*** Usai membelikan nasi beserta lauknya untuk Dafa, Jeni kembali melajukan mobilnya. Ia pun sudah mendapatkan sekeranjang buah untuk Kakek Bram. Melihat apa yang dirinya dapatkan, Jeni tak ingin berhenti tersenyum. Jeni bertanya-tanya, bolehkah ia memeluk Dafa nanti? Atau mereka hanya sekedar bersalaman saja? Entahlah, tak perlu memikirkan itu. Pikirkan saja bagaimana cara bersikap ketika nanti berada di depan Kakek Bram. Biar bagaimanapun juga, Dafa ingin mendapatkan kesan elok di mata pria tua itu. Jeni pikir ia tak punya waktu lagi untuk berlatih saat melihat petunjuk jalan yang mengarahkannya pada rumah sakit yang dirinya tuju. Jeni pun menekan pedal has cukup dalam untuk lebih cepat sampai di sana karena tak ingin membuat Dafa menunggu terlalu lama. Kira-kira Lima Belas menit ke

