Happy reading!
-
-
-
Izolda tengah meracik beberapa ramuan di rumahnya, di luar ada Arion yang tengah mengobati beberapa Anigi yang terluka karena berbagai hal.
Lalu tiba-tiba saja Arion merasa terkejut karena ia merasakan gelombang sihir iblis yang luar biasa, pria itu berlari menuju rumah Izolda untuk memberitahu, "MASTER!" Seru Arion, ketika pria itu membuka pintu, ada Izolda yang sudah di depan pintu.
Wanita itu memasang wajah panik dan ketakutan.
"Ada sesuatu yang datang, Arion segera tutup hutan Witchweed, aku akan membangkitkan sihir pengunci pada hutan ini." Jelas Izolda, Arion mengangguk lalu memunculkan tongkatnya dan segera berlari untuk melakukan tugasnya.
Izolda pergi keluar dari hutan, ia berdiri di depan gerbang, kemudian ia melakukan sihir penguncian agar tidak ada orang lain yang masuk, selain yang diizinkan yaitu Izolda dan Arion yang sudah resmi menjadi penjaga hutan witchweed.
Wanita itu juga memasang pelindung khusus pada gerbang agar tidak tersentuh apapun jika saja terjadi pertarungan.
Izolda menatap ke depan, beberapa meter di hadapannya, sebuah portal muncul, seseorang berjubah hitam dengan lambang Warzerten keluar dari portal itu, ketika orang itu melangkahkan kakinya ke rumput, seketika tumbuhan itu berubah layu dan menghitam seperti terkena kutukan.
Izolda memunculkan tongkat nya, lalu menatap orang itu yang kini tengah berdiri di hadapannya, orang itu membuka tudung yang menutupi wajahnya, seorang pria dengan kulit pucat, surai biru bergelombang hitam dan bermanik biru langit.
"Lama tidak jumpa, Matthew." Ujar Izolda dengan suara dalam, pria itu menatap Izolda dengan dingin, lalu ia menjentikkan jarinya dan portal di belakangnya hilang.
"Seperti biasa Izolda, kau tidak berubah sama sekali, aku sedikit kecewa." Balas Matthew, Izolda menenggak ludah dengan susah payah.
"Apa yang kau lakukan disini? Aku tidak ingat kita pernah membuat janji." Ujar Izolda, pria itu terkekeh pelan.
"Memang tidak, tapi keberadaan ku disini adalah bagian dari rencana." Ujar Matthew lalu pria itu mengulurkan tangannya, aura sihir iblis menguar dari tubuh pria itu.
"Aku akan mengambil ahli hutan Witchweed, kemudian membunuh mu disini," Matthew menyunggingkan senyuman setan.
"Para Elf sudah seharusnya punah, kalian tidak bisa berada disini lagi, jadi kau akan kubasmi sebagai penutup kaum Elf." Ujar Matthew, Izolda mengatupkan giginya marah.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
⬛⚪⬛
Raven terlebih dahulu membuka pintu, pria itu memasuki mansion yang merupakan rumah b****l itu, ia melihat sekitar, tidak ada apapun selain asap berwarna ungu memenuhi ruangan, asap itu sangat pekat sampai terlihat oleh mata, dan menghalangi jarak pandang.
"Aman." Ujar Raven, Sembari menoleh kebelakang, Dominic dan Harley lebih dulu memasuki mansion, lalu Shannon mengikuti mereka.
"Katanya para ksatria ada disini, tapi aku tidak melihat mereka satupun." Ujar Shannon.
"Aku yakin mereka di taruh sebuah ruangan khusus, kita harus memeriksa satu persatu setiap ruangan disini." Ujar Reithel, Raven mengangguk.
Tapi tiba-tiba saja mata Shannon menangkap seseorang yang hendak mengayunkan pedang di tangannya ke arah Raven dari belakang, gadis itu hendak berteriak tetapi Raven dengan sekejap tanpa melihat orang itu, ia membunuh orang berjubah itu dengan mengayunkan pedangnya hingga membelah tubuh orang itu dan menewaskan nya di tempat.
Shannon mendengus lega, sekaligus terkejut, "Benar-benar berbahaya." Gumam gadis itu.
"Apa pangeran baik-baik saja?" Tanya Shannon, pria itu mengangguk singkat.
"Apa kita perlu berpencar untuk mencari ruangannya? Karena mansion ini cukup besar." Ujar Harley.
"Tapi tetap saja itu tidak aman, kita tidak tahu apa yang terjadi nanti." Raven mengerutkan dahi.
"Tenang saja, kita bisa menggunakan cara lain." Ujar Reithel, pria itu menepuk tangannya sekali, lalu muncul 5 lingkar sihir di lantai kayu itu, kemudian dari lingkar sihir itu keluar beberapa ekor anigi yang merupakan serigala dengan ukuran sedang, mereka semua berbulu putih dengan letak tanda sihir di tubuh mereka yang masing-masing berbeda tempat.
"Begitu ya, menggunakan Anigi, itu ide bagus." Puji Shannon, Reithel hanya mengangguk, lalu kembali membuka suara.
"Tapi kekuatan mereka tidak sekuat biasanya, karena ini masih di dalam realisasi sihir musuh, tapi setidaknya jika terjadi sesuatu pada mereka aku akan tahu." Jelas Reithel.
⬛⚪⬛
Di tim Tristan.
Mereka menelusuri beberapa rumah dan gang di distrik B Rockoak, tapi tidak ada penghuni sama sekali, dan mereka belum melihat satupun warga disini.
"Kemana mereka pergi Mark?" Tanya Tristan, pria itu menggeleng.
"Maafkan saya kapten, tapi saya tidak tahu, semenjak banyaknya ksatria yang menghilang, dan hanya tersisa saya, keamanan di kota ini menjadi sangat buruk, saya mengakui saya ksatria yang lemah, bahkan melindungi diri sendiri saja belum tentu, mohon maafkan saya kapten, saya akan menerima hukuman apapun dengan lapang d**a nanti." Jelas Mark merasa bersalah, Tristan mendengus pelan lalu menepuk pundak Mark.
"Tidak masalah, aku paham kau pasti sangat ketakutan, bicarakan hukuman mu dengan pangeran nanti, sekarang yang penting kita harus mencari warga disini." Ujar Tristan sembari mengerutkan alis.
"Tapi...tidak ada siapapun.." ujar Eloise sembari menoleh ke berbagai rumah yang sudah tampak tidak berpenghuni.
"Pasti semua warga disini sudah di culik, saya benar-benar minta maaf." Ucap Mark dengan menyesal.
"Tidak semuanya." Jenkins menyahut, semuanya menoleh pada pria itu.
"Apa maksudmu, tuan Abelfreyja?" Tanya Eloise, Tristan menatap pria itu dengan tidak nyaman, Feitan menyentuh pundak sahabatnya, pria bermanik ungu itu menoleh.
"Apa dia dulu orang yang pernah bersama mu?" Tanya Feitan, suaranya sedikit lebih pelan sehingga hanya Tristan yang dapat mendengarnya.
Tristan terdiam sebentar dan mengangguk, "Tapi itu sudah lewat..." Dia menekan kalimatnya dan mengepalkan tangan.
"Aku bukanlah Tristan yang dia maksud, aku sudah lama membuang identitas itu, aku tidak akan kembali ke sana.." Tristan kembali berujar, ada rasa kesal tersirat pada ucapannya.
"Kau tidak boleh melakukan itu." Ujar Feitan, Tristan terkejut.
"Kenapa? Ketika aku menghilang mereka tidak mencariku, mereka bahkan mensyukuri atas hilangnya diriku, aku melewati perjalanan yang menyakitkan hanya karena ingin tetap hidup, aku membenci mereka, aku tidak ingin berkaitan lagi dengan mereka." Jelas Tristan menegaskan setiap kalimatnya.
Mendengar sedikit keributan, Mark, Eloise dan Jenkins menoleh ke Tristan dan Feitan yang tampak beradu argumen.
"Tristan? Feitan? Apa yang terjadi?" Tanya Eloise.
"Pria itu masih mencari mu, itu artinya kau masih penting, jangan asal menyimpulkan sesuatu, kau bahkan tidak memiliki bukti jika memang orang tua mu yang membuang mu." Jelas feitan.
"Aku melihatnya! Mereka yang mengatakannya, bahkan kematian ibuku, itu juga bagian dari rencana mereka karena ingin menguasai kerajaan, di sana aku tidak memiliki siapapun Feitan..." Ujar Tristan dengan sorot memohon, Feitan mendengus kasar.
"Seperti biasa kau seperti anak kecil." Ujar Feitan, kemudian pria itu menoleh pada Eloise, gadis itu bersama Jenkins menatapnya dengan sorot khawatir, Feitan mendengus lebih pelan.
"Maaf membuat kalian khawatir, tapi tidak masalah, ini hanya keributan biasa." Ujar Feitan, lalu berjalan mendekat pada Jenkins.
"Kau bilang tidak semua, apa maksudmu?" Tanya Feitan pada Jenkins.
"Iya, saat aku sampai di sini, aku melihat beberapa warga di distrik A Rockoak, tapi hanya sedikit, mereka cukup pintar menyembunyikan diri mereka dari beberapa orang berjubah yang suka menculik warga disini." Jelas Jenkins.
"Kalau begitu ayo kita coba ke sana, dan bertanya pada mereka, apa yang mereka tahu." Ujar Eloise, Feitan mengangguk, kemudian mereka berjalan bersama menuju distrik A, di tengah itu Eloise bertanya.
"Tuan Abelfreyja, aku sedikit bertanya, kenapa kau ada disini, maksud ku, kau tetap baik-baik saja walau kota ini sudah dalam keadaan bahaya, dan apa kau tidak menyadarinya?" Tanya Eloise.
"Itu karena aku tinggal di hutan yang cukup jauh dari sini, aku sengaja karena aku menghindari pasukan kerajaan Etheia yang mungkin ada disini." Jelas Jenkins, Eloise terdiam lalu melirik Tristan sedikit, pria itu tampak memasang wajah tidak nyaman.
'Kalau begitu, disini masalahnya mulai berhubungan dengan Tristan ya, okeh kita berhenti.'
Pikir Eloise, dan akhirnya percakapan mereka berhenti dan tetap berjalan menuju distrik yang di tuju.
Sesampainya di sana, suasana distrik itu mirip dengan distrik yang mereka periksa sebelum nya.
"Apa kau yakin?" Tanya Feitan pada Jenkins, pria itu mengangguk pasti.
"Keluar lah! Seseorang keluarlah! Kami orang-orang utusan dari kekaisaran Roxane, aku Eloise Somnivera Castillon, salah satu penyihir risilv Roxane!" Seru Eloise, kemudian ia mengeluarkan tongkatnya dan memunculkan cahaya api membentuk lambang Roxane.
Tidak lama beberapa orang muncul membuka tirai jendela, Eloise mengangkat kedua alisnya terkejut dan tersenyum lega ternyata masih ada beberapa warga yang selamat.
Tristan maju melangkah kedekat Eloise kemudian pria itu merogoh sakunya, dan mengambil lencana ksatrianya yang berlambang Roxane berwarna emas.
"Aku Tristan Gouw, salah satu kapten ksatria, bawahan langsung dari pangeran Raven Blackwell Roxane, kami disini untuk menolong kalian." Jelas Tristan dengan suara lebih keras, setelah mendengar kalimat Tristan, beberapa warga akhirnya mulai keluar dari rumah mereka dan menampakkan diri mereka, lalu beberapa di antaranya ada yang berjalan mendekat pada Eloise dan Tristan, kemudian ada seorang ibu yang menggendong anak balitanya berlari ke arah mereka, lalu berhenti, dan berteriak.
"KALIAN TERLAMBAT!" Serunya, Eloise terkejut dan sedikit mundur kebelakang, Feitan berjalan maju, kemudian mendekati ibu itu.
Wanita itu menatap mereka dengan marah, "Apa yang terjadi?" Tanya Feitan, wanita itu mengepalkan tangannya dan memeluk anaknya erat.
"Kalian benar-benar terlambat! Putri pertama ku sudah di culik oleh mereka! Kenapa kalian baru datang sekarang! Aku sudah kehilangan anak ku!!" Kemudian wanita itu mulai menangis.
"Dia benar, istriku sudah terlanjur di culik oleh mereka, dan tidak akan pernah kembali, kalian benar-benar terlambat." Ujar salah seorang pria menimpali.
"Cucuku juga sudah hilang, kenapa kalian baru datang sekarang! Kalian benar-benar orang tidak berguna! Kalian datang ketika semua orang sudah banyak yang hilang! Kalian sangat terlambat!" Seorang nenek juga menangis, beberapa warga mulai bising mencaci mereka.
Feitan dan Tristan terdiam, mereka tidak tahu apa yang harus mereka katakan karena yang warga itu bilang semuanya benar, mereka terlambat, korban sudah banyak yang hilang, kedatangan mereka menjadi percuma.
Eloise mendengus pelan lalu kembali melangkah maju, "Karena itu kami datang untuk membantu mengambil kembali keluarga kalian yang di ambil oleh musuh." Tegas Eloise, semua warga itu langsung menatap Eloise.
"Jika kalian ingin keluarga kalian kembali, tolong bantu kami dengan informasi yang kalian tahu, kami berjanji akan mengambil kembali keluarga kalian dalam keadaan apapun." Ujar Eloise.
"Bagaimana jika mereka sudah mati? Apa kau tetap akan menyelamatkan mereka? Walau sudah mati?" Tanya salah seorang warga.
"Eloise..." Sebut Tristan dengan suara ragu.
"Kami tetap akan menyelamatkan nya, kami akan memastikan raga, maupun apapun dari keluarga kalian akan kembali pada kalian, kemudian kami akan membalaskan kematian mereka dengan menghabisi mereka semua, aku berjanji." Ujar Eloise, para warga terperangah lalu terdiam.
"Aku setuju dengan anak ini." Seorang pria paruh baya dengan tongkat berbicara.
"Walau mereka pada akhirnya sudah tiada, setidaknya kita dapat melihat jasad mereka dan memakamkan mereka dengan baik." Lanjut pria itu, suasana hening sebentar.
"Baiklah aku akan membantu mu." Salah seorang gadis mengajukan diri.
"Aku akan memberitahu semua yang ku tahu, karena aku ingin, kakak ku kembali." Ujar gadis itu, Eloise mengangkat kedua alisnya terkejut, seketika hatinya merasa sedikit sesak karena ini mengingatkannya pada kakaknya.
"Terima kasih atas bantuannya nona, kalau begitu tolong beritahu apa saja yang kau tahu." Ujar Feitan sembari sedikit membungkuk untuk mensejajarkan pandangannya pada gadis itu, ia mengangguk sebagai balasan.
"Pertama-tama, bisakah kau beritahu nama mu?" Tanya Tristan sembari duduk didepan gadis itu.
"Nama ku Emily, dan kakak ku yang hilang adalah Alice." Ujar anak itu, Tristan mengangguk.
"Kalau begitu tolong jelaskan apa saja yang kau ketahui, setiap informasi yang kau miliki berharga bagi kami." Ujar Tristan, Emily mengangguk.
"Kakak ku hilang, 2 bulan yang lalu, saat itu kakak ku pergi untuk mengambil sayuran di kebun kami di perbatasan bagian belakang kota ini, kami semua menanam tanaman kami di tanah kosong di sana, tetapi setelah kepergian nya, kakak ku tidak pernah kembali, aku mencari dan terus mencari tapi hasilnya nihil, keberadaan kakak ku sama sekali tidak ada yang tahu.
Lalu suatu hari, aku memutuskan untuk mengambil sayuran untuk ibu ku dan makan, ketika aku hampir sampai di perkebunan, aku melihat beberapa orang berjubah yang menarik paksa beberapa temanku, aku ingin menolong mereka," Emily menahan kalimatnya dan meremas kain bajunya.
"Aku terlalu takut untuk bergerak menolong mereka, alhasil aku gagal lagi, dan kehilangan orang yang ku sayangi." Ujar gadis itu sembari merintihkan air mata.
Tristan bergerak memeluk gadis itu, "Jangan khawatir, kami akan membawa mereka kembali, semuanya kembali, dalam keadaan apapun, karena itu jangan berhenti berharap untuk mereka." Ujar Tristan, gadis itu mengangguk sembari membalas pelukan Tristan, tidak lama mereka melepas pelukan mereka.
Feitan bergerak mendekat, "Apa kau tahu kemana beberapa orang itu menarik teman-teman mu?" Tanya pria itu, gadis itu mengangguk, lalu menunjuk ke arah distrik C Rockoak.
"Mereka menuju distrik C Rockoak." Balas gadis itu, Eloise melangkah dekat pada Tristan dan Feitan, kedua pria itu bangkit dan berdiri tegak lalu menoleh satu sama lain.
"Tidak salah lagi, pasti di rumah b****l itu."
-
-
-
To be continued