***
Tidak datang ke restoran bersama Vivian bukan berarti Dafa menyerah. Tak ada kata menyerah sebelum janur kuning melengkung. Pagi tadi Dafa mengganggu Arfa demi meminta kunci apartemen sepupunya itu. Beruntung, kunci tersebut dititipkan pada pengurus apartemen. Oleh karena itu Dafa ingin bertemu dengan pengurusnya tersebut.
Setelah hampir seminggu ia menumpang di rumah Vivian, sudah saatnya dia tidur di tempat lain. Mungkin dengan begitu, Vivian akan mengerti yang namanya rindu. Bibir Dafa menipis. Sebuah senyum kecil muncul di sana. Apapun akan Dafa lakukan untuk mendepatkan Vivian kembali.
Usai sarapan, Dafa berpamitan pada Rose dan Stev. Dia juga meminta Vivian untuk hati-hati saat berkendara nanti. Melihat punggung Dafa menjauh, membuat Vivian sedikit merasakan keanehan pada dirinya. Wajar, sebab rasa itu masih ada. Vivian sedang mengusahakan untuk lupa. Bagaimana pun juga semua masih sama sulitnya dengan mendapatkan Dafa dulu.
"Sudah tahu sulit, kenapa nggak nerima Dafa aja?" bisik hati Vivian. Dia terkekeh sendiri mendengar itu. Memang sulit, tapi dirinya menyerah untuk kembali. Hati Vivian yang bertugas menerima kembali cinta Dafa sudah tertutup kekecewaan. Bukan hanya setahun atau dua tahun dia mengejar Ardafaza Prangestu, tetapi sudah sangat lama. Sayang, rasa itu baru dibalas saat dirinya menyerah memperjuangkan cinta.
Vivian menggelengkan kepalanya. Mencoba mengenyahkan segala bentuk cinta yang masih mendamba untuk Dafa. "Ma, Pa, aku berangkat dulu," pamitnya.
Stev yang lebih dulu menyahut. Sebagai seorang ayah dan sebagai seorang lelaki Stev mengerti perasaan putrinya dan Dafa. Namun, Stev juga ingin melihat sejauh mana Dafa berjuang untuk merebut hati putrinya lagi. "Hati-hati sweetheart," ucap Stev sambil memeluk Vivian.
Setelah itu giliran Rose. Dirinya yang sejak tadi diam-diam mengamati interaksi antara Dafa dan putrinya merasa bersyukur sekaligus takut. Melihat bagaimana sikap Dafa yang bagai menjaga jarak dari Vivian pagi ini membuatnya bersyukur. Mungkin Dafa sudah menyerah. Namu, di sisi lain dirinya takut saat melihag reaksi Vivian atas jarak yang sepertinya sengaja Dafa tunjukan.
"Hati-hati, Nak."
Vivian mengangguk. Ia membalas pelukan yang Mamanya berikan. "Bye," Vivian berbalik. Meninggalkan rumah bersama kekacauan hati yang coba ia sembuhkan sendiri. Vivian mengendarai mobilnya. "Sial!" ujarnya sebal. Aroma parfum Dafa melekati di kursi pengemudi. Membuat Vivian sebal sendiri karena harus mengingat mantan tunangannya itu.
Menghela napas berat, Vivian menakan pedal gas mobilnya dengan keras. Vivian mengebut. Beberapa saat kemudian gadis itu sudah sampai di restorannya. Vivian memarkirkan mobil di tempat biasa.
Sesampainya di dapur, ia menyapa karyawannya. Semalam mereka sudah melakukan briefing di chat group. Semua bahan sudah disiapkan oleh Geo atas perintahnya tentu saja. Sehingga, pagi ini dapur sudah sibuk sebelum dirinya sampai.
"Pagi Vi," Geo membalas sapaan Vivian dengan senyum khasnya. Vivian yang berjalan sendirian menciptakan kernyitan di dahi Geo. "Di mana Dafa?" tanya lelaki itu.
Vivian mengedikan bahunya. "Dia ada urusan," jawabnya.
Karena tak ingin bertanya lagi, Geo hanya menganggukan kepalanya. Lelaki itu kembali pada kesibukannya. Akan bertambah sibuk saat Dafa tak ada di dapur hari ini.
Begitu juga dengan Vivian. Dari pada memikirkan ke mana Dafa pergi, lebih baik menyibukan diri dengan dapurnya. Hari ini, Vivian akan ikut meramaikan dapur. Berbagi dengan Geo bukan suatu yang buruk. Dirinya akan mendapatkan pembelajaran lagi dari sepupunya itu.
Sementara itu, Dafa baru saja sampai di apartemen Arfa. Dafa meminta kunci dari orang suruhan sepupunya itu. "Persis Arfa," Dafa menggelengkan kepalanya saat pertama kali memasuki apartemen sepupunya itu. Meskipun pernah tinggal di Australia beberapa tahun yang lalu, tapi Dafa baru pertama kali ini mendatangi apartemen Arfa. Itu karena apartemen ini baru dibeli Arfa setelah Dafa kembali ke Indonesia lebih dulu.
"Ahhh tapi lumayan, lebih baik tinggal di sini dari pada di rumah Vivian," ucap Dafa. Lelaki itu mendudukan dirinya ke sofa ruang tamu. Apartemen Arfa yang terawat membuat Dafa tak perlu merasa khawatir pakaiannya terkena terdebu.
Dafa mengangguk mantap, tak ada alasan baginya untuk tidak tinggal di sini. Dafa khawatir, Vivian akan semakin menjauhinya jika dia memaksa untuk mendekat. Biarlah hubungan antara Teo dan mantan tunangannya menjadi urusan nanti. Lagi pula, Dafa sudah menyiapkan satu rencana yang mungkin bisa dirinya andalkan. Namun, Dafa belum menjalankan rencana itu karena belum memiliki waktu yang tepat.
Beranjak dari ruang tamu, Dafa menuju kamar Arfa. Tak perlu mengganti seprai karena hal itu sudah dilakukan oleh orang suruhan Arfa setelah Arfa memintanya. Dafa betul-betul hanya menempatinya lagi. Semua sudah dibereskan oleh sepupunya itu.
Dari kamar, Dafa beralih menjelajah dapur. Kali ini pun ia menemukan kulkas terisi penuh oleh bahan makanan. Hal itu membuat sudut bibir Dafa tertarik membentuk senyuman. "Baiknya sepupu gue," kekeh Dafa. Jika ingat beberapa waktu lalu mereka sempat menjadi rival, Dafa menjadi malu sendiri mendapati perhatian Arfa yang seperti ini. Pun, dengan dulu. Arfa pernah menganggapnya sebagai saingan kala Vivian lebih suka memperhatikannya, mengejar cintanya dari pada menerima cinta Arfa.
Kini, sepupunya itu telah resmi menikah dengan Manda. Sudahlah.. Dafa tak ingin mengingat memori itu dulu. Vivian pergi juga karena matanya terlalu buta mengejar Manda. Padahal perasaannya yang sesungguhnya hanya untuk Vivian seorang. Dafa menggelengkan kepalanya. Entah harus bagaimana lagi caranya menghapus kebodohannya itu? Dafa menyesal.
Dafa menutup kulkas yang masih terbuka selama ia melamun. Lelaki itu akhirnya mendudukan diri di kursi makan. Terdiam cukup lama. Memikirkan segala kesalahannya. Berkali-kali pikiran ingin menyerah itu menyerangnya, tapi jika menyerah sekarang maka usahnya tak akan pernah sebanding dengan usaha yang pernah Vivian lakukan untuk mendekatinya dulu.
Dafa tak bisa menjadikan Vivian satu-satunya yang terluka di antara mereka. Setidaknya dirinya harus merasakan bagaimana perjuangan yang pernah Vivian lakukan meluluhkan hatinya selama Bertahun-tahun dulu.
"Kayaknya aku masak dulu," ucap Dafa. Dia berharap pikirannya sedikit teralihkan dengan memasak. Suara kursi yang bergesekan dengan lantai menandakan bahwa Dafa bangkit dari duduknya.
Chef Dafa mulai menguasai dapur. Senyumnya kembali terbit kala mengingat kejadian bertahun silam. Ternyata dia tak mampu mengenyahkan apapun yang bersangkutan dengan Vivian. Beberapa tahun lalu, mereka bertiga, Vivian, Arfa dan dirinya sendiri selalu menghabiskan akhir pekan dengan gembira.
Mereka selalu tenggeleman dengan acara weekend mereka yang tak lain adalah memasak makanan lezat. Rasanya sudah lama sekali hal itu terjadi. Beberapa bulan yang lalu, mereka memang sempat berbagi dapur bersama. Tapi, tak Dafa rasakan lagi kehangatan itu. Menghilang bersama sikap hangatnya pula. Jujur, Dafa menghindar secara terus terang saat mengetahui perasaan Vivian beberapa tahun lalu.
Dafa pikir itu jalan terbaik. Dirinya tidak tahu akan jadi seperti ini. Dia tidak tahu akan mencintai Vivian juga.
Sudahlah.. Tak akan pernah habis bila terus diratapi. Dafa menyibukan diri dengan masakannya. Ini untuk makan siangnya nanti. Dafa akan kembali ke rumah Vivian setelah hari menjelang sore. Malamnya, ia akan tetap menginap di sana. Membicarakan soal kepindahannya.
Cukup lama Dafa berkutat dengan dapur. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul Sebelas siang. Dafa memutuskan untuk mandi, lalu makan. Setelah itu ia akan mengistirahatkan dirinya sampai matahari beranjak sore.
Aktivitas Dafa sesuai rencana. Lelaki itu segera makan setelah menyelesaikan mandinya. Dafa makan sendirian. Ia semakin nelangsa saja. Namun, sekuat mungkin Dafa bertahan. Kesedihan ini belum seberapa dari pada makan prasmanan di pernikahan Vivian dengan lelaki lain. Membayangkannya saja sudah membuat Dafa meringis ngeri.
Dafa menyelesaikan makan siangnya. Lalu betul-betul merealisasikan rencananya. Lelaki itu mengistirahatkan diri di kamar yang dulu pernah Arfa tempati.
Betul-betul memejamkan mata hingga ia bertemu kantuknya. Dafa terbangun kembali setelah pukul Tiga sore. Buru-buru Dafa mencuci wajahnya, lantas meninggalkan apartemen dengan segera. Jarak tempuh menuju rumah Vivian cukup jauh hingga memakan waktu Dua jam lamanya bila naik kendaraan umum. Dafa harus cepat agar tak kemalaman.
Pukul Lima Dafa baru sampai di kediaman keluarga mantan tunangannya itu. Dafa mengucap salam sebelum masuk ke dalam. Rumah tampak sepi, tapi Dafa yakin penghuninya ada di dalam. Karena tak melihat siapapun, Dafa memutuskan untuk segera masuk ke kamarnya. Nanti malam saja ia membicarakan kepindahannya.
"Vi, nanti pulang cepat?" karena tak memiliki pekerjaan lain, Dafa mengirimi Vivian pesan. Harap-harap cemas ia menunggu balasan Vivian.
"Yes!" lelaki itu bersorak senang saat mendapatkan balasan dari Vivian yang mengatakan bahwa ia akan segera pulang.
Hari ini, Tiga kali Dafa mandi. Namun, tak masalah asal ia bisa tampak segar. Dirinya harus terlihat baik-baik saja agar sanggup mengejar Vivian.
Pukul Tujuh lewat Sepuluh menit. Semua penghuni inti rumah ini sudah berkumpul di meja makan, termasuk Dafa. Meskipun belum membuka mulutnya untuk bicara, tetapi Dafa sudah menyiapkan rangkaian kata untuk diutarakan.
Usai makan, mulai lah Dafa menceritakan keputusannya. "Om, tante, mulai besok Dafa akan pindah dari sini," tentu saja hanya ada keterkejutan yang terlihat di wajah Stev dan Rose. Sebenarnya, Vivian sama terkejutnya, tapi dia menahan diri untuk tetap bersikap biasa saja.
"Maksud kamu, Daf?" tanya Stev. Dia tak menyalahkan Dafa bila akhirnya menyerah dalam hitungan hari.
Dafa tersenyum maklum atas keterkejutan semua orang. "Aku pindah ke apartemennya Arfa, om. Kebetulan di sana kosong," terangnya.
Diam-diam, tanpa seorang pun tahu, Vivian menghela napasnya dengan lega. Entah itu karena perkiraannya salah tentang Dafa yang kembali ke Indonesia atau lega karena Dafa tak lagi tinggal bersama mereka.
Vivian sendiri tak mengerti maksud dari helaan napasnya. Entahlah, Vivian mencoba untuk mengabaikan hal itu. Dirinya kembali menguatkan hati, membulatkan tekat untuk melupakan Dafa sepenuhnya.
.
.
Bersambung.