*** Dafa masih saja terdiam setelah mendengar pernyataan Jeni. Sejujurnya Dafa sangat amat terkejut. Ia tidak tahu kenapa Jeni ikut pulang ke tanah air. Segala praduga membuat Dafa sedikit khawatir. Bukan karena ia terlalu percaya diri, tetapi dirinya memahami perasaan Jeni. Dafa tidak bisa memungkiri bahwa Jeni menaruh rasa padanya. "Dafa, kamu masih di situ?" pertanyaan Jeni membuat lamunan Dafa terbuyarkan. "Ohh iya Jen. Gimana? Kamu juga di Jakarta?" tanya Dafa seolah apa yang Jeni katakan beberapa menit yang lalu kurang jelas di telinganya. Samar-samar Dafa dapat mendengar langkah kaki yang ia yakini milik Jeni. Entah kemana Jeni akan pergi atau sebenarnya gadis itu memang sedang berada di suatu tempat yang sebenarnya begitu akrab dengan Dafa. "Iya, aku di Jakarta. Bisa kita

