“Ck… jangan menangis aku pusing mendengarnya,” decak Afnan kesal merasa risih dengan suara tangis Nayra. Tapi bukannya berhenti Nayra malah makin kencang menangis, akhirnya Afnan memejamkan matanya dengan erat dan duduk bersimpuh dihadapan Nayra. “Maafkan aku tadi aku tidak sadar, aku sangat mabuk sehingga mengira kau adalah Aliya,” ucap Afnan dengan lembut. “Kau.. kau jahat.. hikss.. kau membuat aku ketakutan, jahat.. jahat,” Nayra memukul d**a Afnan sekeras yang dia bisa melampiaskan ketakutan dan amarahnya karena dilecehkan oleh suaminya sendiri. Afnan membiarkan saja dadanya dipukul, toh pukulan Nayra sama sekali tidak berasa untuk Afnan, “Iya aku yang salah sudah ya.. ayo kekamar ini sudah malam, udara diluar sini dingin kau bisa sakit jika lama-lama disini.” Afnan yang melihat N

