Mudah buatmu berucap. Coba sekali saja bayangkan rasanya jadi aku... *** Shenin melangkah menuju tempat duduknya sambil berkali-kali memastikan kalau dirinya tidak sedang bermimpi pagi ini. Diam-diam ia menggigiti lidahnya sendiri untuk meyakinkan kalau ia dalam keadaan sadar. Sakit. Berarti ini bukan mimpi. Hanya saja rasanya terlalu aneh melihat Angkasa sudah duduk manis di bangku mereka setelah sekian lama keduanya bersikap saling menghindar. Merasa tak enak hati untuk duduk di samping Angkasa membuat Shenin memilih bangku teat di depan cowok itu – bangku Ulfah – sehingga teguran Angkasa selanjutnya membuat ia berbalik menatap cowok itu. “Jijik ya lo duduk sama gue sekarang?” tanya Angkasa sinis. “Nggak gitu. Gue... cuma mau duduk di sini aja.” jawab Shenin kemudian berbalik kembal

