bc

Ciuman Gila untuk Sang Paman Mantan

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
contract marriage
family
HE
age gap
fated
friends to lovers
goodgirl
mafia
gangster
heir/heiress
drama
sweet
bxg
city
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Demi Rp50 juta, Larasati mencium pria asing. Tak disangka, pria itu adalah paman mantannya yang dingin. Sebuah pernikahan kontrak pun mengubah takdir mereka selamanya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Ciuman Gila demi Lima Puluh Juta
"Om, boleh minta tolong!?" Laras memberanikan diri menghadang langkah seorang pria itu. Bibirnya menyunggingkan senyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya seraya mengerjapkan matanya dua kali. Tanpa ragu, ia langsung menarik ujung dasi pria tersebut dan menciumnya tepat di depan banyak orang. Demi uang sebesar lima puluh juta rupiah, ia rela melakukan tindakan yang sangat tidak masuk akal dan terasa gila. Mencium seorang lelaki asing yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya. Dan, semua kisah ini bermula dari... * * Larasati Putri Anjani, gadis berusia 22 tahun itu baru saja selesai mengantarkan pesanan ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya. Laras langsung duduk di jok motor hitam yang bodi penuh bergambar ayam. Kedua tangannya bertumpu pada bagian depan motor, lalu ia menghela napas panjang sebelum akhirnya membuka pesan tersebut. "Ingat! Bawa pacar masing-masing." Tak lama, pesan lain muncul di layar. "Ya iyalah bawa pacar masing-masing. Masa iya bawa pacar orang." Dengan helm berbentuk kepala ayam berwarna putih yang sedang ia kenakan, Laras hanya membaca satu per satu pesan di grup itu tanpa berani membalas apa pun. "Maju salah, mundur pun salah," gerutu Laras dalam hati. "Pelopor ide kemana nih? Kok gak muncul-muncul?" "Jangan-jangan pacarnya sudah digondol pelakor?" Laras kembali menatap layar, membaca rangkaian kalimat yang terasa seperti ejekan tertuju padanya. "Gak mungkinlah, Kevin kan sayang banget sama Laras." Sedikit senyum terulas di bibirnya saat ada teman yang membela. Namun harapan itu tak bertahan lama. "Tapi kalau si Kevin sampai kelilipan, ya enggak ada yang mustahil." "Sialan Ola!" umpatnya dalam hati. Tadi sempat merasa lega karena pesan pertama Ola membela dirinya, tapi pesan kedua itu seolah menjatuhkan Laras kembali ke dasar. "Dasar teman enggak punya akhlak." "Arrggghhh!!" Laras menjedotkan kepalanya perlahan ke bagian depan motor. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak akan pernah melontarkan ide gila yang kini justru membuat dirinya sendiri pusing tujuh keliling. Beberapa hari lalu, dengan penuh percaya diri ia mengusulkan agar saat reuni nanti, setiap orang harus membawa pasangan masing-masing. Namun nasib berkata lain. Kevin, pacarnya yang sudah menjalin hubungan hampir dua tahun, justru ketahuan berselingkuh. Lelaki itu tertangkap basah sedang bermesraan di dalam mobil sampai kendaraannya berguncang hebat, seolah diguncang gempa berkekuatan 8 SR. Yang lebih menyakitkan, saat Laras memutuskan hubungan, pria itu malah menantangnya. "Oke kalau mau putus. Memangnya kamu sanggup bertahan berapa lama tanpa aku? Aku yakin sebelum 24 jam, kamu pasti sudah minta balikan lagi. Dan saat itu tiba, tanganku akan selalu terbuka menerimamu apa adanya." Laras mengembuskan napas kasar. Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak ia mengakhiri hubungan kemarin. "Aku tidak akan pernah menemui Kevin lagi. Nanti dia malah makin besar kepala. Terlalu sering dimaafkan bikin dia jadi tak tahu diri," gumamnya, mengingat kembali ucapan mantan pacarnya itu. Tapi masalahnya, jika ia datang tanpa membawa pasangan, ia tak tahu ejekan atau perlakuan apa lagi yang menantinya di kafe tempat reuni berlangsung hari ini. Ting! Di waktu yang bersamaan, sebuah pesan dari pelanggan masuk ke ponselnya. Laras membaca pesan itu, membalasnya sebentar, lalu memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jaket putih yang dikenakannya. "Au ah!! Lebih baik fokus cari uang saja. Ingat, ada adikmu yang menjadi tanggung jawabmu sekarang," gumam Laras untuk meneguhkan hatinya sendiri. Ia membenarkan posisi helm yang terpasang di kepalanya. Daripada memikirkan reuni dan mantan pacar yang tidak memberi solusi apa pun, lebih baik ia memikirkan cara mengumpulkan uang. Baginya, uang saat ini berada di urutan teratas, bahkan mengalahkan urusan percintaan sekalipun. Motor Laras melesat cukup kencang untuk menyelesaikan pesanan terakhirnya sebagai pengantar makanan. Tak lama kemudian, ia menghentikan kendaraannya tepat di pusat kota, di depan sebuah gedung perkantoran tempat pelanggannya menunggu. "Eh! Awas!!" Namun, saat Laras hendak turun dari motor, langkahnya terhenti seketika. Tepat di hadapannya, sebuah insiden hampir terjadi. Sebuah motor tua yang membawa keranjang besar di bagian belakangnya tiba-tiba oleng, setelah sebuah mobil sedan mewah memotong jalur secara tiba-tiba tanpa memberi isyarat. Pengendara motor itu terkejut dan langsung mengerem mendadak hingga terjatuh ke atas aspal. Keranjang di belakangnya terbalik, membuat sayur-mayur yang dibawanya berserakan di sepanjang jalan. "Hei! Bisa nyetir nggak sih?" bentak pengemudi mobil mewah itu sambil turun dari kendaraannya dengan wajah memerah, seolah dialah pihak yang paling dirugikan. Orang-orang di sekitar mulai berkerumun, dan arus lalu lintas di belakang mobil itu pun langsung terhenti. Sementara itu, dari arah berlawanan, Laras masih duduk di atas motor dengan mata terbelalak mendengar makian yang dilontarkan pria itu kepada pengendara motor tua. Begitu melihat bapak tua itu berusaha bangkit sambil berkali-kali meminta maaf, Laras segera turun dan melangkah mendekat. "Pak, Bapak tidak apa-apa?" tanya Laras seraya membantu bapak itu duduk di pinggir trotoar. "Bapak ini nyerempet mobil saya! Lihat ini, spion saya sampai lecet!" Belum sempat bapak itu menjawab, pria pemilik mobil sudah menghardik dengan nada tinggi. Laras berbalik, berdiri tegak, lalu menatap tajam pria yang sedang meluapkan amarahnya itu. "Lecet di mana, Pak?" Pandangan Laras beralih ke spion yang dimaksud. "Ini cuma terlipat saja, tidak rusak sama sekali," lanjutnya sambil membenarkan kembali posisi spion tersebut. Pria itu terdiam sesaat, lalu kembali meledak emosinya. "Tetap saja! Motor tuanya ini hampir saja menabrak mobil saya!" bantahnya tak mau kalah. "Hanya hampir, bukan sampai benar-benar menabrak, kan, Pak? Dan Bapak ini hampir jatuh justru karena Bapak sendiri memotong jalur tanpa menyalakan lampu isyarat," balas Laras dengan cepat dan tenang. "Mobil Bapak pasti ada perekam perjalanan, kan? Atau kita cek saja kamera pengawas jalan ini? Atau mau saya panggil petugas lalu lintas yang posnya tidak jauh dari sini?" tantangnya. Kerumunan mulai berbisik-bisik, dan sebagian orang mengangguk setuju bahwa mobil itu memang memotong jalan secara mendadak. Sementara itu, di dalam salah satu mobil yang berhenti di belakang sedan mewah itu, seorang pria duduk di kursi belakang sambil melirik jam tangannya. "Ada apa? Kenapa berhenti di sini?" tanyanya kepada sopir dengan nada tidak sabar. "Sepertinya ada insiden kecil di depan, Tuan," jawab sopir. Pria yang dipanggil "Tuan" itu hanya berdecak kesal. Namun, ia tiba-tiba terdiam saat mendengar suara tegas dan lantang dari arah kejadian. "Bapak ini malah jatuh karena kaget, dan lihat sendiri, dagangannya jadi berserakan di jalan!" Laras menunjuk ke arah keranjang yang terbalik. "Kalau memang ingin menyelesaikannya dengan baik, seharusnya Bapak yang meminta maaf," lanjutnya dengan penuh keberanian. Wajah pemilik mobil itu makin memerah. Ia sadar memang bersalah, tetapi tidak menyangka akan ada orang yang berani menegurnya sedemikian rupa. "Saya tidak mau berdebat dengan anak muda kurang ajar sepertimu!" katanya dengan nada tinggi. "Bagus kalau begitu. Saya pun tidak ingin berdebat. Saya hanya minta Bapak bertanggung jawab," potong Laras tanpa ragu. "Lihat, spion motornya patah, keranjangnya rusak, dan dagangannya terbuang percuma. Mau saya rekam dan sebarkan ke media sosial, atau Bapak ganti kerugiannya dengan cara yang baik?" Kerumunan makin ramai mendukung perkataan Laras, membuat pria itu makin terdesak. Akhirnya, dengan wajah masam dan kesal, ia merogoh dompet lalu menyerahkan sejumlah uang. "Cukup?" tanyanya ketus. "Belum. Tambahkan lagi untuk biaya perbaikan motornya. Ingat, Bapak ini sedang mencari nafkah, bukan sedang mencari masalah," jawab Laras dengan tatapan tegas. Pria itu mendengus kesal, lalu menambahkan sejumlah uang lagi. Setelah itu, ia segera masuk ke mobil dan pergi dengan perasaan dongkol. Kendaraan di belakangnya pun kembali melaju, meninggalkan bapak tua dan Laras di pinggir jalan. Laras menyerahkan seluruh uang itu kepada bapak pemilik motor, lalu membantu memunguti sayur-mayur yang masih bisa diselamatkan. Saat itu juga, sebuah mobil mewah melaju perlahan melewati mereka. Tanpa disadari Laras, seseorang yang duduk di dalam mobil itu tersenyum tipis melihat apa yang baru saja ia lakukan. "Terima kasih banyak, Nak. Kalau tidak ada kamu, entah apa jadinya saya hari ini," kata bapak tua itu dengan mata berkaca-kaca. Laras hanya mengangguk lembut. "Sama-sama, Pak. Hati-hati di jalan ya. Jangan takut menghadapi siapa pun, meskipun mereka terlihat punya kedudukan lebih tinggi," ucapnya sebelum berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya. Setelah menyelesaikan semua pesanan, suasana berubah total. Jaket putih dan helm bergambar kepala ayam khas tempatnya bekerja kini sudah diganti dengan gaun berwarna lembut yang membuat Laras tampak lebih anggun, cantik, dan feminin dengan riasan yang sederhana. Kini ia berdiri tepat di depan sebuah kafe, tempat pertemuan reuni dengan teman-teman SMA-nya. Laras menggenggam erat tali tas yang terselempang di bahu. Menarik napas panjang, ia membuang rasa cemasnya, lalu melangkah masuk melewati pintu kafe. "Laras, di sini!" Begitu pintu didorong terbuka, sebuah suara lantang memanggilnya dari arah meja yang tidak jauh dari pintu masuk. Laras segera menoleh ke sumber suara. Senyum ramah dari teman-temannya langsung menyambut kedatangannya, membuat Laras pun ikut tersenyum meski dalam hatinya sedikit terasa perih melihat mereka semua sudah duduk berpasangan. "Mam to the pus. Mam pus," gerutunya dalam hati. Ia melangkah mendekat, meski suara hatinya terus memaki dan menyuruhnya lari pergi sebelum mendapat "hadiah" yang mungkin akan sangat tidak masuk akal. Memang bukan nama teman-temannya kalau tidak selalu punya ide-ide gila yang terlintas di kepala mereka. "Laras sayang!" Ola berdiri menyambut dan langsung memeluknya, disusul oleh teman-teman yang lain yang juga menyapa dengan hangat. "Akhirnya, setelah setahun tidak bertemu karena sibuk dengan kesibukan masing-masing, kita bisa berkumpul lagi seperti ini," timpal Nadia seraya menarik tangan Laras agar duduk di kursi kosong di sampingnya. Laras menyapa satu per satu pasangan sahabatnya dengan sopan, sebelum akhirnya duduk di tempat yang sudah disediakan. Perlu diingat, pertemuan hari ini adalah reuni empat gadis idola semasa SMA yang dulu dikenal dengan sebutan 4 Gemilang. Mereka adalah sosok yang ibarat ratu dalam segala hal: memiliki kecantikan yang memukau, kepintaran yang mengagumkan, serta kedudukan dan kekayaan yang tak perlu diragukan lagi. Sungguh perwujudan nyata dari sosok perempuan impian bagi banyak orang kala itu. Namun seiring berjalannya waktu, hidup terus berputar dengan cepat. Saat memasuki tahun keempat perkuliahannya, ayah Laras mengalami kecelakaan parah yang membuat kondisi keluarga berubah drastis hingga akhirnya jatuh bangkrut. Meski begitu, ikatan persahabatan mereka tetap terjalin erat. Teman-temannya bahkan dengan tulus membantu menanggung biaya pengobatan ayah Laras yang masih berlangsung. Akan tetapi, Laras yang tidak ingin dicap memanfaatkan kebaikan sahabatnya, lebih memilih menutupi kondisi keuangannya yang sesungguhnya dari mereka. "Mau tanya, mana pacarmu?" tanya Nabila. Sejak tadi matanya terus melirik ke arah pintu masuk, berharap ada seseorang yang menyusul Laras. Pertanyaan itu membuat Ola dan Nadia pun ikut menoleh ke pintu, lalu serentak memandang Laras. Selain jadwal reuni, hari ini memang sudah disepakati sebagai pertemuan sambil berkencan, sesuai usulan Laras sendiri. Sayangnya, orang yang mencetuskan ide itu justru datang sendirian. "Seperti yang dikatakan Ola tadi, dia sudah dibawa pergi oleh rambut pirang itu," jawab Laras santai sambil meraih gelas minuman yang ada di meja. Ia tidak peduli itu milik siapa, langsung menyesapnya saja—yang jelas bukan milik pasangan teman-temannya. Mendengar jawaban itu, ketiga sahabatnya langsung melongo dengan mata terbelalak. "Aduh, maaf ya! Tadi aku cuma bicara sembarangan," kata Ola dengan rasa bersalah. "Tidak apa-apa. Bukan salahmu, tapi salah Kevin yang matanya buta," sahut Laras tenang. "Tapi rasanya aku di sini cuma bakal jadi penonton saja ya," tambahnya sambil mendengus pelan. "Kalau begitu, apa perlu kita suruh mereka pulang saja?" usul Nabila seenaknya, seolah mudah mengusir pasangan yang sudah meluangkan waktu datang. Tiga pria yang duduk di meja itu pun langsung menatap pacar masing-masing dengan tatapan terkejut. Belum sempat ada yang menjawab, sebuah suara tiba-tiba terdengar: "Wah, sepertinya kalian sudah berkumpul duluan. Apakah kami terlambat?" Suara itu membuat Laras dan yang lain langsung menoleh ke sumbernya. Laras dan ketiga temannya saling berpandangan. "Anabel?" celetuk Laras begitu melihat wajah wanita itu. Wanita itu melotot kesal. "Namaku Arabella, Laras! Bukan Anabel!" "Ah, ya, maaf. Maksudku memang itu," jawab Laras sambil mengangguk cepat, padahal di dalam pikirannya tetap terpatri nama Anabel. "Apa urusanmu datang ke sini?" tanya Laras lagi, melihat Arabella datang bersama seorang temannya serta pasangan masing-masing. Arabella tersenyum dengan pandangan yang penuh makna. "Tentu saja ikut reuni. Bukankah kita juga dulu satu sekolah?" jawabnya, lalu menoleh ke Nabila. "Benar begitu, kan, Bila?" Laras, Ola, dan Nadia langsung menatap Nabila serentak, meminta penjelasan. Pertemuan hari ini hanya untuk mereka berempat dan pasangan masing-masing. Kenapa tiba-tiba ada dua orang yang sejak sekolah dulu selalu berselisih paham dengan Laras bisa hadir? Nabila hanya bisa meringis canggung, lalu mengangkat dua jari tanda minta maaf. "Maafkan aku, aku tidak punya pilihan," bisiknya pelan ke telinga Laras. "Dia terus saja merendahkanmu dan bilang kamu belum bisa melupakan Agung. Makanya aku bilang hari ini kita ada pertemuan sambil membawa pacar. Aku katakan kamu sudah punya kekasih yang tampan dan kaya, supaya dia melihat sendiri kalau kamu sudah melanjutkan hidup. Aku juga sudah mengirim pesan sejak pagi, berharap kamu tidak lupa membawa pacarmu," jelas Nabila dengan suara rendah. Nabila memang satu kantor dengan Arabella, dan Laras sering mendengar keluhan bahwa wanita itu selalu memojokkannya hanya karena Agung lebih memilih bersama Arabella dulu. Tapi tindakan Nabila kali ini justru membuat masalah makin runyam. "Nabila..." desis Laras dengan gigi gemeretak, menatap sahabatnya itu. "Maaf ya..." Nabila hanya bisa membalas dengan senyum canggung, merasa bersalah sepenuhnya. Laras hanya mengembuskan napas panjang. Mau marah pun rasanya percuma. Lagipula Nabila sudah tahu kalau ia baru saja putus dari Kevin. "Sial benar hari ini, masalah datang bertubi-tubi," gerutu Laras dalam hati. "Ngomong-ngomong, mana pacarmu, Ras?" tanya Arabella sambil melirik sekeliling. "Katanya Nabila kamu sudah punya kekasih ganteng dan kaya raya. Mana orangnya?" tanyanya lagi dengan nada setengah mengejek. "Pacarnya sedang ada urusan mendadak. Namanya juga orang sibuk," cepat-cepat Ola menjawab untuk menyelamatkan muka Laras. "Sudah, ayo kita mulai makan saja," lanjutnya untuk mengalihkan pembicaraan. "Atau mungkin memang tidak ada sama sekali?" celetuk Arabella dengan nada enteng. "Bella, cukup," tegur Agung, kekasihnya, sambil berusaha menenangkan. "Itu kan kenyataan, Sayang," jawab Arabella santai. Laras hanya memutar bola mata karena jengah. "Kalau mau ikut makan, silakan saja. Kalau tidak, silakan pergi saja," jawabnya dengan nada datar. "Jangan-jangan kamu cemburu melihat kebersamaan kita? Sudah lima tahun kita bersama, tidak ada yang bisa memisahkan," kata Arabella lagi sambil menunjukkan kemesraan, meski Agung terlihat agak tidak nyaman. "Dasar tidak tahu malu!" batin Laras. Ia memilih tidak menanggapi lagi dan mulai menyantap makanan di hadapannya. Awalnya pertemuan reuni kelompok 4 Gemilang ini diharapkan bisa menjadi momen rindu yang menyenangkan. Namun kehadiran Arabella justru membuat suasana jadi membosankan. Lebih sialnya, meski sudah diberi isyarat untuk pergi, wanita itu seolah tidak mengerti. "Oh ya, Laras. Aku masih ingat, kan, prinsip persahabatan yang kalian buat dulu?" tanya Arabella tiba-tiba di tengah acara makan. Ia melirik Laras dengan pandangan yang membuat Laras langsung waspada. "Kalau begitu, berarti kamu sudah siap menerima hukuman kalau melanggarnya?" sambung Maura, teman Arabella, ikut menimpali. Keduanya saling bertukar senyum penuh rencana. "Tidak ada yang namanya hukuman," potong Nabila segera. Arabella hanya terkekeh pelan. "Kalau begitu, berarti kalian sudah melanggar aturan sendiri dong?" katanya lagi, tidak menghiraukan Agung yang memintanya untuk tidak memperpanjang masalah. "Kamu ini benar-benar..." Nabila menatap tajam, ingin sekali melempar piring di depannya ke arah Arabella. Laras menghela napas panjang. "Prinsip kami tetap berlaku. Kalau aku tidak membawa pacar, berarti aku memang melanggar. Kalian mau menghukum apa? Aku terima saja," ucapnya akhirnya. "Tidak usah, Laras. Jangan dengar omongan mereka," cegah Ola. "Tidak bisa begitu dong. Seperti kata Laras sendiri, prinsip tetaplah prinsip," sahut Arabella lagi. "Aku punya ide yang bagus!" seru Maura tiba-tiba, dan disambut senyum lebar oleh Arabella. "Apa idenya?" tanya Arabella antusias. Maura melirik ke arah pintu masuk, di mana seorang pria bertubuh agak gemuk dan berusia setengah baya baru saja melangkah masuk. Ia tersenyum penuh arti, lalu menoleh kembali ke Laras. "Siapa pun orang pertama yang lewat pintu itu, kamu harus mencium dia!" "Apa?!!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
768.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
994.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
368.6K
bc

Not just, the Beta

read
353.3K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook