Chapter 24 [o***m]

2430 Kata
Happy reading! - - - Shannon terkejut mendengar perkataan pria yang di panggil Jenkins oleh Tristan, seketika Tristan bergerak melepas pelukan Jenkins dan sedikit menjauh dari nya, pria itu terkejut dan menatap tanya. "Pangeran?" "Hentikan," Tristan mengangkat wajahnya lalu menurunkan alisnya. "Kau salah orang, Tristan yang kau cari, sudah tidak ada." Ujar Tristan, pria itu terkejut dengan ucapan Tristan, sedangkan shannyon berusaha memahami semuanya. Tetapi tampaknya situasi itu tidak bisa di bahas konfliknya saat ini. "Tidak mungkin! Aku yakin tidak salah orang, kau adalah pangeran Tristan Frederick Etheia! Putra mahkota kerajaan Etheia yang hilang selama 10 tahun!" Seru pria itu, Tristan mengepalkan tangannya. "Orang itu sudah mati, aku adalah Tristan Gouw, bukanlah Tristan yang kau cari." Tukas pria itu dengan suara dalam, Jenkins menatap Tristan dengan sorot sedih, Shannon mendengus pelan. "Maaf menyela pembicaraan kalian, tapi tuan Jenkins? Ah boleh aku memanggil mu seperti itu?" Tanya Shannon. "Cukup jenkins saja nona, aku bukanlah orang berkasta tinggi." Ujar pria itu, Shannon tersenyum. "Kalau begitu Jenkins, silahkan panggil aku Shannon, karena aku juga bukan orang berkasta tinggi." Balas Shannon, pria itu terkejut. "Aku tidak bisa! Nona adalah ksatria, itu sudah termasuk kasta yang tinggi." Ujar Jenkins, Shannon terkekeh pelan. "Ayolah, kau bisa bersikap santai padaku, kita adalah teman karena kau tampak mengenal baik Tristan." Ujar Shannon. "Shannon, dia salah orang, hentikan." Ujar Tristan menyela, Shannon menempelkan jari telunjuk nya ke bibirnya. "Ini tidak akan selesai jika kau seperti itu, lagipula kita juga saat ini butuh bantuannya karena dia ada di sini." Ujar Shannon, Tristan mendengus lalu diam, Shannon kembali menatap Jenkins, pria itu sedikit menunduk tetapi matanya tidak berhenti melirik Tristan yang berdiri di belakang Shannon. "Begini Jenkins, kita bisa membahas urusan mu dengan Tristan, tapi tidak sekarang, aku ingin kerja sama nya dengan mu, untuk mengusut situasi kota Rockoak ini, selagi menunggu bala bantuan datang, jadi bolehkan kami menanyakan banyak hal seputar kota ini padamu?" Tanya Shannon, pria itu terdiam dan mengangguk. "Sebenarnya aku baru saja tiba disini, 5 bulan yang lalu, kota ini sudah seperti ini sejak kedatangan ku, aku kesulitan mencari tempat tinggal ataupun kamar disini, karena banyaknya tempat yang tutup entah apa yang terjadi, padahal ketika aku mengembara untuk mencari pangeran Tristan, kudengar kota ini memiliki banyak informasi." Jelas jenkins. Mendengar namanya di panggil pangeran lagi, wajah Tristan berubah tidak nyaman dan mendengus pelan. "Informasi apa yang ada di kota ini?" Tanya Shannon, Jenkins mengedikkan bahu. "Aku mendengar, disini banyak informan, dan kita bisa mencari orang hilang maupun informasi harta Karun, Vocorgi, Maleon, bahkan Hespirvit juga Fanigi dan Anigi, tetapi ketika aku sampai, kondisi kota sudah sangat buruk, dan juga banyak warga yang hilang, dan suatu hari aku pernah melihat, beberapa orang berjubah hitam dengan simbol aneh, mereka membawa paksa beberapa warga disana, aku sedikit terkejut dan bingung karena tidak ada ksatria yang berjaga sama sekali, lalu aku bertemu satu ksatria yang berjaga di pos, dan dia mengatakan kalau ksatria lain dalam bahaya, dan dia tidak tahu harus bagaimana mencari bantuan, aku juga diminta untuk pergi dari kota ini karena sudah tidak aman, tetapi aku tidak bisa pergi tanpa informasi tentang pangeran Tristan." Jelas Jenkins. "Begitu ya, kalau begitu jelas sekali alasan Warzerten mengambil ahli kota ini, karena banyaknya informasi disini." Ujar Shannon. "Ini buruk, bisa jadi warga yang di culik di interogasi untuk di dapatkan informasi dari mereka." Ujar Tristan. "Tetapi pasti yang mereka cari adalah informasi mengenai kuil, pendeta agung, kekaisaran, dan orang yang di takdirkan, aku dan Eloise." Ujar Shannon. "Baiklah kalau begitu, ayo kita ke rumah b****l yang di maksud Mark." Ajak Shannon. "Sekarang? Kita sebaiknya tunggu bala bantuan, aku takut nanti kita malah di jebak, secara kita sekarang hanya bertiga." Ujar Tristan. "Ya kau memang benar, tapi setidaknya kita melihat sedikit bagaimana kondisi rumah bor–" Kalimat Shannon berhenti, kala Tristan langsung mengayunkan tombak nya untuk mematahkan anak panah yang mengarah ke Shannon. Crash! Gadis itu sangat terkejut lalu mencari sumber anak panah itu, tiba-tiba saja muncul sekelompok orang-orang berjubah hitam yang melompat ke arah mereka dan mengepung mereka. Shannon berdecih, dan mengeluarkan pedangnya dari sarungnya, gadis itu memposisikan kuda-kuda nya. "Warzerten." Ujar Tristan, Shannon mengangguk, lalu mereka bergerak ke posisi masing-masing dan melindungi Jenkins. "Pangeran? Nona Shannon?" Jenkins terkejut. "Jangan banyak bergerak, atau kau akan di bunuh mereka." Ujar Tristan, pria itu mengangguk cepat. "Bagaimana ini Shannon, kita kalah jumlah, dan parahnya lagi, mereka penyihir iblis." Ujar Tristan melirik gadis itu, Shannon menyunggingkan senyuman. "Sudah lama aku ingin mencobanya, maka ini menjadi bahan yang bagus." Ucap Shannon, membuat Tristan mengangkat alisnya bingung, lalu gadis itu mengangkat pedangnya ke langit. "Atas nama Omnia, berkahi pedang ini, agar ku hukum para pendosa dengan cahaya mu, kekuatan sejati pedang suci, tarian ribuan pedang." Shannon mengucapkan mantra pengaktifan salah satu kekuatan sejati pedang suci nya, muncul ribuan pedang yang tidak terhitung di sekitar Shannon, membuat Tristan dan Jenkins terkejut. Crang! Pedang itu mengarah kepada orang-orang berjubah hitam yang mengepung mereka, Shannon menarik sudut bibirnya dan menyeringai, "SERANG!" Whussh! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Semua pedang suci itu dengan cepat melesat menancapkan bilahnya pada tubuh musuh, saking cepatnya, orang-orang itu tidak dapat menahan serangan Shannon, dan akhirnya mereka tertancap pedang-pedang itu. Setelah seluruh musuh terbaring karena tertancap pedang itu, Shannon mengayunkan pedangnya lalu memasukkan pedang suci itu ke sarungnya. Cring! CRACK! CRASH! Tubuh mereka pecah karena kekuatan Risilv yang terkandung dalam pedang itu, lalu perlahan pedang-pedang itu menghilang, karena musuh berhasil di kalahkan. "Hebat sekali, Shannon." Seru Tristan bersemangat, Shannon tersenyum. "Sudah ku duga, Risilv tidak terpengaruh dengan efek realisasi sihir mereka, karena mereka menggunakan sihir iblis." Ujar Shannon. "Apa itu artinya kita masih bisa menghubungi ksatria lain dengan Vocorgi pemanggil?" Tanya Tristan, Shannon menggeleng. "Sayang nya Risilv tidak memiliki kegunaan seperti itu, dan juga aku tidak bisa menggunakan banyak sihir Risilv karena kekuatan ku masih terbatas." Ujar Shannon, Tristan mendengus kecewa. Tiba-tiba saja monster Anigi muncul, mahkluk itu berbentuk singa berkepala dua, dan bulunya berwarna hitam, sudah jelas Anigi ini di ciptakan dengan sihir iblis. Monster itu hendak menyerang Shannon, tetapi Tristan berhasil membunuh singa itu dengan satu kali tusukan tombaknya. Tetapi singa itu tiba-tiba saja memuntahkan cairan hitam dan hendak mengenai wajah tristan, tetapi dengan cepat, shannon membuat pelindung sehingga cairan itu tidak mengenai pria bermata ungu itu. Lalu singa itu mati, dan tubuhnya hancur berubah menjadi butiran pasir, kemudian angin menerbangkan pasir itu begitu saja. "Cairan apa itu tadi?" Tristan terkejut. "Yang pasti itu adalah kutukan." Ujar Shannon. Lalu mereka sayup-sayup mendengar suara sekelompok orang yang menaiki kuda, "Pasti itu bala bantuan, syukurlah...eh??" Tristan terkejut. "Kenapa?" Tanya Shannon. "Pangeran Raven?" Ujar Tristan masih tidak lepas dari pandangannya, shannon memutar tubuh nya dan menatap apa yang di tatap Tristan dan benar saja, di sana bala bantuan datang tidak terlalu banyak, hanya saja yang datang merupakan orang penting semua. Raven, Harley, Feitan, Eloise, Reithel, bahkan Dominic juga datang, dan salah satunya ksatria yang mereka utus untuk melapor, Mark Luciano. "Astaga kenapa mereka yang datang?? Dan seharusnya Feitan dan Harley saja bukan? Kau menyuruh Mark melapor bahaya tingkat apa??" Tanya shannon. "Aku bilang tingkat A kok! Sungguh, aku juga sangat terkejut kenapa bala bantuan yang datang adalah tingkat SS." Ujar Tristan. "Seorang pangeran lain?" Gumam Jenkins yang berdiri di belakang Tristan. Ketika mereka sudah dekat, Raven dan Eloise langsung turun dari kuda mereka dan berlari menuju Shannon. "Apa kau baik-baik saja?? Apa kau terluka?? Apa kau terkena kutukan?? Katakan padaku apa yang kau rasakan!" Raven dan Eloise bertanya bersamaan dengan ekspresi sangat berbeda, Raven dengan ekspresi marah dan Eloise dengan ekspresi panik dan hampir menangis. "Tolong tenangkan diri kalian, aku baik-baik saja sungguh." Ujar Shannon sembari mencoba menenangkan kedua nya. Raven melihat setiap sudut dan sisi pada tubuh Shannon, tidak ada satupun luka, tapi tetap saja pria itu khawatir. "Tristan, apa tadi sempat ada pertarungan terjadi?" Tanya Raven, Tristan mengangguk. "Iya ada, sekelompok bawahan Warzerten menyerang kami dan seekor Anigi singa, tapi kami berhasil mengalahkan nya." Ujar Tristan, Raven Menatap Shannon, gadis itu tersenyum sembari menurunkan alis. "Pangeran kau terlalu berlebihan, sungguh aku baik-baik saja, lagipula aku tidak sendiri kan." Ujar Shannon, Raven mendengus pelan, tangan Eloise Bergerak menggenggam tangan Shannon. "Apa kau yakin? Tidak ada luka sedikit pun? Aku bisa menyembuhkan mu dengan sihir ku." Ujar Eloise, Shannon menggeleng dengan senyum. "Aku baik-baik saja, jangan khawatir, omong-omong soal sihir, Dominic." Shannon memanggil pria bermanik tosca itu, ia menatap tanya Shannon. "Aku yakin kau merasakan nya, kalau kita sudah berada di realisasi sihir orang lain." Ujar Shannon. "Ya aku memang tahu, tapi jika kau memintaku untuk menghancurkan realisasi sihir dulu maka aku tidak bisa, mumpung ini masih daerah musuh, kita manfaatkan kesempatan baik ini untuk menyelidiki apa yang mereka lakukan disini, tapi setidaknya efek realisasi sihir ini bisa di kurangi dengan penyucian." Jelas Dominic. "Penyucian?" Tanya Shannon. "Dengan penyucian, efek buruk realisasi sihir iblis bisa berkurang, jika di realisasi sihir ini kita tidak bisa menggunakan sihir, maka dengan penyucian kita bisa melakukan nya, hanya saja tetap efek sihir yang kita keluarkan tidak akan sebesar biasanya." Eloise, Shannon mengangguk paham. "Omong-omong dia ini siapa?" Tanya Harley, mata nya mengarah pada Jenkins yang berdiri di belakang Tristan. "Dia salah satu warga sini kan?" Ujar Reithel dengan nada tanya, Jenkins menggeleng. "Perkenalkan nama ku Jenkins Abelfreyja, Pelayan pribadi pangeran Tristan dari kerjaan Etheia, keberadaan ku disini adalah untuk mencari informasi Pangeran Tristan, yang merupakan orang yang kucari selama 10 tahun, dan sekarang aku menemukan nya." Jelas Jenkins membuat Tristan terkejut bukan main begitu juga semua yang disitu. "Apa yang kau katakan!" Seru Tristan, semuanya sudah terlanjur mendengar dan terkejut. "Yang kau maksud Tristan ini?" Tanya Eloise sembari menunjuk Tristan, Jenkins mengangguk mantap dan Tristan semakin panik. "Hei Tristan, apa maksudnya ini? Pangeran? Kau adalah pangeran? Bahkan dari kerajaan Etheia? Bukankah itu merupakan kampung halaman putri Charol? Bagaimana bisa?" Tanya Reithel, Tristan terdiam dan bingung harus menjawab apa. "Sudah-sudah, kita bicarakan ini nanti, pertama kita selidiki dulu kota ini untuk mendapatkan informasi rencana Warzerten." Ujar Shannon menengahi. "Pertama-tama, kita perlu pembersihan sih." Ujar Dominic menatap sekeliling, kemudian pria itu mengibas-ngibas tangannya di depan hidungnya. "Bau sihir iblis sangat menyengat disini." Shannon terdiam sembari menghirup udara di sana, tapi gadis itu tidak mencium bau yang di maksud selain bau parfum Raven dan Eloise karena mereka berdiri di dekat Shannon. Gadis itu memegang hidung nya, dan menurunkan alis. 'Apa hidung ku yang bermasalah?' "Aku mulai penyucian nya." Dominic mengeluarkan tongkat sihir nya yang berupa pedang panjang. Dominic mengangkat pedangnya ke langit, lalu muncul lingkar sihir besar di tanah, semilir angin meniup mengangkat helai-helai rambut orang-orang di sana, perlahan suasana kota berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya, Dominic mengeluarkan banyak sihir Risilv nya untuk menghapus realisasi sihir disini. Setelah selesai, kepala Dominic sedikit pening, pria itu menancapkan pedangnya ke tanah, dan menahan bobot tubuhnya pada pedang itu, peluh keluar dari dahinya, Reithel berjalan mendekat pada dominic dan memegang pundak pria itu. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Reithel, pria itu mendengus pelan dan mengangguk, lalu ia kembali menegakkan tubuhnya dan mencabut pedangnya dari tanah. "Efek buruk realisasi sihir ini sudah berkurang, Sementara aku tidak bisa mengeluarkan sihir berat yang memerlukan Risilv, kekuatan sihirku sudah habis, tapi aku masih bisa bertarung." Ujar Dominic. "Disini ada aku dan Eloise, jadi tidak perlu khawatir Dominic." Ujar Reithel. "Baiklah ayo kita telusuri, apa sebaiknya kita berpencar, disini kita ada 10 orang, dan penyihir yang masih dalam kondisi prima ada 2, bagaimana?" Tanya Dominica. "Apa kau juga menghitung pria ini?" Tanya Reithel sembari menunjuk Jenkins, Dominic mengedikkan bahu. "Dia pasti bisa berguna nanti, tidak masalahkan, umm Abelfreyja?" Ujar Dominic. "Tentu saja, dan cukup Jenkins saja." Balas pria itu, Tristan mendengus pendek. "Baiklah, ku bagi, Eloise, Mark, Feitan, Tristan, dan Jenkins lalu Aku, Reithel, Shannon, Raven dan Harley. Ini sudah seimbang kan?" Tanya Dominica, semua nya mengangguk. "Baiklah, Dominic ayo kita ke rumah b****l di kota ini." Ujar Shannon, Tristan mengangguk. "Kalau begitu kita mencari warga lain yang mungkin masih ada." Balas Tristan, Shannon mengangguk. "Mark, dimana rumah b****l itu berada?" Tanya Shannon. "Di distrik C Rockoak, mansion dengan cat berwarna merah tua." Ucap Mark. "Baiklah ayo berpencar sekarang." Ujar Dominic, kemudian semua pergi ke arah mereka masing-masing, tim Tristan pergi ke bagian kiri kota mencari warga yang mungkin masih tinggal di kota, sedangkan tim Shannon pergi ke rumah b****l yang di maksud Mark untuk memeriksa, karena tempat itu paling mencurigakan. "Shannon, kenapa rumah b****l? Apa ada sesuatu di sana?" Tanya Harley. "Mark mengatakan padaku, kalau ksatria yang seharusnya bertugas disini semua nya dalam bahaya, dan mereka ada di rumah b****l itu, seseorang telah mencekoki mereka sesuatu sehingga mereka bersikap aneh, dan tidak dapat melakukan tugas nya, banyak keanehan yang terjadi di kota ini, dan aku yakin semuanya berkaitan dengan Warzerten." Jelas Shannon. 'Yang di katakan Mark itu sama seperti ciri-ciri orang yang mengkonsumsi n*****a, apa itu sejenis dengan obat itu?' Shannon berpikir, lalu tidak lama perjalanan mereka, akhirnya mereka tiba di area distrik C yang di maksud Mark. "Seperti nya itu rumah b****l yang di maksud, lihat mansion berwarna merah tua." Tunjuk Dominic, Shannon melihatnya dan menurunkan alisnya, perasaan buruk terasa dalam dirinya. "Bau nya, menyengat sekali." Ujar Reithel sembari menutup hidung. "Bau apa?" Tanya Raven, pria bermanik Langit itu mengerutkan alisnya. "Tidak salah lagi, ini bau obat yang di buat dari bunga Opium." Ujar Reithel. "Bukankah itu obat terlarang, dan hanya boleh digunakan untuk medis, lagipula obat itu sangat sulit di cari." Ujar Harley. "Tapi ini berkaitan dengan Warzerten, tidak aneh jika mereka bisa mendapatkan obat seperti itu secara ilegal." Ujar Dominic. "Pasti ksatria itu di paksa mengkonsumsi itu, jika dosisnya tinggi mereka bisa mati." Ujar Harley. "Kalau begitu ayo kita menolong mereka sekarang." Ujar Shannon, Raven menahan pundak Shannon, gadis itu menoleh tanya. "Kita butuh sesuatu untuk menutupi indra penciuman kita, karena jika menghirup o***m itu, maka kita juga kena efeknya." Ujar Raven. "Tidak masalah, Reithel kau bisa melakukannya kan?" Tanya Dominic, pria itu mengangguk lalu ia menjentikkan jarinya, muncul tanda sihir Risilv di mata kanan Reithel dan lingkar sihir muncul di masing-masing atas kepala mereka. Shannon terdiam, kemudian ia merasa bingung karena tidak terjadi apapun, "umm Reithel?" Ujar nya dengan nada tanya. "Coba kau cium sesuatu yang harum." Ujar Reithel, pria itu bermaksud agar shannon mencium bau tubuhnya sendiri, tapi gadis itu malah mendekati Raven dan mencium aroma parfum yang Raven kenakan, melihat Shannon melakukan itu membuat pria itu sangat terkejut. "Aku tidak bisa mencium bau apapun, apakah ini maksud sihirnya?" tanya Shannon, Reithel mengangguk. "Walau kita tidak bisa mencium bau apapun tapi kita masih bisa bernafas, dengan begini o***m tidak akan berefek pada kita." Jelas pria itu, Shannon mengangguk mengerti. "Baiklah, kalau begitu, ayo!" - - - To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN