Kenangan

1281 Kata
Nayra menatap kertas yang sudah ditandatanganinya dengan tatapan nanar, “Tuhan inikah akhir dari hidupku.” “Sudah bukan kalau begitu kau bisa keluar dari sini,” Afnan merampas map yang masih dipegang oleh Nayra dan memastikan Nayra benar-benar membubuhkan tanda angannya disana. Melihat Nayra masih diam mematung membuat Afnan jengah, “Heh kau tuli sudah ku bilang pergi dari ruanganku, ahh aku tau kau ingin mencoba pemanasan dulu denganku ya?” goda Afnan. Mendengar ucapan ambigu Afnan yang tentu Nayra tahu menjurus kemana, membuat Nayra menatap Afnan dengan aneh lalu buru-buru keluar dari sana. “Kalau begitu saya permisi tuan,” ucap Nayra langsung ngacir dari sana. Mengatur nafasnya, Nayra memilih mampir kekamar mandi untuk buang air kecil dan membasuh wajahnya yang tampak berantakan. “Sin nanti kau saja ya yang menyerahkan dokumen keruangan pak Afnan,” Nayra yang berada didalam bilik kamar mandi tidak seengaja mendengar obrolan dari kariyawan Afnan. “Lo kenapa aku, kenapa tidak kau saja kan itu tugasmu,” balas temannya. Apa sebegitu menakutkannya tuan arogan itu sampai karyawannya saja takut untuk bertemu dengannya. “Lo kan tahu sendiri sin gue ini pakai hijab, pak Afnan itu kalau liat orang pakai hijab bawaannya marah mulu, lo gak kasian ntar gue dimarahin habis-habisan olehnya.” Seketika otak cerdas Nayra bekerja, jadi orang itu tidak suka melihat wanita berhijab, bagaikan mendapat angin segar Nayra tersenyum cerah. Keluar dari bilik kamar mandi Nayra tersenyum lebar pada dua wanita yang menatap Nayra dengan aneh. “Mba terima kasih ya mba baik sekali padaku hari ini.” “Salim dulu coba sini,” Nayra mengambil kedua tangan wanita itu dan menyaliminya secara bergantian lalu pergi dari sana dengan langkah yang riang. “Wanita itu sudah tidak waras ya,” gumam salah satu dari mereka. “Sepertinya begitu, mungkin tadi didalam kamar mandi dia terpeleset jadi otaknya agak miring sedikit,” sahut yang lainnya lagi sambil menatap kepergian Nayra dengan tatapan bingung. Lucu juga gadis itu, sepertinya hidupku akan lebih menyenangkan lagi, aku akan mendapatkan mainan baru, Nayra cantik juga namanya, selamat datang didunia yang akan aku ciptakan padamu Nayra. Tok.. tok.. tok, “Tuan bolehkah saya masuk?” tanya Rio yang berada dibelakang pintu ruangan Afnan. “Masuk,” balas Afnan dengan suara tegasnya. Rio masuk dengan wajah cemas, melihat sekeliling mencari keberadaan gadis yang tadi dia paksa masuk kedalam ruangan Afnan. “Kenapa kau ini, mencari siapa kau Rio,” tanya Afnan heran menatap Rio yang memandang kesegala arah ruangannya. “Maaf pak, apa gadis yang tadi masuk kedalam sini sudah keluar,” tanya Rio memastikan bahwa Nayra baik-baik saja. Afnan mengangkat Alisnya sebelah, “Kenapa kau tanya begitu, itu bukan urusanmu, mau dia aku kurung disini atau aku usir itu tidak ada sangkut pautnya dengan mu Rio.” Rio menundukkan kepala, tentu ada urusannya dengan dirinya, dia yang membawa gadis malang itu kedalam masalah, jika saja waktu itu dirinya tidak menyebutkan nama Nayra pastilah Afnan tidak akan mempermainkan hidup gadis itu. Rio beberapa kali bertemu langsung dengan Nayra, Rio tahu bahwa Nayra gadis baik-baik, hidupnya sudah berat dengan menjadi tulang punggung untuk keluarganya, jika saja Rio memiliki banyak uang dia sendirilah yang akan melunasi semua hutang Nayra. “Rio aku sedang bicara padamu, kenapa kau hanya diam tidak menjawab pertanyaanku,” bentak Afnan karena melihat Rio membungkam mulutnya. “Maaf tuan, saya hanya merasa gadis itu adalah gadis yang baik,” Rio berhenti bicara sedang memilah kata yang tepat agar Afnan tidak tersinggung. “Tidak usah basa-basi Rio langsung saja keintinya, kau tahu bukan aku tidak suka bicara dengan orang yang berbelit-belit.” “Tuan, apa tidak sebaiknya tuan mencari gadis lain, maaf bukannya saya ingin mengatur tuan, hanya saja hidup gadis itu sudah berat tuan, saya hanya merasa kasihan jika gadis itu harus menanggung pernikahan kontrak yang tuang buat.” Afnan diam belum menjawab ucapan Rio tapi matanya seolah sudah bicara bahwa saat ini Afnan tidak suka mendengar apa yang Rio katakan. “Apa menurutmu aku sekejam itu menyiksa seorang gadis hah, harusnya gadis itu bersyukur aku menikahinya dengan begitu semua biaya pengobatan ayah dan adiknya aku yang menanggung.” “Lagi pula jika tidak membayar dengan cara seperti ini, seumur hidupnya dia tidak akan mampu mengembalikan uangku,” lanjut Afnan dengan suara dinginnya yang membuat Rio meneguk ludahnya kasar. “Tuan..” “Cukup Rio, jika kau hanya ingin membicarakan itu, keluarlah karena aku tidak akan merubah keputusanku,” Afnan membalikkan kursi kerjanya memandang keluar ruangan yang hanya disekat oleh kaca, sehingga Afnan mampu menikmati keindahan gedung-gedung tinggi didepannya. Sadar bahwa akan sangat percuma bicara pada Afnan, akhirnya Rio pamit dari sana, Rio sudah berusaha setidaknya dia tidak terlalu merasa bersalah jika melihat wajah Nayra. Rio berhadap Nayra bisa merubah sikap bosnya itu meski presentase keberhasilannya hanya 10 persen, apalagi dengan penampilan Nayra yang tidak sesuai dengan kriteria gadis yang suka Afnan kencani mungkin presentasenya berkurang menjadi lima persen. Andai saja gadis masa lalu Afnan tidak mengkhianati Afnan, maka Afnan tidak akan menjadi lelaki dingin seperti ini. Dulu pertama kali Rio bekerja dengan Afnan, Afnan adalah bos yang menyenangkan, ramah dan tidak membuat karyawannya sulit. Tapi setelah kejadian itu, dimana Afnan melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaiman wanita yang dia cintai sedang bergelung diatas tempat tidur dengan seorang laki-laki tanpa memakai sehelai benangpun. Rio sangat ingat kejadian itu, karena Rio ada disana menemani Afnan untuk memberikan hadiah yang dibeli Afnan dari luar negeri. Rencananya Afnan ingin membuat kejutan kepada kekasihnya dengan tidak mengabari Aliya bahwa Afnan telah kembali hari ini. Tapi ternyata bukan Aliya yang mendapat kejutan tapi Afnan lah yang terkejut mendapati fakta bahwa Aliya berselingkuh dengan sahabat nya sendiri. Afnan hancur saat itu, Aliya adalah cinta pertamanya Afnan, sudah banyak yang Afnan korbankan agar Aliya bertahan disisinya, salah satunya memberontak dari mamahnya yang sama sekali tidak setuju dengan hubungan Afnan. Mungkin pirasat seorang ibu sangat kuat, Diana pasti merasakan bahwa gadis yang dibawa oleh Afnan dan diakui Afnan sebagai kekasihnya bukanlah gadis yang baik-baik. Tapi Afnan yang memang daasarnya keras kepala tidak mau mendengarkan pendapat dari siapapun, Afnan telah buta oleh cinta, sehingga menutup telinga dan mata atas komentar dari orang-orang tentang Aliya. Aliya adalah gadis dengan wajah polos serta berhijab menutupi rambutnya, karena itu Afnan menyukai Aliya mengira Aliya adalah gadis baik-baik yang bisa dia nikahi untuk melahirkan anak-anaknya. Ternyata Afnan salah Aliya tidak lebih seorang gadis jalang yang dengan senang hati membuka s**********n nya pada setiap laki-laki. Semenjak saat itulah Afnan sangat membenci wanita yang memakai hijab, melihat mereka seperti mengingatkan Afnan kepada penghianatan yang dilakukan oleh Aliya. Karena itu juga Afnan jadi senang bergonta-ganti pasangan, bahkan bagi Afnan bar sudah menjadi rumah kedua baginya, sehari saja Afnan tidak kebar bisa pusing tujuh keliling dia. “Ini semua salahmu Aliya, aku menjadi manusia kejam karenamu, kau harus menanggung setiap dosa yang aku lakukan,” ucap Afnan menatap lurus kedepan seolah Aliya ada disana. Meski sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan Aliya tapi wajah gadis itu masih saja tercetak jelas dalam ingatan Afnan. “Aku membencimu Aliya, sampai matipun aku akan tetap membencimu,” tidak terasa air mata mengalir dari sudut mata Afnan, rupanya pengkhianatan yang dilakukan oleh Aliya begitu menyakiti hati Afnan. “Sial, kenapa aku harus mengingat wanita jalang itu,” Afnan mengusap kasar air mata yang mengalir tadi dengan telapak tangannya. Sepertinya malam ini Afnan akan menyewa gadis lagi agar dia bisa melupakan bayang-bayang Aliya dari pikirannya. “Aliya, dimanapun kamu berada aku bersumpah kau tidak akan pernah hidup bahagia, camkan itu Aliya itu adalah sumpah yang akan aku bawa sampai aku mati.” Terdengar kejam memang tapi menurut Afnan itu tidak seberapa dari pada rasa sakit yang harus dia derita bahkan sampai sekarang Afnan menjadi hancur begini itu semua karena Aliya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN