Pertarungan Malam

1636 Kata
Lima hari setelah pertemuan Azam dan Amar di rumah sakit. Hingga sore ini, Maya masih belum mengetahui tentang kondisi Amar. Namun, Maya telah bertemu dengan Aisyah dan hubungan mereka tampak baik dan saling mendukung. Hal ini membuat hati Azam merasa nyaman, begitu juga dengan Amar. Meskipun ia hanya mendengar cerita saja yang diantar oleh Aisyah. "Mas, cepat pulih ya?!" pinta Aisyah sambil memegang tangan Amar yang masih terbaring di rumah sakit. "Saya sedang mengusahakannya. Banyak-banyaklah berdoa, Aisyah!" "Iya, Mas. Saya selalu melakukannya." "Aisyah?" "Iya, Mas?" "Apa kamu akan selalu mendampingi saya?" "Iya, Mas. Hingga maut menjemput." "Alhamdulillah, amin." ***** Di kediaman megah, Maya mulai merasakan sakit yang luar biasa. Sejak pagi, ia terus bergerak pelan dibantu dengan mama Laras dan Azam. Sedangkan papa Wibowo, beliau hanya terduduk di kursi roda sambil memperhatikan Maya yang tengah berjuang keras. Maafkan saya ya Allah. Seandainya semua ini sejak awal tidak terjadi, Maya bisa melahirkan di rumah sakit. Kalau Maya tidak tahan, dia bisa melakukan operasi saja. Kata papa Wibowo tanpa suara. "Permisi," sapa seseorang dari luar pintu raksasa di rumah Wibowo. "Ibu Bidan, silakan masuk!?" "Iya." "Kita periksa di kamar tamu saja, Bu. Kasihan Maya kalau naik tangga." Mama Laras menyambut bidan yang sudah ia panggil sejak tadi. "Iya, baiklah." Setelah kurang lebih 20 menit, bidan mengatakan bahwa paling lambat, malam ini Maya akan melahirkan. Sesaat setelah mendengarkan informasi tersebut, mama Laras langsung menghubungi dokter yang akan membantu bidan dan juga Maya. Mama Laras dan Azam mempersiapkan segalanya dengan maksimal. Mereka tidak ingin kehilangan cucu maupun Maya. "Bi, tiang untuk gantungan botol infus nya di mana?" "Iya, Nyonya besar. Sebentar," sahut bibi sambil berjalan ke arah mama Laras dengan cepat. "Mama!" "Ada apa, Azam?" "Mama harus tenang dong, Ma!? Jangan panik seperti ini!" "Gimana nggak panik, Azam?" "Maya tidak sendiri, Mama. Banyak tenaga medis yang membantu dan ada kita juga. Tempatnya saja yang di rumah, tapi persiapan kita sudah matang." Azam menggosok punggung mamanya perlahan demi menenangkannya. "Heeem." "Kasihan papa dan Maya kalau Mama seperti ini," bisik Azam dengan suara yang samar-samar terdengar. Mama Laras menatap ke arah suaminya yang kaku di ujung ruang keluarga. Beliau hanya bisa melihat kegusaran istrinya, tanpa bisa membantu. Mama melihat ke arah Azam, "Mama mengerti, Azam." Azam tersenyum dan menatap mamanya dalam-dalam. "Mama tawari papa makan dulu! Mana tahu papa lapar." "Iya, Azam." Tidak ada yang bisa tenang saat ini. Sebab, orang-orang paham apa yang tengah di hadapi oleh Maya. Benar-benar perjuangan antara hidup dan mati. Bukan itu saja, Maya juga harus mampu tetap fokus dan sadar di dalam rasa sakit nya yang membunuh, demi melindungi buah cintanya. Sekitar pukul 20.45 WIB. Dokter pun tiba dan langsung memeriksa keadaan Maya. "Bu Bidan, persiapkan diri Anda! Pasien akan segera melahirkan." "Baik, Dokter." Di depan kamar yang sudah dipersiapkan untuk persalinan. "Assalamu'allaikum Aisyah, Maya akan melahirkan." Azam menelepon agar Amar dan Aisyah membantu mereka lewat doa. "Waalaikum salam, Azam. Benarkah? Semoga semuanya selamat," sahut Aisyah yang sebenarnya tidak mengetahui tentang apa pun di keluarga Wibowo. "Amin, terima kasih. Assalamu'alaikum." Azam mematikan teleponnya. "Dari Azam?" tanya Amar yang sudah mulai nyaman untuk duduk. "Iya, Mas. Maya akan segera melahirkan." "Subhanallah ... ." "Ada yang bisa saya bantu, Mas?" "Ambilkan air untuk saya berwudhu dan juga tasbih!" "Baik, Mas." Setelah memenuhi keinginan Amar, Aisyah kembali mempertanyakan harus melakukan apalagi untuk membantu. Saat ini Amar mengatakan agar istrinya segera menelepon ke Pondok dan meminta para santri membacakan surat Yasin sebanyak mungkin untuk membantu Maya. "Saya akan melakukannya, Mas." Aisyah menelepon dan mengatakan apa yang baru saja Amar minta. Amar mulai membantu dari jarak jauh. Walaupun begitu, ia memiliki ilmu yang sangat tinggi untuk melindungi Maya dan calon putra mereka. Sukma Amar bergerak cepat ke arah rumah megah yang ternyata sudah dikelilingi oleh cahaya hitam dan biru yang kuat. 'Tak lama, setibanya di dalam rumah Azam. Amar mulai mendengar suara para santri membacakan surat Yasin dengan suara yang terdengar begitu ikhlas dan indah. Bagaimana cara kalian menembus pagar yang selalu bertasbih kepada Allah? Tanya Amar tanpa suara dan menatap tanpa rasa gentar. Amar memang hanya datang sebagai bayangan, namun ia tampak normal dengan kaki yang lengkap. "Dorong, Bu!" perintah dokter kepada Maya yang bagian tubuh bawahnya sudah ditutupi kain panjang berwarna putih. "Aaah ... ." Maya berteriak untuk membantu tubuhnya untuk kuat. Pada saat yang bersamaan, Amar mendekati Maya dan membacakan doa perlindungan di atas kepala Maya. Saat itu, Maya seolah dapat merasakan sesuatu berada di sisinya dan memberikan kedamaian. Ketika para santri membacakan ayat kesembilan dari surat Yasin, Amar membacakan doa yang sudah ia ajarkan kepada Maya. Suara para santri yang terdengar di telinga Amar. "Wa ja'alnā mim baini aidīhim saddaw wa min khalfihim saddan fa agsyaināhum fa hum lā yubṣirụn (Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat). Lalu Amar menyambungnya dengan doa perlindungan dan penjagaan. "Allaahumma innaa nastahfidhuka wa nastaudi'uka diinanii wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai'in a'thaitanaa. Allahummaaj 'alnaa fii kanfika wa amaanika wa jiwaarika wa 'iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin 'aniid wa dzi 'ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzi syarrin innaka 'alaa kulli syai'in qadiir." "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar." Azam terus mengumandangkan suara takbir. "Tidak ada yang akan mampu meruntuhkan dinding yang dibuat atas nama dan izin Allah." Amar menitikkan air mata bersama suara teriakan Maya yang bertarung nyawa demi kewajibannya sebagai seorang wanita. Tubuh Azam tampak bergetar hebat. Ia selalu menggenggam tangan Maya dan membaca semua doa serta ayat yang ia ketahui. 'Tak lama, Amar mendengar suara riuh di luar. Mulai dari suara teriakan kesakitan, amarah, kebencian, dan juga rasa sakit. Ternyata para iblis mulai menyerang. Amar pun bergerak cepat ke depan. Dari teras rumah yang tampak luas, Amar memberi serangan kepada para iblis kiriman yang telah berjajar sejak tadi. Amar membacakan surat Al Fatihah, surat An-Nas, dan ayat kursi sambil membentuk api gaib dengan kedua tangannya. Ia menggabungkan panas api dan cahaya menjadi ratusan bola ukuran besar dan dilempar ke luar pagar. "Aaagh," suara iblis semakin terdengar memenuhi kediaman Wibowo. Penglihatan Amar menembus pagar besi di kediaman tuan Wibowo. Saat itu, ia bisa melihat bahwa gangguan kecil dari cahaya biru mulai berkurang. Pasukan kiriman itu terbakar dengan sendirinya akibat menerobos pagar gaib di kediaman Wibowo dan juga lemparan bola-bola api dari Amar. Tidak ingin kehilangan kesempatan, Amar bergerak cepat untuk membinasakan iblis yang berasal dari lautan tersebut. Tiba-tiba saja, cahaya hitam yang semula tampak sama besarnya dengan tubuh Amar bertumbuh dengan cepat. Ia menjadi semakin besar mendekati raksasa, namun Amar sama sekali tidak gentar. "Bahkan Allah tidak bisa dilihat oleh mata karena sangat besar," kata Amar yang menyerang dengan tasbih di tangan kanannya. Amar bertarung hebat, meskipun ia mendapatkan serangan beruntun dari banyak makhluk hitam, tapi tetap saja ia berdiri tegak. Amar terkena pukulan di dadanya hingga muntah darah. Pada saat yang bersamaan, bala bantuan datang. Jin milik abah Ali (Ayah angkat Amar) membantu Amar. Makhluk berjubah putih-putih tersebut tampak suci dan terus bercahaya di dalam gelap malam. "Allahu Akbar ... ." Maya berteriak sangat kencang hingga Amar kembali menatap ke arah kamar. "Lehernya kelilit tali pusat, Dokter," kata bidan yang sudah berpeluh. "Iya. Ini akan lebih sulit daripada biasanya. Bersiap!" "Iya, Dokter." Bidan menghela napas panjang. "Sabar ya ibu!" pinta bidan kepada Maya. "Pergilah!" ucap salah satu jin muslim yang sangat Amar kenali. "Mereka membutuhkanmu, Amar." "Baik." Amar masuk ke dalam ruangan sambil memegang dadanya. Saat itu, Maya mengangguk tanpa mampu menjawab. Pada waktu yang bersamaan, Azam semakin berkeringat dingin dan ia pun akhirnya menangis. "Istighfar, Sayang!" pinta Azam dengan suara yang bergetar. "Istighfar!" Amar sudah kembali ke dalam kamar. Meskipun awalnya, ia ingin menghadapi iblis keji yang sudah menghantui keluarga Wibowo sejak dulu. Saat ini menurut Amar, Maya jauh lebih membutuhkan dirinya dan pagar gaib serta jin muslim itu masih kuat untuk bertahan. Sesaat setelah berada di samping Maya dan Azam, Amar langsung membantu dengan ayat-ayat dan doa. Amar pun mulai mengangkat kedua tangannya dan fokus. "Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta'khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa'u 'indahuu illaa biidznih, ya'lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai'im min 'ilmihii illaa bimaa syaa' wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya'uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal 'aliyyul 'adhiim." "Inna rabbakumullaahullazii khalaqas-samaawaati wal-arda fii sittati ayyaamin summastawaa 'alal-'arsy, yugsyil lailan nahaara yatlubuhu hasiisaw wasy syamsa wal qamara wan-nujuma musakhkharaatim bi'amrihii alaa lahul-khalqu wal-amr, tabaarakallaahu rabbul-'aalamiin (Surat Al-A'raf ayat 54)." "Qul auudzu birobbil falaq. Min syarri maa kholaq. Wa min syarri ghoosiqin idzaa waqob. Wa min syarrin naffaatsaati fil 'uqod. Wa min syarri haasidin idzaa hasad (Surat Al-Falaq)." "Qul auudzu birobbinnaas. Malikin naas. Ilaahin naas. Min syarril waswaasil khonnaas. Alladzii yuwaswisu fii shuduurin naas, minal jinnati wan naas. (Surat An-Naas)." Setelah Amar mengulang bacaannya hampir memasuki putaran ketiga, suara tangisan bayi yang kuat terdengar di kamar tersebut. Azam terdengar bertakbir dan menangis haru. Sedangkan Maya terus mengucap alhamdulillah bersama para medis dan mama Laras. Sementara Amar terus melanjutkan ayat-ayat pertolongan saat melahirkan hingga tuntas. "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar," ucap Amar sambil menghela napas dan memegang dadanya. "Laki-laki, silakan diazankan!" Bidan menyerahkan bayinya kepada Azam. Suara tangisan Azam semakin pecah dan ia tiba-tiba saja terbayang ucapan Amar yang mengatakan bahwa putranya akan menjadi orang besar. 'Saya mendengar, orang-orang memanggilnya Akbar,' kata Amar yang terngiang jelas di telinga Azam. "Nama kamu adalah Akbar, Sayang. Kamu adalah Akbar Wibowo," ucap Azam sesaat setelah mengazankan putranya. "Subhanallah, Azam," ucap Amar sambil menahan dadanya yang semakin terasa sakit akibat pukulan dari iblis raksasa tersebut. Setelah merasa aman, Amar kembali ke luar untuk melanjutkan pertarungan. Sayangnya, iblis raksasa itu sudah melarikan diri dan Amar kehilangan seorang jin muslim di dalam pertarungannya. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN