Part 8

911 Kata
Sandra menghela nafas ketika pantatnya sudah mendarat di tempat dia duduk. Damian sedang membaca sebuah buku hasil berburunya di toko buku waktu itu. Dia tersenyum ketika melihat teman sebangkunya datang, namun Sandra hanya nyengir membalas senyuman tersebut. "Kenapa lutut kamu?" Tanya Damian. Sandra nyengir Gak cool amat kalau gue bilang abis nyungsep di parit depan sekolah! Turun ntar level cool gue di depan Damian! "Keserempet ojol depan sekolah!" balas Sandra setelah terjadi perdebatan sengit di kepalanya apakah akan memberitahukan yang sebenarnya atau tidak. Damian mengulum senyumnya, "Wow, keliatannya parah ya! sakit gak?" "Enggak! Enak kayak di pijet pake traktor! Ya sakitlah!" Jawab Sandra sambil memonyongkan bibirnya karena sedikit sebal dengan pertanyaan Damian. "Hehehehe... maaf, maaf... Dari UKS ya?" tanya Damian lagi. Sandra mengangguk lagi, "Baca buku apaan sih? Rajin bener pagi-pagi udah baca buku." "Oh ini, buku Aku Cinta Bahasa Indonesia. Aku masih banyak kata-kata bahasa Indonesia yang belum aku paham. Suka baca?" Sandra mengangguk, "Baca komik tapi." "Aku juga suka, tapi kadang-kadang aja." "Lu punya koleksi komik di rumah?" Damian mengangguk, "Ada, tapi cuma sedikit yang bahasa Indonesia." "Apa aja tuh? Gue boleh pinjem gak?" "Ummm, cuma ada beberapa komik Detektif Conan, One Piece sama Doraemon. Seri yang lainnya pakai bahasa Jerman atau Inggris." "Seriusan lu? Pinjem dong, boleh gak?" Alden mengangguk lagi, "Boleh dong! Kamu sendiri punya koleksi gak?" "Punya! Ada One Piece, Naruto, sama Crayon Shinchan. Tapi gak seri lengkap, kapan gue mau beli aja baru gue beli." "Gak papa, bisa tukeran dong kita kalau gitu." Sandra mengangguk sambil tersenyum. Beberapa menit kemudian bel masuk berbunyi di susul langkah guru paling displin satu sekolah. Yang jarang banget absen, paling rajin ngasih tugas dan PR, ngasih quiz dadakan juga dan paling killer nyari murid tukang contek, dia adalah Bu Rahma, guru matematika. Setelah ketua kelas selesai dengan doa bersama sebelum belajar, Bu Rahma mulai berdiri. "Siapkan kertas satu lembar, kita pretest sebelum materi semester ini diberikan." Ujar Bu Rahma tegas. Sandra melongo, dia memang tidak pernah pandai untuk pelajaran Matematika. Nilainya selalu pas dengan standar yang ditentukan. Paling mentok banget dapet 80, itupun kalau dia lagi belajar "Cassandra! kenapa kamu malah bengong? Keluarkan kertas kamu sekarang!" Perintah Bu Rahma. "Ummm... Bu, pretest nya gak bisa dimundurin Bu? Inikan baru awal semester, buku juga belum dibagikan Bu sama bagian TU." Ujar Sandra. "Justru itu! Ibu ingin melihat kemampuan dan daya ingat kalian terhadap materi semester lalu! Ayo cepat keluarkan kertas kalian, gak ada alasan lagi." Perintah Bu Rahma tegas. Sandra mengalah untuk tidak berkomentar lagi, akhirnya dia mengeluarkan selembar kertas, menuliskan namanya pada kertas tersebut dan berusaha mengerjakan soal matematika yang sudah terpampang di depan kelas. *** Dea menghela nafas lega ketika melihat Adhitama sudah kembali dari UKS dengan wajah yang terlihat lebih segar dan cerah. Dea tersenyum kepada Tama, namun Tama malah diam saja dan tidak merespon senyum tersebut seperti tidak ada rasa bersalah karena sudah merepotkan teman sekelasnya untuk membawa Tama ke UKS. Tama duduk di bangku yang berseberangan dengan Dea. Tanpa basa-basi sedikitpun, Tama langsung cuek saja dan mengeluarkan buku pelajaran dan memperhatikan Pak Jamal yang sedang menuliskan rumus pembukuan untuk mata pelajaran akuntansi. Setelah Pak Jamal keluar, Tama tetap saja tidak punya inisiatif untuk bilang terimakasih ke Dea "Dea, masa dia gak ngucapin makasih sih sama lu? gak inget apa dia gimana bikin kita panik?" Tanya Dian. Dea pun mengangkat bahu dan berkata "Mungkin dia masih belum fit betul untuk berinteraksi dan ngomong ke kita...." Dian mendengus. Dea cengar-cengir dan menyapa Tama "Udah baekan sekarang Tama?" Tama hanya menoleh kemudian mengangguk "Yah, lumayan lah udah mendingan sekarang." "Alhamdulillah, syukurlah kalau gitu." Tama mengangguk lagi kemudian membalik tubuhnya menghadap Dea, "Ummm... Tadi yang di UKS itu kembaran lu ya De?" Dea mengangguk sambil tersenyum "Kenapa? kita mirip banget yah? kayak pinang dibelah kapak? Hahahahahaha..." Tama hanya merespon dengan mengangkat kedua alisnya. Dian yang daritadi memperhatikan mereka berdua terlihat kesal sekali dengan Tama heran deh sama cowok satu ini, lempeng amat kali jadi orang! sombong! cuek! dasar ansos! *** Sandra sedang berjalan dipinggir lapangan sambil membawa kertas ujian teman-temannya tadi hasil dari pretest yang dadakan kayak tahu bulat. Di lapangan terlihat anak-anak cowok sedang asyik bermain basket, dan anak-anak cewek duduk di pinggir jalan sambil teriak histeris memberikan dukungannya kepada para cowok idaman sekolah itu. saat Sandra sedang asyik berjalan dipinggir lapangan tiba-tiba saja bola basket menghantam kepala Sandra dan membuatnya terjatuh hingga kertas-kertas tersebut berhamburan di pinggir lapangan. Kepala Sandra terasa sangat pusing. seorang cowok datang menghampiri dan mengambil bola tersebut. Sandra mengangkat wajahnya dan melihat cowok tersebut adalah Tama. "Lu gak bisa maen basket apa? kalau gak bisa maen basket gak usah sok-sokan deh maen basket, bahaya tau gak, bisa mencelakakan orang! mendingan lu duduk aja tuh di pinggir lapangan!" "Woy, sewot amat sih jadi cewek! cuma kesenggol dikit aja udah ngamuk-ngamuk gak jelas gini! Gue gak sengaja tadi lempar bola nya kena lu! lu juga tuh yang salah, ngapa malah jalan di pinggir lapangan!" "Hah? what? are you crazy?! lu bilang gue yang salah? gak kebalik tuh? terus harusnya gue jalan di tengah lapangan gitu? atau harus nungguin kalian selesai maen basket baru lewat? udah gak minta maaf, malah nyalahin gue! dasar sinting!" "Eh, mulut. enak banget lu bilang kalau gue crazy!" "Emang gitu kenyataan nya! Dasar sinting! Sombong pula! Amit-amit gue sama orang yang mau temenan sama lu! Bye!" Sandra pun membereskan kertas-kertas yang berantakan tersebut dan meninggalkan Tama begitu saja. sudah terlalu lelah dan menghabiskan energi kalau harus menghadapi cowok psycho satu itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN