Chapter 20 [Niat Reithel]

2179 Kata
Happy Reading! - - - Aku merapihkan dokumen yang baru saja ku selesaikan, aku menyisir poniku kebelakang dan mendengus pelan. "Harley, hari ini pekerjaan lebih sedikit ya?" Tanya ku, pria itu baru saja selesai dengan pekerjaan, ia mengangguk sebagai jawaban. "Sepertinya semenjak pangeran turun tangan secara keseluruhan, semua masalah menjadi cepat selesai, karena itu jadwal jaga kita akan dibuat lagi yang baru." Balas harley, aku ber-oh ria. "Apa jadwalnya sudah jadi?" Tanya ku, Harley menggeleng. "Belum, karena ada banyak ksatria baru yang lulus dari pelatihan, aku harus menyusun ulang semua jadwal jaga, mungkin akan selesai besok atau lusa." Ujar Harley. "Begitu ya, jika kau perlu bantuan, kau bisa mengatakan nya padaku." Balas ku, Harley tersenyum. "Tentu terima kasih." Aku mengangguk, kemudian aku memakai jubah ku, dan mengikat gesper pedang ku, aku merapihkan sedikit baju ku, karena akan keluar dari sini. "Apa kau mau pergi ke suatu tempat?" Tanya Harley, aku mengangguk dan mendengus lelah. "Iya, kemarin ketika aku latihan bersama Dominic, aku tanpa sengaja merusak beberapa bagian taman belakang perpustakaan, ada banyak pepohonan yang rusak, jadi aku harus bertanggung jawab untuk memperbaikinya bersama petugas disana." Ujar ku mengangguk lemah. "Begitu ya, semangat Shannon." Ucap harley. "Iya, terima kasih, baiklah aku pergi dulu." Ucap ku sembari melambaikan tangan dan hendak berjalan pergi. "Tentu, hati-hati di jalan." Balas Harley, aku tersenyum lalu melangkah pergi keluar dari ruangan. Aku berjalan keluar hendak menuju tempat dimana biasa aku menaruh kuda ku. Di perjalanan aku bertemu dengan pangeran Raven yang hendak menuju ke tempat yang sama, aku mempercepat jalan ku dan mensejajarkan langkah ku dengan pria itu. "Hormat saya pangeran Raven Blackwell Roxane, semoga keberkahan Risilv dan Omnia senantiasa menemani anda." Ucap ku sembari membungkuk hormat tetapi tetap berjalan. "Kau tidak perlu seformal itu, ini bukan di tempat acara resmi." Ujar Raven, aku tertawa renyah. "Apa pangeran mau pergi ke kuil?" Tanya ku, pria itu mengangguk, lalu menoleh padaku. "Bagaimana dengan mu? Apa kau juga ingin ke kuil?" Tanya Raven, aku mengangkat kedua alisku, sedikit terkejut Raven tahu kalau aku sering ke kuil. "Tidak saat ini pangeran, aku akan pergi ke sana setelah menyelesaikan sedikit urusan dengan Dominic." Ujar ku sembari mendengus lelah. Kami sampai di kandang kuda, aku hendak masuk ke dalam, tapi Raven menahan lengan ku, aku menoleh padanya dan menatap tanya. "Kenapa Dominic?" Tanya pria itu, aku mengangkat kedua alisku, dan berpikir. 'Hah, kenapa dia memasang wajah begitu?' Raven seperti tidak begitu suka, tapi aku tidak mengerti. 'Sepertinya ada baiknya juga aku tidak menyembunyikan kesalahan kemarin, akan lebih parah jika dia mendengar nya dari orang lain.' "Yah kemarin aku berlatih kekuatan sejati pedang suci ini, tetapi tanpa sengaja aku menghancurkan sebagian taman belakang disana termasuk pepohonan nya, karena itu aku harus bertanggung jawab, apa ada suatu masalah pangeran?" Tanya ku, pria itu mengangkat kedua alisnya, dan ekspresi nya berubah menjadi tampak lega. Aku menurunkan alisku Bingung, "Begitu ya, baiklah hati-hati di jalan, aku duluan." Ujarnya kemudian melepas tangan ku lalu berjalan masuk ke kandang kuda, dan mengambil salah satu kuda yang sering di pakainya, kemudian ia menaiki kuda itu dan langsung bergerak pergi dari tempat. "Aneh sekali, sudahlah yang penting dia tidak marah." Gumam ku, lalu berjalan mengarah pada kuda ku. "Halo! Ayo kita pergi lagi hari ini, aku harap kau tidak lelah." Ujar ku pada kuda ku, hewan itu mendengus dan mengibas ekornya. Aku tertawa pelan, lalu melepas ikatan tali kekang nya dari tiang kayu di sana, dan menuntun kuda itu keluar dari kandang, kemudian aku menaiki kuda ku. "Hya!" Whhiiii Kuda ku berseru lalu menggerakkan kaki nya cepat, dan berlari keluar istana. ⬛⚪⬛ Aku tiba di perpustakaan, dan langsung pergi ke taman belakang. Tetapi sesampainya di sana, aku terkejut karena bagian taman yang ku rusak kemarin sudah kembali seperti semula, tanpa bekas sedikit pun. "Eh?? Kok gini? Apa ini sihir Dominic?" Gumam ku, kemudian aku langsung berjalan masuk ke gedung perpustakaan dan pergi menuju ruangan Dominic. Tok-tok "Dominic!" Panggilku. "Masuk." Balasnya di sana, aku membuka pintu dan tampak Dominic sedang duduk di kursinya, dan ternyata ada Izolda juga di dalam. "Wah izolda! Lama tidak jumpa, bagaimana kabar mu?" Sapa ku senang, wanita itu tersenyum. "Aku baik, bagaimana perkembangan latihan mu? Apa kau sudah menguasai kekuatan sejati pedang suci?" Tanya Izolda, aku menggosok tengkuk ku sembari tertawa renyah. "Sudah sih, hanya saja kemampuan ku belum lebih maupun setara dengan pendahulu pedang ini, aku harus tetap giat berlatih." Balasku, wanita itu ber-oh ria. "Oh iya Dominic, bagian taman belakang yang ku rusak kemarin, kok sudah di perbaiki? Bukannya kau menyuruhku untuk tanggung jawab?" Tanya ku. "Ya memang, tapi kebetulan Izolda disini, jadi aku minta tolong saja padanya, lagi pula dengan kemampuan Izolda, justru perbaikan nya akan lebih bagus." Ujar Dominic, aku ber-oh ria dan mengangguk. "Kalau begitu kita latihan langsung saja sekarang." Ajak ku dengan semangat. "Tunggu sebentar nona." Dominic menahan ucapan ku bersama tangannya, lalu pria itu mendengus pelan. "Ide yang sangat buruk untuk menggunakan tempat ini sebagai latihan, mengingat kejadian kemarin, jadi biar kupikirkan dulu dimana tempat yang bagus untuk berlatih." Lanjut Dominic. Aku memasang wajah kecewa, "Kapan kau akan menemukan tempatnya?" Tanya ku, pria itu mengedikkan bahu. "Ah bagaimana ini, jika kemampuan tidak berkembang, mana bisa aku melawan penyihir setelah kehancuran." Keluh ku, Dominic terdiam sebentar. "Hmm, pasti ada cara lain untuk menguasai kekuatan sejati pedang suci itu." Ujar Izolda, Dominic mengangkat sebelah alisnya, wanita itu hanya tersenyum menatap Dominic. "Shannon, bisakah kau lebih dekat?" Aku bergerak menuju Izolda dan memotong jarak ku dengannya, setelah dekat. Izolda menyentuh pedang ku, kemudian muncul tanda sihir Risilv di mata kirinya, lalu tangannya perlahan bercahaya. Shing... Tiba-tiba saja, aku melihat sesuatu keluar seperti gumpalan asap, lalu asap itu keluar meninggi dan menjadi besar, kemudian dengan kencang berputar dan muncul sesosok mahkluk. Aku hanya bisa melihat tubuh mahkluk itu hingga sepinggang, mahkluk itu memiliki tubuh seperti manusia, hanya saja kulit nya sangat putih seperti keramik, dadanya bidang membuatku berpikir dia adalah laki-laki, rambutnya lurus panjang berwarna perak, dan terdapat dua pasang sayap putih besar di punggung nya. Kepala mahkluk itu memutar ke arah ku, aku bisa melihat wajahnya, dan matanya yang berwarna kuning kemerahan heterochromia. Lalu tiba-tiba mahkluk itu bergerak seakan melompat ke arah ku, membuat ku terkejut dan melangkah mundur, tetapi aku terjatuh karena tanpa sengaja tersangkut pada kaki ku, aku langsung menutup mataku, dan aku merasakan hembusan angin, seakan mahkluk itu masuk kedalam tubuh ku. "Shannon!" Tiba-tiba saja aku tersadar, aku melihat di hadapan ku ada Izolda dan Dominic yang terkejut dan memasang wajah khawatir. "Izolda, apa yang kau lakukan?" Tanya Dominic. "Sesuai dugaan ku, pedang ini, telah di diami sesosok mahkluk, dan aku yakin Shannon melihatnya," Izolda menatap ke arah ku. "Benarkan?" Tanya Izolda, aku terdiam sebentar kemudian mengangguk cepat. "Aku menggunakan sihirku untuk memancing mahkluk itu mengeluarkan sosoknya, aku yakin ia sudah tertidur lama di dalam pedang ini." Ujar Izolda. "Bukankah pedang ini mirip pedang Raven? Kenapa mahkluk itu tidak se agresif mahkluk yang bersemayam di pedang Raven?" Tanya Dominic lagi. "Aku yakin itu karena sifatnya yang tidak suka memberontak." Ujar Izolda sembari mendengus pelan, lalu menoleh ke arahku lagi. "Apa yang kau lihat Shannon?" Tanya Izolda, aku terdiam sebentar, lalu kembali terbayang mahkluk itu di benakku, dan sebuah kata yang keluar dari mulut ku. "Malaikat." ⬛⚪⬛ Dominic dan Izolda terdiam mendengar kata Shannon. "Malaikat? Malaikat pencabut nyawa? Itu bukan malaikat, melainkan iblis." Tanya Dominic mengerutkan alis, Izolda langsung memukul kepala belakang Dominic, dan pria itu merintih kesakitan. "Habisnya, kau tahu kan, tidak ada malaikat yang turun dari tempat mereka, sepenuhnya mereka mengabdikan hidup mereka untuk dewa, tidak mungkin ada malaikat yang bersemayam di pedang ini." Tukas Dominic, Izolda mendengus pelan. "Tapi aku benar-benar melihatnya." Ujar Shannon, Dominic mengangkat sebelah alisnya. "Baiklah, untuk saat ini kita diamkan saja dulu, sosok itu baru bangun, tidak mungkin langsung bisa di ajak bicara, kekuatan nya pasti belum pulih." Ujar Izolda, Dominic mendengus pelan, Shannon terdiam berpikir. "Tunggu sebentar, apa hubungannya malaikat itu dengan kekuatan sejati pedang ini?" Tanya Shannon, Izolda mengangkat wajahnya, menatap Shannon. "Bisa dikatakan, kita meminta kerja sama dengan sosok itu untuk memberikan kekuatan nya, sebenarnya tidak mungkin juga sih, jika pendahulu pedang ini bisa memakai kekuatan sejati pedang ini dengan hebat, tanpa kerja sama dengan mahkluk di dalamnya, tapi sepertinya akan butuh waktu untuk bisa bekerja sama, mengingat tuan nya sudah orang yang berbeda." Jelas Izolda, Shannon mengangguk paham, lalu matanya melirik Dominic, pria itu mengangkat sebelah alisnya. "Bagaimana bisa kau tidak tahu kalau ada mahkluk yang bersemayam disini?" Tanya Shannon dengan alis menurun. "Aku tidak memiliki darah Elf! Makanya sihir spiritual ku tidak sekuat itu, hingga bisa mendeteksi keberadaan mahkluk selain dari manusia, penyihir, Hespirvit, Anigi dan Fanigi, jangan samakan aku dengan Izolda!" Jengkel Dominic, Shannon mendengus. "Kupikir kau benar-benar hebat, ternyata kau punya kelemahan ya." Ujar gadis itu. "Aku bukan dewa, ishh anak ini benar-benar." Dominic semakin kesal, Izolda mendengus lelah. "Sudahlah, kita bahas ini nanti lagi." Ujar Izolda menengahi Dominic dan Shannon, kemudian ia kembali menatap manik safir Shannon. "Jika ada perubahan sesuatu pada dirimu, seperti kau bisa melihat Mahkluk itu lagi, atau berkomunikasi dengannya, segera katakan pada Dominic, agar dia bisa langsung menghubungi ku." Jelas Izolda, Shannon mengangguk. Kemudian gadis itu bangkit berdiri, diikuti Izolda dan Dominic, tiba-tiba saja. Tok-tok Dominic menoleh tanya ke arah pintu, "Hm?" Gumam pria itu lalu berjalan mengarah pintu, dan membukanya. "Ohh! Reithel!" Seru Dominic, Shannon dan Izolda bergerak menoleh ke pintu dan tampak Reithel yang tengah berdiri di ambang pintu. "Laporan sidang kemarin ya, maaf aku lama membuatnya aku lelah sekali belakangan ini." Ujar Dominic kemudian menjentikkan jarinya dan muncul sebuah map dokumen di tangannya, lalu ia memberikan map itu pada Reithel, pria itu menerima nya tanpa respon, Dominic menurunkan alisnya sedikit bingung. Karena biasanya ketika Dominic telat memberi laporan atau dokumen apapun, Reithel pasti akan menceramahi nya, tapi kali ini pria itu, justru hanya diam saja. Reithel menjentikkan jarinya dan menteleportasi dokumen laporan Dominic dengan sihirnya, ke ruang kerjanya di mansion Castillon. "Ku dengar Shannon berada disini, aku ingin bicara padanya." Ujar Reithel sembari mengangkat wajahnya, Shannon mengangkat kedua alisnya sembari tangannya menunjuk dirinya sendiri. "Hanya Shannon nih?" Tanya Dominic, Reithel terdiam berpikir, Dominic mengangkat sebelah alisnya menatap pria bermanik Langit itu dengan sorot tanya. "Kurasa kau juga." Ujar Reithel. "Hahh??" Balas Dominic dengan bingung. "Apa aku juga?" Tanya Izolda sembari mengangkat tangan, Reithel kembali terdiam dan berpikir, lalu mengangguk. "Iya kau juga." Balasnya, sontak membuat Dominic semakin bingung. "Kau ini, mau bicara apa sih?" Tanya Dominic, Reithel berdeham. "Sebelum itu, bisakah aku masuk dulu, aku tidak mau membicarakan hal ini di luar." Ujar Reithel, Dominic terdiam sebentar lalu mendengus, kemudian ia menyingkir dari depan Reithel dan membuka pintunya lebih lebar. "Achilles." Panggil Dominic, lalu Achilles muncul di hadapan Dominic. "Iya tuan?" Tanya Hespirvit itu. "Tolong siapkan kami teh baru ya, untuk 4 orang." Titah Dominic, Achilles mengangguk, lalu ia mengambil set teh yang ada di meja Dominic, yang sebelumnya sudah di gunakan pria itu bersama Izolda, lalu Achilles berjalan keluar menuju dapur. "Sejak kapan Achilles menjadi pelayan mu?" Tanya Shannon dengan nada sindir. "Sejak dia mengikat kontrak dengan ku." Jawab ringan Dominic, Shannon mendengus lelah. "Padahal dia Hespirvit, seharusnya kau gunakan dia sesuai fungsi nya!" Seru Shannon, Dominic mengedikkan bahu. "Aku memang menggunakan dia sesuai fungsinya kok." Ujar Dominic, Shannon menatap jengkel. "Aku yakin Reithel tidak pernah menyuruh Hespirvit nya membuat teh." Ujar Shannon. "Ya karena aku punya Sebastian..." Ujar Reithel, Shannon terdiam, Dominic memutar matanya. "Izolda–" "Maaf Shannon, sesekali aku pernah meminta Hespirvit ku untuk memasak." Ujar Izolda dengan tawa renyah, Shannon terkejut mendengarnya. "Bukankah Hespirvit itu untuk bertarung??" Tanya Shannon. "Bisa apa saja lah, tidak harus semuanya bertarung, kenapa? Kau mau punya? Ku bilang jangan, kau bukan penyihir, kau hanya lah manusia yang di anugrahi Risilv tetapi bukan untuk sihir." Jelas Dominic, Shannon mendengus lelah. Tidak lama kemudian Achilles kembali sembari membawa set teh baru dengan kereta makanan kecil, karena porsi nya bertambah. Dominic duduk di kursi kerja nya, sedangkan Izolda, Shannon dan Reithel duduk di kursi depan meja Dominic, Achilles bergerak menyajikan teh dan mengantarnya ke setiap orang di ruangan. "Terima kasih Achilles." Ujar Shannon, Hespirvit itu mengangguk senyum. "Kau boleh kembali Achilles." Ujar Dominic, lalu Hespirvit itu menghilang kembali ke tempatnya, keempat orang di ruangan, menyesap teh mereka dan mendengus pelan. Reithel menaruh cangkirnya, lalu pria itu menegakkan duduknya, dan menaruh masing-masing tangannya di atas pahanya sembari mengepal tangan, Dominic melihat itu menaruh cangkir nya, dan melipat tangannya di atas meja nya, Shannon menaruh cangkir nya, dan menatap Reithel sedikit bingung, begitu juga Izolda. Mendadak suasana ruangan hening seketika. "Jadi ada apa? Dan kenapa muka mu serius begitu." Tegur Dominic, sembari menurunkan alis. Reithel memejamkan matanya, dan mendengus pelan, lalu pria itu menarik nafas singkat, dan mengepalkan tangannya lebih erat. Dominic, Shannon dan Izolda semakin bingung, karena Reithel tampak sangat gugup, padahal tidak biasanya pria itu gugup ketika berbicara dengan mereka. "Ja-jadi, sebenarnya, a-aku–" Dominic, Izolda dan Shannon mengerutkan alis mereka semakin bingung. "Tunggu Reithel, tenangkan dirimu, bicara mu terbata-bata begitu, tenanglah dulu, jangan gugup, lagipula, kau ini kenapa sih?" Tanya Dominic, Reithel kembali mendengus panjang. "Aku....Ingin menikahi Eloise." - - - To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN