Happy Reading!
-
-
-
Setelah beberapa hari.
Akhirnya hari yang di maksud telah tiba.
Sidang resmi kekaisaran tertutup, atas kasus keterlibatan bangsawan Garthside dengan sekte musuh Warzerten.
Mathias mendengus pelan, kemudian matanya menatap sekeliling ruang sidang, pria itu bisa melihat beberapa orang yang di undang sudah datang.
Cklek!
Kaisar Gellius datang bersama dengan kedua anaknya, Gionard dan Raven, semua orang yang ada di ruangan langsung berdiri kala melihat kedatangan sang matahari kekaisaran, pria itu berjalan menuju kursinya sebagai hakim agung, sedangkan Gionard dan Raven duduk di samping gellius sebagai hakim anggota.
Semua orang perlahan membungkuk, lalu mengucapkan, "Hormat kami, sang matahari kekaisaran, Kaisar Gellius Dawnfowl Roxane, Pangeran Gionard Darnfroz Roxane, dan Pangeran Raven Blackwell Roxane, semoga keberkahan Risilv dan omnia senantiasa menemani anda." Mereka bersamaan.
Gellius mengangguk untuk merespon, "Sebentar lagi kita akan mulai sidang resmi kekaisaran tertutup ini, sebelum itu, aku akan memeriksa kehadiran orang yang ku undang ke sidang ini untuk memenuhi tugas mereka dalam kasus ini." Gellius menahan ucapannya, lalu membuka buku yang berada di atas meja.
"Dominic hartmann, Penyihir Agung ketiga, sebagai jaksa, Reithel Quinn Castillon sebagai penuntut umum, Simon Clark Davendral sebagai Penyidik." Sebut Gellius, ketiga pria yang di panggil berdiri lalu membungkuk hormat, mereka duduk di meja yang sama.
"Steve Sunlite Weitzman, sebagai pengacara terdakwa." Pria itu berdiri dan membungkuk
"Mathias Theodore Roxane dan Arvid Galsale Harvolson sebagai Penasihat hukum." Sebut lagi Gellius, kedua pria itu lalu berdiri bersama dan membungkuk hormat, Gellius mengangguk lalu kembali membaca kertasnya.
"Robert Nicholas Wheatlight, Penyihir Agung pertama, sebagai Saksi Sidang, Patrishia Feissmann, Penyihir Agung kedua, sebagai saksi Sidang, dan Erland Dragutin Ryknight sebagai Saksi Sidang." Sebut lagi kaisar Gellius, kemudian ia menutup bukunya, lalu yang di panggil berdiri dan membungkuk hormat.
Gellius menarik nafas, "Sekarang datangkan terdakwa kesini." Titah Gellius.
Beberapa ksatria yang berjaga di sana bergerak keluar dari ruang sidang, tak lama kemudian mereka membawa dua orang terdakwa dalam kasus ini.
Marquiss dan Marchionnes Garthside.
"Marchel Lonnie Garthside, Natalie Phelps Garthside." Sebut Gellius, pasangan suami istri itu bergerak membungkuk hormat, terlihat tubuh mereka yang bergetar karena ketakutan.
"Hormat kami, Sang matahari kekaisaran Roxane, Kaisar Gellius Dawnfowl Roxane, Pangeran Gionard Darnfroz roxane dan Pangeran Raven Blackwell Roxane, semoga keberkahan Risilv dan Omnia senantiasa menemani anda." Ujar mereka dengan suara gugup, kemudian mereka duduk di kursi yang sudah di siapkan, Gellius mendengus pelan.
"Dengan ini sidang di mulai." Gellius mengangkat palunya.
Tok-tok-tok!
Seketika suasana berubah menjadi tegang dan dingin, "Hartmann silahkan penjelasannya." Ujar Gellius, Dominic berdiri, kemudian berdeham lalu menatap kedua terdakwa dengan sorot dingin, lalu mendengus pelan dan menatap Gellius.
"Pertama-tama persilahkan saya untuk menjelaskan apa saja yang saya temukan dalam penyelidikan saya selama beberapa tahun ini.
21 tahun yang lalu, Garthside mengadopsi bayi kembar yatim piatu dari panti asuhan Lightmallow, dimana bayi itu adalah Shannon Shafiria dan Eloise Somnivera, mereka melakukan itu atas perintah Pillar pertama Warzerten, Matthew Woods, hal ini terbukti pada surat perjanjian yang berhasil kami temukan, dan juga dokumen adopsi dari panti asuhan." Dominic mengambil sesuatu dari kolong meja nya, itu adalah sebuah gulungan kertas yang tampak sudah sangat usang, tangan pria itu bergerak membuka nya, kemudian membaca surat tersebut.
"Saya akan membacakan Surat Perjanjian nya.
Surat perjanjian.
Dengan adanya surat ini, secara resmi, Marchel lonnie Garthside dan Natalie Phelps Garthside, siap mengadopsi Shannon Shafiria dan Eloise Somnivera, hingga waktu yang di tentukan, sebagai balasannya, Matthew Woods pillar pertama warzerten akan menyokong sepenuhnya biaya hidup kedua bayi yang di adopsi juga Marchel Lonnie Garthside dan Natalie Phelps Garthside, juga tambahan uang dengan jumlah yang sudah tertulis.
Dengan di tandatangani nya surat ini, maka dengan sah perjanjian ini berjalan."
Grekk!
"KAMI DI ANCAM!" Tiba-tiba saja Marchel berdiri dan berteriak pada Dominic, penyihir agung ketiga itu hanya menatap dingin sembari menutup surat itu lagi, Marchel bergerak mengarah Gellius berada.
"Yang mulia, hamba mohon, hamba tidak bersalah, Warzerten telah mengancam keluarga kami, jika kami tidak menandatangani surat tersebut dan melakukan tugas yang mereka berikan, mereka akan membunuh kami semua!
Hamba mohon yang mulia, hamba tidak bersalah disini, hamba–"
"Diam." Gellius memotong dengan nada dingin dan aura marahnya yang mulai keluar.
"Aku belum menyuruh mu bicara." Ucapnya lagi dengan sorot tajam, seketika membuat Marchel semakin ketakutan.
"Ada lagi Hartmann?" Tanya Gellius.
"Tidak ada yang mulia, keterlibatan Garthside dengan Warzerten dari bukti yang di kumpulkan, semua nya sebatas karena uang." Ujar Dominic, Gellius mengangguk.
"Karena itu, hamba mengajukan hukuman untuk terdakwa, yaitu penjara seumur hidup yang mulia." Ujar Dominic.
Mendengar hal itu, kedua pasangan suami istri terdakwa itu terkejut.
"Ya-yang mulia, ha-hamba mohon kepadamu yang mulia, hukuman itu terlalu berat, hamba mohon kemurahan hati untuk hamba yang mulia." Ujar Marchel setengah bergerak setengah bersujud, begitu juga dengan Natalie sembari menangis tersedu-sedu.
"Kalau begitu, mari kita tanyakan pendapat kepada kedua anak itu, Shannon dan Eloise, karena dalam kasus ini mereka juga bisa dikatakan sebagai korban." Ujar Gellius, lalu tangannya bergerak menyuruh beberapa ksatria untuk menjemput kedua saudara itu.
Lalu tak lama kemudian, akhirnya tiba, Shannon dan Eloise, mereka berjalan berdampingan, mata Eloise menatap sedih kedua pasangan terdakwa tersebut yang pernah menjadi orang tua nya, sedangkan Shannon hanya menatap mereka dengan ekspresi datar.
"Hormat kami, Sang matahari kekaisaran, Gellius Dawnfowl Roxane, pangeran gionard Darnfroz roxane dan Pangeran Raven Blackwell Roxane, semoga keberkahan Risilv dan Omnia senantiasa menemani anda." Hormat kedua gadis itu di hadapan Gellius.
Kaisar tersebut mengangguk, lalu tangannya bergerak mengunjuk ke arah dimana posisi mereka, Shannon dan Eloise di minta untuk duduk di dekat Dominic, Reithel dan Simon.
"Untuk Shannon dan Eloise, setelah penjelasan kasus tadi, jaksa telah menentukan hukuman yang pantas untuk mantan kedua orang tua kalian ini." Ujar Gellius, kedua saudara itu mengangguk.
"Hukuman yang di ajukan, adalah penjara seumur hidup, aku ingin bertanya sesuatu karena kalian juga saksi yang penting dan juga Sebenarnya korban dari mereka." Gellius menahan bicara nya kemudian menarik nafas.
"Jadi, bagaimana pendapat kalian?"
Shannon mengangkat tangannya, "Izinkan hamba bicara yang mulia." Gellius mengangguk.
"Pendapat hamba dalam hal ini yaitu, saya tidak peduli." Ujar Shannon yang seketika membuat Marchel dan Natalie terkejut, mereka ingin angkat bicara, tetapi Gellius kembali menatap tajam membuat mereka mengurungkan niatnya.
"Tetapi, hamba yakin Eloise juga ingin berpendapat jadi tolong izinkan ia bicara yang mulia." Ujar Shannon membuat Eloise menoleh terkejut.
"Tentu saja, aku tidak bertanya pada satu saja," mata Gellius bergerak menatap Eloise, gadis itu sedikit membungkuk hormat.
"Eloise, bagaimana pendapat mu?" Tanya Gellius, gadis itu terdiam.
Shannon menatap Eloise dalam diam.
'Aku tidak bisa memberi pendapat banyak soal kasus ini, karena aku bukan Shannon yang sebenarnya, aku tidak tahu bagaimana keadaan mereka ketika bersama kedua orang itu, karena itu, semua ini tergantung pada Eloise.'
Pikir Shannon, Eloise menatap kedua terdakwa itu, tiba-tiba saja Natalie mantan ibu Eloise berdiri.
"E-Eloise sayang, maafkan ayah dan ibu ya nak sebelumnya, ka-kami tidak bermaksud jahat sama sekali padamu, hanya saja kondisi menyebabkan kami harus melakukannya karena itu...ibu mohon padamu...yah...?" Ucap Natalie dengan tangan memohon dan derai air mata, Eloise terdiam.
Shannon mengatupkan giginya, gadis itu tahu kalimat Natalie hanyalah sekedar kedok untuk meminta bantuan Eloise agar bisa menyelamatkan nya dari hukuman.
Tapi keterlibatan mereka terhadap musuh kekaisaran tidak bisa di tolerir.
Eloise mendengus pelan, "Seperti yang di katakan jaksa, kesalahan kalian terlibat dengan musuh kekaisaran tidak bisa di ampuni, tetapi jika kau bertanya apakah aku memaafkan mu, jujur saja, aku memang sudah memaafkan mu, karena walaupun kalian berniat buruk tapi kalian mengurusku dengan baik, dan aku menghargai itu."
Shannon mengusap wajahnya kasar, dan mendengus dalam.
'Sudah kuduga Eloise akan berkata seperti itu....dia benar-benar terlalu pemaaf...'
Shannon merasa sedikit jengkel dengan Eloise, tetapi gadis itu sadar ia tidak bisa mengendalikan keputusan Eloise karena dia memang bukanlah Shannon yang sebenarnya.
"Karena itu, hamba meminta keringanan hukuman untuk mereka yang mulia, yaitu pengasingan." Ujar Eloise, Shannon semakin jengkel mendengar itu.
Tetapi mau bagaimana lagi, gadis itu sudah memutuskan untuk menyerahkan hal ini pada Eloise sepenuhnya.
"Begitu ya, karena Eloise yang bisa dikatakan sebagai saksi dan korban merasa tidak keberatan dan memaafkan mereka, hukuman bisa diubah, apa disini punya pernyataan lain?" Tanya Gellius sembari mengangkat tangannya setengah dan melihat sekeliling.
Mengejutkan.
"Steve Sunlite Weitzman, mengapa kau mengangkat tangan mu, apakah hukuman yang di ajukan masih terlalu berat untuk terdakwa?" Tanya Gellius, pria berkacamata itu berdeham dan menaikkan kacamatanya.
"Sebelumnya hamba ingin meminta maaf yang mulia, karena hamba tidak bisa menjalankan tugas hamba disini dengan baik." Ujar Steve sembari membungkuk hormat.
"Ada apa dengan mu?" Tanya Gellius.
"Sebenarnya yang mulia, beberapa waktu lalu, ketika pangeran Raven sedang dalam kondisi sakit, beliau sedang mengusut berita soal adanya perdagangan manusia di beberapa kota di dekat ibu kota Rayash." Ujar Steve, mendengar itu mata Marchel terbelalak dan keringat dingin muncul di sekitar dahinya.
"Apa itu benar?" Tanya Gellius sembari menoleh ke arah Raven, sang pangeran kedua itu bangkit.
"Benar yang mulia, tetapi karena kondisi hamba saat itu tidak memungkinkan hamba melanjutkan penyelidikan jadi hamba menyerahkan kasus tersebut ke duke Weitzman." Jelas Raven, Gellius mengangguk-angguk, lalu kembali menoleh ke arah Steve.
"Lalu apa hubungannya dengan sidang disini duke Weitzman?" Tanya Gellius sembari menautkan tangannya.
"Sebenarnya hamba ingin menunggu sidang kasus ini selesai dan akan mengajukan tuntutan baru, hanya saja ketika mendengar pengajuan hukuman untuk terdakwa, bagi hamba hukuman tersebut, terlalu ringan." Ujar Steve, seketika suasana semakin tegang.
"Hamba tahu peran hamba disini sebagai pembela bagi terdakwa dan hal ini pasti menyalahkan aturan dalam sidang, tetapi, ketika hamba melakukan penyelidikan, tidak ada satupun hal yang bisa hamba jadikan sebagai pembelaan untuk terdakwa, karena itu hamba memohon izin untuk memberikan berkas penyelidikan hamba mengenai perdagangan manusia itu pada jaksa, yang mulia." Jelas Steve lalu bergerak membungkuk hormat, Gellius terdiam sebentar, lalu mendengus pelan.
"Baiklah silahkan, karena pada sidang ini aku adalah hakim, aku yang memberi peraturan, maka kau bisa melakukannya, silahkan ambil waktu mu." Ujar Gellius, Steve mengangguk sembari membungkuk hormat, lalu matanya menatap Dominic.
Dominic mengangkat kedua alisnya menatap tanya pria itu, Steve mendengus lalu menjentikkan jarinya dan muncul sebuah map dokumen besar di sampingnya, kemudian dengan sihir yang ia miliki, ia memindahkan map itu ke meja Dominic.
Sesampainya map itu di meja Dominic, segera pria itu membuka isi map itu, tak berapa lama ia membaca Dominic mengerutkan alisnya, dan menatap kedua terdakwa dengan sorot sangat marah.
"Yang mulia, izinkan hamba menjelaskan inti dari isi berkas ini." Ucap Dominic dengan wajah serius, Gellius menurunkan alisnya, pria itu bisa merasakan ada kesalahan yang lebih besar yang di lakukan oleh pasangan suami istri terdakwa di depannya.
"Silahkan." Singkat Gellius, Dominic mengangguk.
"Dalam berkas penyelidikan ini, terdapat bukti-bukti dimana Garthside ikut terlibat dengan perdagangan manusia untuk p********n, dan lainnya, di sini juga terdapat bukti bahwa Garthside lebih sering mendagangkan perempuan dan anak-anak di bawah umur ke negara lain dengan jumlah yang tidak sedikit, dan hal ini sudah dilakukan mereka selama 15 tahun." Jelas Dominic, mendengar itu, amarah Gellius semakin memuncak, tetapi pria itu tetap diam dan memilih mendengarkan Dominic terlebih dahulu.
Sedangkan Marchel dan Natalie yang mendengar kejahatan dan bisnis ilegal mereka terungkap semakin ketakutan dan panik.
"Karena itu yang mulia, hamba mengajukan hukuman eksekusi di hadapan publik." Ujar Dominic.
Marchel dan Natalie semakin panik, sedangkan Eloise menatap nanar kedua mantan orang tua nya itu, dan Shannon hanya terdiam menatap datar mereka, sebenarnya di lubuk hatinya ia merasa lega dengan hukuman kedua orang itu, walaupun ternyata jauh lebih sadis dari yang ia bayangkan.
Gellius menarik nafas lalu menatap tajam keduanya, "Aku menerima pengajuan hukuman, dengan ini aku putuskan, terdakwa yang bersalah, Marchel Lonnie Garthside dan Natalie Phelps Garthside, atas kasus keterlibatan kalian pada musuh kekaisaran, Warzerten juga perdagangan manusia, hukuman eksekusi di laksanakan dengan cara di gantung di depan publik, dan dilakukan, pada besok hari." Jelas Gellius, lalu mengangkat palunya, dan mengetuknya kencang.
Tok-tok-tok!!
Gellius berdiri, lalu diikuti semua orang yang dalam persidangan selain Terdakwa, "Segera penjara mereka dan jangan beri mereka sedikit pun makanan maupun air, siapa pun yang berani melanggar nya, akan ku pastikan mereka merasakan tajam nya pedangku." Ucap Gellius pada semua orang di sana dengan nada tegas.
"Baik yang mulia." Ucap mereka bersamaan dengan hormat.
"YA-YANG MULIA! MOHON MAAFKAN HAMBA YANG MULIA, TOLONG TARIK UCAPAN ANDA YANG MULIA, TOLONG HUKUM HAMBA DENGAN HUKUMAN SEBELUMNYA, HAMBA MOHON YANG MULIA!" Seru Marchel.
"TIDAK AKAN PERNAH!!" Gellius berteriak dengan menggelegar.
"Beraninya kalian meminta pengampunan atas kesalahan kalian yang itu, aku sudah menetapkan secara resmi, tidak ada p********n maupun perdagangan manusia di kekaisaran Roxane, dan sudah di nyatakan sebagai tindak ilegal, dan kalian masih berani melakukan nya di belakang ku, hah?" Gellius berbicara dengan menekan setiap katanya.
Marchel terdiam dengan air mata bercucuran.
"Tidak ada kata maaf, tidak ada pengampunan, kalian sudah melakukan kesalahan besar manusia brengsek." Umpat Gellius dengan marah, lalu pria itu memutar tubuhnya dan berjalan pergi dari ruang sidang diikuti Gionard dan Raven di belakangnya.
Setelah kepergian kaisar, beberapa ksatria datang, dan menyeret kedua terdakwa untuk di bawa ke penjara, walau begitu Marchel masih gigih untuk melepaskan diri.
"TIDAK! LEPASKAN AKU! INI TIDAK SEPERTI YANG KALIAN KIRA!!! ELOISE! ELOISE!! SELAMATKAN ORANG TUA MU INI! KATAKAN PADA MEREKA, SEMUA INI SALAH PAHAM! ELOISE!!" teriak marchel, Eloise menatap mereka dengan sorot sedih, Shannon bergerak menghalangi pandangan Eloise dengan tubuh nya, lalu mata Marchel bertemu dengan mata safir Shannon.
Mulut Shannon bergerak mengucapkan sesuatu, Marchel bisa membacanya, ia terdiam dan menggeleng, lalu histeris berteriak, walau begitu ksatria tetap menyeret mereka untuk membawa mereka ke penjara.
'Itu adalah karma bagi mu, orang tua brengsek.'
-
-
-
To be continued