***
"Vi, aku pindah bukan berarti aku nyerah. Setiap pagi aku akan tetap datang ke restoran kamu,"
Begitu kata Dafa pagi tadi sebelum lelaki itu meninggalkan rumah. Vivian mendesah pasrah. "Kenapa kamu nggak balik ke Jakarta aja, Daf? Biar kita nggak usah saling benci lagi," lirihnya.
"Kamu yakin sanggup melakukan itu, Vi?" Geo menyahuti. Rupanya, kakak sepupunya itu mendengar apa yang telah dirinya katakan.
"Setidaknya aku nggak lihat wajah Dafa terus tiap hari, Geo!" ujarnya.
"Kenapa? Takut cinta lama bersemi kembali?"
"Bukan, karena mau benci seperti apapun aku sama Dafa, tetap saka cinta lama belum kelar." sahutan itu hanya Vivian ucapkan dalam hatinya saja.
Vivian memilih bungkam. Tak ingin meneruskan sesi curhat tanpa sengaja siang ini. "Apa pengaruh Dafa masih sangat besar, Vivian?" tapi Geo enggan berhenti. Dia masih memburu Vivian dengan pertanyaannya. Vivian menghela napasnya dengan berat.
"Bukan gitu, Geo. Biar bagaimana pun juga, dulu Dafa pernah jadi temanku. Aku memang nggak mau kembali sama dia lagi, tapi bukan berarti benci kupertahankan sampai mati," terangnya.
Geo mendengkus. "Munafik! Kalau seperti ini terus, aku takut kamu terluka lagi Vivian," ucapnya.
"Sebaiknya kau putuskan saja pertunangan dadakanmu itu dengan Teo,"
Kini, giliran Vivian yang mendengkus sebal. "Jangan gila! Sudah terlanjur," sahut Vivian tak setuju.
"Masalah kalian akan rumit kalau sampai Dafa tahu hubunganmu dengan Teo hanya...."
"Geo stop! Jangan teruskan. Hubunganku dengan Teo yang terlanjur jadi tunangan biar menjadi urusan kami berdua. Geo, kakakku sayang, dirimu hanya perlu mendukung kami saja," ucap Vivian dengan gaya bicaranya yang seolah tanpa beban. Geo menghela napasnya dengan berat. Menatap lekat adik sepupunya. Percuma saja melarang Vivian, adik sepupunya itu tak akan bisa dihalangi.
"Selalu Vi, aku selalu dukung apapun keputusanmu. Aku juga siap meminjamkan bahuku untukmu kalau-kalau nanti kamu ingin menangis,"
Vivian memutar bola matanya. Geo memang paling mengerti dirinya, tapi dia juga pandai menggoda. "Siapa juga yang mau nangis!" Vivian tahu Geo tak bisa mengikuti cara bicaranya yang seperti ini, tapi Geo mengerti dan bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.
Geo terkekeh. Ia mengacak rambut Vivian dengan sengaja. "Bersyukur Vi, setidaknya mantan tunanganmu sudah keluar dari rumah kalian," Vivian mengangguk setuju. Tentu saja dirinya bersyukur karena Dafa sudah pergi dari rumahnya. Tinggal menunggu waktu saja, Dafa akan kembali ke Indonesia.
***
Aktivitas restoran sepertj hari-hari biasa. Sibuk dengan pelanggan yang datang. Sudah beberapa hari ini Vivian ikut turun tangan meskipun Dafa sudah kembali ke restorannya. Vivian bersyukur, semakin lama semakin ramai pengunjung datang ke tempat ini. Memang tak salah ia merekrut Georgeo untuk menjadi kepala koki di restorannya mengingat reputasi yang Geo miliki.
Geo sudah cukup dikenal sejak ia pernah bekerja di restoran terkenal sebelum menjadi kepala koki di restorannya. Menguntungkan bagi Vivian, karena masakannya yang enak membuat pelanggan merindukan masakannya dan menjadi pelanggan di restoran ini.
Sore menjelang malam, Vivian sudah bersiap meninggalkan restoran. Biasanya, dia akan pulang bersama Dafa, tapi selama beberapa hari ini dirinya pulang sendirian.
Vivian tak peduli soal itu. Dia hanya teringat saja. "Geo, aku pulang duluan ya. Jangan lupa tutup pintu restorannya. Dikunci!" Vivian bicara pada Geo. Namun, ada Dafa juga di sana.
"Siap Bu bos!" Geo menjawab tegas.
Setelah itu, ia membiarkan Vivian membalikan badannya, bersiap untuk pulang ke rumah. Namun, dengan sigap Dafa menahannya. "Vi, bisa bicara sebentar?" tanyanya. Membuat Vivian menghentikan langkahnya. Vivian menimbang sejenak, merasa sedikit tak tega melihat ekspresi Dafa yang tampak memohon. "Ok!" ujarnya setuju.
Tampak sudut bibir Dafa tertarik membentuk senyuman. Selama hampir seminggu ini dirinya mencari celah untuk mengobrol dengan Vivian, tetapi selalu saja ada Geo dan Teo bersamanya. Membuat Dafa tak bisa berkutik. Sebab Vivian menolak berbicara padanya.
"Mau ngomong apa?" tanya Vivian saat mereka sudah berada di dalam mobil Dafa. Iya, lelaki itu pada akhirnya menyewa mobil untuk dirinya gunakan selama berada di sini. Tak mungkin naik kendaraan umum secara terus menerus. Lagi pula, Dafa bukannya tak punya uang untuk melakukan itu. Dafa cukup kaya asal tahu saja.
"Kita sekalian makan malam, mau?" Vivian menatap cukup lama pada lelaki itu. Biasanya, Dafa lebih suka memaksa. Saat ini Dafa meminta persetujuannya. Vivian mengangguk singkat, ia setuju. Namun, bukan berarti dirinya ingin membuka hati lagi untuk Dafa.
Kendaraan roda Empat itu membelah jalan raya. Penghuninya terlihat akur tanpa ada perdebatan. Namun, sebenarnya mereka sama-sama merasa tak nyaman. Vivian sudah mencoba menerima ajakan Dafa tanpa terpaksa agar dirinya semakin terlatih untuk melepaskan lelaki itu, meskipun keberadaan Dafa selalu di depan matanya.
"Makan malam di mana?" tanya Dafa.
"Sebenarnya aku nggak lapar," sahut Vivian. Dia berkata jujur. "Tapi, gimana kalau kita ke restoran Teo? Dia buka Dua Puluh Empat jam," usulan yang Vivian berikan membuat Dafa menoleh padanya dengan cepat.
Dafa yakin Vivian sengaja melakukan ini. "Nggak bisa, Vi. Aku mau ngobrol berdua sama kamu," tolak Dafa.
"Tapi...."
"Please," potong Dafa dengan cepat. Ini kesempatan langka bisa mengajak Vivian makan malam. Enak saja ingin makan malam di restoran rivalnya itu. Sudah pasti Dafa tak akan setuju.
Dafa tak peduli pada dengkusan kesal yang Vivian keluarkan. Dafa menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai pada restoran yang ia tuju. Biarlah dirinya saja yang menentukan mereka makan di mana bila Vivian tak mau.
Hanya butuh dua puluh menit untuk mereka sampai ke tempat tujuan."Ini...." Vivian terdiam. Restoran ini adalah restoran yang sering dia, Arfa dan Dafa datangi beberapa tahun yang lalu. Jantung Vivian berdegup tak menentu. Ada denyut kesakitan di sana. "Daf ayo pulang!" ujarnya.
Tak sudi Vivian masuk ke sana. Kenangan manis antara mereka bertiga menelusup tak tahu diri ke dalam relungnya. Inikah yang Dafa inginkan? Vivian menggeleng tak percaya.
"Kenapa Vi? Di tempat ini kita pernah habiskan waktu bersama," ucap Dafa.
Ekspresi wajah Vivian berubah sendu. "Kenangan itu sudah sangat lama, Dafa. Dan telah terkalahkan oleh rasa kecewa yang pernah ada," balasnya.
"Tolong Vi, izinin aku perbaiki semua yang telah berlalu," pinta Dafa. "Ayo turun, kita makan di sana," lanjutnya. Namun, Vivian tak sedikit pun menggerakan tubuhnya. "Anterin aku pulang atau kita nggak usah ketemu selamanya,"
Mendengar ancaman itu membuat hati Dafa berdenyut sakit. Vivian betul-betul memberi jarak yang teramat nyata untuknya. Bahkan Vivian menghalanginya untuk mendekat.
"Kenapa kamu jadi kayak gini, Vi? Nggak ngasih aku kesempatan kedua," lirih Dafa.
Secepat kilat Vivian menoleh padanya. "Kesempatan kedua?" tawanya terdengar mengejek. "Aku bahkan pernah kasih kamu kesempatan ketiga, Daf! Tapi apa?" tak terbendung lagi, air mata Vivian terjatuh secara tiba-tiba kala mengingat perlakuan Dafa padanya.
"Dafa cukup! Aku nggak mau bahas masa lalu. Aku sekarang sudah sama Teo," mohonya. "Jangan paksa aku untuk semakin membencimu," ucapnya.
"Sekarang anterin aku pulang,"
Meskipun berat, tetapi Dafa akhirnya memutar arah mobilnya. Mengantar Vivian pulang ke rumah. Selama dalam perjalanan, mereka tak bersuara. Saling diam. Tak peduli pada angin malam yang berbisik sendu, meminta keduanya untuk saling bicara.
Tidak! Vivian sedang kembali terluka. Dirinya tengah menyesal atas apa yang terjadi beberapa saat lalu. Dia menyesal menerima tawaran Dafa untuk sekedar mengobrol hanya karena perasaannya sempat memiliki rindu pada lelaki itu.
Ternyata benar apa kata Geo. Jika dirinya meragu seperti ini, maka hanya akan ada rasa sakit lagi dan lagi. Seharusnya Vivian tahu, mengiyakan ajakan Dafa sama saja dengan melukai hatinya sekali lagi. Vivian tahu persis tujuan Dafa. Dia ingin memintanya kembali. Seharusnya yang Vivian lakukan adalah menghindar sebisa mungkin, bukan memberi lelaki itu ruang seperti ini.
Sekali lagi perkataan Geo benar adanya. Dia ini memang munafik. Masih saja luluh hanya karena melihat tatapan memohon dari Dafa.
"Vi, kita sampai," bisikan itu dapat Vivian dengar dengan baik.
"Besok aku jemput ya. Kita berangkat bareng," ucap Dafa lagi. Vivian menoleh padanya. Menatap penuh permohonan agar Dafa berhenti mendekatinya. "Kenapa kamu nggak balik ke Jakarta aja, Daf?" tanyanya sarat akan kesedihan. Jika Dafa kembali ke Jakarta, maka Vivian akan semakin bisa melupakannya.
"Vi aku...."
"Ardafaza Prangestu, kita sudah nggak mungkin bisa sama-sama lagi!" pekik Vivian memotong perkataan Dafa dengan cepat. Berharap agar lelaki itu mengerti bahwa secuil saja Dafa mengingatkannya pada masa lalu mereka, maka rasa sakit yang pernah Dafa torehkan akan menimbulkan luka baru di hati Vivian.
Namun, Dafa keras kepala. Dia tak ingin peduli sampai Vivian benar-benar mampu melepasnya. Melihat bagaimana sedihnya Vivian setelah dirinya ajak ke restoran penuh kenangan itu, membuat Dafa yakin jika tak pernah ada cinta untuk Teo. Vivian hanya memanfaatkan lelaki itu untuk membuat Dafa menyerah.
"Dengar Vivian! Aku nggak akan nyerah sebelum aku sendiri yang memilih pergi,"
Vivian menggelengkan kepalanya tak percaya. Kenapa Dafa begitu keras kepala. Tak mungkin ada kesempatan lagi untuk mereka bersama. Hatinya sudah penuh dengan luka. Mana mungkin Dafa sanggup menyembuhkannya. Vivian membuka pintu mobil, meninggalkan Dafa yang masih terdiam mengharapkannya.
Dafa menghela napasnya dengan berat. Ia menghidupkan mesin mobilnya lagi. Meninggalkan rumah itu dengan hati yang penuh kebimbangan. Bukan bimbang karena ingin meninggalkan Vivian, tetapi bimbang bagaimana cara meluluhkan hati Vivian lagi.
.
.
Bersambung.