Chapter 16 [Melihat Perkembangan]

2172 Kata
Happy reading! - - - "Raven." Pria itu di panggil, gerak tangannya dengan pena di atas kertas terhenti, ia mengangkat kepalanya, dan melihat Mathias datang ke ruangannya. "Ada apa?" Tanya pria itu singkat, sembari melakukan pekerjaan nya lagi. Mathias mendengus pelan, pria itu berjalan mendekati meja Raven kemudian menaruh sebuah dokumen padanya, lalu ia membuka sampul map pada dokumen tersebut, ada sebuah kertas lembar kecil di paling atas, dengan sebuah tulisan. "Aku tidak mau menjadi kaisar." Raven hanya diam menatap kertas itu, melihat reaksi pangeran di depannya, Mathias kembali mendengus, kali ini lebih panjang. "Bukankah sudah kukatakan padamu jika kau di pilih sebagai salah satu kandidat putra mahkota oleh ayahmu langsung? Tolong hargai pilihannya Raven, dan lakukan apa yang harus di tugaskan sebagai kandidat, jangan kau abaikan seperti ini." Jelas Mathias, Raven terdiam. Pria itu memang benar-benar tidak ingin menjadi kaisar, dia menjadi anjing penjaga bukan karena peduli pada kekaisaran ini, melainkan karena ayahnya yang mencintai ibunya dan dia ingin balas budi, hanya itu yang menjadi alasan Raven untuk bertahan pada posisinya sekarang, dan dia sendiri pun tidak mengharapkan lebih. Raven tahu, jika dia terlibat dengan pemilihan ini, ada kemungkinan dia menang, dan menempati posisi sebagai putra mahkota, karena ada banyak bangsawan yang menganjurkan padanya untuk merayu ayahnya agar pilihan sang matahari kekaisaran itu menjatuhkan tahta putra mahkota ke tangannya, tetapi sekali lagi. Raven tidak setamak itu. Justru ia membenci tahta yang besar, karena hal itu hanya menimbulkan banyak musuh dalam selimut di sekitarnya, bahkan di posisinya sekarang masih ada beberapa bawahan ksatria nya yang diam-diam berpihak pada pangeran Gionard hanya untuk memata-matai Raven dan mungkin membunuh nya juga. Raven tidak ingin ambil pusing. Ia hanya ingin tetap bertahan hidup di zona nyamannya, bersama orang-orang yang ia sayangi. "Memang itu yang ku rasakan, mathias..." Raven mengangkat wajahnya dan menatap netra zamrud Mathias, ia mengepalkan tangannya dan mengeratkan pegangan pena di tangannya. "Aku sangat membenci tahta." Mathias mendengus panjang mendengar apa yang Raven katakan. "Aku paham perasaan mu, tetapi Raven, kau tahu, jika kekaisaran ini, di pegang oleh orang yang salah, maka tempat ternyaman mu sekarang akan hancur." Raven mengangkat kedua alisnya, Mathias berbicara dengan ekspresi sendu. "Apa yang terjadi pada pangeran Gionard?" Tanya Raven, Mathias mengepalkan tangannya. "Ada banyak hal, aku tidak tahu kenapa, tapi kaisar Gellius selalu mengatakan, pangeran Gionard telah berubah, dan dia mengkhawatirkan nya, jika pangeran Gionard berpihak pada sesuatu yang salah, dan dia sudah memegang kursi itu, kekaisaran akan hancur." Raven tersenyum getir, Mathias menurunkan alisnya. "Kupikir dia mengkhawatirkan anaknya, tapi dia malah lebih khawatir pada kekaisaran nya." Ujar raven. "Raven..." Sebut Mathias dengan nada sedih, pria yang di panggil hanya mendengus pelan. "Baiklah, aku akan kerjakan, tetapi aku juga akan mengusut soal pangeran Gionard, jika memang dia berpihak pada sesuatu yang buruk, maka aku akan menghancurkan hal yang berhubungan dengan itu, dan menamparnya agar dia tersadar dan kembali lurus sehingga ayah tidak perlu khawatir." ujar Raven, Mathias terdiam lalu mendengus lagi. "Aku serahkan padamu Raven." ⬛⚪⬛ Zrug! Shannon menancapkan pedangnya ke tanah, lalu ia memejamkan matanya, perlahan cahaya muncul dari pedang suci tersebut, kemudian lingkar sihir juga muncul di bawah kaki Shannon, dan ukurannya mulai membesar. Semilir angin mengayunkan helai-helai rambut gadis itu. "Atas nama Omnia, dengan pedang suci ini, sebagai perantaranya, aku berlindung di bawah cahaya Risilv." Sebut Shannon kemudian muncul simbol sihir Risilv di dekat mata kanan nya. Shing.... Perlahan pelindung sihir muncul di depan pedang suci itu, dan mulai membesar, Shannon membuka matanya dan mengatupkan giginya, gadis itu berusaha membesarkan pelindung yang ia buat, dan pertumbuhan pelindung itu berhenti, dan berhasil menutupi satu wilayah perpustakaan Violetfay beserta taman belakang nya. Arjuna sudah berada di langit di atas perpustakaan, pria itu memunculkan busur panah di tangannya, lalu ia menarik talinya dan muncul anak panah, dan beberapa anak panah di sekitar nya, pria itu menghembuskan nafas pelan lalu melepas tarikan anak panah itu menuju pelindung yang Shannon buat. Whussh! Panah itu melesat di udara menuju pelindung Shannon. Trang! Trang! Semua panah itu tidak berhasil menembus pelindung yang shannon buat, lalu Arjuna kembali menarik tali busurnya dan memunculkan anak panah lainnya kemudian melakukan hal yang sama seperti tadi. Tetapi pria itu menyerang nya dari arah lain. Trang! Trang! Sekali lagi panah itu tidak bisa menembus pelindung yang shannon buat, tetapi kondisi gadis itu mulai merasakan lelah yang amat sangat. Nafasnya mulai memburu, dan tangannya yang memegang pedang mulai gemetar, Arjuna menyadari hal itu, kemudian matanya menatap ke arah Dominic yang berdiri di bawah pelindung Shannon dengan jarak tidak jauh dari gadis itu. 'Lakukan.' Titah Dominic lewat batin, Arjuna mendengus pelan, dan kembali menarik tali busurnya untuk melakukan serangan yang sama, kali ini dia menyerang di sisi yang lain. Dan ketika panah itu melesat ke udara, Shannon mulai benar-benar merasa lelah. Whussh! Srang! Srang! Panah itu berhasil melesat masuk dan memecahkan sedikit bagian pelindung Shannon. "Tahan!" Seru Dominic dengan posisi tangan yang menyilang di depan d**a, Arjuna mengayunkan tangannya sehingga anak panahnya berhenti bergerak dan terjatuh ke tanah. Shannon melepas pegangan nya pada pedang suci miliknya, dan pelindung yang di buatnya seketika menghilang, lalu menjatuhkan dirinya ke tanah dan bernafas cepat, Dominic berjalan mendekati Shannon. "Sangat bagus untuk ukuran pemula." Ujar Dominic, Shannon mendengus kasar ada rasa kesal dari nafasnya, gadis itu bangkit dengan menahan tubuhnya pada pedang suci yang masih tertancap di tanah. "Istirahat lah sebentar hingga sihir mu pulih." Ujar Dominic dan hendak berjalan pergi, Shannon menahan mantel Dominic, pria itu menoleh ke arah gadis bermanik safir itu. Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Dominic, "Aku masih bisa....hah....ayo...latihan lagi...." Shannon terbata-bata karena nafasnya yang lelah. "Lihat, bahkan nafas saja kau kesulitan, jangan memaksakan tubuhmu, daya serap sihir mu terhadap Risilv masih belum kuat jadi hal ini sudah maklum terjadi." Ujar Dominic. "Ta-tapi.." Shannon ingin menolak, tetapi Dominic mengelus puncak kepala Shannon, dan tersenyum lembut. "Kau masih punya banyak waktu, tidak perlu harus mengejar yang lain, dan jangan merasa tertinggal, semuanya butuh proses, oke?" Ujar Dominic, Shannon terdiam sebentar kemudian mengangguk lalu melepas pegangan nya pada mantel Dominic. "Apa kau bisa bergerak? Kalau tidak aku akan minta Arjuna untuk menggendong mu." Tawar Dominic, kemudian Arjuna bergerak turun dan tiba di dekat mereka. Shannon menggeleng, lalu menarik pedang suci itu dari tanah, kemudian menyarungkan kembali pedang itu. Shannon berjalan bersama Dominic dan Arjuna ke gedung perpustakaan Violetfay, mereka masuk melalui pintu samping, lalu di koridor tampak Eloise muncul dari pintu ruang dapur. "Eloise." Panggil Dominic, gadis itu menoleh kemudian senyuman terukir di wajahnya, ia berjalan cepat menuju mereka. "Apakah sudah selesai latihan nya?" Tanya Eloise, Dominic menggeleng. "Kita istirahat sebentar, setelah sihir Shannon pulih, kita akan pindah tempat di gedung olahraga." Ujar Dominic. "Ohh begitu." Balas Eloise, Shannon mengangguk. "Kalau kau Eloise bagaimana? Apa kau habis dari dapur?" Tanya Shannon, Eloise mengangguk. "Kebetulan aku habis selesai membuat kue stroberi, aku berpikir untuk menyajikan nya setelah selesai latihan, tapi kalau mau kalian bisa makan sekarang, kue nya baru saja matang lho." Ujar Eloise. "Aku tidak dulu, aku ingin tidur sebentar di ruangan ku, Shannon kau bisa membangun kan ku setelah selesai istirahat atau sihir mu sudah mulai terasa pulih." Ujar Dominic. "Tidak secepat itu, Dominic." Tiba-tiba saja Reithel muncul dari arah belakang Eloise, Dominic menaikan sebelah alisnya. "Kenapa?" Tanya Dominic, Reithel menunjukkan 3 buah amplop surat dengan lambang asosiasi penyihir. "Ini penting, ayo kita bicara dulu, kalau bisa di ruangan mu saja agar tidak di dengar orang lain." Ujar Reithel. "Baiklah, tapi tadi kupikir kau sudah pergi setelah rapat, karena kau bilang kau di panggil asosiasi Penyihir." Ucap Dominic, Reithel mengerutkan alisnya. "Ya setelah itu aku kembali, Bagaimana aku bisa meninggalkan Eloise, kau ini bodoh ya." Tukas Reithel. "Aku tidak masalah sih." Ucap Eloise ringan. "Tidak bisa begitu." Balas Reithel sembari merangkul pundak Eloise. "Ini tidak akan selesai, sudah ayo." Dominica menengahi. "Baiklah kalian duluan, aku pergi ke dapur dulu untuk mengambil kue nya." Ujar Eloise sembari hendak melepaskan rangkulan Reithel. "Tidak perlu, Arjuna, Achilles." Panggil Dominic, Arjuna melangkah maju, dan Achilles muncul. "Ya tuan?" Tanya mereka sembari membungkuk hormat. "Ambil kue yang Eloise buat, lalu buat kami dua cangkir teh dan dua cangkir kopi." Titah Dominic. "Baik tuan." Ucap Achilles dan Arjuna bersamaan, lalu berjalan pergi untuk melaksanakan perintah Dominic. Shannon menyikut pinggang Dominic, "Mereka bukan pelayan, kau ini malah menyalahgunakan Hespirvit mu." Tukas Shannon. Dominic mengedikkan bahu, "Memangnya kenapa, dia Hespirvit ku, tidak masalah." Mendengar itu Shannon mendengus pelan. "Sudah ayo kita ke ruangan ku sekarang." ⬛⚪⬛ "Sidang resmi kekaisaran tertutup, atas kasus keterlibatan bangsawan Garthside dengan sekte musuh Warzerten." Baca ku pada kalimat yang di tebalkan dan di garis bawahi pada surat tersebut. "Mereka terlibat dengan Warzerten?" Eloise memasang wajah terkejut, Reithel mengangguk. "Yah itu karena aku mengusut dan mencari bukti, makanya Eloise waktu kau masih disini kenapa aku sangat sibuk, itu karena aku mengusut soal ini, kemudian terungkap fakta dari bukti yang ku temukan mereka memang terlibat." Ujar Dominic. "Kalian di undang pada sidang ini sebagai saksi, jadi tidak perlu khawatir." Ujar Reithel. "Sebenarnya bukan khawatir soal itu, lebih tepatnya sedikit mengejutkan karena ketika Shannon dan Eloise di asuh oleh mereka, hingga akhirnya mereka keluar dari mansion, orang itu tidak melakukan hal yang mencurigakan berkaitan dengan Warzerten." Ujar ku, Eloise mengangguk membenarkan ucapan ku. "Aku hanya lebih berpikir kejahatan mereka mengasuh kami hanya untuk menikahkan kami dengan bangsawan kaya untuk harta." Ujar Eloise, aku mengangguk membenarkan gadis itu. "Tidak sesederhana itu." Ujar Dominic sembari menyesap kopinya. "Mengasuh kalian salah satu tugas mereka dari Warzerten, Eloise apa kau ingat pada kehidupan pertama mu, dimana kau di hukum mati atas kasus meracuni putri Charol, itu adalah salah satu skenario Warzerten dan Garthside terlibat dengan itu, sedangkan pertunangan mu dengan Reithel itu hanyalah skenario tambahan agar semuanya terlihat wajar." Ujar Dominic membuat Eloise terkejut. "Pantas saja, aneh sekali jika orang tua mu tidak melakukan apapun dan hanya bersikap santai ketika anak mereka akan di hukum mati, ternyata itu salah satu rencana mereka." Ucapku, Eloise mendengus pelan sembari menyisir poninya dan menyampingkannya ke telinga. "Iya, tapi sebenarnya mereka tidak terlibat terlalu jauh dengan Warzerten." Ujar Dominic, aku menoleh menatap pria bersurai jingga panjang itu. "Seperti yang dikatakan Eloise, Mereka lebih tepatnya hanya memikirkan harta dan uang, mereka diminta oleh Warzerten untuk mengasuh kalian hingga perintah selanjutnya tiba, dan mereka dibayar untuk itu, juga selama kalian hidup di bawah asuhan mereka, sebenarnya bisa dibilang biaya kalian berasal dari Warzerten, karena Marquis Garthside tidak bekerja sama sekali, bisnis keluarga nya sudah lama bangkrut." Jelas Dominic membuat aku dan Eloise terkejut. Eloise terdiam, aku mengerti perasaan nya, mendengar hal itu juga, rasanya asam lambung ku naik dan ingin muntah. Bayangkan saja, biaya hidup mu dari kecil ternyata berasal dari sekte sesat yang membunuh orang tua mu. Reithel bergerak memeluk Eloise. "Lalu apakah kemunculan Cecilia yang di skenario sebagai pengganti Eloise juga bagian dari rencana mereka?" Tanya Reithel, Dominic mengangguk. "Mereka menutupi peristiwa dimana Eloise keluar dari mansion Garthside dengan keberadaan Cecilia, agar publik tidak curiga dengan masalah mereka, jadi bisa dikatakan itu adalah skenario kedua mereka, tapi intinya sih mereka semua terlibat hanya karena uang dan harta." Ujar Dominic. "Tapi tetap saja, itu benar-benar tindakan brengsek." Umpatku. "Ya kalian tidak perlu merasa kesal sih, karena mereka akan menerima balasan atas keterlibatan mereka, aku sudah memperkirakan hukuman mereka nanti di persidangan." Dominic menatap Reithel. "Master Davendral memberitahu ku perkiraan hukuman mereka adalah hukuman eksekusi, dan paling ringan adalah pengasingan." Ujar reithel. "Bagiku kedua hukuman itu sama ringannya, aku lebih suka mereka di hina oleh publik." Tukas ku. "Sayangnya tidak bisa, karena saat ini, keberadaan Warzerten sengaja di sembunyikan oleh para petinggi bangsawan, ksatria, penyihir dan kekaisaran dari rakyat untuk menghindari kepanikan warga, maka dari itu sidang ini sangat tertutup." Ujar Reithel, aku mendengus lelah, mataku menatap Eloise yang menatap teh nya dengan sorot sedih, Reithel semakin mengeratkan pelukannya. "Kau tidak perlu khawatir, kau juga boleh menolak hadir di persidangan jika kau tidak ingin." Ucap Reithel lembut, Eloise menggeleng pelan. "Tidak hanya saja aku benar-benar terkejut, seakan kehidupan ku pertama itu benar-benar sudah di atur untuk mati, rasanya menyesakkan." Ucap Eloise. "Hei Eloise, lupakan saja soal itu, kehidupan pertama mu yang seperti itu, tidak akan pernah terjadi lagi, sekarang kau sudah bahagia bukan, jadi tidak perlu memikirkan masa lalu mu." Nasihat ku Sembari tersenyum lembut padanya, Eloise membalas senyuman ku dan mengangguk. "Nah begitu, iya kan Dominic?" Aku bertanya pada pria yang duduk disebelah ku, aku menoleh ke arahnya dan tampak dirinya sudah tertidur dengan posisi badan yang bersandar sembari mulut yang terbuka, aku melihat itu langsung merasa sedikit jengkel. "Dasar tukang tidur." Ujar Reithel, aku mendengus kasar. "Sudahlah, aku akan makan kue dulu sampai sihir ku pulih dan tubuhku mulai sehat kembali." Ujar ku. "Tentu saja, biar ku potongkan lagi kue nya untuk mu, kau boleh menghabiskan nya kok." Ujar Eloise sembari bergerak untuk mengambil pisau dan memotong kue nya. Reithel mengangkat piring kecilnya, Eloise menoleh, "Bukankah kau tidak terlalu suka makanan manis?" Tanya gadis itu. "Aku sedang ingin saat ini, memangnya kenapa?" Eloise menggeleng, lalu mengambil piring Reithel dan memotong kan kue untuknya, aku menatap Reithel dengan alis menurun. 'Yang benar saja, dia cemburu ya...?' - - - To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN