Chapter 18 [Eksekusi Garthside]

2274 Kata
Happy reading! - - - Gellius keluar dari ruang sidang, tiba-tiba saja rasa sesak di dadanya kembali muncul, pria itu memegang dinding di samping nya dan terbatuk keras. "UHUK! UHUK-UHUK!" Gionard dan Raven terkejut, Raven hendak berlari dan tangannya meraih ke arah ayahnya, tetapi Gionard berhasil mendahului nya, dan memeluk sang ayah. Raven terdiam membeku di tempat, dan menatap Gionard yang tengah berusaha menenangkan ayahnya, sembari memerintahkan beberapa pelayan untuk membantunya. Raven menjatuhkan tangannya, lalu mengepal, pria itu menurunkan alisnya, dan mengatupkan bibirnya, ia mendengus pelan, Raven membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi untuk kembali ke istana ksatria. Di samping itu, ketika Gellius di tengah batuknya, pria itu sempat menoleh sedikit ke arah dimana Raven berada, ia melihat putra kedua nya yang melangkah pergi meninggalkan nya, Gellius merasa sedih, tapi pria itu juga paham jika Raven bersikap seperti itu. Ia tidak pernah menjadi sosok ayah bagi Raven. Dan pria itu melibatkan Raven untuk menjadi salah satu kandidat putra mahkota demi kekaisaran bukan sebagai ayah yang mempercayai putranya, Gellius melihat potensi yang bagus untuk menjadi seorang pemimpin maka nya ia melibatkan Raven. Di sisi lain, Gionard melirik ayah nya yang tengah menatap kepergian Raven, pria itu mengatupkan giginya kesal, karena perhatian sang ayah perlahan mulai beralih ke Raven. "Pangeran Gionard?" Tanya seorang pelayan menyadarkan renungan Gionard, sang pelayan sudah membawa kursi roda untuk Gellius. "Ayah, ayo duduk disini, ayah tidak kuat jika harus jika harus berjalan ke kamar ayah walau ku papah." Ujar Gionard, sang ayah mengangguk lalu bergerak untuk duduk di kursi. "Sisanya biar ku urus, kalian tolong sampaikan permaisuri untuk pergi ke kamar kaisar, karena kaisar sedang sakit." Titah Gionard, beberapa pelayan mengangguk lalu berjalan cepat untuk pergi menemui Delayna. Gionard mendorong kursi roda ayahnya dengan lembut agar Gellius merasa nyaman. "Ayah jangan terlalu memaksakan diri ayah untuk melakukan pekerjaan, ayah harus menjaga kesehatan." Ujar Gionard lembut, Gellius masih sedikit terbatuk-batuk, kemudian mendengus pelan. "Tidak bisa, ada banyak hal yang harus ku tangani langsung." Ucap Gellius. "Ayah, aku bisa mengurus nya." Ujar Gionard, Gellius mendengus pelan. "Kau terlalu sibuk dengan urusan mu, justru malah Raven yang akhirnya menyelesaikan semuanya, kau jangan terlalu terlibat dengan bangsawan, kita kekaisaran harus lebih mementingkan rakyat, mengenai bangsawan sudah di pegang oleh para dewan petinggi bangsawan, aku ingin kau lebih menyayangi rakyat di banding mengurus para bangsawan itu." Panjang Gellius. "Ayah..." Gionard berucap dengan nada lelah, Gellius mendengus pelan. "Aku yakin umurku tidak akan lama lagi Gio, aku ingin kau bisa menggantikan posisi ku di kursi kaisar, tetapi melihat kinerja mu belakangan ini, aku jadi tidak yakin." Ujar Gellius, Gionard merasa sedikit terpuruk, Gellius mendengus lagi. "Siapapun yang terpilih nanti, aku ingin kau bekerja sama dengan Raven, kalian adalah anak-anak ku, aku ingin kalian berhubungan baik. Gio, tolong jangan terlalu terpaku dengan ibu mu, aku tahu ibu mu membenci Raven, tapi anak itu tidak salah apa-apa, karena itu bersikap baiklah padanya, rangkul dia sebagai saudara mu, ini semua demi kekaisaran." Ujar Gellius. Gionard terdiam sebentar, kemudian menggerakkan bibirnya. "Aku mengerti ayah." Singkat Gionard, pria itu menatap ke depan nya dengan sorot dingin, terbayang di benaknya sosok Raven yang bersama dengan bawahannya, dimana mereka sering tersenyum bersama walau Raven tidak, seakan keberadaan Raven sangat berharga bagi mereka. Gionard bisa melihatnya, walau Raven tidak sepenuhnya berdarah kekaisaran seperti dirinya, tapi dia sangat di sayangi oleh banyak orang, padahal sikap Raven tidak kalah dingin dengan ayahnya, tetapi banyak orang yang menyayangi nya. Di tambah Raven memiliki kemampuan bertarung dan berperang yang tinggi, terutama dalam menyusun strategi, hal itu membuktikan Raven memiliki potensi besar sebagai kaisar. Dan itulah yang sangat di benci Gionard. Gionard bersikap baik pada Raven hanya di hadapan publik, aslinya Gionard sangat membenci Raven. Di dalam pikirannya, Raven bisa merebut apapun yang Gionard miliki, hal itu yang sangat ingin di hindari oleh Gionard. Dan hal itu terbukti dari sikap ayahnya yang perlahan berubah menjadi lebih peduli pada Raven, dan bahkan melaksanakan pemilihan ulang putra mahkota. Karena itu, Gionard ingin membunuh Raven. 'Aku tidak akan membiarkan mu mengambilnya, karena semua yang ada disini adalah milikku.' ⬛⚪⬛ Klotak-klotak Aku menarik tali kekang kudaku untuk menghentikan lajunya. Aku tiba di depan mansion Castillon, aku berniat ke sini untuk mengajak Eloise berjalan-jalan ke Fleurland dan di kota terdekat daerah itu, aku sudah membawa tas kecil di pinggangku yang berisi banyak uang untuk mentraktir nya banyak makanan atau barang yang dia inginkan, walaupun aku tahu Reithel bisa memberikan uang sebanyak apapun yang Eloise mau. But today is girls day out! Aku menepuk tas ku dan berkacak pinggang ku kemudian mendengus lalu menyunggingkan senyuman. 'Yah setelah sidang kemarin, aku yakin Eloise sedang dalam keadaan tidak baik, hatinya pasti risau dan sedih, intinya galau sih, karena itu aku akan mengajaknya jalan-jalan hari ini!' Pikirku bersemangat, lalu aku berjalan dengan langkah riang masuk ke mansion Castillon, pelayan yang menjaga pintu membukakan pintu untuk ku, aku mengucap terima kasih, lalu melanjutkan langkah ku dan hendak pergi ke ruangan Eloise, tetapi di ruang utama, aku melihat Sebastian yang baru saja turun dari tangga. "Oh Sebastian, selamat pagi!" Sapaku riang. "Selamat pagi nona Shannon, apa nona ingin bertemu nona Eloise?" Tanya sebastian, aku mengangguk cepat. "Dia ada di kamarnya, aku langsung ke sana ya." Aku hendak berjalan tetap Sebastian menggelengkan kepalanya, langkah ku seketika berhenti, dan menatap pria paruh baya itu dengan sorot tanya. "Nona Eloise sudah pergi dari satu jam yang lalu." Ujar Sebastian, aku mengangkat kedua alisku terkejut. "Benarkah? Pergi kemana dia?" Tanya ku, Sebastian terdiam sebentar lalu mendengus pelan. "Ke ibu kota Rayash." Balas Sebastian. "Ibu kota Rayash...ah!" Aku teringat, kalau hari ini adalah hari eksekusi orang tua asuh Eloise, aku langsung menurunkan alisku dan memasang ekspresi khawatir. 'Apakah Eloise hendak melihat prosesnya? Tapi kalau dia melihat nya...' Aku membayangkan Eloise yang wajahnya seakan memasang ekspresi dingin, aku menggeleng cepat. "Ini tidak bagus." Gumam ku, kemudian aku mengangkat kepalaku. "Apa Eloise sudah izin dengan Reithel?" Tanya ku, Sebastian menggeleng lagi. "Nona tidak izin pada yang mulia, karena nona tidak ingin mengganggu istirahat yang mulia setelah pekerjaan kemarin." Ujar Sebastian aku mengangguk paham. Memang Reithel pasti lelah sekali, karena kemarin dia menjadi bagian dari sidang sebagai penuntut umum, pasti dia harus membuat banyak laporan dan mengurus berbagai berkas-berkas. "Baiklah Sebastian, terima kasih informasinya, aku pergi dulu, jika Reithel sudah bangun atau selesai istirahat, katakan padanya untuk tidak khawatir, Eloise akan pulang bersama ku nanti.", Ujar ku dan melangkah pergi. "Baik nona." Ucap Sebastian sembari membungkuk hormat, aku mengangguk lalu melanjutkan langkah ku untuk keluar dari mansion, kemudian aku kembali menaiki kuda ku. "Ini gawat, aku harus cepat ke sana sebelum eksekusi nya dilakukan." Gumam ku, lalu langsung pergi ke ibu kota Rayash untuk menemui Eloise. ⬛⚪⬛ Ibu kota Rayash kini dalam keadaan ramai, karena eksekusi publik akan di lakukan hari ini. Semua warga keluar dari rumah mereka untuk menyaksikan bangsawan yang akan di hukum mati. "Katanya Garthside yang akan di hukum mati? Apa yang terjadi pada mereka?" "Kudengar kabarnya mereka melakukan bisnis ilegal, yaitu perdagangan manusia!" "Astaga mereka benar-benar biadab!" "Padahal kaisar Gellius sudah menetapkan peraturan, bahwa tidak ada perdagangan manusia dan p********n lagi di kekaisaran ini." "Benar, kaisar kita memang hebat, sangat berperikemanusiaan!" "Tapi sayang sekali, ternyata masih banyak yang melanggar peraturan itu dan masih melakukan nya di balik layar." "Banyak bangsawan yang mengecewakan, walau tidak sedikit juga yang sangat mendukung dan menjaga tugas mereka pada rakyat seperti kita." "Benarkah? Siapa saja?" "Yang paling terkenal adalah Castillon, Ryknight, Wheatlight, Weitzman, sebenarnya masih banyak lagi, tapi diantaranya mereka lah yang paling berperan banyak!" "Omong-omong, di samping itu, bagaimana dengan anak dari Garthside? Ku dengar mereka mengasuh anak yatim piatu?" "Aku dengar Shannon dan Eloise sudah keluar dari Garthside karena suatu masalah, tetapi mereka Sekarang sudah hebat, Shannon menjadi ksatria yang di bawahi langsung oleh pangeran Raven, dan Eloise telah menjadi penyihir yang berhasil mengalahkan naga legenda yang di ramalkan akan menghancurkan Roxane di waktu mendatang." "Wah mereka hebat sekali ya." "Tapi kudengar setelah kepergian keduanya, Garthside mengasuh anak lagi bukan? Dia pernah mengikuti upacara kedewasaan 5 tahun yang lalu." "Benarkah? Siapa namanya?" "Cecilia kalau tidak salah, bagaimana ya kabarnya?" "Kudengar anak itu sudah meninggal karena di bunuh secara misterius!" "Astaga kasihan sekali." "Begitulah." Eloise mendengus pelan mendengar warga yang berbicara satu dengan yang lain, dia tidak begitu terkejut jika banyak warga yang mengetahui soal mereka, karena bangsawan juga banyak mulut di tengah lingkungan rakyat. "LIHAT ITU DIA PENJAHATNYA!!" "b******k SEKALI! BERANINYA DIA MELANGGAR PERATURAN YANG DI BUAT OLEH KAISAR!" "MEREKA SANGAT TIDAK MANUSIAWI, MELAKUKAN BISNIS ILEGAL PERDAGANGAN MANUSIA DAN p********n! "SEGERA HUKUM MATI!" "JANGAN DOAKAN DIA, MASUKKAN MEREKA KE NERAKA!" Semua warga yang mengumpul di sekitar panggung yang akan di laksanakan hukuman eksekusi untuk kedua mantan orang tua Eloise. Marchel dan Natalie di bawa dengan tali tambang kasar, baju mereka lusuh dan kotor, mereka di seret dan di bawa ke depan tali tambang yang akan menjadi kunci mereka ke pintu ajal. Kedua orang itu tidak berhenti menangis dan memohon ampun, Marchel mengangkat wajah nya, tampak di atas ada kaisar Gellius bersama permaisuri Delayna tengah duduk menyaksikan mereka, dan di sisi kanan dan kiri mereka ada Gionard dan Raven yang juga ikut melihat mereka. "YANG MULIA! MOHON AMPUNI HAMBA YANG MULIA! HAMBA MENGAKU HAMBA SALAH! TOLONG HAMBA KESEMPATAN UNTUK HIDUP! YANG MULIA HAMBA MOHON! HAMBA TIDAK INGIN MATI!!!" Marchel berteriak dengan derai air mata, tapi seruannya tidak di hiraukan oleh Gellius, kaisar itu menatap sang eksekutor, dan orang itu mengangguk mengerti, lalu tangannya memberi aba-aba pada ksatria yang memegangi kedua penjahat itu. Eloise menatap mereka dalam diam, gadis itu mengenakan jubah merah tua dengan tudung yang menghalangi wajahnya, tapi tidak dengan pandangan matanya. Eloise berdiri di belakang keramaian rakyat dan mengangkat kepalanya, gadis itu bisa melihat Marchel dan Natalie yang masih memberontak tidak ingin di hukum mati. "Eksekusi akan di mulai! Dalam hitungan!" "1!!" Warga yang melihat eksekusi itu ikut menghitung mundur. "2!!" Eloise menarik nafas, matanya menatap nanar, kedua orang itu sedang di kalung kan tali tambang yang akan menjadi alat eksekutor mereka. "3!!" Srukk! Mata Eloise terbelalak dan terkejut, kala tiba-tiba saja, sebuket bunga popi merah muncul di hadapan nya, menghalangi pandangannya melihat eksekusi itu. Kemudian tiba-tiba seseorang memegang pundak nya, dan memutar tubuh Eloise begitu saja ke belakang. "Shannon..." Sebut Eloise, Shannon tersenyum kemudian mengulurkan buket bunga di tangannya ke arah Eloise. "Jangan melihat yang akan melukai mu, kau berhak untuk hidup bahagia tanpa bayang-bayang masa lalu." Ucap Shannon, Eloise terperangah, lalu menatap sendu Shannon. Kemudian mata rubi nya menatap buket bunga popi merah lalu tangannya dengan perlahan mengambil buket itu, senyum Shannon semakin lebar, lalu tangannya meraih tangan Eloise yang kosong. "Hari ini kita jalan-jalan yuk, ada yang ingin ku tunjukkan padamu." Ajak Shannon, Eloise mengangguk. Shannon tersenyum, "Ah tapi begini, kau tahu walaupun aku punya sihir Risilv aku tidak bisa melakukan teleportasi, karena itu bisa kah kita memakai kemampuan teleportasi mu?" Tanya Shannon, Eloise terdiam sebentar lalu tertawa pelan lalu mendengus pelan. "Baiklah, kita kemana?" Tanya Eloise, Shannon tersenyum menampakkan giginya. "Fleurland!" Seru Shannon. "Apa kau bisa melakukan teleportasi kesana?" Tanya Shannon lagi dengan ragu, Eloise mengangguk dengan senyum. "Tentu saja, tapi aku hanya tahu di perbatasannya saja." Ujar Eloise. "Hmm jauh sekali dari rumah itu." Gumam Shannon, Eloise tidak bisa mendengar nya karena bisingnya suasana. "Kalau begitu kalau di teleportasi bersama dengan kuda ku bisa tidak?" Tanya Shannon dengan suara lebih keras, Eloise mengangguk, Shannon bernafas lega. "Baiklah kalau begitu ayo!" ⬛⚪⬛ Cklek "Sudah ku bersihkan, jadi tidak berdebu lagi!" Seru Shannon dengan senang, Eloise masuk kedalam rumah itu sembari melihat setiap sudut ruangan. "Ini rumah mu?" Tanya Eloise dengan sorot bingung, Shannon tertawa pelan, kemudian ia menarik tangan Eloise lembut, lalu menuntun gadis itu menuju lantai atas. "Ini bukan rumah ku, tapi rumah kau dan kakak mu." Ujar Shannon, Eloise mengangkat kedua alisnya terkejut. Shannon menunjuk pintu yang terdapat sebuah papan nama berwarna merah, "Kau lihat, itu kamar mu, lalu itu kamar kakak mu, dan itu ruang perpustakaan, karena kalian suka membaca buku." Jelas Shannon. Eloise terperangah, dan terdiam, dia tidak tahu harus merespon apa. Shannon mendengus pelan, lalu bersandar di dinding, kemudian menatap Eloise. "Apa kau ingat? Rencana kakakmu yang ingin pergi jauh dari ibu kota bersama mu, dan hidup berdua saja?" Tanya Shannon, Eloise terdiam, dan terlintas di benaknya. "A-aku sudah membeli rumah di kota Dellwick, sekarang aku mengumpulkan uang untuk membuka usaha nanti... Eloise..." Air mata Eloise terjatuh, Shannon terdiam menatapnya, Eloise tertawa pelan. "Jadi dia benar-benar membeli nya...hahaha..." Ucap Eloise sembari menghapus air matanya, kemudian mendengus pelan. "Padahal waktu itu dia mengatakan kalau rumahnya di kota Dellwick, tetapi ternyata tidak." Ucap Eloise lagi sembari tertawa. "Benarkan dia bicara begitu?" Tanya Shannon, Eloise mengangguk sembari tertawa pelan lagi. "Yah begitulah, saat itu suasana sedang sedih juga, mungkin itu membuat kakak ku jadi gugup bicara." Ujar Eloise, Shannon mengangguk pelan. Ia ingat adegan ketika Eloise dan Shannon berbicara setelah lama tidak bertemu, itu di jelaskan di buku pertama yang di baca nya sebelum mati. "Padahal rumah nya kredit lho." Shannon tertawa pelan, Eloise terkejut. "Eh benarkah? Astaga kakak." Eloise tertawa lagi, Shannon ikut tertawa. "Artinya belum lunas ya? Kalau begitu biar aku yang membayar nya." Ucap Eloise lagi, Shannon menggeleng. "Dominic sudah membayar nya lunas, kau tahu dia sangat kaya, jadi tidak perlu khawatir." Ucap Shannon, Eloise ber-oh ria. "Begitu ya, aku harus berterima kasih pada master." Ucap Eloise, Shannon mengangguk. "Hei, ayo kita ke kota Dellwick, kota nya ada di dekat sini, jalan kaki juga sampai." Ajak Shannon, Eloise menatap tanya. "Untuk apa?" "Tentu saja untuk jalan-jalan! Sekalian kita perlu sedikit membeli bahan makanan, ayo kita menginap disini selama semalam, aku sudah memberitahu Sebastian untuk menyampaikan ke Reithel kau akan pulang bersama ku." Jelas Shannon, Eloise terdiam sebentar lalu mengangguk. "Baguslah! Ayo kita pergi!" - - - To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN