*** Sydney, Australia, Vivian terbaring di atas tempat tidurnya dengan lemah. Selang infus melekat pada punggung tangan kirinya. Tampak membatasi pergerakannya. Sungguh malang, akibat terlalu kelelahan, Vivian akhirnya jatuh sakit. "Kau terlalu memaksakan diri, Vi," Teo menghela napasnya dengan berat. Detik ini dia yang menemani Vivian di kamarnya. Vivian tersenyum menanggapi ucapan Teo. Namun, wajah pucat dan mata cekung membuat senyumnya tampak aneh di mata Teo. Lelaki itu berdecak sebal. Satu-satunya orang yang patut disalahkan atas sakitnya Vivian adalah Ardafaza Prangestu. Gara-gara Vivian memaksakan diri untuk melupakannya dengan memperbanyak aktivitas membuatnya jatuh sakit seperti ini. Teo tidak terima, terlebih setelah ia mendengar kejadian beberapa minggu yang lalu. Malam

