13. KENCAN BUTA

1609 Kata
Sudah dua gelas cokelat panas habis diteguk Zevanya sejak tiga puluh menit ia berada di restoran yang sudah dipesankan oleh tim biro jodoh tempat Zevanya mendaftar. Namun, teman kencannya itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Oh, siapa namanya? Devin? Zevanya rasa bukan. Lalu siapa? oh, oke, Zevanya sudah ingat. Nama lelaki itu namanya Devandra Reiner dan lelaki itu jauh lebih muda dari dirinya. 27 tahun! Zevanya meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia melirik jam digital di ponsel pintar itu. "Tiga puluh menit lagi. Ya, gue tunggu selama tiga puluh menit, jika lelaki itu tidak datang juga, berarti gue harus pulang." Lantas memanggil pelayan restoran. "Mbak, saya mau memesan." Pelayan itu menyodorkan buku menu kepada Zevanya. Setelah melihat-lihat dan mengilhami mana yang hendak dia pesan, Zevanya berkata kepada pelayan itu. "Saya mau pesan ini sama ini." Pelayan itu mengerutkan kening lantaran Zevanya memesan sedikit. "Hanya itu, Mbak?" Zevanya mengangguk. Sebenarnya ia ingin memesan banyak makanan, tapi jika Devandra tidak datang, itu berarti dia yang bayar sendiri makanannya dan kebetulan ia sudah mulai bangkrut karena pengangguran. Jika Devandra ada, setidaknya mereka bisa bagi dua bayarannya kan? "Yakin, Mbak?" tanya pelayan itu lagi. Zevanya melirik kanan kiri lalu menyuruh pelayan itu mendekat. Dia berbisik di telinga sang pelayan. "Gue mau aja memesan banyak, Mbak. Hanya saja, gue takut kalau duit gue kurang buat bayar." Pelayan itu mengulum senyum. Mungkin bagi pelayan itu Zevanya terlihat lucu saat ini apalagi wajah Zevanya mengisyaratkan kesedihan. "Mbak, kalau mau memesan banyak juga gak apa-apa. Makanan khusus meja ini udah dibayar pihak biro jodoh. Itu yang atasan saya katakan tadi kepada kami sebelum memulai pekerjaan." Zevanya menggigit bibirnya. Astaga, betapa malunya dia saat pelayan ini mengatakan biro jodoh. Itu berarti seluruh pelayan di restoran itu tahu kalau dia itu sedang mengikuti acara kencan buta. Pemikiran mereka pasti 'itu perempuan gak laku pasti'. Zevanya malu bukan main. Seandainya ia bisa melarikan diri maka, ia akan lari saat itu juga. "Saya bawakan semua menu yang ada di restoran ini, ya, Mbak. Gak dimakan semua juga gak apa-apa." Zevanya terpaksa mengangguk. "Pasangan Mbak mana? Bukannya kencan buta itu harus ada pasangannya? Belum datang atau tidak datang?" Oke, fix! Pelayan itu banyak cakap. Rasanya Zevanya ingin menyumpal mulut si pelayan dengan tas mahalnya yang ada di kursi kosong. "Bisakah pesanan saya disiapkan secepatnya?" tanya Zevanya kesal. "Oh, tentu, Mbak." Zevanya menarik napas lega saat pelayan itu telah pergi dari hadapannya. Zevanya membuka ponselnya dan ia menyipitkan mata saat mendapatkan pesan chat dari nomor. Yang tidak dikenali olehnya. ['Maaf, gue datang telat. Mobil gue mogok.'] Zevanya mengerutkan kening. Siapa yang mengirimnya pesan barusan? Jika dilihat dari bentuk pesannya, ia yakin kalau pengirim pesan itu adalah teman kencan butanya. Tanpa berpikir panjang, Zevanya membalas pesan itu. ['Tidak masalah. Gue bisa menunggu lo di sini, asalkan lo berjanji akan datang.'] Tidak ada balasan lagi bahkan setelah sepulu menit berlalu. Zevanya kembali fokus pada ponselnya, tapi bukan pada pesan melainkan pada aplikasi media sosial yang ia punya. Setelah lama bergerilya di sosial media, Zevanya menganga saat melihat foto Aldan di akun Lay. Yang membuatnya lebih heran adalah di samping Aldan ada Kanaya yang tersenyum manis sembari menikmati es krim. Rasa cemburu mendera begitu saja. Di sela helaan napasnya yang memburu ada air mata yang mendesak keluar dari sana. Kenapa harus menangis? Apa rasa yang Zevanya punya bukan hanya sekedar terpesona, tapi benar-benar jatuh hati? Jika, iya, kenapa dan kenapa? "Zee, lo kenapa menangis, sih?" Menghapus air matanya. "Gue gak mungkin jatuh cinta ke Aldan, kan? Astaga, yang benar saja." Mencoba menolak rasa yang ada. Zevanya tertawa. "Kami saja berantem tiap ketemu. Adu mulut bahkan dia juga selalu ngancam gue dengan kalimat 'lo mau mati!' aish, mengerikan!" Menutup istΔgramnya begitu saja. Tidak lama setelah itu, pesannya datang. Sembari menunggu Devandra datang, sebaiknya ia mengisi perutnya. Telat yang dikatakan Devandra sungguh membuat Zevanya kesal. Sudah satu jam ia menunggu Devadra dan masih juga belum datang. "Sebaiknya gue pulang saja. Mungkin dia tidak niat berkencan dengan gue." Baru saja Zevanya berdiri, seseorang menyapa dirinya. "Zevanya Ayudia?" Zevanya menatap lelaki tampan yang menyebut namanya itu dengan kening mengkerut. "Siapa?" tanya Zevanya penasaran. Ia berpikir itu adalah Devandra, tapi entah kenapa juga ia merasa bukan. Lelaki itu tersenyum. "Gue Elvan. Gue menggantikan Devandra Reiner sebagai teman kencan Anda. Lelaki itu memutuskan batal ikut kencan buta lantaran mantan kekasihnya menerimanya kembali." Apa ini? Zevanya tidak salah mendengar? Teman kencan pengganti? Ya ampun, kenapa bisa hidupnya se drama begini? Elvan? Lelaki itu sungguh tampan dan bisa dikatakan kehaluan Zevanya kembali melekat. "Jadi?" tanya Elvan dengan senyum yang masih merekah. "Jadi apa?" Zevanya bertanya balik. "Apa lo masih mau melanjutkan kencan buta ini atau tidak?" tanya Elvan sembari duduk. Zevanya ikut duduk. Lantas ia mengangguk cepat. "Mau." Elvan semakin lebar tersenyum. "Kenalan dulu, yuk." Mengulurkan tangan pada Zevanya yang masih berdiri. "Elvan Hermawan. Seorang CEO di perusahaan yang bergerak di bidang penerbitan novel mau bentuk buku maupun online." Zee melongo. Ini pertama kalinya ia bertemu sekaligus berkenalan dengan seorang CEO dari perusahaan penerbitan. Zee tersenyum manis. Entah kenapa ia merasa jika lelaki yang berdiri di depannya itu sangat unik dan sungguh memesona. Zee mungkin gila! Namun, ia tidak bisa memungkiri jika lelaki itu sungguh sangat ... ah, idaman hatinya. "Zee." Menatap Zevanya lalu memberi isyarat untuk duduk. Zee mengikuti alur yang dibuat oleh Elvan. "Gini, em … gue gak tahu sebenarnya kencan buta ini gimana prosesnya. Gue … gue sebenarnya gak niat ikut. Tapi nyokap mendaftarkan nama gue. Tadinya gue senang karena gak keterima." Mengembuskan napas panjang. "Namun, dua jam sebelum kencan butanya terjadi, pihak biro jodoh menelepon nyokap dan bilang kalau gue keterima dan itu karena menggantikan lelaki pertama yang memundurkan diri." Zevanya mendengar dengan setia apa yang Elvan katakan. "So, semisalnya kita gak cocok pada akhirnya, jangan merasa gue benci sama lo, ya. Setidaknya kita bisa jadi teman. Tapi, jika kita cocok, ya … jalan terus sampai pelaminan." Elvan kembali berbicara. Senyum terpatri di bibir Zevanya. Lelaki di depannya itu sungguh berpikir luar biasa dewasa. Meskipun bukan Elvan langsung yang mendaftarkan diri di biro jodoh itu, tapi lelaki itu berbesar hati bahkan tidak ada niat marah atau kesal sama sekali. Zevanya berpikir pasti Elvan adalah anak yang patuh pada orang tuanya. Untuk sejenak Zee lupa pada pangeran kuda putih mengerikan yaitu Aldan. "Oh, iya. chat tadi itu dari gue, ya. Lo save nomor gue biar kita tetap bisa berhubungan." Elvan memanggil pelayan dengan melambaikan tangan Zee mengangguk. "Udah kenyang?" tanya Elvan lagi. Zee kembali mengangguk. "Padahal gue laper. Belum sempat makan tadi. Ngeselin itu mobil. Pake mogok segala." Elvan menggerutu. Zee mengulum senyum. Elvan terlihat berbeda dari Damar si kasar bermulut lemas, berbeda juga dari Aldan si dingin yang sekali berkata sangat menyelekik di hati. "Temanin gue, ya?" pintanya pada Zee, kemudian ia menoleh pada pelayan. "Tolong berikan aku piring, sendok dan garpu." Pelayan itu mengangguk lalu segera pergi dari meja Zee dan Elvan. Tidak sampai lima menit, pelayan itu kembali membawa permintaan Elvan. "Gak niat makan lagi?" tanya Elvan tanpa menoleh pada Zevanya. "Sayang makanan ini kalau gak dimakan. Banyak banget. Mumpung bukan kita yang bayar, mending kita habiskan." Senyum Elvan terlihat berbeda, seperti senyum usil. Zee ikut tersenyum usil, tapi ia menggeleng. "Perut gue hampir meledak karena kekenyangan. Gue gak mau bikin semburat magmag di sini. Bisa-bisa kita diusir tanpa hormat." Kemudian ia terkekeh. "Ah, tidak seru." Mengarahkan sendok berisi daging steak ke arah mulut Zee. "Ayo buka mulutnya." Zee terperanjat kemudian entah dorongan dari mana, ia membuka mulut dan seketika daging empuk itu memenuhi rongga mulutnya. "Enak?" Zee mengangguk. "Udah gue duga. Rasanya pasti enak!" "Lo suka steak?" Elvan menggeleng. "Gak gitu suka. Tapi, ya … gue tetap bisa memakannya." "Oh." Hanya itu kata yang keluar dari mulut Zevanya. "Setelah ini, lo mau ke mana?" tanya Elvan lagi. Zee mengerucut bibirnya. "Gue gak tahu." "Taman, yuk. Gue udah lama gak ngehirup udara segar di taman." "Boleh." "Sip. Gue makan dulu." Setelah itu tidak ada percakapan di antara keduanya. Elvan sibuk makan dan Zee sibuk pada pikirannya sendiri. *** "Dalam cinta ada dua kemungkin yang dirasa. Satu, bahagia. Kedua, menderita." (Save Me, Mr. Cold) ** Jika Zee tahu bahwa Elvan membawanya ke taman di mana beberapa hari lalu pernah ia datangi bersama Aldan, mungkin Zee akan menolak. Ditambah lagi, tidak jauh dari mereka terlihat jika ada Kanaya, Lay dan juga Aldan. Zevanya tersenyum di sela rasa sesak di hatinya. Kenapa ia merasakan sakit padahal ia sudah memutuskan tidak akan terpesona pada Aldan! Apa ia sungguh mencintai lelaki itu atau hanya sekedar kagum? Entahlah! "Van, kita bisa pergi dari sini?" Itu kalimat yang seharunya tidak keluar dari mulut Zee di mana mereka baru saja menginjakkan kaki di taman beberapa menit. Apalagi saat ini, Elvan entah sejak kapan menghilang dari samping Zee dan tiba-tiba sudah membawa dua cup es krim. Rasa cokelat dan stroberi. Elvan yang tidak tahu menahu hanya bisa mengerutkan kening seraya berkata, "Kenapa?" "Gue merasa gak enak badan aja. Gue mau istirahat." Elvan membuang es krim dan segera mendekat pada Zevanya. "Gue antar. Kita bisa ngobrol di rumah lo atau lain kali bisa bertemu lagi." Langsung memapah Zee menuju parkir mobil. "Gue bisa pulang sendiri, Van." Elvan menggeleng. "Gue yang ngajak lo ke sini, itu berarti gue juga harus ngantar lo pulang. Gue harus punya tanggung jawab saat ngajak anak orang keluar, Zee. Gue bukan lelaki berengseek." Deg Kalimat Elvan itu sungguh sangat menyentuh. Ia kembali mengingat masa di mana Aldan membawanya pergi dan saat Zee ingin pulang, lelaki itu tidak punya niat mengantarnya. Oke, Zee. Fix! Lo harus jatuh hati pada Elvan dan Aldan bukan lelaki yang tepat. Lo kagum semata? Ya, lepaskan rasa kagum itu. Jangan jatuh cinta padanya. Mister Kulkas itu bukan manusia!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN