Malam dingin menjadi saksi, air mata kebahagiaan dan rasa haru di dalam kediaman Wibowo. Air jernih itu terus saja menetes, terutama dari mata tuan Puja Wibowo.
"Maya, putramu," kata Azam sambil memperlihatkan wajah mungil sang bayi kepada Maya. "Dia-dia sempurna, Sayang," bisik Azam bersama air matanya yang terus runtuh.
Maya tersenyum dalam keadaan yang sangat lemah. Ditambah lagi penderitaannya belum berhenti karena dokter sedang menjahit pintu kelahiran yang terasa sangat menyakitkan.
"Sabar ya, Bu! Kita jahit dulu."
Maya hanya mengangguk dengan wajah pucat. Setelah selesai, bidan memberikan stimulasi kepada Akbar dengan meletakkan mulut mungilnya pada b*******a Maya.
"Mimik yang pintar ya!" kata bidan sambil tersenyum. "Ibu juga harus kuat dan sabar! Sebisa mungkin, berikan putranya ASI ekslusif agar daya tahan tubuhnya kuat dan jalinan perasaan antara ibu dan anak menjadi kuat," jelas sang bidan sambil menatap Maya yang terus memperhatikan setiap petunjuk demi kebaikan putranya.
"Baik, Bu. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik bagi putra saya."
Setelah kurang lebih 10 menit di d**a Maya, Akbar diangkat dan dibedong rapi. Setelah itu, mama Laras menggendong Akbar untuk didekatkan pada suaminya.
"Papa ... ini cucunya." Mama duduk di kursi sebelah kursi roda tuan Wibowo.
"A ... ," sahut papa dengan air mata yang terus berlinang.
"Iya, persis seperti Azam ya? Dia harus dijual."
"Tenang saja, Ma. Pembelinya sudah ada kok." Azam terkekeh dari ujung tempat tidur karena ia memang sudah menyerahkan putranya kepada Amar dan Aisyah.
"Cepat sekali Akbar lakunya ya?" goda dokter sambil membersihkan pakaiannya.
Celotehan itu mampu memancing tawa di bibir semua orang yang berada di dalam kamar tersebut, termasuk Maya.
"Dokter, Bidan, terima kasih banyak ya." Mama Laras berdiri dan meletakkan Akbar di atas tempat tidur Maya karena beliau hendak mengantarkan mereka ke depan.
"Sama-sama, Nyonya besar. Tadi itu pengalaman yang sangat menegangkan. Untungnya saat melepaskan jerat tali pusat itu, lebih mudah. Padahal dua lilitan dan seperti mencengkram."
"Benar, Dok. Tiba-tiba saja ada angin dingin di sekitar tangan saya dan tali pusat itu seolah melemah dan longgar. Makanya bisa mudah dilepaskan dari lehernya Akbar." Bidan menyambung perasaannya.
Saat peristiwa itu terjadi, sebenarnya Amar lah yang terus membacakan doa yang Nabi Muhammad SAW sarankan kepada umatnya, agar dipermudah urusan mereka di dalam proses persalinan.
Menurut Nabi Muhammad SAW, proses persalinan adalah bentuk perang dan jihat seorang hawa. Makanya Nabi Muhammad memberikan doa untuk mempermudah urusannya.
Suara tangis telah berubah menjadi tawa. Rumah ini terasa ceria dengan kehadiran seorang Akbar.
Dia adalah penerus dari nama besar tuan Puja Wibowo. Baginya, Akbar adalah awal mula keberanian dan perubahan hidupnya.
"Papa sehat-sehat ya?! Supaya bisa gendong Akbar," kata Maya sambil melihat ke arah kursi.
Papa tampak seperti ingin berbicara banyak, tapi tidak mampu. Azam yang memahami hal tersebut, langsung mendekati sang papa dan mendorong kursi roda ke sisi Maya.
"Papa mau bilang apa?" tanya Azam saat papanya sudah berada di samping tempat tidur Maya.
Mata tuan Puja berkaca-kaca. Beliau terlihat sulit menelan air liurnya. "Te-ri-ma ... ." Tuan Puja berusaha untuk mengatakan ucapan terbaik di dunia itu kepada anak menantunya.
"Sama-sama, Papa," jawab Maya yang telah mengerti apa yang ingin dikatakan oleh ayah mertua, yang sejak awal sudah bersikap misterius di hadapannya.
Papa Puja menangis terguguh-guguh. Beliau menumpahkan semua risalah hati dan kesakitannya.
Selama ini, beliau tidak pernah berani berpikir dan berharap untuk mendapatkan seorang cucu. Sebab, Azam saja sangat membencinya.
"Papa dengarkan apa yang Maya katakan? Papa harus sehat! Papa musti kuat dan tidak boleh mengeluh saat melakukan terapi, meskipun sangat menyakitkan."
"Eh ... ya," jawab papa sambil mengangguk.
Sementara di rumah sakit, Amar meminta Aisyah membuatkannya teh hangat agar istrinya tersebut menjauh. Setelah sendirian, Amar memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Amar memang terluka dalam, akibat pukulan dan tenaga dalam dari iblis yang menyerupai raksasa tersebut. Setelah pertarungan ke tiga ini, Amar jadi sangat mengenali aura iblis tersebut.
Iblis itu tidak sendiri. Ada seseorang yang menjadi abdinya. Saya dapat merasakan hal itu ketika beradu ilmu dengannya. Keluarga Azam dalam ancaman besar. Kata Amar di dalam hatinya.
Amar menarik napasnya berulang kali, demi menenangkan diri. Ia tidak ingin Aisyah semakin bersedih hati karena mengetahui bahwa suaminya tengah terluka.
Sambil berkonsentrasi, Azam memohon kesembuhan dan keringanan atas rasa sakit kepada Allah.
"Bismillah, bismillah, bismillah. U'idzuka bi izzatillahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadziru. As’alullahal 'adhima rabbal 'arsyil 'adhim an yasyfiyaka."
"Dengan nama Allah, dengan nama Allah, dengan nama Allah, aku lindungi kamu berkat kemuliaan Allah dan qudrah-Nya dari kejahatan barang yang aku rasakan dan yang aku khawatirkan. Aku memohon kepada Allah Yang Maha Besar, Tuhan Arasy yang maha besar agar Dia menyembuhkan mu."
Amar memerintahkan tangan kanan untuk menyembuhkan dadanya dari luka dalam, atas izin Allah. Lalu ia menempel tangannya kuat pada bagian yang sangat menyakitkan itu.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Amar terus bertakbir di dalam hatinya. Hamba serahkan hidup dan mati hamba, hanya kepada-Mu ya Rob.
*****
Sementara di kediaman pakde Sutar, ia tergeletak hampir tidak sadarkan diri di dalam kamar ritualnya, sesaat setelah diserang oleh makhluk pujaannya sendiri (jenglot).
"Mana janjimu, Sutar? Mau main-main denganku? Kuambil putra kesayanganmu," kata makhluk tersebut sambil memberi pukulannya dan menyeringai jahat.
"Ojo! Mohon kasih sedikit waktu." Pakde Sutar bersimpuh di hadapan makhluk peliharanya. "Mohon, jangan. Aku janji, sebelum kulitnya putih, aku akan memberikannya untukmu. Ampuuun!"
"Aku sudah tidak tahan lagi. Siapa pun dari mereka, harus dipersembahkan atas namaku!"
"Njeh-njeh." Pakde Sutar melipat tangan di depan d**a sambil mengatur napasnya yang terasa sesak dan terputus-putus.
"Tak kasih waktu kurang dari 40 hari. Awas kamu kalau gagal lagi! Ha ha ha ha ha."
"Ampun-ampun ... ," ucapnya terus menyembah dengan tubuh yang bergetar hebat. Ia sangat takut dan juga merasa marah karena merasa kesulitan untuk memenuhi syarat dari iblis tersebut.
Percayalah! Allah tidak menurunkan takdir begitu saja. Beliau memberikan takdir sesuai dengan apa yang manusia lakukan.
Jika manusia itu maju dan berusaha, maka Allah akan memberikan takdir kesuksesan. Jika kita lengah dan malas, maka Allah akan memberikan takdir kegagalan.
Jika manusia itu berserah diri hanya kepada Allah, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya. Namun jika manusia itu, bersekongkol dengan iblis, maka Allah akan memberikan kesakitan.
Bersambung.