Chapter 23 [Kekacauan Kota Rockoak]

2304 Kata
Happy reading! - - - Beberapa hari setelah pernikahan Eloise dan Reithel, kini suasana kekaisaran sedang hangat-hangatnya membahas pemilihan putra mahkota yang baru. Karena kaisar Gellius sudah mengeluarkan pengajuan pemungutan suara, yang dimana ia akan meminta rakyat juga untuk ikut terlibat dalam pemilihan. Biasanya hanya bangsawan lah yang ikut, tetapi kaisar Gellius menginginkan kalau kaisar selanjutnya adalah orang yang dekat dengan rakyat, mau itu kalangan bawah ataupun atas seperti bangsawan dan lainnya. Karena itu, pangeran Gionard mulai gencar melakukan kampanye, agar rakyat memilihnya. Tapi tidak untuk Raven. Stap! Sret-sret! Stap! Aku menatap Raven yang tengah berkutat dengan dokumen nya sebagai petinggi ksatria, aku melihat tumpukan dokumen tugas yang di berikan kaisar, ia mengatakan kalau dia sudah menyelesaikan nya. "Ini, berikan pada Harley nanti biar dia yang urus." Ujar Raven sembari memberikan aku sebuah dokumen yang ku mintai stampel dan tanda tangannya. Aku menerima dokumen itu lalu menatap nya dengan alis menurun. "Apa pangeran, tidak melakukan kampanye?" Tanya ku, manik zamrud nya menatap ku, kami terdiam satu sama lain saling bertatapan. "Tidak, aku hanya akan melakukan tugas ku saja, dan dokumen dari ayahku jika memang di perlukan." Ujar nya, aku mendengus pelan, karena sedikit kecewa dengan jawabannya. Aku hendak membungkuk hormat untuk pamit, tapi Raven masih menatap ku, aku tidak mengerti dengan sorot matanya. "Apa ada lagi yang perlu aku lakukan pangeran?" Tanya ku bermaksud pada tatapannya, pria itu terdiam sebentar. "Sedikit aneh, aku penasaran sejak dulu, kenapa kau tidak begitu segan padaku?" Tanya Raven, aku mengerutkan alisku bingung. 'Bukankah aku sudah sangat segan dan menghormati nya?? Apa wajah ku terlihat seperti tidak sopan padanya??' Aku membungkuk hormat lagi, "Mohon maafkan aku pangeran jika cara ku memandang pangeran terlihat tidak sopan dan menghormati pangeran." Ujar ku. "Bukan itu maksudku." Balas pangeran, aku menatap tanya padanya. "Kenapa, kau menatap ku seakan aku ini adalah manusia biasa?" Tanya pria itu, membuatku semakin bingung. 'Bukankah dia memang manusia biasa? Ya maksud ku, dia memang punya sihir dan segala hal yang menurut kurang masuk akal tapi tidak untuk di dunia ini, jadi tentu saja wajar kali jika aku menatapnya seperti itu?' Aku berpikir panjang, lalu aku menatapnya kembali, "Pangeran....memang manusia biasa kan?" Ujar ku, Raven mengangkat kedua alisnya. "Maksud, kau tahu aku bukan Shannon yang sebenarnya jadi sudah pasti cara pandang ku mungkin tidak akan sama dengannya, dia lebih segan dan menghargai mu, tapi pribadi aku lebih suka memandang orang dengan sama, karena kita sama-sama manusia, pangeran tidak sesempurna itu untuk aku memandang mu sebagai dewa yang ku hormati, maaf jika itu lancang." Jelasku panjang. "Apa maksudmu memandang yang sama?" Tanya pria itu lagi seakan masih kurang memahami kalimat ku, jujur saja aku mulai tidak nyaman dan lelah di tanya seperti ini. "Memandang yang sama, tentu saja seperti kau dengan orang lain, walau kalian memiliki harta yang berbeda, dan gelar yang berbeda jauh, tetapi kau dengan orang itu memiliki hak yang sama, yaitu hidup untuk diri sendiri, itu maksud ku, ah apakah itu menentang hukum di kekaisaran ini?" Tanya ku, pangeran Raven terdiam. "Memandang yang sama...tanpa melihat harta dan gelar masing-masing...." Dia mengulang inti dari ucapan ku, aku terdiam melihatnya. "Baiklah kau boleh kembali." Ujar Raven tiba-tiba, aku menurunkan alisku bingung tapi aku bergerak mengangguk dan berjalan pergi menuju pintu. "Aku permisi pangeran." Ujar ku lalu meninggalkan nya, dan berjalan menuju ruang kerja bersama ksatria lain, di sana harley tampak selesai dengan pekerjaan. "Harley sudah selesai?" Tanya ku, pria itu mengangguk dan tersenyum. "Bagaimana dengan mu?" Tanya pria itu, aku menatap ke arah meja ku, lalu melihat dokumen yang ku pegang. "Pekerjaan ku sudah selesai setelah merapihkan ini, ah hari ini jadwal pemeriksaan ku ya? Shift ku dengan siapa?" Tanya ku pada Harley. Pria itu menatap ke arah jadwal yang terpajang di dinding, jadwal itu sudah di buat sekitar dua minggu yang lalu, dan aku sudah mulai ikut jaga ke beberapa kota terdekat di ibu kota Rayash, dan karena pekerjaan itu, aku mulai mengetahui banyak hal mengenai kekaisaran Roxane. Memang sesuatu tidak ada seluruhnya sempurna termasuk kekaisaran ini. Aku sempat berpikir kalau kekaisaran ini adalah negara yang damai dan tentram rakyatnya, tetapi ternyata masih banyak masalah seperti ekonomi, pengangguran dan kriminalitas seperti di dunia ku, tetapi kebanyakan faktor dari semua itu karena status sosial yang mempersulit hidup rakyat. Aku berharap jika sistem negara ini lebih republik dan menciptakan hak yang sama rata, agar rakyatnya sejahtera, tetapi semua itu sulit. Aku bukan manusia yang berasal dari dunia ini. Aku tidak berhak banyak ikut campur. "Kau akan pergi bersama Tristan, pria itu pasti sudah menunggu mu di gerbang." Ujar Harley. "Kalau begitu aku harus cepat, terima kasih Harley." Ucapku. Kemudian aku bergerak merapihkan dokumen ku, lalu merapihkan pakaian ku sedikit dan mengambil jubah ku, setelah selesai, aku berjalan menuju pintu keluar. "Baiklah Harley aku pergi dulu." Ujar ku, pria itu mengangguk dan melambaikan tangannya. "Hati-hati di jalan." ⬛⚪⬛ Tristan berada di gerbang bersama kuda nya dan kuda Shannon, pria itu asik mengelus kudanya, kemudian ia merasakan seseorang yang berlari ke arahnya, pria itu menoleh dan tampak Shannon yang tergesa-gesa berlari ke arahnya, Tristan tersenyum, dan Shannon sampai di dekatnya dengan nafas terengah-engah. "Kerja bagus Shannon, tapi santai saja, aku tetap menunggu mu kok." Ujar tristan. "Maaf....hahh....aku.....lama...." Ucap Shannon yang bersusah payah mengatur nafasnya, Tristan tertawa pelan lalu mengelus kepala Shannon. "Sudah-sudah, yuk kita kerjakan pekerjaan kita selanjutnya." Ujarnya, Shannon mengangguk lalu berjalan mendekat ke arah kudanya, Tristan bergerak menaiki kudanya. "Kali ini kita pemeriksaan dimana?" Tanya Shannon, sembari menaiki kudanya. "Di perbatasan, ibu kota Rayash bagian selatan, dan kota Rockoak, aku mendengar di sana semakin banyak kriminalitas, kita diminta pangeran Raven untuk memeriksa di sana dan membuat laporan." Jelas Tristan dan mulai berjalan keluar istana ksatria bersama kudanya diikuti oleh Shannon di sampingnya. "Bukankah kota itu memang di kenal sebagai daerah yang cukup buruk dari kekaisaran Roxane? Aku penasaran kenapa kaisar tidak banyak melakukan sesuatu di kota sana." Ujar Shannon. "Itu karena bangsawan yang memimpin di sana sedang mengalami masalah, dan kudengar dia sedang di adili oleh dewan petinggi bangsawan, aku tidak tahu kasus lanjutannya." Jelas Tristan, Shannon ber-oh ria. Tristan mengayunkan tali kekang kudanya begitu juga dengan Shannon, lalu pergi melaju lebih cepat. ⬛⚪⬛ Mereka berdua sampai, dan di perbatasan di sana tidak ada ksatria yang berjaga, membuat mereka bingung. Zwungg Shannon merasakan hal aneh ketika masuk perbatasan, gadis itu menatap sekitar, tapi tak ada satupun ksatria yang terlihat. "Aneh sekali, seharusnya mereka berjaga di sini kan? kenapa tidak ada sama sekali?" Tanya Shannon, Tristan mengerutkan alis, lalu mereka pergi menuju pos jaga ksatria di sana, akhirnya mereka menemukan satu ksatria di sana yang tengah berjaga. Melihat kedatangan Shannon dan Tristan, pria itu tampak panik, dan melihat sekitar, menyadari dirinya sendirian, ia hendak berlari keluar dari pos nya menuju kota Rockoak, tetapi Tristan menahannya dengan melempar tombak nya membuat ksatria itu berhenti berlari dan terjatuh. "Huwaa!" Teriak pria itu terkejut, Tristan dan Shannon berhasil menahan pria itu, ketika sudah dekat, mereka langsung turun dari kuda mereka, dan berjalan ke arah pria itu. Ksatria itu hendak akan kabur, "Aku akan memotong kaki mu jika kau bergerak, beraninya kau menghindari atasan." Tegas Tristan, ksatria itu seketika ketakutan dan gemetar di tempat. Tristan menarik tangan pria itu agar dia berdiri, lalu Menatap nya tajam. "Apa yang terjadi disini? Mengapa tidak ada yang berjaga lagi selain kau?" Tanya Tristan. "A-ah i-itu sa-saya be-be-benar tidak tahu apapun." Ujar ksatria itu gemetar. "Bukan itu jawabannya." Tegas Tristan dengan sorot menakutkan membuat ksatria itu semakin panik, Shannon mendengus pelan, lalu memegang tangan Tristan yang tengah mencengkeram lengan ksatria itu. "Jangan begitu, kau harus lebih tenang, ini tidak seperti dirimu yang biasanya." Ujar Shannon, pria itu terdiam lalu mendengus pelan dan melepas cengkeraman dari lengan pria itu, lalu ia terjatuh duduk di tanah. Shannon bergerak mendekat ke arah ksatria itu, lalu ia berjengit terkejut, dan ketakutan. "Kami tidak akan melukai mu jika kau bicara jujur dengan apa yang terjadi disini." Ujar Shannon, ksatria itu nampak terdiam masih dengan sorot ketakutan, ia ingin bicara tapi tidak memiliki keberanian. 'Sepertinya dia diancam, karena kelihatan nya dia adalah ksatria paling lemah.' "Aku berjanji akan memastikan keselamatan mu, jadi katakan pada kami sejujurnya, kau tahu aku kan?" Tanya Shannon, pria itu terdiam dan wajah nya tampak lebih tenang, lalu ia mengangguk. "Ka-kapten Shafiria." Ucapnya, Shannon tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, beritahu nama mu dan tolong jelaskan pada kami apa yang terjadi?" Tanya Shannon, pria itu terdiam sebentar dan mendengus pelan. "Nama ku, Mark Luciano, ksatria pasukan 5, tingkat perunggu. Para ksatria lain sedang berada di rumah b****l kota Rockoak, beberapa bulan yang lalu ada sekelompok orang datang ke kota itu, mereka berkata kalau mereka ingin berdagang dan memiliki sertifikat dagang dari kekaisaran, karena mereka memang membawa bukti jadi kami membiarkannya masuk, lalu suatu hari tiba-tiba saja beberapa ksatria mulai berkurang yang berjaga di sini, termasuk teman terdekat ku. Karena teman ku sudah lama tidak muncul untuk melakukan tugas jadi aku memutuskan untuk mencarinya, lalu aku menemukan nya di rumah b****l bersama ksatria lain, dan ia tampak aneh sekali, seperti mabuk tetapi ini lebih parah, fisiknya juga tampak sakit, dan dia berhalusinasi." Jelas Mark. "Apa mereka mengonsumsi sesuatu selain minuman alkohol?" Tanya Shannon, pria itu mengangguk. "Itu seperti obat bubuk, dan seperti nya juga asap ruangan disana, baunya sangat aneh dan membuatku pusing, aku tidak kuat jadi aku memutuskan untuk pergi dari sana tanpa bisa menyelamatkan temanku. Beberapa ksatria yang masih sadar berusaha menghubungi ksatria pusat, tetapi entah bagaimana alat komunikasi kami tidak bisa di pakai." Mark merogoh sakunya dan menunjukkan batu kristal yang merupakan Vocorgi penghubung milik ksatria. Shannon mengambil nya dan memeriksa nya. Tidak ada yang salah dengan vocorgi itu, membuat Shannon bingung. "Lalu kenapa kalian tidak pergi saja ke pusat ksatria langsung?" Tanya Tristan. "Kuda-kuda kami mati semua, entah bagaimana, kami tidak bisa ke sana dengan jalan kaki karena jaraknya yang sangat jauh dan mungkin bisa mengancam nyawa kami." Ujar ksatria itu, Tristan terdiam lalu menatap ke arah Shannon. "Apa kau menemukan sesuatu?" Tanya Tristan, Shannon bangkit berdiri lalu melihat sekitar, gadis itu merogoh sakunya dan mengambil vocorgi pemanggil, mata Shannon menyipit menatap benda itu. "Tristan." Panggil Shannon, pria itu menoleh tanya. "Coba kau hubungi Harley dengan Vocorgi pemanggil mu." Ucap Shannon, pria itu menurut dan mencoba menghubungi Harley, tetapi tidak ada respon sama sekali, membuat Tristan terkejut. "Apa?? Aneh sekali?? Padahal tadi pagi sempat ku pakai." Ujar tristan, "Apa ada sesuatu?" Tanya Tristan pada Shannon. "Ketika kita pergi ke sini, dan hampir sampai perbatasan, aku merasa Melewati sesuatu, dan suasana nya berubah total, disini menjadi lebih gelap dan suram, seakan kota yang sudah tidak terurus lagi." Ujar Shannon. "Dan juga di sini kita tidak bisa menggunakan sihir, tampaknya seorang penyihir ada yang membuat realisasi sihir yang membuat kita tidak bisa menggunakan sihir di daerah ini." Lanjut Shannon, kemudian ia menatap Tristan dengan serius. "Aku yakin ini pasti perbuatan Warzerten!" Seru Shannon, mata Tristan terbelalak. "Sialan sekte sesat itu." Umpat Tristan, kemudian ia mendengus pelan, lalu ia berjalan mendekat ke arah ksatria itu. "Kau, pergilah ke istana ksatria, pakailah kuda salah satu di antara kami," Tristan merogoh saku nya, lalu mengeluarkan sebuah botol kecil seukuran jari yang diikat tali, dengan pisau kecil di pahanya, pria itu menyayat tangannya dan meneteskan darah itu ke botol kecil itu, setelah penuh ia menutup botol itu dan memberikannya pada ksatria itu. "Langsung laporkan pada kapten Versalion dan kapten Gouw, bahaya tingkat A, segera kirim bala bantuan." Titah Tristan, ksatria itu mengangguk cepat. "Gunakan saja kuda ku, karena larinya lebih cepat dan ringan." Ujar Shannon, ksatria itu mengangguk lalu segera berlari menuju kuda Shannon dan menaiki nya. "Tolong tunggu sini dan bertahanlah kapten, saya akan secepatnya kembali!" Seru ksatria itu dan langsung pergi dengan cepat menuju istana ksatria. Tristan berjalan ke arah tombaknya yang tertancap di tanah, lalu menarik nya dan menyimpan kembali senjata itu di belakang tubuhnya. "Ayo kita periksa ke dalam, apa kau mau naik kuda?" Tanya Tristan, Shannon menggeleng. "Akan lebih baik kita berjalan dengan begitu kita bisa lebih mudah memeriksa situasi." Ujar Shannon, Tristan mengangguk, lalu mereka berjalan memasuki kota. Mereka mencoba menyusuri distrik dagang, tapi di sana sepi sekali dan tidak ada seorang pun yang berjualan, bahkan satu manusia pun tidak terlihat mereka. "Apa yang terjadi pada penduduk kota?" Tanya Shannon, Tristan mendatangi salah satu rumah dagang, lalu mengetuk pintu. "Permisi! Ksatria Roxane!" Seru Tristan, tapi tidak ada respon sama sekali. "Permisi!" Seru tristan lagi, tapi sama saja, tidak ada respon, pria itu mencoba membuka pintunya tapi terkunci, Tristan mengerutkan alisnya, lalu ia bergerak mundur sedikit, dan. BRAK! Tristan menendang pintu itu hingga terbuka dan pintu itu jatuh dari engselnya. "Apa tidak ada cara lain?" Tanya Shannon menurunkan alis, Tristan menunjuk pintu yang telah di tendang nya. "Tadi dikunci tahu." Ujar Tristan, Shannon mendengus pelan lalu berjalan masuk ke rumah itu bersama Tristan. "Halo! Permisi! Apa ada orang disini?!" Seru Tristan dan suara nya menggema di dalam rumah itu. "Pasti rumah ini sudah lama di tinggalkan, terlihat dari betapa kotor nya rumah ini dan sarang laba-laba ada dimana-mana." Ujar Shannon, Tristan mendengus, kemudian kedua nya keluar dari rumah itu dan kembali melihat sekitar tempat itu, dan sangat sepi. "Kenapa tidak ada orang ya? Apa jangan-jangan Warzerten menculik mereka?" Tanya Tristan. "Itu sangat tidak bagus." Ucap Shannon sembari mengerutkan alis. "Pangeran Tristan?" Tiba-tiba saja mereka mendengar suara seseorang, Shannon dan Tristan menoleh terkejut dengan sorot tanya. Seorang pria sekitar umur 40 an, rambut hitam nya ada sedikit uban yang menunjukkan usianya, pria itu mengenakan baju yang lusuh, dan penampilan nya mirip sekali dengan gelandangan. Tetapi yang mengejutkan bukanlah itu. "Tadi dia bilang apa? Pangeran Tristan?" Shannon terkejut, lalu menatap Tristan yang juga terkejut. "Ti-tidak mungkin, Jenkins?" Tanya Tristan, pria itu menyunggingkan senyuman lebar lalu berlari menuju tristan dan memeluk pria jangkung itu. "Pangeran tristan Frederick Etheia! Akhirnya aku menemukan mu!" Seru pria itu, membuat Shannon benar-benar terkejut karena pendengaran nya tidak salah. "Pangeran? Tristan kau....seorang pangeran??" - - - To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN