Nayra bangun dengan keadaan sudah lebih baik dari tadi, bagian sensitif nya juga sudah tidak terasa sesakit tadi meskipun masih terasa nyilu. Nayra memandang kesamping dan melihat Afnan yang serius dengan laptopnya. Ternyata dia tidak pergi kekantor, tapi kenapa apa karena menjagaku, batin Nayra. “Eh.. kau sudah bangun,” Afnan yang melihat Nayra sudah duduk langsung meninggalkan pekerjaannya. “Apa ada yang kau inginkan, katakan aku akan membelikannya untukmu,” ucap Afnan dengan mengecek kening Nayra menggunakan punggung tangannya. “Tidak usah.. aku tidak ingin makan apapun” “Apa masih sakit?” tanya Afnan karena meski sudah berkali-kali melakukannya tapi baru Nayra lah gadis perawan yang Afnan tiduri. Nayra mengangguk tidak mau menutupi apapun juga, Afnan yang melihat itu menghembuska

