Brak … brak … brak … Suara ketukan keras itu memecah keheningan paviliun, menggema dengan kasar hingga terasa menekan d**a siapa pun yang mendengarnya. Pintu bergetar di tempatnya, seolah tidak diberi pilihan selain terbuka. “Mah … jangan seperti ini,” ujar Lucas dengan nada tertahan, langkahnya mendekat mencoba meredam emosi sang ibu. Tangannya sempat terulur, seolah ingin menahan, namun urung saat melihat sorot mata Vivian yang penuh amarah. “Jangan bagaimana, Lucas?” bentak Vivian tanpa menoleh. Suaranya tinggi, penuh tekanan. “Brielle itu sedang hamil muda! Itu sangat rentan keguguran! Bagaimana kalau dia butuh sesuatu, tapi wanita itu malah malas-malasan di sini, hah!?” Setiap kata yang keluar terasa tajam, menghantam tanpa ampun. Lucas terdiam. Rahangnya mengeras, dadanya bergem

