14. MINIMARKET

1213 Kata
"Gue boleh masuk?" tanya Elvan saat mereka tiba di depan pintu rumah Zevanya. Zevanya yang awalnya sedang memutar kenop pintu akhirnya menggantung saat kalimat Elvan keluar. Demi apa pun, untuk membiarkan lelaki masuk ke rumahnya selain Orion dan juga Lay itu sesuatu yang ganjil menurutnya. Pertama, ia takut tentang opini tetangga. Lantas kedua, ia tidak ingin nantinya lelaki itu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mungkin Elvan bukan salah satu dari lelaki brengseek di luar sana, tapi bukan berarti ia begitu saja mengizinkan Elvan masuk. Bagaimana jika setaan datang menggoda? Oh, Astaga … Zee. Pemikiranmu sangat jauh tentang Elvan. Bagaimana kalau dia hanya sekedar mampir untuk beristirahat dan minum untuk melepas dahaga? Oh, dari wajah lelaki itu tidak tampak jika seorang yang tidak memiliki hati. "Zee, boleh gue masuk ke dalam? Gue haus. Ya, itu jika lo mengizinkan, sih?" Elvan tersenyum ramah dan kemudian mengacak rambut Zevanya gemas. Zee masih melongo apalagi perlakuan Elvan barusan seolah mereka pasangan yang sedang manis-manisnya. Jantung Zee tidak baik-baik saja. Ingatkan dia untuk ke rumah sakit memeriksa jantungnya. Jika ia biarkan mungkin jantungnya akan keluar dari dalam tubuhnya. "Zee, lo baik-baik aja?" Elvan menepuk pelan pipi Zevanya. Zevanya mengerjap berkali-kali lantas tersenyum seperti orang linglung. "Oh, Hah?" Elvan terkikik. "Lo menggemaskan." Mencubit pelan pipi Zevanya. Seketika pipi itu merona merah. Zee menunduk dikarenakan rasa malu yang menghantuinya. Ya, dalam hitungan detik, Zee lupa jika umurnya sudah tiga puluh satu tahun. "Boleh gue masuk? Gue mau minta minum. Segelas aja." Elvan memasang mimik memelas. Pemikiran buruk Zee hilang seketika saat Elvan begitu manis padanya. Ia mengangguk dan kemudian membuka pintu rumahnya. "Silakan masuk?" Mempersilakan Elvan. Elvan mengangguk lalu berjalan lebih dulu ke dalam rumah. Setiba di ruang tamu, ia segera duduk. "Mau minum apa?" tanya Zee dengan ramah. "Air mineral aja. Gak perlu repot." Meskipun Elvan hanya meminta air mineral, tapi Zee tidak bisa hanya menyajikan itu semata. Namun, masalahnya adalah tidak ada apa pun di lemari es kecuali air mineral. Jika begini, ia akan malu sendiri pada Elvan. Bagaimana bisa seseorang tidak memiliki sandang pangan di rumah sedikit pun. Lalu bagaimana caranya ia menyajikan sesuatu untuk Elvan? Ah, Orion. Ia harus menghubungi keponakannya itu untuk membeli makanan di luar. Ide yang lumayan oke. “Zee, kenapa lo lama sekali di dapur?” Elvan menyusul ke dapur. Zee kelabakan saat Elvan menghampirinya. “Oh, itu … em … gue, astaga. Maaf,” cicit Zee seraya menunduk. “Kenapa? Apa tidak ada sesuatu di kulkas?” Pertanyaan Elvan terasa seperti pernyataan menurut Zevanya. Ia harus jawab apa untuk itu? Sejenak terlintas di otaknya untuk memanipulasi situasi. “Maaf. Gue belum sempat belanja bulanan.” Kebohongan yang luar biasa lancar keluar dari mulut Zevanya. Elvan gemas melihat tingkah Zevanya yang menurutnya lucu. "Kenapa lo tertawa? Apa di wajah gue ada sesuatu, ya?" tanya Zevanya sembari mengusap wajahnya berharap jika ada kotoran segera hilang atau terbawa oleh tangannya. "Gak ada apa-apa." Elvan masih saja bertingkah seolah dia adalah pangeran terbaik buat Zevanya. Zevanya semakin malu. "Ayo belanja bulanan. Gue nemenin lo." Elvan mengajak Zee berbelanja. Zee mau saja jika uangnya masih utuh. Namun, untuk saat ini, jika ia memakai uang simpanannya untuk berbelanja bulanan, yang ada ia akan kehilangan itu tanpa sisa. Kenapa? Karena uang belanja bulanan Zevanya tidak lagi sebanyak dulu. "Zee, lo gak mau belanja bulanan bareng gue?" Elvan menatap Zee dengan fokus. Zee menjilat bibir bagian bawahnya. Seandainya Elvan tahu kalau dirinya saat ini sudah bangkrut karena dipecat, bisa-bisa lelaki itu tidak mau dekat dengannya lagi. Namun, jika ia turuti, astaga … kenapa gengsinya tiba-tiba muncul di udara? "Kalau lo gak mau belanja bulanan bareng gue, ya udah. Gak apa-apa. Bisa lo tuangkan air mineral untuk gue?" Mendengar itu, Zee melotot tajam. "Ayo pergi bersama!" teriak Zevanya semangat. Elvan mengangguk dan lagi mengacak rambut Zevanya gemas. Zevanya kembali bersemu merah. *** "Langkahku tertatih saat melihat kau menjamu kedatangannya dan mengabaikan jari-jari lentik ku." Zevanya Ayudia ** Pilihan untuk berbelanja bulanan jatuh di mini market yang jarak tempuhnya selama lima belas menit menggunakan mobil. Ya, lumayan jauh. Tadinya, Zevanya meminta belanja di minimarket dekat rumahnya, tapi Elvan malah menjalankan mobil melewati minimarket itu. Saat Zevanya membuka pintu minimarket, entah kenapa matanya menangkap bayangan seseorang yang ia kenal. Aldan! Lelaki itu sedang mengantri mungkin membayar belanjaan miliknya. Namun, saat Zevanya mendekat, ia tidak melihat barang yang banyak selain sebuah palu kecil. Palu? Untuk apa? Ada apa? Seketika bulu kuduk Zevanya merinding. Segera ia menjauh sebelum Aldan melihatnya. "Ada apa?" Elvan yang merasa Zevanya aneh seketika bertanya. Zevanya menggeleng. "Tidak apa-apa. Ayo belanja." Zevanya dan Elvan memilih belanja bersama. Sudah banyak yang dimasukkan ke troli yang didorong oleh Elvan. Mulai dari bahan makanan berupa sayur, daging ayam, sapi dan telur. Ada buah dan juga minuman kaleng. "Gue ke arah sana, ya?" Zevanya menunjuk bagian barang yang menurut Elvan tidak layak dirinya ikut memilih. Apa itu? Pembalut. Elvan mengangguk. "Gue ke bagian lain. Entar, kalau lo udah selesai belanjanya dan tinggal bayar, lo telepon gue jika gue belum di kasir." Zevanya mengangguk. "Oke." Lalu keduanya berpisah dengan jarak-jarak rak-rak yang tersusun rapi. Elvan membawa troli sedangkan Zevanya berjalan tanpa beban. Sejenak, Zevanya menoleh ke kasir dan helaan napas kasar terdengar dari mulutnya ketika ia tidak menemukan Aldan lagi di sana. "Zee, apa yang lo harapkan?" Menyandarkan tubuhnya pada rak dan kembali menghela napas berat. Zevanya menggelengkan kepalanya. Entah apa yang merasuki otaknya. "Zee, fokus. Lo saat ini dekat dengan Elvan. Yuk, fokus." Zevanya hendak menepuk jidatnya, tapi tangannya tertahan sebelum mendarat di jidat mulus itu. "Elvan!" tukas Zevanya sembari mengerucut bibir bahkan sebelum dia tahu melihat apakah benar itu Elvan atau bukan. "Elvan?" Deg Zevanya menengadah dan betapa terkejutnya saat menyadari jika yang di depannya bukan Elvan melainkan Aldan. "A-Aldan," cicitnya pelan. Lalu berusaha menepiskan tangan Aldan dari tangannya. Berlari mencoba untuk menjauh dari Aldan. Namun, lagi-lagi tangannya ditahan hingga membuat langkah terhenti. Zevanya menoleh pada Aldan. "Lepasin!" tukasnya dengan nada meninggi. Aldan menyeringai. "Elvan! Siapa Elvan?" Zevanya masih berusaha melepas cekalan tangan Aldan darinya. "Kenapa? Bukan urusan lo!" Aldan tidak menunjukkan mimik apa lagi setelahnya. Menarik paksa tangan Zevanya hingga membuat perempuan cantik itu terseret mengikuti langkah Aldan. "Lepasin, Mister Kulkas! Lo mau bawa gue ke mana?" Aldan melirik sekilas. "Diam!" "Gue gak akan diam sebelum lo lepasin gue." Mata Zevanya melebar saat menangkap bayangan Elvan. "Elv …." Belum sempat ia meneriaki seutuhnya nama Elvan, Aldan menutup mulut Zevanya dengan telapak tangannya lalu membawa ke parkiran di mana mobilnya berada. "Masuk!" Membuka pintu lalu mendorong. Memasang sabuk pengaman dan saat itu juga tatapan keduanya bertemu. Zevanya kembali terpesona dan kali ini mata onix milik Aldan sangat membuatnya terhanyut lebih dalam. Zee, sadar! Otak Zevanya terus saja menyuarakan kesadaran agar ia tidak terpengaruh pada seorang Aldan. "Sadar!" Menoyor kepala Zevanya hingga perempuan itu mengeraskan rahangnya. "Yak! Dasar manusia tidak waras!" teriak Zevanya. Aldan hanya menyeringai. Lalu masuk ke dalam mobil dan tanpa basa basi meninggalkan area mini market. *** "Zevanya, lo di mana?" Elvan mengusap wajahnya frustrasi saat mengetahui jika Zevanya sudah tidak ada di minimarket. Ia sudah lelah mencari, tapi tidak menemukan. "Mas, rekamannya kami temukan." Salah satu pegawai minimarket. Elvan mengikuti pegawai lelaki itu dan saat tiba di ruangan segi empat itu, ia mengernyitkan kening ketika melihat Zevanya di tarik oleh seseorang. "Ah, menyebalkan!" Mengepalkan tangan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aldan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN