Pagi harinya, Azam mendapat kabar buruk tentang kecelakaan yang hampir merebut nyawa Amar dan beberapa orang santri lainnya.
Syukurnya, Allah masih melindungi mereka semua dan hanya ada satu santri yang meninggal dunia akibat kehabisan darah saat diperjalanan menuju ke rumah sakit.
Siang harinya, setelah meminta izin kepada Maya, Azam bergegas menyusul Amar untuk mengetahui keadaannya.
Sementara Maya tetap tinggal di rumah dan Azam merahasiakan apa yang terjadi kepada Amar agar istrinya tenang.
"Amar?" sapa Azam sambil memegang pundak Amar. "Apa yang terjadi?"
"Semua sudah kehendak Allah Subhanahu WA Ta'ala, Azam. InsyaAllah, saya segera pulih. Doakan ya?!"
"Iya, itu pasti. Apa ada sangkut pautnya dengan iblis itu?"
Amar tersenyum, "Iya. Tapi tetap saja ini semua atas izin Allah. Allah sedang menguji batas keimanan kita semuanya."
"Kamu benar, Amar. Tapi, sekali lagi, maaf untuk semuanya." Azam terus memohon maaf dan ia sama sekali tidak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada Amar.
"Sudahlah! Bagaimana keadaan Maya?"
"Maya baik, dia tidur nyenyak malam ini."
"Syukurlah."
"Tapi, Maya tidak tahu kalau kamu mengalami kecelakaan. Saya menahan diri untuk tidak mengatakannya. Kamu tahu kan Amar, dia pasti menangis dan ingin ke rumah sakit."
"Iya. Itu keputusan yang tepat, Azam. Sebaiknya, Maya tetap berada di rumah hingga putra kalian lahir dan kuat dengan sendirinya."
"Syukurnya, Maya bukan tipe perempuan yang suka jalan-jalan. Jadi, semua dapat dikendalikan."
"Azam?"
"Iya?"
"Jika saat Maya melahirkan dan saya tidak bisa mendampingi kalian, sebaiknya proses persalinan itu dilakukan di rumah saja. Saya lihat, Maya itu sangat kuat dan Allah akan membantunya."
"Saya mengerti. Dari sini, saya akan menemui dokter untuk membicarakan hal ini. Sebab, dokter bilang, Maya akan segera melahirkan dalam minggu-minggu ini."
"Iya."
'Tak lama, masuk beberapa orang yang langsung menangis memeluk Amar. Salah satunya adalah seorang perempuan berhijab syar'i dan tampak sangat terpukul atas insiden ini.
"MasyaAllah, Mas ... ."
"Sabar, Aisyah! Ini semua adalah takdir sekaligus cobaan untuk kita semua, terutama kamu." Amar memeluk perempuan itu erat.
Aisyah adalah istri Amar yang ternyata baru saja mendapatkan kabar duka sehari sebelumnya. Kemarin, ia baru saja mengetahui kondisi rahimnya yang tidak subur.
Belum lagi berhenti air mata Aisyah, Allah sudah kembali memberikannya cobaan yang sangat berat, melalui keadaan Amar yang kehilangan kedua kakinya (Diamputasi) akibat kecelakaan tersebut.
Azam terdiam di sudut ruangan dengan wajah yang pucat. Ia terus memperhatikan betapa menderitanya Aisyah karena melihat Amar hampir celaka.
"Sabar, Aisyah!" ucap perempuan lainnya sambil mengangkat tubuh Aisyah dan memeluknya. "Sabar, Sayang! Ikhlas ya!"
"Umi ... ."
"Iya, Sayang." Umi Aisyah tampak ikut menangis. "Ini adalah ujian berikutnya dari Sang Pemilik Kehidupan. Kita tidak boleh seperti ini!"
Sebenarnya, apa yang terjadi? Kata Azam di dalam hati. Perempuan itu tampak sangat bersedih dan ia benar-benar terlihat terpukul dan lemas.
Namun saat itu, tidak ada satu tampilan pun yang membuat Azam bisa memahami situasi dan kondisi yang sebenarnya.
Sepenglihatan Azam, Amar selamat dan dalam keadaan yang bagus karena bisa berkomunikasi dengan baik. Sayang, Azam lupa memeriksa seluruh bagian tubuh sahabatnya tersebut.
"Aisyah, itu Azam sahabat yang kemarin saya ceritakan." Amar memperkenalkan Azam kepada Aisyah dan dua anggota keluarga lainnya.
"Azam," ucap Azam sambil melipat kedua tangan di depan d**a.
"Aisyah dan ini uminya Aisyah."
"Assalamu'alaikum, Umi."
"Waalaikum salam, Azam."
"Umi dan Aisyah memang belum pernah bertemu dengan Azam. Kalau abah Ali, sudah sering. Azam ini rajin ikut pengajian di pondok. Kami berpisah hampir empat tahun dan bertemu kembali beberapa hari yang lalu."
"Subhanallah ... jodoh itu," jawab umi lembut. "Sebab, pertemuan dan perpisahan adalah haknya Allah, Azam, Amar."
"Iya, Umi. Kemudian siapa sangka kalau Azam menikah dengan Maya, saudari perempuan saya saat di panti asuhan," jelas Amar kembali sambil tersenyum.
"Kalian ditakdirkan untuk bertemu kembali setelah sekian lama berpisah. Pasti ada takdir lain yang sudah Allah rencanakan."
"Iya, Umi."
Azam menatap Aisyah yang masih tertunduk sambil menatap Amar. "Aisyah, Maya akan segera melahirkan. Datanglah untuk menjenguknya!" kata Azam dalam senyum. "Maya pasti sangat gembira."
"Melahirkan?"
"Iya, Aisyah."
"Beruntung sekali. Dia perempuan yang sempurna," puji Aisyah dengan mata yang sayup.
"Aisyah, bagi saya, kamu juga sempurna."
"Tidak, Amar. Saya tidak bisa memberikan kamu keturunan. Sebentar lagi, abah akan mencarikan istri lain untukmu. Saya yakin itu." Aisyah tampak berat hati dengan cobaan yang satu ini.
"Aisyah, kamu tidak percaya kepada Allah?"
"Amar ... ."
"Jangan membicarakan hal yang tidak-tidak!"
"Aisyah, anggap anak saya seperti anak kamu sendiri! Bantulah Maya dalam mendidiknya!" ucap Azam yang sejak kemarin selalu saja mengatakan hal tersebut.
Azam terus saja menitipkan calon putranya kepada keluarga Amar. Rasanya, Azam tidak rela melihat air mata Aisyah. Mungkin seperti itulah perasaan Amar yang tidak sanggup membiarkan Maya menderita.
"Benarkah?" tanya Aisyah yang kali ini mulai tersenyum.
"Tentu saja. Amar adalah saudara saya dan Maya. Dia adalah ayah kedua bagi calon putra saya. Dan itu artinya, kamu adalah ibu kedua darinya."
"Alhamdulillah ... Aisyah."
"Umi." Aisyah memeluk uminya kembali lagi. "Semoga Maya tidak keberatan."
"Amin," jawab sang umi.
"InsyaAllah tidak. Maya adalah perempuan yang sangat penyayang, baik, dan tidak memiliki rasa iri di dalam hatinya," puji Amar dalam senyum.
"Itulah yang membuat saya jatuh cinta kepada Maya." Azam menambahkan pujian Amar.
"Luar biasa hubungan kalian ini. Umi ikut berdoa agar Allah menjaga kalian semuanya. Anak-anak Umi, amin."
"Amin," jawab yang lainnya.
Setelah obrolan manis diantara Azam dan keluarga Amar. Ia berniat untuk pulang karena harus menemui dokter ahli kandungan dan juga papanya yang kebetulan dirawat di rumah sakit yang sama.
Pada saat yang bersamaan, Azam yang sejak tadi berdiri di ujung tempat tidur perawatan Amar, tanpa sengaja memegang kaki Amar dan ia mendapati bagian tersebut sudah tidak terasa.
Amar terdiam begitu juga dengan Azam. Mereka saling menatap hingga Azam tersadarkan pada sebuah situasi pahit.
"Amar?"
"Iya, Azam?"
Mata Azam berkaca-kaca, "Kamu?"
"Saya kehilangan sepasang kaki saya." Amar menghela napas panjang, namun terdengar ikhlas.
"Tapi Allah memberikan saya sepasang saudara yang sudah lama hilang," kata Amar tampak tabah.
Saat itu, Azam meneteskan air mata dan langsung meletakkan wajahnya pada lutut Amar yang masih tersisa.
Azam menangis sejadi-jadinya, tanpa suara. Sedangkan tubuhnya tampak bergetar hebat dan ia tidak dapat menyembunyikan semua perasaan bersalah kepada Amar.
"Sabar, Azam!" pinta Amar yang seharusnya marah karena keadaan ini disebabkan oleh keluarga Azam dan makhluk peliharaan tuan Wibowo.
Kedua tangan Azam kuat menggenggam selimut berwarna putih dengan garis biru yang lurus. Rasanya, ia adalah orang yang paling berdosa dan bersalah terhadap Amar saat ini.
"Amar ... ."
"InsyaAllah ... saya iklhas."
Ternyata inilah yang membuat air mata Aisyah begitu deras mengalir. Ternyata ia baru saja mendapatkan cobaan besar yang beruntun.
Saat ini, Amar mengajarkan kepada Azam bahwa hidup hanya milik Allah dan takdir adalah skenario besar yang telah dituliskan olehNya. Apa pun hasil akhirnya nanti, semua itu adalah keputusan Allah yang terindah.
Yakin itu tidak berdiri sendiri, ia bergandengan dengan rasa syukur, dengan sabar, dengan ikhlas, dengan tabah, dengan ridho, dengan baik sangka, dan lainnya.
Bersambung.