Beberapa menit terjadi keheningan didalam ruangan, “Tuan, tuan tidak benar-benar ingin menikahi saya bukan,” cicit Nayra pelan.
Afnan tertawa mencibir, “Sayangnya saya benar-benar akan menikahi dirimu, tapi kau tidak usah geer dulu, aku menikahi dirimu hanya diatas kertas selebihnya, kau dan aku bisa menjalani hidup kita masing-masing.”
Nayra menganga, mana bisa mempermainkan ikatan suci begitu, “Mana bisa begitu tuan, pernikahan bukanlah hal yang main-main,” tolak Nayra.
Orang ini benar-benar sudah tidak waras kalau tidak mau terikat untuk apa dia mau menikah, dia pikir pernikahan ini main-main apa, rutuk Nayra didalam hatinya.
“Tidak usah mengomel, gampang saja jika kau tidak mau maka kau akan melihat ayahmu masuk kedalam penjara, juga akan aku pastikan adikmu tidak akan bisa bersekolah dimanapun,” ancam Afnan.
Ya Tuhan aku harus bagaimana, aku tidak mungkin tega melihat ayah masuk kedalam penjara, apalagi saat ini ayah sedang sakit-sakitan.
Nayra menggigit bibir bagian dalamnya, sudah menjadi kebiasaan Nayra melakukan itu jika dirinya sedang kebingungan.
“Kau tidak mungkin bisa melawan diriku gadis pinyik,” Afnan menyeringai yang tidak terlihat oleh Nayra.
“Tuan apa tidak ada pilihan lain, saya janji saya akan melunasi hutang ayah saya, saya tidak akan melarikan diri jadi tuan tidak perlu khawatir.”
“Atau begini saja, tuan bisa memperkerjakan saya seumur hidup untuk menjadi pelayan tuan jika tuan tidak percaya pada saya,” Nayra mencoba melakukan negosiasi dengan Afnan meski itu tidak akan mempan sama sekali.
“Tapi sayangnya saya tidak sama sekali membutuhkan pelayan,” sahut Afnan dengan suara tegas lalu berdiri kearah mejanya lagi dengan mengambil map yang ada diatas mejanya.
Afnan melempar map itu dihadapan Nayra, “Apa ini tuan,” tanya Nayra yang masih belum membuka map yang diberikan oleh Afnan.
“Buka dan baca dengan teliti, itu adalah perjanjian yang harus kau tanda tangani selama menjalani pernikahan denganku.”
Nayra melotot seingatnya dia belum mengatakan iya untuk tawaran yang diberikan oleh Afnan lalu kenapa orang arogan ini memberikannya map ini padanya.
“Saya belum setuju dengan pernikahan ini, ahh tidak saya tidak akan pernah setuju, lebih baik tuan cari orang lain untuk melakukan rencana gila tuan, saya permisi.”
Dengan percaya diri Nayra berdiri dan melangkah hendak keluar dari dalam ruangan Afnan, sebelum akhirnya langkah kaki Nayra terhenti setelah mendengar Afnan bicara dengan seseorang melalui telpon.
“Aku ingin saat ini juga kau bawa polisi kerumah Sunaryo, pastikan pria b******k yang telah mencuri uangku itu mendekam di dalam penjara selama-lamanya sampai ajal menjemputnya didalam sel.” Titah Afnan pada orang diseberang sana yang masih bisa terdengar dengan jelas ditelinga Nayra.
Nayra langsung berbalik dan bersimpuh dihadapan Afnan, “Tuan saya mohon jangan sekejam ini, saya mohon cabut perintah tuan sekarang juga, ayah saya sedang sakit tuan dia tidak mungkin sanggup berada didalam sel.”
Bukannya kasihan Afnan malah tersenyum jahat, “Ahh, jadi dia sedang sakit, baguslah dengan begitu, akan lebih mudah untuk dia meninggalkan dunia ini bukan,” ucap Afnan dengan kejam membuat Nayra menatapnya dengan sangar.
Sial berani sekali wanita ini menatap diriku begitu, lihat saja gadis keras kepala kau akan berada didalam genggamanku, kau tidak akan berani bahkan menegakkan kepalamu dihadapanku, pikir Afnan yang kesal karena dia tidak pernah mendapatkan perlakuan begitu dari seorang gadis.
“Keluarlah dari sini, negosiasi kita sudah selesai, aku tidak membutuhkan dirimu lagi,” usir Afnan yang hendak kembali kemeja kerjanya.
“Aku mau,” cicit Nayra dengan memejamkan matanya erat serta mengepalkan tangannya kuat.
Afnan menyunggingkan senyum kemenangan, tapi bukan Afnan namanya jika tidak membuat lawannya memohon terlebih dahulu.
“Sayangnya aku sudah tidak berminat, lagi pula lihatlah penampilan dirimu yang kampungan itu, menyesal diriku pernah berpikir akan menikah denganmu meski hanya diatas kertas,” hina Afnan yang membuat emosi Nayra membumbung tinggi.
Sabar Nayra, ingat kau harus selamatkan ayahmu sekarang, jangan lagi membantah, Nayra menahan emosinya, dan tersenyum dipaksakan dihadapan Afnan.
“Bukankah tuan tidak membutuhkan istri, tuan hanya butuh istri diatas kertas, jadi tidak masalah dengan penampilanku bukan, aku bisa melakukan banyak hal tuan tidak akan rugi memilihku menjadi istri diatas kertas tuan.”
Nayra benar-benar merendahkan harga dirinya serendah-rendahnya, bahkan saat ini hati Nayra sangat sakit mendengar ucapannya sendiri.
“Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh gadis dekil sepertimu,” tantang Afnan ingin tahu apa jawaban yang akan diberikan oleh Nayra.
“Aku.. aku,” ucap Nayra mulai gagap tidak tahu harus mengatakan apa.
Menghembuskan nafasnya kasar Nayra mulai mengumpulkan keberaniannya lagi, “Aku bisa memasak, aku juga bisa beberes,mencuci baju, lalu aku pintar memijat.”
“Hahahaha,” tawa Afnan mulai menggelegar memenuhi ruangan, “Kau pikir aku ingin mencari seorang pembantu hah,” hina Afnan lagi.
Nayra menunduk mendengarnya, “Tapi baiklah karena aku lihat usahamu yang keras meyakinkan diriku, aku akan menerimamu lagi,” ucap Afnan yang membuat wajah Nayra kembali mendongak dan terlihat binar bahagia disana.
“Sekarang baca surat perjanjian itu dan tanda tangani secepatnya,” titah Afnan.
“Tuan bisakah anda mencabut perintah anda dulu pada anak buah anda,” pinta Nayra tidak mau sampai anak buah Afnan sudah bergerak dan sampai dirumahnya lalu menyakiti ayahnya.
“Tanda tangani dulu baru aku akan mencabut perintahku,” sahut Afnan dengan menyilangkan tangannya didada.
Tanpa menunggu lama Nayra mengambil surat perjanjian yang tadi Afnan lemparkan dan mula membacanya.
Nayra melotot saat membaca surat perjanjian yang tidak ada satupun yang menguntungkan dirinya, bagaimana tidak isi surat perjanjian itu.
1. Afnan adalah pihak pertama yang harus diikuti segala perintahnya
2. pihak pertama bebas melakukan apapun diluar dan pihak kedua tidak boleh ikut campur dalam segala urusan pihak pertama.
3. pihak kedua tidak bisa menggugat cerai sebelum pihak pertama sendiri yang menggugatnya.
4. pihak kedua harus melayani semua kebutuhan pihak pertama termasuk dalam hal kebutuhan biologi.
Mata Nayra langsung sakit membacanya, bahkan Nayra sudah tidak bisa lagi membaca terusan dari surat perjanjian itu.
“Tuan kenapa semuanya tidak ada yang menguntungkan untuk saya, ini tidak adil tuan,” protes Nayra.
Jika peraturan satu sampai tiga Nayra masih sanggup melakukannya tapi untuk peraturan nomor empat yang benar saja dia juga harus melayani Afnan di tempat tidur, membayangkannya saja sudah membuat Nayra ketakutan setengah mati.
Melihat Afnan hanya diam dengan protesnya, Nayra mencoba keberuntungan dengan kembali menegosiasikan perjanjian nomor empat.
“Tuan bukankah menurut tuan saya ini tidak menarik, emm bagaimana jika nomor empat diganti,” ucap Nayra dengan hati-hati.
Nayra langsung meralat ucapannya saat wajah Afnan menjadi lebih seram dari yang tadi
“Maksud saya tuan, saya bersedia mengikuti perjanjian semuanya asal tidak melayani tuan diatas ranjang,” Nayra mengatakan ranjang dengan suara yang pelan, hampir saja tidak terdengar oleh Afnan.
Mendengar ucapan Nayra harga diri Afnan seperti dilukai, diluar sana banyak gadis dengan suka rela melemparkan tubuhnya untuk Afnan nikmati secara gratis.
Tapi gadis didepannya ini, yang benar saja, apa dia ditolak, tidak seorang Afnan tidak pernah mendapatkan penolakan dari siapapun itu.
“Tidak, setujui semua yang ada didalam sana, atau kau bisa keluar dari sini, dan lihat bagaimana ayahmu diseret kedalam bui,” tolak Afnan dengan nada tegasnya.
Melihat negosiasinya gagal Nayra tidak mau mengulur waktu lebih lama lagi, Nayra mengambil pena yang sudah Afnan sediakan, dengan tangan yang gemetar Nayra menandatangani surat perjanjian itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Selamat tinggal pernikahan yang aku impikan, semua impianku tentang menikah dengan lelaki yang aku cintai akan kandas, aku harus menyiapkan diriku untuk hidup dengan lelaki yang tidak memiliki hati ini.
Kenapa nasibku sial sekali, berakhir ditangan laki-laki b******k, ayah maafkan aku ini semua aku lakukan untukmu dan Rio.
Melihat Nayra sudah selesai menandatangani surat perjanjian itu, Afnan tersenyum puas, enak saja aku sudah menikah dengannya tapi tidak menyentuhnya.
Aku tidak sabar bagaimana rasanya bermain dengan seorang gadis polos sepertinya, apakah akan menyenangkan, pikir Afnan mulai mengeluarkan senyum mesumnya.