SKWAC | Chapter 14 √

1504 Kata
*** Setelah sampai di apartemen yang saat ini menjadi tempat tinggalnya, Dafa segera membersihkan diri. Gagal sudah merayu Vivian dengan mengenang masa lalu mereka. Dafa tidak menyangka bila rencana dadakan itu berakhir melukai hati Vivian lagi. Keesokan harinya, Dafa bermaksud menjemput Vivian mengingat mobil Vivian ditinggal di restoran, tetapi pemandangan menyakitkan menghampiri matanya. Vivian dijemput oleh Teo. Tak hanya itu tentu saja. Teo tampak mesra dengan Vivian. Mereka berdua bercanda ria di ruang tamu saat Dafa baru saja masuk ke sana. Pemandangan itu membuat Dafa menggenggam tangannya. Hatinya hancur melihat Vivian sanggup berbahagia bersama orang lain. "Ahhh Dafa. Bukankah kau sudah pindah?" pertanyaan Teo saat melihatnya. Dafa pun tak bisa berbalik pergi. Lelaki itu terpaksa menghampiri. "Saya tadinya ingin jemput Vivian," Dafa mengutarakan maksud dan tujuannya secara langsung. Teo mengangguk singkat. "Maaf, Vivian sudah menjadi tanggung jawab saya. Tak perlu membantunya, karena saya akan dengan senang hati melakukan apa saja yang Vivian inginkan," balas Teo. Hal itu membuat Dafa menelan ludahnya dengan susah payah. Dirinya sungguh tak menyangka akan mendapati Teo di sini. Dafa pikir, Vivian akan menunggunya mengingat mereka bekerja di restoran yang sama. "Saya..." "Tidak apa-apa, Vivian sudah menjadi tanggung jawab saya. Iya kan Sayang?" potong Teo dengan cepat. Lelaki itu terdengar meminta persetujuan Vivian. Dengan anggukan antusias Vivian membalasnya. Lalu gadis itu bergelayut manja di lengan Teo. "Awas ya kalau janjinya nggak di tepatin!" ujarnya. "Tentu Vi," sengaja Teo mengusap pipi Vivian dengan sayang. Seolah benar-benar sengaja pamer kemesraan di depan Dafa. Dafa menatap tajam keduanya. Tak terhitung lagi seberapa banyak luka yang dia rasakan setiap kali melihat kemesraan Vivian dan Teo yang seakan sengaja diumbar itu. Namum, Dafa tidak akan pernah menyerah sebelum cincin tersemat di jari manis Vivian. Sudut bibirnya tersenyum sinis. Lihat saja! Sampai detik ini Vivian belum mengenakan cincin pertunangan itu. Bahkan saat mulutnya berkata bahwa dia dan Teo akan segera menikah. Maaf saja, Dafa tidak percaya semua itu sebelum Vivian mengenakan gaun pernikahan dan Teo siap menyelipkan benda bundar penuh permata di jari manisnya. "Kamu masih milikku, Vi," bathinnya. "Saya duluan!" pamit Dafa beberapa detik kemudian. Tanpa berniat menunggu balasan, Dafa beranjak dari sofa, lalu pergi dari rumah itu. Perjalanan Dafa mulai dari apartemen ke rumah Vivian rasanya percuma saja. Padahal, ia memerlukan waktu untuk melakukan itu mengingat jarak antara rumah Vivian dan apartemen cukup jauh. Berujung pergi sendirian ke restoran tentu saja membuat perasaan Dafa menjadi buruk. Namun, apa yang bisa lelaki itu lakukan selain mengumpat kesal. Demi apa dirinya diperlakukan seperti ini oleh Vivian? Dafa semakin mengerti rasa sakit yang pernah dia torehkan pada gadis itu betul-betul telah merenggut rasa simpatinya. Dafa benar-benar telah menghancurkan hati Vivian yang dulu sangat mencintainya itu. "Sial!" tidak ada penyesalan yang paling menyakitkan selain menyesal karena terlambat menyadari. Andai perasaan Dafa datang lebih awal, mungkin hubungannya dengan Vivian pada saat ini akam baik-baik saja. Mungkin saja mereka sudah memiliki keluarga kecil yang bahagia. Tidak seperti saat ini yang berantakan karena dirinya sendiri. Entah sampai kapan perjuangan ini akan berujung. Dafa masih ingin berusaha hingga titik darah penghabisan. Dirinya belum sanggup menyerah begitu saja. Sesampainya di restoran, Dafa segera membantu penghuni dapur. Meskipun perasaannya kacau, tapi Dafa tak akan membuat dapur ikut kacau. Dirinya cukup beruntung karena Vivian membagi dapur ini dengannya. Andai wanita itu keras kepala dan tak sudi menerimanya di sini, entah apa yang akan Dafa lakukan. Meskipun uangnya cukup untuk menghidupinya di sini, tetapi Dafa akan bosan bila tidak memiliki kegiatan selagi mendapatkan hati Vivian lagi. "Wah wahhh rajin sekali," Teguran itu membuat Dafa menghentikan kegiatannya sejenak. Kenapa juga Chef Geo harus mengganggunya pagi-pagi seperti ini. Karena tak ingin ribut, Dafa memilih membungkam mulutnya. "Apa gara-gara semalam? Ahhh tapi tidak mungkin, Vivian mengatakan kau telah membuatnya menangis lagi," ucap Geo. Kali ini Dafa betul-betul menghentikan aktivitasnya. Lelaki itu menatap tajam pada Geo. "Vivian mengatakan itu padamu?" tanyanya tak tahan. Geo mengangguk singkat. "Iya, dia menceritakan segalanya. Jadi, jangan bertinda secara asal," Telunjuk Geo berkali-kali menyentuh d**a Dafa. Membuat Dafa menahan tangannya. Dafa betul-betul tak ingin berdebat. Ia melepas cengkramannya dari lengan Geo. Kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya. Namun, perkataan Geo selanjutnya menghentikan kegiatannya sekali lagi. "Hari ini Vivian tidak ke restoran, tapi jangan jadi itu sebagai alasan untuk bermalas-malasan! Ayo semangat semuanya!" teriak Geo. Tak hanya pada chef Dafa tapi pada semua penghuni dapur. "Yes, Chef!" mereka menjawab dengan serentak kecuali Dafa. Mulutnya seolah terkunci rapat, dan kuncinya entah menghilang ke mana. Sejak mendengar bahwa Vivian tak jadi datang ke restoran membuat Dafa bertanya-tanya. Padahal pagi tadi gadis itu sudah siap untuk pergi. Segala praduga memenuhi benak Dafa. Pertanyaan tentang ke mana Vivian pergi memenuhi otaknya. Dafa merasa tak bisa berkonsentrasi. Dirinya memikirkan Vivian dan Teo. "Kudengar dari Vivian, hari ini dia dan Teo akan pergi ke toko perhiasan. Tebak apa yang akan mereka beli?" sengaja Geo memanasi Dafa dengan cara menyebar informasi itu. Dafa mengeratkan genggamannya. Perkataan Geo memang membuatnya penasaran, tapi yang lebih membuatnya merasa heran adalah kenapa Vivian dan Teo harus ke toko perhiasan setelah tadi pagi dia sempat memikirkan tentang cincin? Dafa menggeleng keras. Tidak mungkin Teo akan membelikan Vivian cincin. Lelaki itu memang tampak mengasihi Vivian di mata Dafa, tapi kenapa mereka bertindak secepat ini? Kenapa pula Vivian bersedia? "Bagaimana chf Dafa? Kau tidak bisa menebaknya?" Geo terkekeh senang. "Biar kuberi tahu," Lalu Dafa mendekat. "Mereka membeli cincin pertunangan sekaligus pernikahan," bisiknya. Tubuh Dafa merasakan keterkejutan yang luar biasa. Itu diketahui dengan pasti oleh Geo. "Tidak mungkin!" bentak Dafa. Dia berbalik untuk kembali menghadap pada Geo. "Jangan asal menebak," ucapnya. "Apa aku perlu memberikan bukti padamu?" tanya Geo yang lagi-lagi sengaja memanasi. "Diam!" Geo menarik kerah baju Dafa. Wajahnya juga sudah berubah merah penuh amarah setelah Dafa membentak di depan wajahnya. "Kau yang sehadusnya diam! Jangan ganggu Vivian lagi," dalam dan dingin, begitu Dafa mendengar balasan dafi Geo. "Pulanglah, karena Vivian tidak membutuhkan lelaki pengecut sepertimu." Setelah mengatakan itu, Geo berbalik, meninggalkan Dafa dan penghuni dapur lainnya. Dafa sungguh kesal. Kenapa semua jadi rumit seperti ini? Kenapa Vivian cepat sekali pergi. Bertunangan lalu menikah? Membuat Dafa sakit kepala saja. "Dengar Geo, ini bukan urusanmu! Jangan menggangguku karena aku tidak akan menyerah begitu saja. Vivian masih mencintaiku," "Jangan berharap Ardafaza Prangestu, Vivian sudah tidak memiliki perasaan seperti itu lagi padamu. Kau ingin bukti? Pergi dan cari tahu sendiri betapa bahagia Vivian bersama Teo saat ini." Balas Geo sambil meletakan secarik kertas ke tangan Dafa. Kertas itu berisi informasi di mana keberadaan Vivian dan Teo sekarang. Nama toko perhiasan terkenal memenuhi mata Dafa. Pupilnya membesar saat membaca itu. Tanpa basa basi, Dafa meninggalkan dapur begitu saja. "Dasar Chef gadungan!" Geo menarik sudut bibirnya, membentuk senyum sinis yang meremehkan. Kepala koki itu melirik jam tangannya. Sebentar lagi seharusnya restoran mereka buka. Tanpa Dafa, dia dan yang lainnya bisa menghandle dapur. Lagi pula, Geo sengaja membuat Dafa meninggalkan dapur dan menyusul Vivian dan Teo. "Sesuai rencana," katanya. Setelah itu, Geo mulai mengambil alih pekerjaan Dafa. Keahliannya dalam mengendalikan dapur tak perlu diragukan lagi. Vivian percaya penuh padanya hingga memintanya menjadi kepala koki seperti ini. Geo pun tidak keberatan, karena baginya Vivian adalah permata. Ting. Pelanggan pertama datang. Bibir Geo tersenyum senang. Pesanan sampai ke tangannya dari pelayan. Segera saja lelaki itu membuatkan menu yang dipesan. Piawai sekali lelaki itu menggunakan segala peralatan dapur. Seolah apa yang dia sentuh benar-benar bersahabat dengannya. Selesai dengan menu itu, menu baru datang lagi dari pelanggan kedua. Geo membuat menu utamanya, sementara asistennya membuatkan saus dan lain-lain. Begitu selesai, pelayan mengantarnya dengan cepat. Pelanggan ketiga, keempat dan kelima masih Geo yang melayani. Lelaki itu tak pernah perhitungan. Wajahnya selalu tersenyum saat memasak makanan. Bahkan saat hatinya sedang tidak enak saja, dia masih tersenyum. Geo jarang menunjukan kemarahannya selain karena Dafa. Itu pun jarang. Geo lebih banyak tersenyum demi menutupi kekesalannya. Ketika menu kesekian tiba di depannya lagi, Geo terpaksa melemparnya pada asistennya. Lelaki itu merasakan getar ponsel yang tadi masih dirinya simpan di kantong celana. Sengaja memang, mengingat ia sedang menunggu kabar dari seseorang. Geo meninggalkan dapur, menyingkir sejenak ke arah gudang. Senyumnya terbit ketika melihat siapa pemanggil tersebut. "Halo, Vi. Whats wrong?" tanyanya penasaran. Dari seberang sana, Vivian terkekeh senang. "Dafa ada di sini. Nguntit kita," katanya. "Oya?" begitu reaksi Geo mendengar penjelasan Vivian. Senang rasanya mendengar nada ceria dari sepupunya itu. Rencana mereka semalam berjalan dengan lancar. Setelah Vivian menceritakan kejadian semalam lewat telpon, Geo memberi usul agar semakin membuat Dafa yakin tentang pertunangan itu. Ini semua agar Dafa tak lagi mengganggu Vivian seperti semalam. "Astaga rencana kita berhasil, Geo! Aku yakin Dafa akan menyerah dan pulang ke Jakarta," sudah seyakin itu Vivian melihat reaksi Dafa saat ini. Bagaimana tidak, mereka sedang berada di toko perhiasan, memilih cincin couple. Sementara Dafa diam-diam mengikuti dari belakang. Memang, sejak tadi Vivian sudah menunggu kedatangan lelaki itu. Vivian ingin menunjukan bahwa dirinya dan Teo serius dalam hubungan ini. Vivian juga akan menunjukan kemesraannya di depan Dafa hari ini. Tak ada lagi toleransi. Dafa harus pulang ke Jakarta. Kisah mereka harus berakhir secepatnya, karena tak mungkin kembali bersama.  . . Bersambung.  Hai dear.. Yang mau silatuhrami bisa follow ig aku ya @awindsari27 :))
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN