Happy reading!
-
-
-
Mendadak suasana hening seketika, saking sunyi nya, bahkan suara detak jam cukup terdengar di telinga.
"Reithel." Panggil Dominic dengan suara berat, pria itu mengangkat wajahnya dan memandang Reithel dengan sorot tajam, aura berat menguar dari tubuh Dominic, dan Izolda yang memiliki sihir spiritual tinggi bisa sangat merasakan nya.
"Do-Dominic..." Sebut Izolda sembari menoleh pada Dominic.
"Tadi, kau bilang apa?" Tanya Dominic, Reithel semakin mengepalkan tangannya.
"Aku ingin menikahi Eloise."
Shannon mengangkat kedua alisnya, kali ini ia mendengar jelas kalimat yang Reithel katakan.
'Ini mengejutkan, kupikir ia akan melakukan nya di akhir cerita, tapi ternyata sekarang.'
Pikir gadis itu, lalu Shannon berdeham.
"Apa kau sudah menanyakan soal ini pada Eloise?" Tanya Shannon, Reithel menggeleng.
"Aku berpikir untuk bertanya dulu pada kalian, karena bisa dikatakan, saat ini, orang yang bisa di anggap Eloise sebagai keluarga adalah kalian, karena itu aku mengatakan pada kalian dulu, dan meminta restu juga." Jelas Reithel, Shannon mengangguk paham.
"Reithel, aku sangat mempercayai mu, tapi, soal Eloise," Dominic menahan ucapannya lalu menegakkan tubuhnya.
"Aku tidak bisa mempercayai mu." Ujar Dominic.
Shannon mengangkat kedua alisnya terkejut menatap Dominic, gadis itu bisa merasakannya, kalau Dominic tidak akan melepas Eloise begitu saja.
Walau Dominic bukanlah ayah Eloise, dan hubungan mereka hanya sebagai master dan murid, tapi di lubuk hati Dominic, dia menyayangi Eloise, dan baginya Eloise dan Shannon adalah hal yang berharga dan harus ia jaga sepenuhnya, karena amanat dari master nya sebelumnya, sang penyihir legenda kegelapan, Shon.
Reithel yang mendengar pernyataan Dominic sedikit terkejut, tetapi ia tahu dimana letak kesalahannya.
"Aku...tahu, aku paham jika kau tidak bisa mempercayai ku sepenuhnya, karena aku awalnya bersikap dingin pada Eloise, dan tidak peduli, ketika bertunangan dengannya, aku hanya menganggap nya tidak lebih sebagai boneka cantik yang menjadi istri ku nanti, sama sekali, tidak ada hati dari ku." Jelas Reithel sembari memasang raut wajah bersalah dan menundukkan kepalanya.
Tetapi kemudian Reithel mengangkat wajahnya dan menatap Dominic dengan mantap, "Tapi sekarang semuanya sudah berbeda." ujar Reithel, kemudian tangan pria itu bergerak mengarah dadanya dan mencengkram dadanya.
"Aku mengakuinya, bahwa aku salah, benar-benar salah besar, ketika Eloise meninggalkan ku, saat itu juga aku merasakan nya, bahwa kehadiran nya ternyata begitu penting bagi ku, bukan karena dirinya yang cantik, tapi kehangatan yang Eloise berikan padaku, aku tidak pernah bisa melupakan itu...
Semakin ia menjauhiku, semakin sakit hatiku, aku berusaha untuk melupakan Eloise sepenuhnya, tapi gagal, aku malah semakin merindukan nya, semakin mencintainya, dan semakin peduli padanya.
Kau boleh mengataiku bodoh, b******k, apapun itu, aku tidak peduli dan sekarang aku mengakui, kalau aku tidak bisa hidup tanpa Eloise." Jelas Reithel, kemudian pria itu menundukkan kepalanya sedikit, wajahnya berubah menjadi benar-benar sedih.
"Ketika... Dwight menunjukkan waktu dimana sebelum Eloise mati, aku melihatnya, dimana aku menyakitinya, pengelihatan ketika Eloise mati karena eksekusi nya, terkadang berputar dikepalaku, dan itu membuatku semakin merasa tidak pantas untuk Eloise, dan rasanya aku ingin bunuh diri, karena ingatan itu." Ujar Reithel, Shannon dan Izolda menurunkan alisnya sedih.
"Karena itulah aku sempat berpikir untuk menjauhi Eloise demi kebaikan dirinya, karena aku tidak pantas untuk nya, tetapi di satu sisi, semakin sering aku melihatnya, semakin sulit aku untuk melepasnya, karena itu aku sempat memilih untuk pergi jauh, tetapi Eloise, menemukan ku." Ujar Reithel, kemudian ia menyunggingkan senyuman lembut.
"Dia meluruskan kesalahpahaman, dan berkata bahwa dia mau aku menerima nya—Tidak tapi dialah yang mau menerima ku lagi, dan aku sangat senang dengan hal itu, maka dari itu Dominic." Reithel mengangkat wajahnya dan menatap Dominic lagi dengan sorot penuh keyakinan.
"Aku ingin menikahi Eloise, aku ingin sehidup semati dengannya, aku ingin bersama selamanya dengannya, aku ingin terus mencintainya." Ujar Reithel, Shannon dan Izolda terharu dengan ucapan Reithel, tapi tentu saja tidak untuk Dominic, karena, dia adalah pria, wataknya tentu saja lebih keras.
"Semua orang bisa mengatakan kalimat seperti itu, tapi apa dia akan melakukan janji nya atau tidak, terkadang ujungnya hanya menjadi hembusan angin." Ujar Dominic, Shannon terkejut mendengar kalimat Dominic.
"Hei Dominic–"
"Tapi, jika kau memang serius, apa kau bersedia ku bunuh jika kau menyakiti Eloise?" Tanya Dominic dengan aura membunuh yang sangat besar, hingga terdengar suara hewan-hewan di luar sana seperti burung seketika terbang menjauh seakan sangat ketakutan.
Shannon dan Izolda bahkan terdiam membeku karena aura yang Dominic keluarkan.
Reithel membuka mulutnya dan mengatakan.
"Bahkan jika kau mau menghancurkan jiwa ku agar aku tidak bisa di reinkarnasi lagi, aku bersedia memberikan nya tanpa perlawanan, jika memang itu semua untuk Eloise." Jelas Reithel.
Shannon dan Izolda terkejut, sedangkan Dominic sendiri hanya diam, tak lama kemudian pria itu mendengus pelan lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi yang di dudukinya.
"Baiklah, karena kau memang serius, aku merestui kalian." Ujar Dominic, Reithel mengangkat kedua alisnya terkejut, dan menyunggingkan senyuman, di situ seketika Shannon dan Izolda semakin terkejut.
"Wah, aku baru pertama kali melihatnya seumur hidupku." Bisik Izolda pada Shannon, seketika gadis itu terkejut.
"Ehh?? Memang nya sekalipun tidak pernah??" Bisik Shannon lagi, Izolda menggeleng.
"Aku tidak tahu pasti, tetapi yang pasti ini pertama kalinya aku melihatnya tersenyum, biasa nya ia lebih sering memasang ekspresi datar." Ujar Izolda sembari mendengus pelan.
"Kau benar, ini pertama kalinya juga aku lihat." Balas Shannon bisik.
'Bahkan di buku waktu itu, jumlah Reithel tersenyum bisa di hitung jari.'
Pikir Shannon, kemudian Reithel menatap Shannon, gadis itu mengangkat kedua alisnya menatap tanya.
"Apa kau juga merestui kami?" Tanya Reithel, mata Shannon terbelalak.
"Ehh? Kenapa aku?? Kau tahu kan aku bukan Shannon yang asli." Ujar Shannon.
"Tetapi tetap saja...bagi ku kau tetap saudara Eloise, walau dalam diri mu bukan Shannon yang asli." Ujar Reithel, kemudian ia menautkan tangannya satu sama lain.
Shannon terdiam dan memandang sendu Reithel, tangan gadis itu juga bertaut satu sama lain, "Bagi ku, apapun itu, asalkan Eloise bahagia, aku merasa senang dan merestui nya," ujar Shannon lalu mengangkat wajah nya dan mengukir senyuman di wajah nya.
"Dan aku bisa melihatnya, kau adalah salah satu kebahagiaan dari Eloise, jadi hiduplah panjang dengannya, dan setialah bersamanya." Tambah Shannon.
Reithel menyunggingkan senyuman lagi yang lembut, dan mengangguk, "Terima kasih banyak."
Shannon tersenyum bersama Izolda, "Jadi kapan kau mau melamarnya?" Tanya Izolda.
"Apa kau sudah menyiapkan cincinnya? Atau kau memakai cara lain?" Tanya Izolda lagi.
Reithel mengerjap matanya, "Ah...itu...aku belum menyiapkan apapun...." Seketika Shannon dan Izolda merasa tersambar petir, sedangkan Dominic terdiam.
"Ba-ba-ba-bagaimana bisa kau tidak menyiapkan sama sekali?" Tanya Shannon terkejut.
"A-aku hanya berpikir, aku merasa harus mengatakan pada kalian dulu, baru ku urus, apa itu salah?" Tanya Reithel, izolda dan Shannon mendengus pelan, lalu mereka berdua melirik Dominic, pria itu mengangkat kedua tangannya.
"Soal ini aku tidak ikut campur." Ujar Dominic, Shannon dan Izolda mendengus pelan.
"Baiklah mari kita bantu, dan ayo kita buat lamaran mu dengan Eloise menjadi suatu moment yang menyenangkan!" Seru Shannon, Izolda mengangguk.
"Aku bisa membantu mu!" Tukas Izolda, Reithel tersenyum dan berterima kasih lagi.
"Jadi begini, menurut ku sebaiknya melamar jangan pakai cincin." Ujar Shannon.
"Kenapa? Bukankah itu lebih bagus?" Tanya Izolda mempautkan bibirnya, Shannon menggeleng.
"Tidak, karena cincin itu sangat sakral, jadi itu sebaiknya di pakai ketika acara pernikahan saja." Ujar Shannon, Izolda terdiam dan mengangguk-angguk.
"Kau benar sih, lalu apa yang di pakai untuk melamar Eloise? Tidak mungkin kan hanya dengan tangan kosong, walaupun itu bisa, tapi rasanya sangat kurang bukan?" Ujar Izolda, Shannon mengangguk setuju.
"Apa kau tahu sesuatu yang Eloise sukai?" Tanya Shannon pada Reithel, pria itu terdiam lalu berpikir.
"Hmm, buku..." Balas Reithel, Shannon menurunkan alisnya.
"Tidak mungkin kan kau melamar nya dengan buku bukan...?" Ujar Shannon.
"Memangnya tidak boleh?" Tanya Reithel.
"Itu tidak cocok Reithel." Ujar Izolda, kedua perempuan itu mendengus panjang.
"Bagaimana kalau sesuatu yang menggambarkan Eloise? Aku yakin hal seperti itu ada." Tiba-tiba saja Dominic menyahut.
"Menggambarkan Eloise?" Tanya Shannon, Dominic mengangguk lalu menatap Reithel.
"Apa yang kau pikirkan ketika melihat Eloise? Dan apa hal yang terlihat seperti Eloise dimata mu?" Tanya Dominic.
Reithel terdiam, di benaknya terbayang sosok Eloise yang tersenyum hangat, dan satu hal yang dapat Reithel bayangkan jika Eloise di gambarkan lain.
"Bunga...popi...merah..." Ucapnya, Shannon dan Izolda mengangkat kedua alisnya.
"Bukankah memang itu lambang eloise? Maksud ku, dia adalah orang yang di takdirkan dan di sebut sang popi merah, ya kan?" Ujar Shannon.
"Memang tapi, tidak ada hal lain yang bisa ku pikirkan selain itu." Balas Reithel, Shannon terdiam mengangguk.
"Baiklah, tidak masalah, kalau kau memang merasa itu adalah hal yang bagus dan cocok untuk Eloise, kenapa tidak." Ujar Izolda tersenyum, Shannon ikut menyunggingkan senyuman.
Reithel mengangguk dengan senyum, "Baiklah sudah di putuskan kau akan memakai apa untuk melamarnya, sekarang, kapan kau akan melakukannya?" Tanya Izolda, Reithel terdiam, kemudian matanya menyorot dengan penuh keyakinan.
"Hari ini."
⬛⚪⬛
Shing...
"Baiklah, ini yang terakhir." Ucap Eloise, kemudian menyeka sedikit peluhnya di dahi.
Gadis itu baru saja memperbaiki pelindung sihir salah satu desa, agar desa mereka tidak di serang monster kutukan, belakangan ini banyak monster kutukan yang muncul dari hutan, dan perkiraan itu adalah pekerja Warzerten.
Dan Eloise memutuskan untuk membantu asosiasi penyihir untuk memperbaiki pelindung sihir, maupun melawan monster.
"Terima kasih banyak nona." Ucap salah seorang warga, Eloise tersenyum.
"Tidak masalah kakek, jika terjadi sesuatu, kakek bisa menghubungi ku ya." Ujar Eloise, kakek itu mengangguk, Eloise tersenyum lalu hendak berjalan kembali ke tengah desa.
Di sana ia melihat, Sherina, salah satu master dari akademi Violetfay yang juga punya peran di asosiasi penyihir.
Wanita itu melihat kedatangan Eloise dan langsung menyambut nya dengan senyum.
"Seperti biasanya Eloise, kerja bagus, terima kasih ya." Ujar Sherina.
"Sama-sama master Risenberg, ada lagi yang perlu aku bantu?" Tanya Eloise, wanita itu menggeleng.
"Sudah cukup, terima kasih, padahal kau bukan anggota asosiasi penyihir tapi sering membantu kami, aku sangat bersyukur." Ujar Sherina.
"Tidak masalah master, lagipula aku punya waktu." Ujar Eloise, Sherina mengangguk.
"Memangnya kau tidak punya target apapun?" Tanya Sherina, Eloise terdiam sebentar.
"Ada sih, yaitu penyihir agung." Ujar Eloise sembari tertawa, yang tentu saja membuat Sherina terkejut.
"Hah?? Tinggi sekali impian mu." Ujar Sherina, Eloise tertawa pelan.
"Kenapa tidak, aku sudah menjadi penyihir Risilv, tidak ada alasan aku tidak bisa mendapatkan nya bukan." Ujar Eloise, Sherina terkekeh, dan mengangguk.
"Kau benar." Eloise mengangguk dan tersenyum.
"Master, apa yang harus ku lakukan agar bisa menjadi penyihir agung?"tanya Eloise, Sherina berpikir.
"Coba kita lihat, hmm... Sebenarnya kau bisa menanyakan hal itu pada Dominic atau penyihir nona Patrishia, tapi setahu ku, caranya adalah kau harus memiliki jasa dengan kekaisaran ini, dan jasa itu sangat besar dan tidak akan bisa di lupakan karena membekas." Jelas Sherina, Izolda mengangguk paham.
"Aku mengerti," balas Eloise, lalu ia menatap langit-langit, terlihat waktu sudah menunjukkan mulai sore.
"Aku harus kembali." Gumam Eloise.
"Master Risenberg, aku pamit pulang, karena waktu sudah sore." Ujar Eloise, wanita itu melihat ke langit dan ke jam saku nya.
"Wah kau benar, sudah jam segini, baiklah, maaf ya menyita waktu mu lama sekali." Ujar Sherina, Eloise menggeleng.
"Tidak apa-apa kok, baiklah, aku pergi dulu." Ujar Eloise sembari hendak pergi, dan melambaikan tangannya.
"Tentu, terima kasih yaa, hati-hati di jalan!" Balas Sherina.
Eloise pergi dari sana, gadis itu langsung berteleportasi ke depan pintu mansion Castillon.
Ia menghembuskan nafas nya lega, dan berjalan memasuki gedung tersebut, tampak Sebastian yang menyambut nya di ruang utama.
"Sebastian, aku pulang." Ujar Eloise.
"Selamat datang, nona sudah pulang, apa nona ingin makan malam dulu?" Tanya Sebastian, gadis itu menggeleng dan menolaknya.
"Tidak, hari ini aku ingin langsung istirahat, apa Reithel sudah kembali?" Tanya Eloise, Sebastian menggeleng.
"Belum nona, sepertinya beliau akan pulang larut." Ujar Sebastian.
"Begitu ya, baiklah, terima kasih." Ucap Eloise dengan senyum, lalu berjalan menuju kamarnya.
⬛⚪⬛
Waktu sudah malam, Eloise baru saja selesai membaca dan menutup buku yang di pinjamnya dari perpustakaan Castillon.
Gadis itu menatap jam dinding yang jarumnya menunjukkan pukul 11 malam.
Eloise berjalan ke jendela kamarnya, lalu melihat keluar, dari tadi, semenjak kepulangan nya, Eloise tidak mendengar suara kuda Reithel, biasanya jam 9, paling larut, Reithel sudah kembali, dan malam nya mereka akan meminum teh bersama sebelum tidur dan berbincang ringan.
Tapi kali ini pria itu pulang lebih lama, itu sedikit membuat Eloise khawatir.
Gadis itu hendak berjalan menuju pintu, tapi langkahnya berhenti di hadapan cermin.
Tampak pada pantulan kaca itu, eloise mengenakan gaun tidur selutut berwarna putih, rambut pirangnya yang sudah sepaha di gerai panjang.
Eloise memutuskan untuk pergi ke ruang baju nya untuk mengambil kain cukup tebal, dan berjalan menuju pintu keluar kamarnya, untuk pergi ke kamar Reithel.
Tetapi ketika Eloise membuka pintunya, ia terkejut ternyata Reithel ada di depan pintu dan tangannya hendak mengetuk pintunya, dan pria itu juga terkejut melihat keberadaan Eloise.
"Reithel?"
"E-Eloise..."
-
-
-
To be continued