Langkah Lucas terasa berat saat ia akhirnya memaksa dirinya masuk lebih dalam ke kamar. Udara di ruangan itu terasa berbeda lebih dingin, lebih menekan. Tatapan Vivian masih tertuju padanya, tajam dan penuh tuntutan, sementara Brielle berdiri di samping wanita itu dengan wajah yang sulit ditebak. “Mah … ini tidak seperti yang mama pikirkan,” ujar Lucas, suaranya berusaha tenang meski jelas ada getaran halus yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia melangkah mendekat, berniat segera menjelaskan sebelum semuanya semakin salah arah. Namun di dalam dadanya, kegelisahan terus membesar seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja. Vivian tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap putranya beberapa detik, lalu menghela napas panjang. Tidak ada ledakan amarah seperti yang Lucas bayangkan. Justru kete

