan Azam secara bersamaan. ***** Sekitar pukul 22.00 WIB, Azam mengajak Maya berbicara empat mata. Ia mulai menceritakan segalanya dan Maya hanya menangis di dalam pelukan Azam. Tetapi dari semua itu, ada satu pertanyaan Maya. Yaitu, siapa sosok yang sering membangunkannya untuk shalat dan menangisinya ketika melakukan kesalahan yang disengaja maupun tidak. Pada saat yang bersamaan, ketika Amar pulang ke Pondok bersama santri yang lainnya, terjadi kecelakaan beruntun sehingga Amar mengalami luka berat di sekujur tubuhnya. Saat itu, Amar terlempar ke jalanan dan ia berusaha untuk tetap sadar. Amar juga melirik ke arah makhluk yang menjadi sumber malapetaka yang menghampiri mereka malam ini. Dalam kondisi terdesak, ia sempat melakukan perlawanan dalam posisi terbaring tidak berdaya dan berlumuran darah. Iblis itu menghilang dalam tawa, sesaat setelah Amar membacakan surat al fatihah dan ayat kursi. Ketika itu, ia pun menyadari bahwa bayangan putih berlumuran darah yang ia lihat sesaat sebelum pulang, adalah dirinya sendiri. "A-Allah ... ." Amar terus memanggil nama Dzat yang sudah memberikannya napas dan berharap, Allah akan mengirimkan bantuan agar dirinya dan yang lain selamat. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN