SKWAC | Chapter 10 √

1043 Kata
*** Ekspresi wajah Dafa tampak kesal sejak setengah jam yang lalu. Kesibukan di dapur tidak membuat lelaki itu teralihkan dari rasa cemburunya atas kedekatan Vivian dengan Teo di sana. Dafa merasa tidak beruntung di hari Ketiganya ini. Sejak sampai di restoran, Vivian terang-terangan menjaga jarak darinya. Vivian tidak mengubrisnya jika itu bukan tentang pekerjaan. Sekarang, perempuan itu justru sibuk dengan Teo. "Sial!" maki Dafa. Tangannya tak sengaja terciptrat minyak goreng di tas wajan. Hari ini, chef Dafa toledor sekali. Sudah beberapa kali lelaki itu melukai dirinya sendiri. Namun, tak sekalipun Vivian peduli. Dafa mematikan kompor, beralih ke wastafel untuk mencuci tangannya. Luka bakar itu lumayan perih karena cukup lebar. Namun, luka itu tak seperih perasaannya. Dafa pikir gagal sudah rencananya hari ini. Vivian tak mudah didekati meskipun mereka berada di dapur yang sama. Vivian sibuk dengan urusannya sendiri sebelum jam makan siang benar-benar menyitanya karena kedatangan Teo. Sungguh sial! Dafa tak henti-hentinya mengumpat sebal. Bagaimana mungkin dirinya bisa mendapatkan Vivian kembali bila selalu ada Teo di sisinya seperti ini? Dafa bukan type lelaki yang sabaran. Dia tak bisa menunggu lebih lama lagi. Tak ada pilihan lain selain harus memepet Vivian dengan cara yang mendebarkan, atau Vivian akan semakin dekat dengan Teo. Membayangkannya saja sudah membuat Dafa bergidik ngeri. Dia tak akan sanggup bersaing dengan Teo karena dirinya pernah menabur garam di atas luka Vivian. Dafa memejamkan matanya dengan erat. Sikapnya yang dulu sudah benar-benar keterlaluan. "Chef Dafa are you okay?" pertanyaan itu membuat Dafa membuka matanya. Georgeo ada di sebelahnya. Dafa yakin kakak sepupu Vivian ini pasti sudah siap mengeluarkan kata-kata pedas jika Dafa tidak segera kembali ke depan wajannya. Mengangguk singkat, Dafa meninggalkan Geo demi menuju tempatnya. Kembali menyalakan kompor, mengecilkannya agar minyak di dalam sana tidak menciprat ke tangannya lagi. Dafa memasukam udang untuk di goreng. Beberapa saat kemudian, udang itu sudah menjadi makanan yang siap untuk di santap. Dafa membiarkan pelayan membawakan pesanan pada pelanggan. Itu adalah pekerjaan terakhirnya sebelum istirahat makan siang, sebab pelanggan mulai sepi. Geo yang akan menggantikan, mengingat sejak tadi lelaki itu sibuk membiarkan Dafa mengerjakan segalanya sendirian. Dafa keluar dari kitchen. Dia menyiapkan makan siangnya sendirian. Diam-diam, Vivian memperhatikan mantan tunangannya itu dari jauh. Sejak tanpa sengaja melihat Dafa terkena cipratan minyak goreng, mata Vivian tak bisa lepas darinya. Ada rasa gelisah yang tak sanggup dirinya jelaskan. "Vi are you, okay?" tanya Teo. Lelaki itu sadar betul apa yang menjadi objek pandangan Vivian. Dirinya tak suka Vivian memperhatikan Dafa. "Ingat Vi, rencanamu sudah sejauh ini. Jangan sampai Dafa masuk ke hidupmu lagi dan kembali mengacaukan hidupmu," Teo mengingatkan Vivian tentang alasan kenapa mereka harus berpura-pura menjadi tunangan. "Aku.." "Its okay! Kita fokus aja sama rencana. Jangan berpikir yang tidak-tidak," potong Teo dengan cepat. Teo hanya tak ingin wanita yang disayanginya ini terluka lagi. Teo akan berusaha sebisa yang dirinya mampu akan melindungi Vivian. Apapun akan dirinya lakukan agar Vivian terlepas dari Dafa sesuai dengan keinginan gadis itu. "Iya Teo," balas Vivian terdengar lemah. Tidak apa-apa hanya pada Teo dirinya melakukan itu. Vivian tidak akan menunjukannya pada Dafa, karena lelaki itu bisa besar kepala dan ingin menetap lebih lama di rumahnya. Dafa tidak boleh melakukan itu. Dafa harus kembali ke Indonesia dan melupakan segalanya. Vivian mencoba fokus pada Teo. Membalas setiap obrolan yang lelaki itu lemparkan. Teo sudah membagi waktunya demi memenuhi permintaannya untuk datang ke sini. Tak baik bila Vivian mengabaikannya dan justru sibuk pada Dafa. "Teo bagaimana kalau kita besok kencan?" tanyanya. "Maafkan aku," Teo menangkup tangannya. "Tapi besok aku ada pekerjaan. Bagaimana kalau minggu depan?" dia melemparkan saran. Vivian sempat berpikir sejenak, lalu mengangguk saja. "Baiklah, kencan ini harus terlihat manis," kekehnya. "Betul! Agar rivalku merasa tak punya ruang," sahut Teo dengan semangat. Vivian bersyukur sekali memiliki Teo di sisinya. Lelaki itu pengertian dan tak pernah memaksa. Vivian menyayangi Teo dengan seluruh hatinya. Teo tidak seperti Dafa yang seenaknya saja. Teo bisa merangkap menjadi siapapun. Entah itu teman atau tunangannya. "Aku harus kembali ke restoran Vi, sudah cukup lama ditinggal," kata Teo yang segera mendapat anggukan dari Vivian. Perempuan itu membiarkan telapak tangan Teo mengacak rambutnya hingga berantakan. "Aku antar sampai depan," Teo menganggukan kepalanya. Tentu saja dia senang Viviam bersikap manis seperti itu, apa lagi di depan Dafa. Teo akan memanfaatkan segalanya agar chef Dafa yang pernah menyakiti Vivian menyerah. "Biar mesra. Chef Dafa sudah kembali, dia sedang memperhatikan kita," bisik Teo sambil menatap Dafa dengan tajam. Senyumnya sinis saat Dafa membalas tatapannya dengan kesal. Ck, Teo dilawan, lihat saja apa yang akan dirinya lakukan. Teo akan memastikan segala yang Dafa lihat tampak nyata di depannya. "Sini," sekali lagi Teo sengaja mendekatkan dirinya saat sudah berada di luar restoran. Meskipun terhalang kaca transfaran, tapi Dafa masih dapat menembusnya dan menatap mereka. "Aku kecup keningmu agar Dafa semakin kesal," lagi-lagi Teo melakukan apa yang dirinya katakan. Vivian sendiri hanya tersenyum lebar. Tak masalah baginya bila Teo melakukan itu. Asal jangan menciumnya di bibir saja. Teo akan mendapat masalah bila dia memaksa. "Siap-siap mendapat pertanyaan ini dan itu dari mantan tunanganmu, Vi," bisiknya lagi. Vivian mengangguk singkat. Giginya yang putih tampak rapi kala ia tersenyum. Senang sekali membayangkan wajah kesal seorang Dafa. Vivian melambaikan tangannya saat mobil Teo meninggalkan halaman restoran. Perempuan itu kembali masuk ke restoran dan langsung menuju dapur. Bukan Dafa yang akan dirinya hampiri, tetapi Geo. Vivian merasa belum puas membuat Dafa kesal. "Geo, apa nanti malam kamu nggak sibuk?" tanya Vivian. Sengaja ia mengeraskan suaranya. "Kebetulan tidak. Ada apa, Vi?" Vivian tersenyum penuh kemenangan. "Kita makan malam ya," ucapnya. "Satu mobil saja, nanti mobilku biar Chef Dafa yang bawa pulang," ucapnya. Vivian yakin Dafa mendengar apa yang dirinya katakan. Namun, lelaki itu masih pura-pura sibuk dengan kegiatannya. Seolah perkataan Vivian tak mengusiknya sedikit pun, padahal hatinya panas menahan cemburu. Tadi Teo, sekarang Geo. Dafa merasa tak memiliki kesempatan untuk melumpuhkan hati Vivian hari ini. Sebab hingga menjelang pulang yang Vivian lakukan adalah menjaga jarak darinya. Sibuk membantu Geo saja. Dafa juga terpaksa menerima kunci mobil Vivian tanpa sanggup menolak. Dafa hanya mengangguk singkat saat Vivian tanpa pamit masuk ke dalam mobil Geo. Tak ada yang bisa Dafa lakukan selain menatap kepergian mobil Geo yang membawa serta tunangannya.  . . Bersambung.  Haii dear jumpa lagi sama Awi hehe. Bulan ini akhirnya Awi biaa fokus sama Vivian-Dafa. Jangan sampai ketinggalan ya :))
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN