Happy reading!
-
-
-
Melihat kedatangan Reithel, Eloise mengukir senyum senang di wajahnya, membuat Reithel sedikit terkejut.
"Syukurlah kau sudah pulang, aku benar-benar mengkhawatirkan mu." Ujar Eloise, jantung Reithel berdetak cepat, membuat pria itu sulit untuk tenang.
"I-iya terima kasih..." Balas Reithel, sembari menggosok tengkuknya, Eloise membuka pintu lebih lebar.
"Kau mau masuk kan, ayo silahkan." Ujar Eloise, Reithel mengangguk, lalu melangkah masuk ke dalam kamar Eloise, setelah pria itu masuk, Eloise menutup pintu, dan berjalan mengarah sebuah meja di depan sofa.
"Apa kau mau teh? Aku bisa membuatkan mu teh chamomile." Tawar Eloise, Reithel hanya mengangguk kaku sembari duduk di sofa, sedangkan Eloise bergerak membuatkan teh lagi, satu cangkir baru untuk nya, lalu untuk Reithel.
"Jadi bagaimana hari mu?" Tanya Eloise, Reithel terdiam kemudian mengangguk.
"Ya...baik..." Ujarnya, Eloise tersenyum.
"Syukurlah, tetapi kenapa kau begitu? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Eloise dengan sorot khawatir, Reithel terdiam, pria itu ingin mengatakan apa yang ia katakan, tapi sangat sulit.
"E-Eloise..." Sebut Reithel, gadis itu mengangkat kedua alisnya menatap tanya pria itu, Reithel menghela nafas, mencoba untuk tenang dan bicara.
"Apa kau...masih...membenci ku?" Tanya Reithel, seketika membuat Eloise memasang ekspresi terkejut, begitu juga Reithel sendiri, pria itu langsung menutup mulutnya, dan menatap terbelalak ke arah lain.
'Apa yang kau katakan bodoh!'
Umpat Reithel dalam hatinya, tetapi seketika pria itu merasakan kehangatan, tiba-tiba saja Eloise bergerak memeluknya, membuat pria itu terkejut bukan main, "E..loise?"
Gadis itu mengusap rambut Reithel dengan lembut, seketika membuat pria itu merasa tenang, "Bukankah sudah kukatakan, pada saat itu, kita tidak ada yang salah, aku maupun dirimu, sama sekali tidak ada yang salah." Ujar Eloise.
"Itu hanya kesalahpahaman, Reithel." Tambah Eloise, pria itu menurunkan alisnya, kemudian tangannya bergerak memegang lengan Eloise.
"Tapi, waktu itu, tidak, sejak awal bahkan di masa ini, aku bersikap buruk pada mu, aku baru berubah ketika kau pergi dari ku, bukankah itu brengsek..." Ujar Reithel, Eloise semakin mengeratkan pelukannya, dan mendengus pelan.
"Setiap orang melakukan kesalahan di awal, tapi bagiku yang kau lakukan itu bukan kesalahan, itu hanya pembelajaran, kau tidak perlu merasa bersalah, bukankah aku juga melakukan hal yang sama? Ketika aku pergi, aku selalu berpikiran buruk mengenai dirimu." Ujar Eloise.
"Maka dari itu, mari kita lupakan itu, dan menjalani hubungan yang baik sekarang, ya?" Ucap Eloise, mata Reithel membesar, lalu tangan pria itu bergerak, dan memeluk pinggang ramping Eloise.
"Aku ingin hidup bersama mu selamanya, Eloise..." Ujar Reithel, Eloise mengangguk dan terus mengelus rambut Reithel.
"Aku tidak akan pergi, aku akan selalu disini Reithel, jangan khawatir." Ujar Eloise dengan senyum lembut, Reithel mendengus pelan, dan menarik nafas.
"Aku ingin memiliki mu sepenuhnya." Kalimat itu membuat Eloise terkejut, tiba-tiba jantung gadis itu berdegup kencang.
Eloise tidak berpikir banyak pada kalimat Reithel sebelumnya, tetapi ucapan Reithel yang ini, tentu saja membuat Eloise terkejut, karena makna nya sangat dalam.
Reithel melepas pelukan Eloise dengan lembut, tetapi tangannya tidak lepas dari pinggang Eloise, dan tangan gadis itu melingkar pada leher Reithel.
Eloise memandang turun menatap wajah Reithel, dan pria itu menatap ke atas mengarah pada wajah gadis itu, mata ruby Eloise bertemu dengan mata langit reithel.
Pria itu kembali menarik nafas, dan menatap Eloise dengan penuh keyakinan.
"Ayo menikah, Eloise."
Mata gadis itu terbelalak, pipi Eloise memerah.
"Maukah kau menikah dengan ku?"
Pertanyaan Reithel semakin membuat Eloise terkejut, gadis itu terdiam, kemudian pelan-pelan senyum merekah di wajahnya, mata gadis itu berkaca-kaca, ia merasa sangat bahagia.
"Iya."
⬛ Beberapa hari kemudian ⬛
Shannon berada di kamarnya, gadis itu menatap sebuah surat undangan, ia tersenyum senang, kemudian menaruh surat itu di meja dekat ranjangnya, dan gadis itu berbaring di ranjang dengan menatap ke langit-langit kamarnya.
"Kau tidak perlu khawatir Shannon, adik mu sudah bahagia, dan ada seseorang yang bersedia disisinya seumur hidupnya." Gumam gadis itu, lalu menutup matanya, masih dengan ulas senyum di wajah nya.
"Setidaknya kini kau bisa beristirahat dengan tenang sepenuhnya." Ujar nya, lalu ia membuka matanya lagi, dan menurunkan alisnya.
"Aku akan menuntaskan Warzerten sepenuhnya bersama yang lain." Ucap Shannon
⬛⚪⬛
Di sisi lain, Eloise menaruh salah satu dari 3 buket bunga anyelir putih yang ia pegang, di sebuah batu nisan, yang tertulis.
"Shannon Shafiria."
Eloise menatap sendu makam itu, alasan ia mendatangi makam ini, sepenuhnya untuk mengunjungi kakaknya, karena Shannon sekarang bukanlah kakaknya, melainkan sahabatnya.
"Kakak tidak perlu khawatir, beristirahat lah dengan tenang." Ujar Eloise, lalu bangkit berdiri, di belakangnya ada Reithel yang menunggu nya.
Pria itu tersenyum kala melihat Eloise menatapnya, gadis itu membalasnya dengan senyum yang sama.
"Selanjutnya makam orang tua mu?" Tanya Reithel sembari mengulurkan tangannya, gadis itu mengangguk.
"Master Dominic sudah mengantar ku kesana kemarin, jadi aku tahu dimana tempatnya." Ujar Eloise, Reithel mengangkat kedua alisnya.
"Kau sudah pernah kesana?" Tanya pria itu, Eloise mengangguk, lalu ia menatap Reithel.
"Kali ini aku ingin pergi ke sana bersama mu." Ujar nya sembari tersenyum, Reithel ikut tersenyum, lalu mengangguk.
Eloise kemudian menjentikkan jarinya, dan berteleportasi ke suatu tempat.
Reithel melihat sekitar, mereka berada di taman yang indah, dan Reithel tahu tempat apa ini.
"Ini salah satu bagian hutan Fleurland ya?" Tanya Reithel yang di balas anggukan oleh Eloise, membenarkan ucapan Reithel, gadis itu kemudian menuntun Reithel sembari menggandeng tangan pria itu.
Mereka menyusuri semak-semak berbunga, lalu sampai di ujung, reithel melihat tanah rerumputan yang tidak terlalu besar, di tengah nya terdapat tiga buah makam, dua di antaranya adalah milik orang tua Eloise dan Shannon.
Eloise menaruh sisa buket bunga anyelir putih yang di pegangnya tadi ke batu nisan ibu dan ayahnya, gadis itu kemudian berjongkok dan menatap batu nisan itu.
Tertulis di batu nisan.
Elisha Somnivera.
Shon Shafiria.
"Ibu, ayah, aku datang, dan kali ini aku datang bersama Reithel." Ucap Eloise, sembari menggandeng tangan Reithel, dan menyandarkan kepalanya ke pundak pria itu, sedangkan Reithel menyandarkan pipinya ke kepala Eloise, sesekali ia mencium kepala gadis yang akan menjadi istrinya nanti.
"Aku akan menikah, aku baik-baik saja, dan sudah bahagia, karena itu, beristirahat lah dengan tenang, tidak perlu mengkhawatirkan ku.
Dan aku ingin berterima kasih, walau kita belum pernah bersama sebagai keluarga, tapi aku tetap senang dan berterima kasih.
Berbahagialah bersama kakak di sana." Ucap Eloise.
"Aku berjanji akan melindungi dan mencintai Eloise seumur hidupku, beristirahat lah dengan tenang, tuan dan nyonya." Ujar Reithel.
Kemudian kedua insan itu bangkit berdiri, Eloise menatap satu batu nisan di samping orang tuanya.
"Ini adalah makam khusus, di buat oleh kaisar Gellius untuk orang-orang yang ia cintai dan hormati, juga makam yang di samping orang tua mu, adalah ibu dari Raven, beliau pernah mengatakan, kalau ia akan menyerahkan hak pengaturan makam ini ke Raven."
Eloise teringat dengan kalimat yang Dominic katakan ketika mengantarnya pertama kali ke sini.
Di batu nisan itu tertulis nama.
Dovelia Ravenna.
Reithel meraih tangan Eloise, gadis itu menoleh ke arah Reithel, pria itu tersenyum, dan Eloise membalasnya juga dengan senyum yang sama.
"Ayo kita pergi."
⬛⚪⬛
Akhirnya tiba.
Hari yang sangat di tunggu.
Shannon berjalan cepat menuju kamar Eloise, mansion Castillon kini sangat sibuk dengan banyak hal, bahkan banyak pelayan yang berjalan ke sana-sini untuk mengurus banyak hal, begitu juga sebastian yang tampak sibuk.
Shannon sampai di depan pintu kamar Eloise, gadis itu mendengus pelan, lalu menarik nafas, dan mengetuk pintu.
Tok-tok
"Eloise." Panggil Shannon, terdengar suara kenop pintu, lalu terbuka dan tampak Rinni yang menyambut Shannon.
"Nona Shannon! Silahkan masuk!" Seru Rinni dengan senang, gadis bermata safir itu tersenyum lalu melangkah masuk, dan ternyata di sana sudah tiba, Leia dan Chalisa.
"Shannon, lama tidak jumpa." Sapa Leia menyadari kehadiran gadis itu.
'Rambut magenta dengan manik emas, pasti ini Leia teman akademi Eloise lalu gadis yang ini adalah Chalisa, tapi shannon belum pernah bertemu dengannya, jadi.'
"Lama tidak jumpa Leia! Dan?" Shannon menatap tanya Chalisa, gadis itu tersenyum.
"Chalisa Stephanie Roswaal, salam kenal nona Shafiria, silahkan panggil aku Chalisa." Ujar gadis itu.
"Astaga, tidak perlu formal begitu, panggil aku Shannon juga ya, kau teman akademi Eloise juga kan?" Tanya Shannon, yang di balas anggukan oleh Chalisa sembari senyum.
Shannon membalasnya dengan senyum, lalu ketika ia hendak menanyakan kabar ke Leia, mata Shannon mengarah pada perut Leia yang sedikit membesar, menyadari mata Shannon, Leia mengelus perutnya sembari tersenyum.
"Eh? Masa sih?" Tanya Shannon yang menatapnya tidak percaya, Leia mengangguk dan membenarkan maksud dari Shannon, lalu gadis itu berjengit terkejut.
"Ohhh astagaa! Jadi kau sudah menikah! Aku sama sekali tidak tahu! Dan kau hamil??? Astagaaa, tapi kapan kau menikah??" Shannon terus berseru dengan terkejut.
"Tidak perlu seterkejut itu kurasa, aku menikah 3 tahun yang lalu, saat itu kau dan Eloise sedang menghilang entah kemana, ya jadi kalian tidak datang." Ujar leia, Shannon menutup mulutnya.
"Ahh, maaf ya.." ujar Shannon, Leia tersenyum lalu menepuk lembut pundak gadis itu.
"Tidak masalah yang penting kita bertemu lagi, nanti di pesta kelahiran anak ku, kalian harus datang ya." Ujar Leia.
"Tentu saja!" Seru Shannon, kemudian mata nya menatap Chalisa dan mengarah pada perut gadis itu, menyadari tatapan Shannon, gadis itu memegang perutnya dan tersenyum kaku.
"Maaf aku belum hamil maupun menikah." Ujarnya, Shannon terkejut.
"Oh astaga, maafkan aku sudah lancang." Ucap Shannon.
"Tidak masalah, tapi aku sedih, pertama Leia mendahului ku, sekarang Eloise, astaga aku iri pada kalian." Ujar Chalisa sembari menurunkan alis dan tersenyum.
"Katakan pada Riftan dong, kapan dia akan melamar mu." Leia menyikut pelan Chalisa, gadis itu terkekeh pelan.
"Situasinya sedikit sulit karena ayahku, aku harap ia sedikit mengubah pandangannya pada Riftan." Ujar Chalisa.
"Tentu saja! Pasti suatu saat nanti ayah mu akan baik pada Riftan, semuanya butuh waktu." Ujar Leia, dan tersenyum, Chalisa membalasnya juga dengan senyum.
Shannon ikut tersenyum melihat mereka, kemudian pandangan melihat sekitar, ia mencari Eloise.
"Eloise belum selesai ya?" Tanya Shannon, Leia dan Chalisa ikut melihat sekitar.
"Seharusnya sekarang sudah selesai." Ujar Leia, lalu tiba-tiba saja dari pintu ruang pakaian Eloise, terbuka.
Cklek
Semua nya mengarah pada sumber suara, dan tampak Eloise yang muncul dengan gaun putih pengantinnya, dan rambutnya yang di sanggul, gadis itu juga di beri hiasan wajah untuk mempercantik penampilan nya.
Melihat kemunculan Eloise, seketika Shannon, Leia dan Chalisa, terkejut dan terpukau dengan penampilan Eloise sekarang.
Gadis itu tampak tegang, lalu ia bertanya, "Ba-ba-ba-bagaimana menurut....kalian?" Tanya Eloise.
Shannon menunjukkan ibu jarinya, "Percayalah, Reithel akan berpikir kalau dia menikah dengan seorang dewi." Ujar Shannon.
"Shannon!" Seru Eloise dengan pipi memerah, Shannon, Leia dan Chalisa tertawa melihat reaksi Eloise.
"Kau sangat cantik Eloise." Puji Leia, Chalisa mengangguk.
"Kau benar-benar seperti dewi, apa yang Shannon katakan itu benar." Ujar Chalisa, Eloise tersenyum kaku dengan pipi masih merona.
Shannon tersenyum, lalu ia mengulurkan tangannya.
"Apa kau sudah siap?" Tanya gadis itu, Eloise terdiam sebentar lalu mengangguk dengan senyum, kemudian menerima tangan Shannon.
"Aku sudah siap."
⬛⚪⬛
Reithel tengah berdiri di depan cermin, sekali lagi ia memeriksa penampilan nya, di belakangnya ada Dominic, Izolda, dan Erland.
"Reithel, kaca nya nanti pecah jika kau lihat terus." Tiba-tiba saja Dominic berbicara, seketika Izolda langsung memukul dahi Dominic, pria itu malah tertawa pelan.
Erland juga ikut tertawa, "Kau ini Reithel, apa yang kau khawatir kan sih." Ujar Erland, Reithel menoleh pada ketiga temannya, dan wajahnya tampak tegang.
"Apa penampilan ku sudah bagus?" Tanya Reithel.
"Ini yang ke sembilan kali nya Reithel, kau akan dapat hadiah pukulan dari ku jika kau bertanya lagi." Ujar Dominic sembari menurunkan alisnya.
"Kau sudah bagus kok Reithel, ayo percaya diri." Ujar Izolda, Reithel mendengus pelan dan memasang wajah khawatir.
Lalu tiba-tiba saja ada suara ketukan pintu, dan tampak sebastian memasuki ruangan reithel, "Nona Eloise sudah selesai yang mulia, anda harus pergi ke kuil sekarang." Ujar pria paruh baya itu.
Reithel mengangguk, lalu Dominic, Izolda dan Erland bangkit, "Baiklah ayo kita segera pergi, agar Eloise bisa segera menyusul." Ujar Erland sembari merapihkan jas yang di pakainya.
"Eh? Kita tidak berangkat bersama Eloise ya?" Tanya Dominic, Erland menggeleng.
"Waktu aku menikah dulu, aku juga tidak berangkat ke kuil bersama, jadi kami akan bertemu nanti di sana, dan pengantin pria harus lebih dulu tiba di banding yang wanita." Jelas Erland, Dominic mengangguk dan ber-oh ria.
"Baiklah kalau begitu, ayo Reithel, berhentilah melihat kaca dan cepat kita berangkat." Ujar Dominic dengan sedikit mengomel.
Reithel mendengus panjang, lalu merapatkan jas nya dan mengangguk, lalu keempat orang itu pergi meninggalkan kamar Reithel untuk menuju kuil.
⬛⚪⬛
Reithel kini berdiri di atas altar, dimana ada patung dewi Leafda, yang merupakan dewi perwakilan cinta.
Pernikahan di laksanakan di gedung dewi Leafda di kuil Roxane, dan yang menjadi pendeta untuk mempersatukan mereka adalah Mathias, para tamu juga banyak yang hadir, bahkan keluarga kekaisaran datang, mereka sudah duduk di kursi yang sudah di siapkan.
Keluarga Castillon termasuk Bangsawan yang berpengaruh dan banyak membantu kekaisaran karena itu tentu saja pernikahan nya di hadiri oleh keluarga nomor satu itu.
Reithel terdiam dengan wajah tegang, melihat hal itu, mathias menepuk lembut pundak pria itu lalu menyunggingkan senyuman, "Semua nya pasti akan berjalan lancar." Ujar Mathias, Reithel mengangguk.
Lalu akhirnya tiba, yang di tunggu-tunggu.
Eloise sang pengantin wanita.
Gadis itu masuk, bersama Dominic sebagai pendamping nya menuju altar, Reithel terkejut dan terpukau dengan penampilan Eloise, sedangkan gadis itu menatap Reithel dan tersenyum kaku, karena ia juga merasa tegang.
Semua hadirin terpukau dengan kedua pengantin yang hari ini tampak sangat tampan dan cantik.
Eloise hampir sampai di altar, sesuai adatnya, ketika sang pengantin wanita sudah menghadap altar, tangan pengantin wanita itu akan di serahkan pada sang pengantin pria dari ayah pengantin wanita.
Dominic tersenyum menatap Reithel, sedangkan pria Bermanik langit itu mengangguk dan tersenyum menerima tangan Eloise, lalu ia menuntun Eloise untuk berdiri di sampingnya.
Kedua nya menghela nafas bersamaan, menyadari melakukan hal yang sama, mereka sedikit tertawa.
"Ini menegangkan." Ujar Eloise, Reithel mengangguk.
"Kau benar."
Mathias membuka kitab nya, lalu menatap kedua pengantin di hadapannya, "Apa kalian siap?" Tanya Mathias, kedua nya menoleh satu sama lain dan mengangguk, lalu Mathias ikut mengangguk dengan senyum.
Eloise dan Reithel membungkuk dan mathias mengangkat kitab nya, "Upacara pernikahan dimulai, aku sebagai pendeta agung kuil Roxane, Mathias Theodore Roxane, akan menjadi pemimpin upacara ini, untuk mengesahkan kedua insan ini untuk bersatu." Ujar Mathias dengan suara sedikit lebih kencang.
"Di bawah tangan takdir dewa Omnia, telah di pertemukan kedua insan ini, setiap peristiwa terjadi menjadikan hubungan mereka semakin erat satu sama lain, dan keberadaan nya yang menjadi penting satu sama lain.
Tibalah akhir keputusan di antara mereka berdua untuk mempersatukan diri mereka satu sama lain sebagai pasangan suami istri.
Dengan bantuan tangan dewi Leafda, kedua insan ini di persatukan akan secara sah.
Reithel Quinn Castillon, apa kau bersedia menerima Eloise Somnivera untuk menjadi istri mu, sehidup semati dengannya, dan mencintai selamanya?" Reithel menarik nafas.
"Aku bersedia." Mathias mengangguk atas jawaban Reithel.
"Dan Eloise Somnivera, apa kau bersedia menerima Reithel Quinn Castillon untuk menjadi suami mu, sehidup semata dengannya dan mencintai selamanya?" Tanya Mathias, Eloise menarik nafas.
"Aku bersedia." Balas Eloise.
Mathias tersenyum, lalu menutup kitabnya, "Dengan ini, dibawah patung dewi Leafda, setelah mengucapkan janji suci kalian, secara sah, kalian sudah menjadi suami istri, Reithel Quinn Castillon dan Eloise Somnivera Castillon."
Semua hadiri langsung bertepuk tangan dengan meriah, Reithel dan Eloise berdiri tegak dan bernafas lega, lalu mereka saling berhadapan, dan Reithel melangkah lebih maju mendekati Eloise dan mencium kening gadis itu, lalu tepukan tangan semakin kencang dan bersorak gembira.
Setelah banyak hal yang telah kedua nya lewati, kini.
"Kita bersama selamanya."
-
-
-
To be continued