Chapter 19 [Perbincangan Antar Duke]

2118 Kata
Happy reading! - - - Reithel mendengus pelan, pria itu tengah berbaring di sofa ruang kerjanya, tangannya berada di atas dahinya, mata langit Reithel menatap jendela yang berada di sampingnya. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan tiga kancing terbuka dari atas, dan celana hitam ketat, baju yang sering sekali Reithel pakai. Tok-tok! "Yang mulia, Duke Ryknight mengunjungi mu." Ujar Sebastian di balik pintu ruang kerja Reithel, pria itu mendengus lagi, lalu bangkit dari posisinya, dan mengenakan mantel nya di pundak. "Masuklah." Singkat Reithel. Cklek Pintu di buka, dan tampak Sebastian yang di belakangnya terdapat seorang pria dengan surai biru tua gelombang dengan mata heterochromia kuning magenta, di wajah sebelah kirinya terdapat sebuah topeng yang bergambar ukiran mawar. Pria itu tersenyum dan mengangkat tangan sebagai sapaan pada Reithel, lalu Sebastian hendak bergerak untuk pergi dari ruangan, tetapi pria itu menahannya. "Ah Sebastian ya? Bisakah kau membawakan kami minuman, aku cukup lama disini." Ujar pria itu, Sebastian menoleh ke arah Reithel, dan pria berambut hitam itu mengangguk, Sebastian ikut mengangguk dan pergi keluar untuk ke dapur membuat minuman. "Apa kau membawa nya?" Tanya Reithel, pria berambut biru tua itu tersenyum dan mengangkat tangan kanannya yang memegang sebuah dokumen, lalu menyerahkan dokumen itu pada Reithel, pria itu menerima nya sembari mendengus lelah. "Kau benar-benar menyusahkan ku Erland." Dingin Reithel, pria itu tertawa mendengar Reithel lalu mendengus pelan. "Ya maaf, ada banyak hal yang harus ku urus, tetapi setidaknya aku menyampaikan nya tepat waktu kan?" Erland tersenyum, reithel mendengus. "Aku lebih suka kau mengantarnya lebih awal." Ujar Reithel. "Kau terlalu teladan ah." Erland mengibas tangannya, Reithel hanya memutar mata nya kesal. Reithel bergerak menuju meja nya untuk menaruh dokumen yang di bawa Erland, "Omong-omong apa yang ingin kau bicarakan? Kau bilang akan lebih lama disini." Tanya reithel. "Soal itu–" Tok-tok "Minumannya saya bawakan yang mulia." Tiba-tiba pintu diketuk dan terdengar suara Sebastian di sana. "Masuklah." Singkat Reithel, pintu bergerak lalu terbuka dan menampakkan Sebastian yang tengah membawa kereta makanan kecil yang berisi sedikit kudapan dan dua cangkir kopi. Reithel berjalan menuju sofa, diikuti Erland dan Sebastian. Erland duduk di sofa lain samping Reithel, lalu Sebastian menghentikan laju keretanya dan mulai menyajikan makanan kecil dan minuman untuk kedua duke ini. Setelah selesai, Sebastian membungkuk hormat dan pamit, lalu pergi keluar ruangan sembari membawa kereta makanan nya. Tangan Erland meraih secangkir kopi dan menghirupnya, harum kopi dan hangat nya menguar di hidung pria itu, membuatnya merasa tenang, lalu dengan santai Erland meminum isi kopi itu, lalu mendengus pelan. Reithel ikut meminumnya lalu menaruh cangkirnya kembali di meja, lalu pria itu mengangkat kakinya hingga bertumpu satu sama lain, "Jadi soal apa?" Tanya Reithel. Erland menaruh kembali cangkirnya, dan menegakkan duduknya, "Soal pemilihan putra mahkota, aku yakin kau dikirimi surat untuk ikut sebagai kandidat nya, karena Castillon masih memiliki darah kekaisaran, apa kau sudah menerimanya?" Tanya Erland, Reithel terdiam sebentar dan mengangguk. "Iya, tapi dengan segera aku membalas undangan itu dengan penolakan." Ujar Reithel, Erland mengangguk pelan. "Begitu ya, apa alasannya kau tidak menerima nya?" Tanya Erland, Reithel terdiam sebentar, lalu di benaknya terbayang sosok Eloise yang tersenyum dengan bunga popi merah di tangannya. "Hanya saja ada orang yang ingin ku lindungi," pria itu menahan ucapannya, lalu menatap wajah Erland. "Aku juga tidak menginginkan kekuasaan lebih, bagiku ini sudah lebih dari cukup, aku sudah bahagia dengan keadaan ku sekarang." Jelas Reithel. "Begitu ya, apa alasan yang kau tulis di surat balasan mu? Aku yakin kau tidak akan menjawabnya dengan itu." Ujar Erland, Reithel mendengus pelan dan mengangguk. "Aku hanya mengatakan tidak ingin terlibat banyak dengan kekaisaran dan tetap berdiri di area netral." Jawab Reithel, Erland mengangguk paham. "Kalau begitu aku akan menggunakan alasan itu." Ujar Erland, Reithel mengerutkan alis, Erland mengangkat kedua alisnya memandang Reithel dengan sorot tanya. "Kenapa?" Tanya Reithel, Erland terdiam sebentar. "Yah kau tahu, Ryknight sama seperti Castillon yang memiliki darah kekaisaran juga, aku menerima surat itu, aku ingin menolaknya tapi aku tidak tahu alasan apa yang cocok untuk ku katakan pada mereka." Jelas Erland, Reithel terdiam sebentar lalu mengangguk pelan. "Tampaknya kau masih belum terbiasa dengan kondisi mu sekarang?" Tanya Reithel, Erland tertawa renyah dan mendengus pelan. "Sangat, rasanya sangat sulit, kau tahu aku bukan tipe yang memandang orang lain dari statusnya sehingga aku terlalu ramah pada mereka, tetapi sikap ku yang seperti itu ternyata malah di manfaatkan mereka, dan bahkan menyakiti istriku, walau dia tidak mengatakan nya tapi aku mengetahui nya, dan aku sangat marah." Ujar Erland, Reithel diam menyimak, sembari menyesal kopinya. "Aku langsung menghukum mereka berat, dan pemikiran ku langsung berubah. Ketika kau memegang singgasana, ada banyak orang yang ingin menurunkan mu dari kursi itu walau itu bukan milik mereka, tetapi mereka membenci mu, karena kau berada di atas mereka. Hanya karena aku pernah hilang selama bertahun-tahun, mereka bersikap mengejekku seakan aku adalah orang yang tidak berpendidikan." Jelas Erland lagi, sembari tersenyum getir. "Lalu ketika aku menerima surat itu, aku berpikir untuk menerimanya, aku ingin menunjukkan pada mereka, kalau aku bukan orang yang bisa mereka sepelekan, aku berpikir aku bisa melindungi istriku dengan kursi itu." Raut wajah Erland marah, Reithel mendengus pelan, tetapi tidak lama kemudian Erland terdiam dan perlahan wajahnya kembali berubah, dan menjadi lebih lembut, pria itu tersenyum. Terbayang di benaknya, senyum istrinya, yang terukir dengan hangat di wajahnya. "Istriku menolaknya dan mengatakan, kalau aku adalah miliknya bukan milik rakyat, kalau aku menjadi kaisar, aku akan menjadi milik rakyat dan dia membenci hal itu." Erland tertawa, Reithel menatap jengah pria itu. "Jadi karena itu kau membutuhkan alasan yang tepat agar kekaisaran tidak menyentuh kalian?" Tanya Reithel, Erland mengangguk. "Lebih tepatnya, agar istriku hidup baik-baik saja tanpa gangguan dari kekaisaran." Ujar Erland, Reithel mengangguk paham. "Baiklah, pakai saja alasan yang ku gunakan, aku yakin mereka memahami mu." Ujar Reithel, Erland mengangguk mengerti. "Akan ku tulis malam ini, terima kasih sarannya." Ujar Erland, Reithel mengangguk lalu kembali menyesap kopinya, Erland menatap Reithel, lalu kembali bicara. "Omong-omong istriku hamil sekarang." Ujar Erland. "Benarkah? Aku harap kau tidak memperkosa istri mu, selamat kau menjadi calon ayah sekarang." Ucap Reithel santai, Erland tertawa pelan. "b******k, tentu saja tidak, kami melakukannya dengan cinta asal kau tahu! omong-omong Terima kasih." Balasnya, Reithel kembali menyesap tehnya, Erland mendengus panjang, lalu tangan pria itu bersandar di samping sofa, dan dagunya menumpu pada tangannya. "Jadi bagaimana dengan mu?" Tanya Erland, Reithel menatap nya tidak paham, Erland kembali mendengus untuk kesekian kalinya. "Kau dan Eloise, sekarang bagaimana? Bukankah kalian sudah balikan, lalu kalian tidak melanjutkan hubungan kalian lebih serius?" Tanya Erland, Reithel menaruh cangkirnya, dan mendengus pelan. "Aku...tidak tahu harus bagaimana, hanya saja kau tahu, kondisi sekarang membuat ku ragu untuk melakukan nya sekarang." Ujar Reithel, Erland mendengus lelah. "Kau ini, kapan majunya hubungan kalian kalau kau tidak mengambil langkah." Tukas Erland kesal. "Sudah ku bilang situasinya Erland." Reithel kesal, Erland kembali mendengus kali ini singkat, lalu berdiri. "Baiklah terserah kau, aku sudah memberitahu mu, kau harus memilih secepatnya atau kau akan menyesal." Ujar Erland, Reithel menatap nya tidak mengerti. "Aku pergi, terima kasih kopinya." Ujar Erland, hendak berjalan menuju pintu. "Hei!" Panggil Reithel, Erland menoleh kebelakang menatap Reithel. "Apa maksud mu aku akan menyesal?" Tanya Reithel, Erland terdiam sebentar lalu menyunggingkan senyuman. "Adikku bukan tipe pria yang akan menyerah begitu saja jika ada kesempatan tuan." Ujar Erland, kemudian pria itu membuka pintu dan pergi keluar dari ruangan Reithel. Mata langit Reithel menatap kepergian Erland, kemudian terlintas di benaknya, sosok Ariono yang menatap Eloise dengan sorot sayang. Reithel mengepalkan tangannya, lalu mengacak rambut belakangnya dengan kesal. "Sialan." ⬛⚪⬛ Sring! Tang! Tang! Tang! Aku menarik mundur posisiku setelah beradu pedang dengan Dominic, pria itu juga mundur lalu mengangkat tangannya, dari belakang Arjuna, melompat dan menarik tali busurnya, memunculkan teknik sihir bertarung nya, dimana banyak panah yang ada disekitar nya dan siap melesat ke arah ku. Zrug! Dengan cepat aku menusuk pedang ku ke tanah, memunculkan pelindung, lalu mengucapkan kalimat teknik nya, arjuna menambah sihir api pada anak panahnya, lalu melepas tali busur nya dan anak panah itu melesat ke arah ku. Trang! Trang! Semua anak panah itu hancur, pelindung ku berhasil menahan nya hingga tidak menyentuh ku. Kemudian dengan cepat aku menarik pedang ku, lalu aku mengayunkan pedang suci ini hingga tubuh ku berputar, lalu di sekitar ku muncul banyak sekali pedang hingga tidak terhitung. Aku melihat mata Arjuna dan Dominic terbelalak terkejut, sekali lagi aku mengayunkan pedangku lalu ribuan pedang itu melesat mengarah Dominic. "KAU GILAA!" Dominic berteriak, pria itu langsung melompat menyentuh Arjuna dan Hespirvit itu langsung menghilang dan berganti menjadi Achilles. "Achilles! Nobirma!" Seru Dominic, Achilles langsung memunculkan perisainya. "Nobilis Arma! Kosmos!" Seru Achilles lalu muncul pelindung besar yang berasal dari perisainya. Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Pedang-pedang ku berhasil di hancurkan oleh perisai Achilles hingga habis, lalu setelah selesai, badan ku menjadi lemas, ini pasti efek karena aku terlalu banyak menggunakan sihir Risilv ku, sedangkan daya serap sihir ku masih rendah. Aku menjatuhkan pedangku ke tanah, lalu tubuhku jatuh duduk, nafas ku tersengal-sengal, kemudian mata ku menatap ke arah Achilles. Hespirvit itu menghilang perlahan, aku terkejut, "Ah! Achilles?!" Seruku. "Tenang saja, itu efek dari Hespirvit ketika mengeluarkan Nobirma mereka, Achilles baik-baik saja, tidak mati." Ujar Dominic berjalan mendekat ke arah ku, aku mendengus lega. "Begitu, baguslah." Ujarku, Dominic mendengus lelah, lalu menatapku dengan ekspresi kesal, aku mengangkat kedua alisku tanya, lalu tangan pria itu bergerak menunjuk ke arah belakangnya. Aku menatap ke arah yang di tunjuk nya, aku sangat terkejut kala melihat taman belakang perpustakaan, pepohonan nya hancur lebur, dan terpotong-potong. Aku terdiam dengan mulut menganga, lalu mataku menoleh ke arah Dominic yang tengah menyilang tangannya di depan d**a, dan mengetuk-ngetuk kakinya ke tanah. Aku mengangkat kedua tanganku, "A-aku bersedia untuk bertanggung jawab...." Ujarku dengan terbata-bata, pria itu mendengus lelah. "Besok kau bantu petugas kebersihan akademi untuk memperbaiki ini." Ujar Dominic, aku mendengus dan mengangguk, kemudian aku teringat dengan salah satu adegan di buku itu. Dimana Eloise pernah hampir membakar seluruh taman ini, hingga rumput nya semuanya rusak, tapi Dominic tidak meminta Eloise untuk memperbaiki. "Hei! Waktu itu Eloise pernah hampir membakar taman ini kan? Tapi kok dia tidak kau suruh untuk memperbaiki nya?" Ujar ku dengan jengkel, pria itu mendengus lelah. "Eloise jelas tidak sengaja maupun di rencana, dan yang rusak juga hanya rumput, kalau kau? Lihat." Dominic menunjuk lagi bagian taman belakang yang ku rusak. "Kau bahkan merusak pepohonan nya tahu." Kesal Dominic, aku mendengus pelan, dan memutar mataku. "Baik-baik aku mengerti kok.." ujarku lalu bangkit berdiri dan mengambil pedang suci ku dari tanah, lalu menyarungkan kembali ke tempatnya. "Latihan hari ini selesai, aku harus menghubungi petugas kebersihan akademi dan melaporkan hal ini." Ujar Dominic, mataku terbelalak. "Hei! Kau laporkan bagaimana? Jika kau mengatakan ini adalah kesalahan ku, dan misalnya terdengar oleh pangeran Raven, aku bisa mati bodoh." Tukas ku, pria itu mendengus. "Aku harus melapor sejujurnya, mana bisa aku memalsukan nya, memangnya kau punya alasan lain untuk hal ini?" Tanya Dominic, aku terdiam, dan mendengus pelan. "Baiklah aku mengerti..." Ujar ku lemah. "Tenang saja, selama kau mau tanggung jawab, akademi tidak akan melaporkan kejadian ini ke ksatria, jadi aman." Ucap Dominic, aku menatap nya dan mengangguk, sembari mendengus lagi. "Okeh okeh, aku datang besok, baiklah aku pergi dulu ke kuil." Ujar ku, Dominic menoleh ke arahku. "Untuk apa?" Tanya pria itu. "Ya apalagi, berendam di kolam suci Risilv, memangnya ada yang lain?" Tanya ku, Dominic menggeleng. "Tidak, kupikir kau berendam sebelum kesini, secara kolam itu dingin juga, jadi lebih enak jika berendam nya ketika siang bukan sore benarkan?" Ujar Dominic mengangkat sebelah alisnya, aku terdiam. "Tidak, lagipula habis latihan begini, badan ku panas, dan lelah." Balasku, Dominic ber-oh ria. "Ohh, ku kira ada alasan lain." Ujar Dominic, tiba-tiba saja terbesit di benak ku, ketika aku tanpa sengaja melihat Raven berendam di sana, dan tampak tubuh kekarnya yang memiliki banyak bekas luka, ia menatap ku dingin, dengan rambut yang setengah basah. Blushh!! "Sial!" Aku menjatuhkan tubuhku dan memukul tanah, wajahku memerah padam, seketika aku merasa malu setengah mati. Walau kejadian waktu itu sudah cukup lama, beberapa minggu yang lalu, tapi tetap pemandangan waktu itu tidak bisa ku lupakan dari ingatan ku. 'Harus ku akui, Raven sangat tampan waktu itu, aku ingin memotretnya kalau bisa...' Aku berpikir dan menutup mulutku lalu mengerutkan alisku, kemudian aku mendengus panjang, dan menoleh ke arah Dominic. Aku terkejut, karena Dominic menatapku dengan sangat aneh, "Ada apa dengan matamu itu!" Seruku. "Apa ya, seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau begitu?" Tanya Dominic masih dengan sorot yang sama. "Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?" Tanya pria itu lagi, dengan cepat aku membuang muka, lalu bangkit berdiri dan membelakangi Dominic. "Su-sudah ya! Kita lanjut besok! Aku janji akan datang untuk memperbaiki bagian taman yang ku rusak dan berlatih, sampai jumpa!" Ujar ku, lalu berjalan pergi Begitu saja meninggalkan Dominic. - - - To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN