***
Dafa salah, Vivian bukan lagi tunangannya, melainkan mantan tunangannya. Embusan napas berat terdengar di sekitar ruang mobil Vivian yang dirinya bawa pulang. Itu suara napas Dafa seorang. Menoleh ke samping, Ardafaza Prangestu menatap sejenak tempat yang seharusnya Vivian duduki.
"Sengaja banget ya Vi bikin aku cemburu hari ini?" lirihnya. Dafa kembali membawa tatapannya pada jalan raya. Suasana langit yang mulai gelap membuat Dafa menekan pedal gas mobil Vivian cukup kuat hingga kecepatan mobil itu bertambah. Dafa mengebut agar bisa sampai ke rumah dengan cepat.
Sekitar pukul Tujuh lewat Dua puluh menit mobil Vivian baru masuk halaman rumah besar itu. Seperti biasa, mobil Vivian hanya terparkir di halaman saja. Gerbang yang menjulang tinggi dan halaman yang beratap luas membuat mobil tersebut aman dari hujan maupun matahari di kala siang.
Dafa masuk tanpa mengetuk pintu atau mengucap salam karena tak ingin mengganggu tuan rumah yang mungkin saja sudah beristirahat tenang. Chef Dafa langsung menuju kamarnya. Terduduk di atas tempat tidur tanpa menghidupkan lampu. Bayangan kebersamaan Teo dan Vivian siang tadi masih mengganggu pikiran Dafa. Kemesraan mereka terlihat nyata dan membuatnya terluka. Satu pertanyaan muncul dalam benak Dafa, begini kah dulu perasaan Vivian setiap kali ia mengabaikan gadis itu?
Desahan lelah bercampur rasa bersalah keluar dari mulut Dafa. Betapa kejam dirinya dulu pada Vivian. Bahkan dia hampir saja melayangkan tamparan pada wanita itu demi membela Kanmanda yang ternyata bukan cintanya yang sesungguhnya. "Beribu maaf aku ucapkan buat kamu, Vi. Kapan kita bisa kayak dulu lagi?" mendadak malam ini Dafa tak yakin bisa meluluhkan hati Vivian yang terlanjur membencinya itu.
"Belum lagi nyokap bokap kamu Vi, aku tahu mereka benci sama aku," mana mungkin Dafa bisa membohobgi dirinya. Ia tahu persis Tante Ros mengibarkan bendera permusuhan padanya sejak kembali menginjakan kaki di rumah ini.
"Andai kamu masih seperti dulu, mungkin aku bisa dengan mudah meluluhkan orang tuamu," bisiknya lagi.
Lelaki itu merebahkan diri. Menatap langit-langit kamar yang sama pekatnya seperti malam di luar sana. Gelap tanpa cahaya, sebab Dafa masih betah mematikan lampu kamarnya. Bayangan kebersamaan mereka bertahun lalu memenuhi benak Dafa. Sepertinya langkahnya untuk bertamu di rumah ini salah sejak awal. Seharusnya Dafa tak perlu mendekat dengan cara memaksa seperti ini.
Dafa mulai berpikir apa sebaiknya ia menggunakan apartemen Arfa saja? Apartemen yang Arfa tinggali sebelum kembali ke Indonesia. Namun, jarak antara apartemen dan rumah ini cukup jauh. Dafa khawatir jarak itu semakin menyulitkannya dalam mendapatkan Vivian kembali. Di lain sisi, untuk tetap tinggal di rumah ini, Dafa merasa canggung dan tak enak hati. Dirinya tak bisa tebal muka lebih lama lagi, padahal jelas-jelas Vivian dan Tante Ros tak mengharapkan kehadirannya di sini.
Menghela napas berat, Dafa merasa dadanya sesak akibat beban pikiran yang dirinya alami. Apa dia sebaiknya menyerah saja? Melepaskan Vivian bersama Teo? Bisakah dia melihat wanita itu bahagia bersama Teo? Dafa menggelengkan kepalanya. Dafa tak sanggup, bahkan hanya untuk sekedar membayangkannya.
"Aku harus gimana? Melepas tak mampu, sedangkan berjuang rasanya jalan sudah buntu. Vivian menutup akses itu berkali-kali," Dafa menyentuh dahinya dengan lengannya. Membiarkan berat lengannya itu menindih begitu saja.
Lama kelamaan Dafa merasakan kantuknya. Lelaki yang bekerja sebagai chef itu membiarkan lelap menyapa. Melupakan segala sesak yang perlahan tak sanggup dia tanggung lagi. Menyembuhkan hati yang pernah terluka nyatanya tak pernah menjadi hal yang mudah. Apa lagi hati itu sudah siap membiarkan orang lain untuk menggantikan posisinya.
Bersama Teo, seorang Vivian mampu mengembangkan senyumnya. Selepas saat mereka pernah berada di antara ikatan pertemanan semasa menempuh pendidikan dulu. Tak seperti saat wanita itu berhasil menduduki status tunangannya. Dafa tahu itu. Entah sudah sejauh mana hubungan antara Teo dan Vivian hingga sang pujaan hati tak mampu berpaling lagi.
Tak hanya Teo sebenarnya. Kedekatan antara Vivian dan Geo juga tak kalah mengganggu bagi Dafa. Keduanya memang hanya sebatas Kakak dan Adik sepupu, tetapi entah kenapa Dafa tak nyaman dengan perhatian yang Geo berikan pada Vivian. Seolah ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan di sana.
Pada saat Dafa telah cukup lama menjelajah alam mimpi, Vivan baru saja pulang di antar Georgeo. Pintu sudah terkunci dari dalam saat Vivian ingin membukanya. Terpaksa gadis itu meraih kunci yang sengaja ia bawa agar bisa masuk ke rumah. Sementara itu, Geo sudah meninggalkan rumah Vivian setelah memeluk sepupunya itu sebentar.
"Di mana kunci rumah?" Vivian membiarkan seluruh isi tasnya berserakan di lantai demi menemukan kunci rumah. Beruntung, ia menemukan benda itu. Segera saja Vivian membukanya. Masuk ke dalam tanpa menghidupkan lampu ruang tamu.
Dahinya mengernyit saat melihat tak ada cahaya lampu dari kamar Dafa yang tepat berada di sebelah kamarnya. Vivian ingin tahu apa yang terjadi. Ia sempat menoleh ke belakang, ke pintu rumah yang senadainya terbuka akan langsung terhubung ke halaman di mana mobilnya terparkir. Itu artinya Dafa sudah pulang. Namun, kenapa cahaya lampu di kamar lelaki itu menghilang?
Vivian menghela napasnya dengan berat. Tak seharusnya ia penasaran dengan apapun yang Dafa lakukan. Vivian mengabaikan rasa penasarannya dan kembali melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya sendiri. Membuka pintu lalu menutupnya rapat. Di kamar, Vivian langsung melepas kain yang melekat di tubuhnya hingga tersisa dalaman saja, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan diri hingga setengah jam lamanya.
Begitu keluar dari bilik yang ukurannya tak seluar kamarnya itu, Vivian segera mengenakan pakaian tidurnya. Mengeringkan rambut sebentar lalu memutuskan untuk tidur.
Paginya, Vivian sudah lebih dulu berada di meja makan bersama keluarganya sebelum Dafa sampai di sana. Vivian tampak melirik Dafa sesekali. Diam-diam dirinya bertanya apakah semalam Dafa baik-baik saja? Padahal Vivian sudah menahan diri untuk tidak peduli pada mantan tunangan yang pernah menorehkan luka teramat dalam di hatinya itu.
"Vi, hari ini aku nggak ikut ke restoran dulu nggak apa-apa?" beberapa detik yang lalu Dafa mendudukan dirinya pada kursi tepat di sebelah Vivian. Dafa melempar pertanyaan yang sebenarnya tak penting bagi Vivian, tapi tetap saja lidahnya nekat menanyakan alasan kenapa Dafa tak ikut ke restoran. Sementara Empat hari yang lalu lelaki itu sendiri yang memaksa untuk bergabung di restorannya.
"Ada yang harus aku lakuin," tak ada penjelasan lebih setelah itu. Membuat Vivian mengangguk tak peduli. "Terserah kamu, di restoran masih ada Geo yang menjadi andalanku," ucapnya.
Vivian pikir Dafa akan kembali membuka mulutnya, tetapi dirinya salah. Dafa tampak diam tanpa kata. Lelaki itu menyibukan diri dengan sarapan di depannya. Mendadak Vivian berpikir Dafa akan kembali ke Indonesia dengan cepat. Diam-diam Vivian menghela napasnya. Entah karena lega atau karena sesuatu yang selama ini selalu berusaha ia hindari.
.
.
Bersambung.