Lucas perlahan melepaskan pelukannya, meski ada jeda singkat seolah ia enggan benar-benar menjauh. Tatapannya langsung jatuh pada tangan Lilian yang masih gemetar. Luka-luka kecil di jemari itu tampak jelas, beberapa sudah mengering, sementara yang lain masih meninggalkan jejak darah tipis. Tanpa berkata apa-apa, Lucas meraih tangan itu dengan hati-hati. “Duduklah,” ujarnya pelan namun tegas. “Tanganmu perlu diobati.” Lilian sempat tertegun, namun tidak membantah. Ia melangkah pelan menuju sofa kecil di sudut paviliun, lalu duduk dengan tubuh sedikit membungkuk. Pandangannya tertuju pada tangannya sendiri pada goresan-goresan halus akibat pecahan kaca yang tadi ia pungut tanpa berpikir panjang. Lucas mengambil kotak P3K yang ada di dekat meja, lalu duduk di hadapannya. “Kemarilah

