bc

ANGKASA

book_age12+
880
IKUTI
3.7K
BACA
family
friends to lovers
comedy
sweet
highschool
childhood crush
first love
friendship
secrets
school
like
intro-logo
Uraian

Angkasa yang memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi harus disandingkan dengan teman sebangkunya yang baru, Shenin yang cuek dan tidak peduli. Hal baiknya, Angkasa menyukai tantangan, dan tentu saja menggoda Shenin tidak ada dalam daftar pengecualian.

Tetapi yang namanya tantangan, kian hari, kian sulit. Mereka harus dihadapkan pada kebetulan-kebetulan yang tak diharapkan.

Lantas, akankah Angkasa berhasil menyelesaikan tantangannya? Atau haruskah ia menyerah saja seperti yang pernah ia lakukan dulu?

___________

"Seseorang yang mencintai terlalu dalam cenderung nggak bisa berpikir logis. Jadi, mau separah apapun hatinya diremukkan, ia akan tetap memaafkan."

chap-preview
Pratinjau gratis
(1) Siswi Baru
Apa cinta harus selalu berawal dari benci? *** Mustahil kalau ada kelas yang tenang ketika tidak ada guru yang mengajar, murid mana, sih, yang tidak menyukai jam kosong? Seperti di kelas XI-IPA2 pagi ini, dimana murid-murid masih terlihat asik mengobrol bahkan tidak menempati bangkunya masing-masing, padahal seharusnya jam pelajaran pertama sudah dimulai sejak 15 menit yang lalu. Bu Marni, guru Matematika itu sepertinya sedang berhalangan hadir karena masih belum terlihat sampai sekarang, padahal beliau tergolong guru yang tepat waktu kalau mengajar. Suara ketukan langkah terdengar dengan jelas berasal dari sepatu pantofel yang sudah tidak asing bagi mereka, membuat murid-murid itu sigap kembali ke bangkunya masing-masing, tak ingin mencari masalah dengan membuat guru Biologi mereka yang satu itu marah. Wanita setengah baya bertubuh gempal dan tidak terlalu tinggi itu memasuki kelas mereka dengan langkah mantap tanpa menunjukkan senyum sedikitpun. Hanya dengan lirikan mata dibalik kaca matanya itu saja sudah berhasil membuat mereka tegang setengah mati, mungkin nyamuk saja tidak akan berani menggigit Bu Ajeng. Bu Ajeng berdeham sebelum menjelaskan maksud kedatangannya, dan jelas itu saja sudah cukup untuk membuat jantung murid-murid di kelas itu melompat ngeri. Diam dan memerhatikan adalah pilihan terbaik selain berdoa agar Bu Ajeng tidak mengisi kelas Bu Marni hari ini. “Bu Marni masih cuti melahirkan sampai tiga bulan ke depan. Sekolah masih mencarikan guru pengganti untuk sementara.” penjelasan Bu Ajeng membuat wajah murid-murid terlihat cerah meskipun tidak berani tersenyum terang-terangan. “Eh, jangan senang dulu, ada tugas buat kalian. Saya tidak suka kalau ada yang ribut disaat jadwal piket saya, ya!” tegas Bu Ajeng lagi. Murid-murid masih diam memerhatikan. “Kok, diam saja? Kalian dengar tidak saya ngomong apa?” “Iya, Buuu!” seruan akhirnya terdengar dari mereka. “Sebelum saya kasih tahu tugasnya, saya mau memperkenalkan teman baru kalian.” “Asik! Cewek ya, Bu?” kompak seisi kelas melemparkan tatapan horor pada Umar, tidak terkecuali Bu Ajeng. Pikir yang lainnya, berani banget ini bocah satu! “Iya, tapi nggak untuk kamu godain ya, Umar!” jawab Bu Ajeng kemudian mempersilakan murid baru itu memasuki kelas. Seorang cewek bertubuh sedang dengan tinggi sekitar 160cm berjalan memasuki kelas dan berdiri di samping Bu Ajeng. Rambut cewek itu diikat ke belakang sehingga tidak menutupi pipinya yang cukup tembam, dan wajahnya tidak menampakkan senyum sedikitpun, lebih terlihat gugup, entah karena Bu Ajeng berada di sampingnya atau memang karena berada di depan kelas dengan banyaknya orang baru yang menatap adalah sesuatu yang wajar untuk merasa demikian. “Siapa nama kamu tadi?” tanya Bu Ajeng pada murid baru itu. “Shenin, Bu.” “Ya kamu kenalan dong sama teman sekelas kamu! Masa kenalannya sama saya? Yang sekelas sama kamu, kan mereka, bukan saya!” jawab Bu Ajeng membuat Shenin menelan liurnya dengan susah payah. Sedangkan murid yang lain hanya menatapnya iba. Murid baru loh, sudah dibuat tidak nyaman sama Bu Ajeng. Shenin berdeham. “Halo, teman-teman, aku Shenin.” “Halo, Shenin!” seru yang lain membalas sapaan Shenin. Setelah selesai memperkenalkan diri, Bu Ajeng langsung menyuruh Shenin untuk duduk di bangkunya, "Kamu duduk disana saja." tunjuk Bu Ajeng pada bangku yang dimaksud. Baru saja Shenin sampai di bangku itu suara seorang cowok langsung menghentikannya. "Uhm .... maaf, Bu, tapi ini bangkunya Dimas." katanya, membuat Shenin merasa tidak enak kalau harus duduk di bangku itu yang ternyata sudah ada yang punya. Shenin bergeming menunggu perintah Bu Ajeng selanjutnya. "Sekarang Dimas mana?" tanya Bu Ajeng. "Nggak masuk, Bu." Jawab cowok itu. "Ya sudah. Dimasnya saja tidak ada. Mulai sekarang biar Dimas duduk sama Umar." putus Bu Ajeng. "Reaksi Umar tadi bikin saya tidak yakin menyuruh Shenin duduk sama dia, di pojok belakang lagi, nanti anak orang kenapa-kenapa saya yang repot." imbuh Bu Ajeng. "Astaga, Bu. Belum ngapa-ngapain juga sayanya." jawab Umar tidak terima membuat seisi kelas terkikik geli. Untungnya kali ini Bu Ajeng tidak marah. Mendengar putusan Bu Ajeng Shenin langsung saja duduk dibangkunya. Mengabaikan teman cowok di sebelah yang kelihatan tidak ingin sebangku dengannya. Shenin tidak peduli. Selanjutnya, Bu Ajeng memberikan catatan tugas pada ketua kelas. Dan pergi meninggalkan kelas. Entah Bu Ajeng tidak terlalu memerhatikan atau bagaimana, karena sebenarnya tugas yang diberikan Bu Marni dikumpulkan dalam bentuk soft copy minggu depan ke alamat emailnya. Jadi, secara tidak langsung jam pelajaran ini masih kosong, karena tugas tersebut dapat dikerjakan di rumah. Shenin memandang ke sekeliling kelasnya yang baru. Murid-murid tidak lagi duduk di bangkunya masing-masing, tapi juga mengusahakan untuk tidak ribut supaya tak sampai mengundang Bu Ajeng datang kembali. Meskipun murid baru, Shenin juga bisa melihat dengan jelas kalau teman-teman sekelasnya terbagi ke dalam beberapa kelompok – seperti kelas pada umumnya. Ada 3 kelompok yang terlihat paling menonjol disana – dalam artian anggotanya cukup banyak. Pertama, kelompok murid cewek yang terlihat paling up-to-date di kelas yang kali ini sepertinya sedang membahas gosip terhangat di sekolah. Jelas sekali, obrolan mereka tampak terlalu seru meski berusaha ditutupi dengan berbisik-bisik. Kelompok itu duduk di bangku paling depan sebelah kiri yang dekat dengan pintu masuk kelas. Kelompok kedua duduk di deretan paling kanan barisan tengah yaitu kelompok penggila drama Korea, yang satu ini terlihat dari laptop dihadapan mereka yang menampilkan drama Korea – The King judulnya kalau Shenin tidak salah ingat, karena kakak sepupunya juga maniak K-drama. Dan kelompok terakhir beranggotakan cowok-cowok – salah satunya cowok yang bernama Umar tadi – yang duduk di pojok belakang kelas, bangku yang khas ditempati murid cowok di kelas manapun. Shenin tidak tahu apa yang dibahas cowok-cowok itu dan dirinya juga tidak ingin tahu. Dan yang terakhir, sisanya hanya murid-murid netral pada umumnya. Ada yang memilih membaca novel, mengobrol dengan teman sebangku, atau menikmati camilannya. "Hay, gue Ulfah." Cewek berkaca mata yang duduk di depannya menoleh dan memperkenalkan diri. "Gue Mayang." Teman sebangku Ulfah juga memperkenalkan diri. Shenin membalas senyuman dan jabatan tangan teman barunya itu, setidaknya ia harus bisa mulai beradaptasi. "Shenin." "Udah tahu." Canda Ulfah. "Kok tahu?" "Kan tadi udah lo kasi tahu di depan." Mayang meringis geli. "Oh, iya juga ya." Shenin ikut terkikik. "Well, selamat datang di kelas kita!" sambut Ulfah. "Makasih." jawab Shenin tulus. "Lo bisa main sama kita kalau ngerasa nggak cocok sama yang lain." "Kayaknya gue memang nggak akan cocok sama yang lain, deh." "Sama mereka?" tanya Mayang menunjuk kelompok yang dimaksud dengan lirikan mata. Shenin menggeleng. "Ketertarikan gue nggak separah itu buat nge-gosip." Aku Shenin. "Kalau mereka?" kali ini Ulfah yang bertanya. Lagi-lagi Shenin menggeleng. "Mereka bakal lebih cocok bergaul sama kakak gue ketimbang sama gue." Mayang dan Ulfah tertawa geli. "Kalau gitu menurut gue kita bertiga bakal cocok." Shenin mengangguk dan ikut tertawa menanggapi. *** Jam pelajaran selanjutnya adalah Bahasa Indonesia. Pak Sastra menyuruh satu-persatu muridnya untuk membaca puisi yang ada di buku paket secara bergantian. Shenin mencolek bahu Ulfah dengan pangkal pulpennya membuat temannya itu menoleh. "Gue pinjam buku paketnya dong satu." "Nggak perlu, Fah. Gue ada kok." Kali ini suara itu berasal dari cowok yang duduk di sebelah Shenin. Ulfah mengangguk dan kembali melanjutkan membaca bukunya. Shenin mengembuskan napas dan menoleh ke arah cowok itu. "Teman sebangku lo ada kok, kenapa harus pinjam ke depan? Gue jadi terkesan jahat nggak minjamin lo buku." kata cowok yang masih belum Shenin ketahui namanya. "Thanks." jawab Shenin ketika cowok disampingnya menyodorkan buku ke tengah supaya mereka bisa membacanya bersama. "Nama gue Angkasa." "Oke." Jawab Shenin singkat, fokus pada buku yang dia baca, tidak ingin ketinggalan bagian bacaan yang sedang berlangsung. "Dan nama lo?" "Gue tadi udah memperkenalkan diri di depan." jawab Shenin seadanya masih tidak berminat menatap cowok itu. "Kalau misalkan gue lupa?" imbuh cowok itu, lebih menuntut untuk mendapatkan jawaban. Angkasa terdengar kesal dan sebenarnya Shenin tidak peduli, tapi cowok itu cukup mengganggu konsentrasi. Lama-lama ia ikut kesal juga. Shenin menarik napas lalu menoleh ke arah teman sebangkunya itu, dia tersenyum – lebih tepatnya memaksakan senyumnya – dan cowok yang tadi bernama Angkasa balas melemparkan senyum padanya. Selanjutnya, Shenin berkata dengan lirih dan memastikan kalau cowok itu dapat mendengarnya, "Sorry, buat informasi lo aja, gue anaknya nggak suka ngobrol di jam pelajaran." Shenin merasa tidak memerlukan respon apapun sehingga langsung kembali memfokuskan diri pada buku paket Bahasa Indonesia di hadapannya. Lagi pula, pikir Shenin, kenapa cowok itu harus repot-repot mengajaknya mengobrol di tengah jam pelajaran seperti ini. Sementara sejak tadi ia bersikap seolah tidak ada siapapun di bangku sebelahnya. Seharusnya jika ingin berbasa-basi ia lakukan sejak jam pelajaran kosong tadi. Sudahlah, Shenin tidak ingin memikirkannya lagi. Biar saja teman sebangkunya berpikir kalau dia tidak tahu diri padahal cowok itu sudah berbaik hati meminjamkan buku. Yah, Shenin benar-benar tidak peduli. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

FINDING THE ONE

read
34.6K
bc

Saklawase (Selamanya)

read
69.7K
bc

T E A R S

read
317.8K
bc

Love Match

read
180.3K
bc

Air Mata Maharani

read
1.4M
bc

Symphony

read
184.8K
bc

Skylove

read
115.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook