Zevanya hanya diam saat Aldan berdiri di depannya dengan tatapan penuh intimidasi. Tidak ada suara yang keluar dari mulut Zevanya bahkan napasnya saja tidak terdengar sama sekali seolah perempuan cantik itu menahan agar Aldan tidak mendengar.
Aldan yang awalnya berdiri bersandar pada dinding, kini mendekat ke arah sofa. Masih dengan tatapan penuh intimidasi di mana siapa pun lawannya bisa getar getir karena ketakutan. Ya, Zevanya takut saat ini, tapi ia mencoba menyembunyikan itu dengan cara merunduk dan juga menggenggam tangan Naina kuat. Biarkan Naina saja yang menyadari ketakutannya jangan sampai Aldan ikut tahu.
"Mas Aldan," panggil Naina pada lelaki itu. Spontan Aldan menghentikan langkahnya yang awalnya hendak mendatangi Zevanya.
Aldan menoleh pada Naina. "Hem?" Hanya itu yang keluar dari mulut Aldan sebagai jawaban dari panggilan Naina.
"Tadi bahas apa di dalam sana sama Papa dan Lay?"
Astaga, untuk pertama kalinya Naina bertanya hal yang seperti itu. Biasanya, dia tidak mau tahu karena Naina yakin jika itu ada kaitan dengan dirinya, mertuanya pasti akan memberitahu kepadanya. Namun, demi menyelamatkan Zevanya dari tatapan membunuh Aldan, Naina rela bertanya hal yang tidak ada sangkut paut dengan dirinya.
"Tidak penting. Hanya membahas hal yang mengganggu saja." Aldan menoleh kembali kepada Zevanya.
"Apa itu?" Naina mencoba membuat Aldan lupa jika Zevanya ada atau membuat Aldan lupa soal ucapan Zevanya beberapa menit lalu.
"Hal yang mengganggu keluarga ini dan gue. Membahas bagaimana cara memberi mereka pelajaran." Aldan menyahuti, tapi netranya tetap mengarah pada Zevanya.
Zevanya mengeraskan rahangnya. Ia tahu betul jika saat ini Aldan sedang menghunus jantungnya dengan mata elang meskipun ia masih menunduk tanpa melihat lelaki itu. Ya, ampun, bagaimana bisa lelaki tampan itu menakutkan? Bagaimana bisa juga ia sempat berharap bahwa Aldan adalah pangeran berkuda putih yang ia dambakan.
Oh, lupakan, Zee!
"Mas Aldan. Udah makan?"
Pertanyaan tidak berbobot keluar dari mulut Naina.
"Sayang, kenapa lo bertanya seperti itu sama Mas Aldan? Lo perhatian amat. Suka? Astaga, gue cemburu!" Lay duduk di samping Naina.
Naina menatap Lay dan memberi isyarat dengan matanya jika saat ini suasana di antara mereka tepatnya antara Aldan dan Zevanya sedang panas.
Lay sejenak melirik Aldan dan Zevanya lalu ia kemudian berdiri. "Mas, bantu gue betulin motor bentar." Menarik tangan Aldan.
Aldan yang tidak bisa menolak hanya mengikuti Lay. Namun, ia sempat menoleh ke belakang di mana Zevanya yang ikut menatap ke arahnya.
Tatapan keduanya bertemu dan lagi-lagi Zevanya terpesona akan Aldan. Namun, saat melihat ekspresi Aldan yang menyeringai padanya langsung mengubah kembali perasaannya. Ia tidak boleh jatuh cinta pada Aldan.
Lelaki itu mengerikan!
"Lo gak apa-apa, kan?" Naina bertanya pada Zevanya yang memejamkan matanya.
"Gak, Nai. Gue gak apa-apa." Namun, terdengar helaan napas yang memburu dari Zevanya.
"Tenang aja, Zee. Mas Aldan tidak semengerikan yang lo pikirkan saat ini. Dia baik, sungguh. Kalau lo mengenalnya lebih jauh, lo akan menemukan sisi terbaik bahkan terunik yang ia miliki."
"Mungkin dia hanya baik bagi orang-orang yang membayarnya."
Naina menggeleng. "Asal lo tahu aja, Mas Aldan akan mengorbankan nyawanya kepada orang yang sudah ia anggap keluarga bahkan tanpa dibayar sekali pun. Itu jika lo bisa memahami dan juga lo tidak pura-pura padanya. Namun, jika lo hanya berpura-pura baik padanya, dia akan menjadikan lo orang paling menderita seumur hidup lo."
"Dia mengerikan, Nai."
"Tapi lo suka, kan?"
Deg
Zevanya menatap Naina tidak percaya. Bagaimana bisa Naina menebak setepat itu? Apa di jidatnya tertulis betul jika dirinya menyukai Aldan? Tidak, kan?
"G-gue gak suka sama dia. Siapa yang bilang?" Zevanya gugup bukan main.
Naina tersenyum. "Oke, gue coba percaya sama lo."
Zevanya terdiam. Kemudian ia berdiri dari tempat duduknya dan menghela napas.
"Gue ngantuk. Kamar gue di mana?" tanyanya pada Naina.
Naina masih tersenyum. Ia tahu jika saat ini Zevanya sedang berusaha menyembunyikan perasaannya dari Naina.
"Naik ke lantai atas, belok kiri."
Zevanya tidak menyahut lagi. Ia ingin segera ke kamar dan tidur. Ia ingin melepas kenangan buruk hari ini mulai dari Damar hingga ke Aldan. Otaknya bisa kacau jika terjebak pada masalah terus menerus.
***
Tangan Kanaya terus saja memainkan ponselnya tepatnya menu kontak w******p di mana nama Aldan tertera. Ia masih dilanda kebingungan antara mau menelepon lelaki itu atau tidak.
Jika tidak menelepon, bagaimana rasa rindunya? Jika menelepon, bagaimana tentang harga dirinya? Terlalu ribet!
Ia jatuh cinta, tapi dirinya juga yang pusing karena hingga saat ini, ia tidak bisa dekat dengan Aldan.
"Berpikir, Naya. Gunakan otak lo dengan benar." Kanaya bermonolog sembari memukul-mukul jidatnya.
"Kalau gue chat, apa akan dibalas?" Lalu mencoba mengetik pesan.
['Mas, jalan, yuk besok.']
"Gak. Gue gak boleh se rendah itu." Menghapus pesan itu. "Gue telepon aja." Hendak menelepon, tapi kemudian mematikan sebelum tersambung. "Gue harus ngomong apa? Bisa-bisa gue dibilang cewek gak benar lagi."
Kanaya mendudukkan dirinya di ranjang. Lalu memejamkan mata sejenak. Terlintas banyak hal untuk ia gunakan mendekati Aldan.
"Ah, gue tahu. Gue harus memanfaatkan Lay untuk itu. Gue pura-pura aja terluka karena sekumpulan preman, lalu gue minta Lay menjaga gue. Lay pasti gak bisa terus sama gue karena udah nikah. Nah, dia pasti meminta Mas Aldan untuk itu." Tersenyum lebar. "Ide gue ini pasti berjalan lancar. Gue yakin!"
Lalu ia membaringkan tubuhnya di ranjang dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Tok
Tok
Tok
"Naya, ada teman kamu di luar."
Kanaya menyingkap selimut dari tubuhnya saat suara sang mama terdengar.
"Siapa, Ma? Lay?" Kanaya turun dari ranjang menuju pintu kamar untuk membuka pintu bercat cekolat tua itu.
"Mama juga gak tahu, Sayang."
"Berarti bukan Lay?"
Sang mama menggeleng. "Kalau Lay mah, mama kenal. Yang ini gak sama sekali," ucap sang mama.
"Ya, udah. Aku temui dia dulu."
Kanaya menyipitkan mata saat menemukan lelaki di ruang tamu mereka dan itu membelakangi dirinya. Ia berpikir tentang satu nama.
Orion!
Namun, ia menepis pikirannya itu. Untuk apa lelaki itu datang ke rumahnya? Tidak mungkin! Lagian, ia juga sudah berulang kali menolak Orion dari hidupnya, jadi … tidak mungkin lelaki itu berani menginjakkan kaki di rumahnya.
"Lo siapa?" Kanaya bertanya pada sang tamu sembari terus berjalan. Ia penasaran bukan main.
Kanaya mendelik tajam saat ia sampai di hadapan sang tamu.
Damn it!
Bagaimana bisa lelaki yang ia pikirkan tidak mungkin datang ke rumahnya malah ada di depan matanya saat ini.
"Elo! Ngapain lo ke sini?" tanya Kanaya tidak bersahabat. "Pulang!"
"Naya. Gue mau ngomong sama lo, sebentar aja."
"Gak! Udah dong, Orion. Udah berapa kali gue bilang ke elo kalau gue gak suka sama lo dan gue gak mau jadian sama lo."
Orion menghela napas pelan. "Boleh gue tahu kenapa lo membenci gue, Nay?"
"Gue benci lo?" Kanaya terkekeh. "Gue gak benci sama lo, hanya saja, gue gak suka lo dekat sama gue. Apalagi berpikir buat jadian sama gue."
Orion terkekeh lalu mengusap wajahnya frustrasi. "Alasan apa itu? Naya, apa gue salah, ya … jatuh cinta sama lo?"
Kanaya terdiam. Ia menatap dalam pada mata Orion. Ia merasa terenyuh mendengar kalimat itu. Namun, egonya lebih besar dari rasa ibanya.
"Salah. Lo salah jatuh cinta sama gue. Lo salah kenal sama gue. Lo salah besar. Gue itu gak suka banget sama cowok yang … iya, yang seperti lo."
"Kenapa?"
"Berhenti bertanya, Orion. Intinya, jangan dekatin gue. Dan kalau bisa, saat Lay mengajak gue makan bersama lalu dia menelepon lo, iya, kalau bisa ini, ya … lo gak usah ikutan datang. Karena kalau lo datang yang ada gue bakalan pulang."
Orion lagi-lagi tertawa. "Gue tulus suka sama lo, Naya. Setidaknya, kalau lo gak bisa nerima gue jadi pacar lo, lo bisa jadikan gue sahabat lo juga."
"Ogah!"
Tanpa Orion sadari air matanya jatuh. Kenapa Kanaya selalu saja berkata sekejam itu padanya.
Apa mencintai itu sesakit ini? Jika terus begini, bisa-bisa luka melebar dalam hatinya. Seharusnya, ia berhenti mencintai Kanaya, tapi entah kenapa perasaannya semakin menjadi-jadi.
"Lo pulang, deh. Gue mau tidur!" Mendorong Orion kuat sehingga lelaki itu hampir terjungkal.
"Gue balik." Orion tidak marah. "Selamat malam, Kanaya. Semoga mimpi indah."
"Ngomong sama tangan!"
Blam
Menutup pintu kuat hingga membuat suara gaduh.
Saat sudah di luar. Orion memijit pelipisnya lalu tersenyum miris.
"Gue gak akan menyerah, Kanaya. Gue akan berusaha membuat lo sadar bahwa gue tulus cinta sama lo."
Lalu melangkah menjauh dari rumah Kanaya.