… Kelembutan hatinya telah membuatku luluh …
“Baik anak-anak kita, sudah dua kali pertemuan belajar tentang proses terjadinya hujan, dan sekarang sudah saatnya kita semua belajar di LAB." seru bu Lilik, selaku guru kami yang mengajar mapel Kimia.
Dari dulu aku paling suka belajar di LAB, karena banyak sekali peralatan-peralatan yang bisa dicoba meski diriku tak tahu cara penggunaannya bagaimana. Saat diriku baru memasuki ruang LAB ini, mataku tidaklah tertuju ke fokus pembelajaran, tetapi diriku lebih tertarik saat melihat globe dengan ukuran besar yang terpampang di atas lemari pojok.
Dengan perlahan kumulai mengambilnya, kutaruh di atas meja lalu kuamati sambil duduk. Dalam sebuah benda yang berbentuk bulat ini, kumulai terpesona akan sebuah samudra-samudra, walaupun hanya sebatas gambar namun mampu memberikanku sebuah arti bahwa sudah sepantasnya manusia itu harus berlapang d**a seluas samudra ini bilamana mendapati sebuah masalah.
“Hei, ngapain?" tanya Defi yang tiba-tiba duduk di sampingku.
“Ini, aku lagi keliling dunia." jawabku.
“Hmmm, ikut dong." pintanya.
“Boleh, tapi nanti aja ya kalau aku udah punya jet pribadi." celetukku.
“Hahaha, lu bisa aja Alfi. Kamu itu emang aneh ya." gumamnya.
“Emm, kok bisa sih." balasku.
“Iyalah, dari awal masuk LAB sampai sekarang nggak henti-hentinya ngamatin globe, emang ada yang unik di situ?" tanyanya.
“Hmmm, mau aku kasih tau nggak." ujarku.
“Iya dong, masa' teman sendiri nggak diberi tau." tukasnya.
Kring kring kring.
“Wah, udah waktunya istirahat nih, besok saja ya kita lanjutin.” Pungkasku.
***
Di hari Jumat ini adalah hari kebahagiaanku, di mana kubisa menikmati waktu dengan memperbanyak amal ibadah karena jam pulang sekolah hanya sampai jam satu saja. Selain itu, di hari Jumat juga merupakan hari kesedihanku, karena diriku tak bisa memandang wajah Fara untuk dua hari ke depan. Aku dan dengannya memang baru saja kenal, namun perasaan ini lebih kenal lama tentangnya.
Entahlah, tak sepatutnya kumerisaukan hal itu. Besok akan menjadi hari bahagiaku di mana aku dan Amir akan menikmati waktu di laut, aktifitas yang kita jalani tiada lain hanyalah berenang dan juga memancing. Lampu kamar mulai kumatikan dan segera kutarik selimut ini. Segera kupejamkan mata, berharap akan segera datang hari esok yang sudah lama kutunggu-tunggu.
***
Setelah melakukan perjalanan yang hampir memakan waktu dua jam, akhirnya kita berdua telah sampai di pantai Sendang Biru. Syukurlah, kumerasa bahagia di hari ini, karena kudapat menikmati indahnya ciptaan Allah, yaitu laut selatan pulau Jawa yang terbentang sejauh mata memandang. Sebuah perahu berukuran panjang enam meter mulai kunaiki, begitu juga dengan Amir. Dengan perlahan perahu ini mulai melaju menuju tengah laut.
“Alfi, udah siap nggak pancingannya?” Tanya Amir.
“Ya pasti siap lah, masak gue lupa sih sama hobi sendiri.” Jawabku.
“Siipppp, oh ya target kita kira-kira berapa?” tanyanya kembali.
“Ya lihat saja nanti, kalau memang dapat dua ikan dengan ukuran besar, baru kita akan pulang.” Jawabku.
“Oke, tapi sepertinya di waktu ini kita nggak bakalan bisa dapat banyak ikan deh.” Tukasnya.
“Udah lu tenang aja, ntar kalau misal nggak dapet kan kita juga masih bisa beli, ikan-ikan yang dijual di sini kan juga murah-murah.” Terangku.
“Terserah lu aja deh, yang penting hari ini gue seneng banget bisa main di tengah laut.” Balasnya.
“Sama, gue juga suka mancing di tengah laut kayak gini, apalagi kalau bisa dapet lumba-lumba, hehehe.” Celetukku.
Di mana pun kita berada, kalau sudah main berdua seperti ini pasti tak akan mengenal waktu, sejam terasa semenit dan sehari terasa sejam. Setelah hampir empat jam kita mengarungi lautan ini, lanjut kita akan kembali ke daratan. Alhamdulillah tangkapan ikan kita dapat 3 ekor ikan, yang rata-rata memiliki bobot tiga kiloan.
“Nasib kita memang keren banget, nggak nyangka bisa dapet ikan sebesar ini." ucap Amir.
“Ya iya dong, makanya kalau mancing jangan di sungai aja, sekali-kali di laut dong." jawabku.
Aku mulai terdiam saat melihat batu karang besar yang usianya rimpuh, ombak demi ombak yang ganas menghantamnya, namun sedikit pun karang tersebut tak hancur. Atas peristiwa itu, kumulai berpikir tentang bagaimanakah agar hati serta perasaan yang saat ini kumiliki bisa sekuat karang itu, karena aku menyadari sepenuhnya bahwa terkadang hatiku sering terluka di saat melihat Fara di sekolah. Luka yang kurasakan bukan karena dirinya menyakitiku, namun aku sakit kenapa hati ini bisa tumbuh benih-benih cinta sedangkan diriku tak bisa memilikinya.
***
Jam masuk sekolah telah tiba, di hari Senin ini sudah menjadi rutinitas dalam menjalankan upacara. Aku baru saja keluar dari toilet usai mencuci muka, seluruh murid mulai menata barisannya masing-masing. Namun di sebelah utara dekat gelanggang sekolah, terlihat ada barisan khusus, di mana itu adalah deretan murid yang tidak memakai atribut sekolah lengkap. Tetapi betapa kagetnya diriku bahwa dalam barisan tersebut ada Fara, sepertinya dia akan dikenai sanksi karena tidak membawa topi. Melihat peristiwa itu, aku jadi merasa iba.
“Kalian-kalian ini bagaimana sih, kalian kan sudah tahu kalau hari Senin itu kita ada upacara, kok masih saja lalai dalam memakai atribut sekolah." tegas salah satu guru.
“Kamu juga, perempuan kok nggak disiplin." tegas kembali guru itu ke hadapan Fara.
“Permisi bu." ucapku pada guru itu.
“Topi dia tadi jatuh, dan sekarang saya tidak bawa topi, sepertinya saya harus kena sanksi." jawabku.
Lalu kuberikan topiku pada Fara dan kuseru dirinya untuk memasuki barisan murid di lapangan.
Mataku mulai menatap nabastala dalam kesendirian di saat jam istirahat sekolah berlangsung, kesejukkan embun pagi tak begitu kurasakan karena panasnya mentari mulai datang menghampiri. Saat diriku terduduk di dekat kolam hias sekolah, saat itulah Fara datang menghampiri tanpa diduga.
“Terima kasih atas topinya ya." ucapnya sambil memberikan topi itu padaku.
“Iya sama-sama, oh ya nama kamu Fara ya? salam kenal dari aku ya, namaku Alfi." ucapku kembali.
“Baik Alfi, senang berkenalan denganmu, maaf aku kembali ke kelas dulu ya." jawabnya dengan sedikit kaku.
Langkah kakinya masih kuamati di saat dirinya berjalan menjauh dariku, dalam hati kumulai termenung. Sungguh begitu lugunya perempuan itu yang bisa menjaga diri dalam pandangan serta menjaga erat rasa malu.
“Masya Allah, kamu memang perempuan yang luar biasa Fara, aku kagum sama kamu." batinku.
Satu tahun sudah kita menjalani aktivitas di sekolah, banyak sekali suka serta dan duka yang sering kita rasakan, dan tanpa sadar hal ini telah membawaku ke dalam pemikiran yang lebih dewasa. Upacara pelantikan ketua OSIS akan di mulai satu jam lagi, aku mulai mempersiapkan diri baik dalam hal tenaga serta pikiran untuk memberikan sambutan kepada seluruh murid yang menyaksikan diriku nanti.
“Ciyee, udah jadi ketua OSIS nih." celetuk Defi.
“Iya Def, syukurlah semoga bisa amanah." jawabku.
“Hmmm, jangan lupa nanti setelah pelantikan traktirannya ya." ujarnya.
“Ahh kamu ini bisa aja, memangnya jadi ketua OSIS itu bisa dapet gaji." celetukku.
“Hihihi, bercanda kaleee." jawabnya kemudian.
Waktu demi waktu akan terus berjalan, dan hari demi hari yang telah kulewati tetap saja seperti ini. Belajar, bermain dan menjalani aktivitas lain di sekolah sudah pasti kulakukan dengan baik, namun entah kenapa hubungan pertemananku dengan Fara hanya begini-begini saja. Setiap kali kita bertemu, sudah pasti kita saling menyapa, namun kenapa sampai detik ini diriku sama sekali tak memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya walau hanya satu menit.
Setitik luka pada hati ini sudah pasti kualami di setiap harinya, karena lukaku disebabkan oleh dirinya yang selalu hadir di depan mataku. Dirinya yang pemalu, dan penuh dengan keluguan sudah pasti kuhargai, tetapi waktu kebersamaan ini tidak sampai dua tahun, tetapi entahlah lebih baik kupasrahkan saja, untuk apa jika kuharus memaksakan kehendak yang pada akhirnya juga tidak membuahkan hasil.
“Alfi, nanti sore kamu ada kesibukan nggak?" tanya Defi.
“Nggak ada sih sepertinya, memang kenapa?" tanyaku balik.
“Hmmm, nanti sore temenin aku ke Gramedia yuk." pintanya.
“Memangnya kamu mau cari buku apa?" tanyaku dengan sedikit penasaran.
“Yang pasti ilmu tentang perikanan." jawabnya dengan pelan.
“Ohh begitu, tapi buat apa kamu cari buku begituan kayak anak kuliahan aja deh." gumamku.
“Justru itu Alfi, ntar setelah aku lulus mau kuliah dan masuk di Fakultas Perikanan, makanya aku mau belajar dari sekarang." terangnya.
“Oh begitu ya, kalau aku lebih tertarik di ilmu kelautan sih." balasku.
“Ya sudah ntar bisa gue beliin bukunya buat kamu, pokoknya ntar temenin aku ya." pintanya kembali.
“Ok Def, aku jemput jam empat sore ya." pungkasku.
Berteman dengan Defi itu memang asyik, sejak awal bertemu sampai saat ini kita jarang berselisih meskipun diriku adalah orang yang paling nyebelin di matanya. Kebaikan yang telah dia berikan untukku sungguh sangat banyak sekali, dia selalu ada di saatku gundah, dan selalu ada di saatku sengsara. Dalam diam kukembali merenung dan hati kecilku mulai berkata,
“Andai saja sikap Fara bisa seperti ini." batinku.
Sebagaimana janji yang telah kuucapkan, bahwa di sore ini aku akan menemaninya belanja di toko buku, tentu kita tidak hanya sekedar belanja buku tetapi juga masih menyempatkan waktu nonton bioskop di Sarinah.
“Ntar kita nonton film Ikatan Cinta ya." pintanya.
“Ahh jangan deh, gue takut baper, hehehe." jawabku.
“Hmmm, terus mau nonton film apa?" tanyanya.
“Nonton film action aja ya, sekali-kali aja." ujarku.
“Ya sudah deh." jawab Defi kembali.