Brakk, pintu kerja Afnan terbuka dengan keras, membuat Afnan yang sedang membaca dokumen-dokumen didepannya terperanjat kaget.
“Astaga mah, apa tidak bisa mamah membuka pintu dengan pelan,” protes Afnan pada mamahnya.
Kenapa mamahnya ini tidak ada kalem-kalemnya sama sekali dan yang lebih parahnya adik Afnan Keyra sifatnya sama bar-barnya seperti mamahnya.
“Hehehe, maaf ya mamah tadi buru-buru soalnya, jadi kelepasan,” jawab diana, sambil menarik kursi didepan Afnan duduk disana meski belum dipersilahkan oleh Afnan.
“Jadi untuk apa lagi mamah datang kemari?” tanya Afnan dengan nada sedikit tidak suka dengan kehadiran mamahnya.
“Afnan, ekspresinya yang sopan sama mamah.”
Afnan yang tidak mau mencari perkara pada mamahnya langsung memaksakan senyum.
“Jadi mau apa mamah tersayangku ini datang kemari, hmm?”
“Gak usah lebay Afnan.”
Afnan jadi sanksi sendiri disenyumin salah diketusin juga salah sebenarnya mamahnya ini mau Afnan bagaimana.
“Hmmm.” Afnan menghembuskan nafasnya kasar.
“Mah ayolah, jangan mengulur waktu Afnan, mamah tahu sendiri pekerjaan Afnan ini sangat banyak.”
Diana langsung mendongak menatap Afnan dengan pandangan marahnya, kecewa akan kata-kata yang keluar dari mulut Afnan.
Gawat sepertinya aku membangunkan singa yang tertidur, aissh sialan mulut ini kenapa bisa kelepasan begini, sesal Afnan menyadari kata-katanya begitu kasar pada mamahnya.
“Oh.. jadi mamah mengganggu waktumu, baiklah teruskan pekerjaanmu mamah akan pulang,” Diana sudah berdiri dari kursi hendak pergi dari sana.
Melihat itu Afnan buru-buru mencegah mamahnya, “Mah tunggu, astaga bukan maksud Afnan begitu, sunggu,” Afnan berdiri didepan Diana menghalangi Diana keluar dari dalam ruangannya.
“Minggir Afnan mamah mau pulang,” Diana mengatakanya dengan nada gemetar, sejak kemarin Afnan selalu bertingkah begini jika dia datang kekantornya, sebagai seorang ibu hati Diana merasa kecewa.
Mendengar mamahnya seperti akan menangis, Afnan menuntun mamahnya duduk kembali dan Afnan bersimpuh didepan mamahnya.
“Mah, maafkan Afnan sungguh Afnan tidak bermaksud membuat mamah sedih,” Afnan berkali-kali mengecup tangan mamahnya.
Meski Afnan adalah laki-laki yang suka mempermainkan wanita tapi Afnan tidak bisa melihat mamahnya menangis, apalagi karena dirinya.
“Mah, ayo katakan pada Afnan mamah kemari kenapa, hmm.”
Diana hanya diam tidak menjawab pertanyaan dari Afnan, tatapan matanya pun tidak menatap kewajah Afnan melainkan lurus kedepan.
“Apa mamah kemari ingin menanyakan Afnan kapan menikah?” lagi tidak ada balasan dari Diana.
Dengan sabar Afnan tetap membujuk mamahnya, Afnan tidak akan membiarkan mamahnya keluar dari ruang kerjanya, dengan keadaan marah begini.
“Mamah tenang saja jika itu yang mamah tanyakan karena Afnan sudah menemukan calonnya, mamah tinggal tentukan hari kapan kita melamar gadis itu.”
Mata Diana yang tadi menatap lurus kedepan langsung menengok kebawah menatap Afnan dengan tatapan yang berbinar, “Benar Afnan, kau tidak sedang membohongi mamah kan?”
Afnan menggeleng dan mengecup tangan mamahnya, “Tidak Afnan tidak berbohong, bukankah Afnan sudah berjanji pada mamah untuk segera menikah, dan sekarang Afnan sudah mendapatkan calon yang pas.”
Senyum Diana langsung mengembang, “Aaaaa Afnan ini berita yang sangat membahagiakan, astaga mamah senang sekali mendengarnya,” Diana berjingkrak kesenangan mendengar berita bahwa Afnan akan secepatnya menikah.
“Sekarang sudah tidak marah lagi pada Afnan kan,” tanya Afnan dengan ikut tersenyum pada mamahnya.
Ekspresi Diana langsung berubah seperti tadi, Astaga aku lupa aku kan tadi sedang ngambek dengannya.
“Mah, ayolah jangan marah lagi, bukankah Afnan sudah mewujudkan impian mamah yang ingin melihat Afnan menikah, oh atau mamah ingin Afnan belikan tas, sepatu , atau perhiasan.”
Mendengar iming-iming menggiurkan dari Afnan, membuat Diana sedikit demi sedikit agak santai dan mulai duduk kembali.
“Jangan diulangi lagi, mamah tidak suka kau tidak sopan begitu, kau tahu mamah mempertaruhkan nyawa melahirkanmu bukan untuk menjadi manusia tidak sopan.”
“Jika kau dengan mamah saja begini, bagaimana dengan orang lain, ingat Afnan didunia ini yang paling diutamakan itu etitut dan sopan santut, mamah tidak mau kau tidak memiliki itu,” petuah dari Diana didengarkan dengan baik oleh Afnan.
Afnan kembali bersimpuh didepan mamahnya, “Okey mah, Afnan akan ingat itu, sudah ya jangan marah lagi, Afnan tidak akan konsen melakukan apapun jika mamah marah dengan Afnan.”
Dengan pelang Diana mengangguk dan mulai antusias, “Afnan mamah mau minggu ini kita melamar gadis itu, ahhh siapa nama gadis itu,” tanya Diana dengan mata penuh dengan kebahagiaan menatap Afnan.
“Nayra Alienski, itu namanya mah.”
“Nama yang cantik mamah yakin gadis itu pasti gadis yang cantik.”
Cantik dari mananya mamahnya belum tahu saja kalau gadis itu penampilannya saja cupu, jika tidak karena terpaksa Afnan tidak akan mau menikah dengannya.
“Ya.. begitulah menurut Afnan dia gadis yang cantik,” bohong Afnan dengan mengusap tengkuknya.
“Ahh mamah akan sibuk sekali sekarang, kira-kira apa yang mamah harus persiapkan untuk acara lamaran nanti.”
Afnan yang memang tidak tahu apa-apa mengenai lamaran hanya diam tidak menjawab pertanyaan dari mamahnya.”
“Astaga kau mana tahu ya, mamah ini bodoh sekali, ahhh mamah tahu mamah harus tanya pada desi, dia kemarin baru menikahkan anaknya.” Ucap mamah Afnan yang menjawab pertanyaannya sendiri.
“Kalau begitu mamah pamit dulu, kau sibuk bukan lanjutkan saja kerjamu,” Diana sudah melangkah menuju pintu dan memegang handle pintu, namun belum juga pintu terbuka Diana kembali berbalik.
“Afnan mamah akan kirimkan gambar tas yang mamah inginkan, tadi kan kau janji mau membelikan mamah tas.”
Afnan tersenyum tanda setuju, meski Afnan pikir mamahnya sudah lupa dengan janji yang Afnan ucapkan.
Bukan masalah uang sebenarnya Afnan agak keberatan tapi jika sudah begini mamahnya pasti meminta Afnan mencarinya sendiri dan Afnan tidak suka itu.
“Iya mamah kirimkan saja gambarnya pada Afnan,” sahut Afnan dengan lesu.
Meski Diana tahu anaknya itu terpaksa mengatakannya tapi Diana menghiraukannya, biar anaknya itu belajar usaha sendiri jangan apa-apa menyuruh asisten terus.
“Mah..” Afnan melangkah menuju mamahnya.
“Apa Afnan, sudah ya mamah sibuk, jangan ganggu mamah,” Diana hendak keluar namun tangannya ditahan oleh Afnan.
“Maafkan Afnan,” Afnan berucap dengan tulus.
Diana yang mendengar dan melihat kesungguhan Afnan menjadi tersentuh, anak lelakinya ini selalu begini jika dia marah, pasti akan meminta maaf berulang-ulang kali.
“Iya sudah mamah maafkan, sudah ya mamah sibuk, Assalamualaikum,” Diana membuka pintu rungan kerja Afnan dan keluar dari sana.
Afnan tersenyum melihat kepergian mamahnya, padahal tadi Afnan yang bilang sibuk pada mamahnya tapi sekarang seolah-olah Afnan yang mengundang mamahnya kemari.
Ahh sudahlah dia harus memberitahukan Riko agar memberitahukan gadis itu bahwa minggu dia beserta keluarganya akan datang melamar.
Tidak mau repot-repot memanggil Riko kedalam ruangan Afnan mengambil ponsel dan melakukan panggilan pada Riko, “Hallo Riko, katakan pada gadis itu aku akan datang bersama dengan keluargaku hari minggu untuk melamar.”
“Pastikan gadis itu tidak kabur dam membuat tingkah, ancam dia jika dia membuatku marah sedikit saja maka aku akan menghancurkan keluarganya sampai keakar-akarnya.”
Riko yang mendapatkan perintah dari Afnan menatap nanar, kasihan sekali gadis tak berdosa itu, tapi apa boleh buat dia harus melaksanakan perintah Afnan dan benar-benar mengancam Nayra agar gadis itu tidak membuat ulah.
Karena jika Nayra membuat ulah maka Riko yakin Afnan akan melaksanakan apa yang dia ucapkan tadi, Nayra akan lebih tersiksa jika itu sampai terjadi.