*** Di Negara yang sama, tetapi tempat yang berbeda, Jeni sedang memikirkan keinginan hatinya. Keinginan yang selama beberapa hari ini menghantuinya. Demi apa, Jeni merasa ia dilema. Entah kenapa, hatinya berkata untuk menyusul Dafa. Namun, logikanya menolak hal itu. Jeni tidak ingin terlihat murahan di mata Dafa dengan mengejarnya seperti itu. Jeni tidak sanggup bila akhirnya Dafa menolak kehadirannya yang terkesan memaksa, tapi ia terus berpikir, bagaimana jika Dafa membutuhkannya? Demi apa semua pikiran itu mengganggu akal sehat Jeni. Membuatnya terus gelisah beberapa hari ini. Jeni terus berpikir apakah ia pantas bila menyusul lelaki itu? Ataukah dirinya terlalu berlebihan? Jeni menggeleng sebal. Entahlah, sejak Dafa pergi kehidupan Jeni menjadi suram. Ia tidak memiliki pekerkaan

