… Mungkin karena dialah yang jauh lebih sempurna …
. Sejenak menunggu pagi sambil menikmati secangkir kopi dalam menanti fajar, berharap kehangatan akan selalu menyertai di saat musim dingin tiba. “Assalamualaikum warahmatullah,” baru saja kumenjalani shalat Dhuha, berharap agar kenikmatan yang telah Allah limpahkan kepadaku bisa terus bertambah hingga kudapat terus mensyukuri semua yang telah Allah beri.
Dengan posisi duduk yang masih tawaruk, kumulai menengadahkan tangan ke langit, tak ada yang bisa kulakukan selain hanya berdoa, berharap agar kemenangan hati dapat kuraih setelah bertahan atas segala tempaan serta ujian hidup. Di saatku masih berdoa, tiba-tiba kudengar suara motor yang begitu sangat keras, motor tersebut berhenti di depan rumahku lalu membunyikan klakson berkali-kali. Mendengar hal tersebut aku segera menggulung sajadah dan beranjak menuju teras rumah.
“Halo Alfi Assalamualaikum." sapa Amir.
“Walaikum salam, wah keren banget motornya, pinjem ke siapa Lu Mir?" tanyaku.
“Ya punya gue lah, masih baru nih." jawabnya.
“Cocok deh, bisa buat kita jalan-jalan ke pantai, hehehe." celetukku.
“Ya pasti dong, besok kita main ke pantai beneran ya." tukasnya.
“Ya iyalah, masa' pantai bo'ongan." imbuhku.
Amir memang sangat beruntung sekali, baru kelas tiga sudah dibelikan motor sport Ninja empat tak, lain dengan diriku yang dari dulu hanya punya motor butut, tetapi semua tetap kusyukuri karena masih diberi kaki. Di waktu liburan esok, kita akan berjalan-jalan dengan motornya, sudah pasti esok akan menjadi hari spesial, apalagi jalan-jalannya juga ke pantai, tempat yang paling kukagumi dari kecil.
***
Setelah hampir tiga tahun kita menjalani pendidikan di sekolah tingkat SMK, kini tiba saatnya hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, kita baru saja menerima informasi kelulusan untuk seluruh siswa-siswi di sekolah ini.
“Fara." panggilku lalu menghampirinya.
“Selamat atas kelulusannya ya." ucapku.
“Iya Alfi, selamat atas kelulusanmu juga ya." jawabnya balik.
“Oh ya, kamu rencana mau ngelanjutin kuliah di mana?" tanyaku.
“Aku akan melanjutkan kuliah di Brawijaya, ambil ilmu kelautan." terangnya sedikit.
“Wah kebetulan kita sama, ya sudah semoga kita bisa satu kelas ya." imbuhku.
“Ya, semoga aja. Baik aku pulang dulu ya, Assalamualaikum." ucanya kemudian.
“Walaikum salam Fara, hati-hati." jawabku.
Betapa perihnya dari apa yang baru saja kurasakan, kebersamaan yang tak seberapa, kini harus berbuah luka. Fara, perasaan kemarin kita masih sama-sama baru masuk sekolah, dan perasaan di hari kemarin diriku baru saja mengenalmu, tak kusangka pada akhirnya di detik ini juga kita sudah lulus.
Kenapa waktu berjalan begitu cepat, dan mengapa momen perpisahan telah terjadi di hari ini, aku cukup menyesal karena sudah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan selama ini, karena setidaknya walaupun diriku tak pernah mengungkapkan rasa, minimal dirinya sudah tahu perasaanku. Namun beruntung kita berdua sudah memiliki rencana untuk bisa masuk di kampus perkuliahan yang sama, entah apa yang akan terjadi nanti, semua akan kupasrahkan pada Allah.
Kali ini, aku mencoba untuk menyendiri. Tak ada lagi hal yang bisa kulakukan selain hanya bersujud dan berdoa, berharap agar Allah dapat membukakan jalan terbaik untukku. Jujur aku masih ingin menikmati masa-masa muda ini, namun semuanya terhalang, disebabkan perasaan ini yang tak kunjung pergi. Tiga tahun ke belakang, telah menjadi sejarah pahit yang tak bisa kulukiskan. Rasa yang sudah sekian lama kupendam, tak mampu kuhancurkan. Aku tak tahu apakah takdir kita nanti bisa bersama atau tidak, tetapi yang jelas, aku sangat menyayanginya.
“Semoga kau bahagia Fara." batinku.
“Alfi." panggil Defi.
“Ehh kamu Def." responku.
“Kamu rencana mau kuliah di mana?" tanyanya.
“Insya Allah aku mau ngelanjutin ke UB Def, ambil Ilmu Kelautan." jawabku.
“Oh gitu ya, ya udah kita lanjut ngobrol di kantin aja yuk!" serunya.
Lalu kita berdua berjalan menuju kantin sekolah, dalam kesempatan inilah, aku ingin curhat pada Defi tentangnya, karena hanya di saat inilah satu-satunya kesempatan yang ingin kubicarakan.
“Nggak terasa ya, cepat sekali waktu berjalan, perasaan kemarin kita masih asyik-asyiknya belajar." ucap Defi.
“Iya, aku juga merasa demikian, hehehe." tambahku.
“Oh ya, sebelum kita berpisah, aku ingin tahu. Ada nggak kesan-kesan yang kamu miliki, yahh entah itu yang membahagiakan atau mungkin yang menyedihkan gitu." pintanya.
“Hmmm, bilaku harus mengatakannya saat ini, mungkin takkan pernah cukup waktu yang akan kuceritakan padamu." keluhku.
“Ya, kamu sih ceritanya nggak usah panjang-panjang, ambil intinya aja gitu." pintanya.
“Yakin kamu mau tahu Def?" tanyaku kemudian.
“Ya haruslah Alfi, aku kan sahabat kamu dari dulu." desaknya.
“Baiklah Def, habiskan dulu makanannya, ntar aku ceritakan." cetusku.
Kita berdua kembali menikmati makanan yang baru siap saji. Bilamana diriku akan curhat, haruskah ku akan mengatakan yang sebenarnya terjadi, yang tiada lain soal perasaanku terhadap Fara. Jujur ku tak ingin menceritakannya, tetapi ini adalah kesempatan terakhir sebelum kita berpisah. Usai makan, segera kuajak Defi menuju gedung lantai paling atas yang berada dekat menara.
“Alfi, kenapa kamu ngajak aku ke sini?" tanyanya.
“Tidak apa-apa, karena di sinilah aku aku dapat melihat segala peristiwa ketika mataku mulai menatap ke bawah." jawabku singkat.
“Def, coba kau lihat lapangan sekolah itu!" seruku.
“Di situlah ada sebuah cerita, di mana ku telah bertemu dengan seseorang, yang memberikan arti besar dalam hidupku.” Jelasku.
“Sekarang coba lihatlah kelasku, di jendela kelas tersebut telah menjadi saksi atas sebuah rasa yang telah lahir disaatku bisa menatap wajahnya di setiap pagi.”
“Dan yang terakhir, lihatlah kerumunan anak-anak yang sedang mendapat informasi kelulusan itu. Dan di situlah untuk yang terakhir kalinya aku melihatnya di sekolah ini, dan tak tahu apakah nanti kita bisa bersama lagi.” Terangku.
“Hmmm, jadi apa yang baru saja kamu ceritakan saat ini, semua tidak lain tentang seseorang ya?” Tanya Defi.
“Betul Def, dan detik ini juga dia masih ada di sekolah ini.” Jawabku singkat
“Kalau boleh tahu, memang siapa seseorang yang kamu maksud itu Fi?” Timpalnya
“Suatu saat kau pasti akan tahu sendiri." pungkasku.
Aku kembali melangkah pergi meninggalkan Defi yang tersendiri, yang pasti ini adalah kesedihanku meski masih sempat kurasakan bahagia atas kelulusan yang kualami. Hari demi hari sudah pasti akan berlalu, namun aku tak yakin, apakah perasaanku padanya juga akan berlalu, entahlah tak perlu kubersedih karena Allah masih bersamaku.
Awal masuk kuliah masih kurang tiga bulan lagi, entah ku tak tahu dalam tiga bulan ke depan mau ngapain aja, yang jelas aku harus bisa menikmati hari-hari yang penuh dengan kehampaan. Seperti inikah resiko menjadi anak satu-satunya, yang harus menelan pahitnya kesendirian karena tak ada saudara kandung yang bisa diajak bermain. Di pagi ini, cuacanya tidak terlalu panas. Di saat diriku melihat ke atas, ternyata matahari sedang bersembunyi di balik awan. Namun di wilayah selatan tak ada awan yang menaungi, barangkali jika sebentar lagi turun hujan, pasti di sana akan tetap terang. Tanaman di depan rumah terlihat sedikit layu, mungkin ibu lupa semalam belum menyiraminya, sehingga diriku langsung berkehendak menyirami bunga-bunga itu, lalu tiba-tiba Amir datang sambil membawa motornya yang keren itu.
Brung brung brung. Suara knalpot yang begitu nyaring, seakan membuat telinga ini terasa bising.
“Halo Alfi, wah pagi-pagi gini rajin banget nyiramin bunga." ucapnya.
“Iya sih, karena tadi gue perhatikan bunga-bunga di sini sedikit layu." jawabku.
“Oh begitu, ya sudah kita main sebentar yuk." pintanya.
“Emang mau main ke mana mendung-mendung begini?" tanyaku.
“Nggak jauh-jauh, mungkin cuma ngopi di kafe sawah." jelasnya.
“Okelah kalau begitu, tapi coba gue yang nyetir, masa' dari awal Lu punya motor baru gue nggak pernah nyobak." imbuhku.
“Iya beres, ya sudah buruan!" serunya.
***
“Oh ya Fi, sepertinya pesenan kita masih lama datangnya." keluhnya.
“Ya Lu yang sabaran dikit kek, namanya juga lagi antri." jawabku.
“Hmmm, gimana kalau kita main tebak-tebakan?" pintanya.
“Ahh lu, mulai dari kita kecil nggak ada bosen-bosennya." ledekku.
“Justru itu Fi, itu adalah budaya kecil kita yang harus untuk kita lestarikan." jawab Amir dengan nada seperti membaca puisi.
“Ok deh, mulai dari gue dulu. Benda apa, baru dibeli dengan harga mahal terus dibuang?" tanyaku.
“Apa ya, pasti jawabannya bungkus nasi." jawab Amir.
“Salah, memangnya nasi bungkus harganya mahal? jawabannya adalah peti mati." jawabku.
“Yaelah, itu namanya bukan dibuang, tapi disimpen di dalam tanah." balasnya.
“Oke sekarang gantian. Benda kecil apa yang selalu diam di pojok tapi bisa keliling dunia?" tanyanya.
“Emmm, jangkar kapal." jawabku.
“Memangnya jangkar itu kecil. salah!!! jawabannya adalah perangko." jawab Amir kembali.
“Hmmm, lu ngomongin keliling dunia, gue jadi terpancing nih yang mau ke Jepang." balasku.
“Hehehe, sabarlah Alfi. Suatu saat kita pasti bisa main ke Jepang, melewati samudra Pasifik yang luas ..." puitisnya.
“Di atas sebuah Palung Mariana yang mempesona." sahutku.
***
Setelah tiga bulan harus bertahan dalam kesendirian, Alhamdulillah sekarang sudah tiba saatnya hari pertama masuk kuliah datang. Aku, Amir dan juga Fara mengambil jurusan yang sama, yaitu Ilmu Kelautan. Entah apa yang akan terjadi nanti di kampus, yang pasti semua harus tetap kujalani momen ini dengan sebaik-baiknya. Dengan mengendarai motor tua, kumulai melaju. Jarak yang akan kutempuh tak begitu jauh, namun dalam perjalanan ini selalu kunikmati suasana demi suasana yang menyejukkan. Motor baru saja kuparkir di dekat gedung utama, sementara kumasih harus berjalan kaki cukup jauh untuk menuju gedung perkuliahan. Tiba-tiba dari arah belakangku, terdengar suara motor sport yang membuatku jadi penasaran.
“Amir." ucapku dengan lirih.
Tidak salah lagi lelaki itu adalah Amir, kumulai memanjangkan tanganku untuk memberikan isyarat, lalu dengan sigap Amir merebut bungkusan roti di tanganku dan langsung tancap gas tanpa berkata sepatah katapun.
“Ahh lu ini Mir, dipanggilin bukannya berhenti malah main tancap gas aja, sini kembaliin sarapanku." ucapku saat kita sudah sama-sama berada di lobby.
“Hahaha, nih." jawabnya.
“Resek lu mir, masa' gue cuma disisain segini." sontakku.
“Udah, ntar siang gue traktir." balasnya.
Sekarang adalah hari pertama kuliah kita, tetapi ada satu kesedihan yang membuatku bimbang, yaitu kita kembali bersatu dalam satu kelas. Bilamana aku dan Amir saja yang sekelas mungkin hal tersebut tak akan jadi masalah besar, tetapi masalahnya ada Fara yang juga sekelas dengan kita, dan telah kudengar pula curhat yang baru saja Amir lontarkan bahwa dia mulai tertarik dengan Fara.
Seiring berjalannya waktu, hubungan pertemanan mereka mulai sangat dekat, sungguh aku takut jika suatu saat nanti Amir menyatakan rasa pada Fara. Tak seharusnya diriku mengeluh jika harus menyikapi hubungan mereka, bilamana mereka sudah suka sama suka mau bagaimana lagi. Dan terkadang, aku selalu cemburu melihat mereka berdua yang selalu saja kemanapun bersama, rasanya kubenar-benar tak rela akan hal itu, entahlah semoga hal tersebut tidak berpengaruh besar terhadap hati dan perasaanku.
Entah diriku bisa atau tidak, bertahan dalam sebuah kebersamaan yang sangat rawan terhadap perasaan ini. Tiga tahun diriku bersama dengan Fara dalam satu sekolah, tiga bulan kuberjuang untuk tidak lagi memikirkannya, namun dalam detik ini, aku tak bisa merubah takdir. Aku harus kuat, aku harus tabah, karena walaupun hal ini sangat berat, kuyakin akan hadir sebuah pelangi usai badai pergi, entah kenapa awal perkuliahan ini perlahan telah mengantarkanku ke lubang derita.